
"Arka."
Suara erangan Amanda terdengar disuatu fajar yang dingin. Ketika Arka menghujamkan cintanya secara perlahan, seraya memberi kecupan di bibir istrinya itu.
"Hmmm."
Arka membenamkannya lalu diam sejenak. Tak lama kemudian, pemuda itu pun lalu bergerak perlahan. Sedikit cepat, lalu menjadi lebih cepat. Membuat istrinya terhentak-hentak, ditengah irama penyatuan yang begitu nikmat.
"Arka."
"Man."
"Arkaaa."
Beberapa saat berlalu, Arka yang selama ini selalu mendominasi permainan. Kini dipaksa Amanda untuk pasrah. Pemuda itu duduk di sofa, ketika Amanda mengambil alih semuanya.
Amanda melonjak-lonjak diatas tubuh suaminya itu, Sementara Arka disuguhi pemandangan yang begitu indah. Tangannya kini terus mengusap perut buncit istrinya, sambil sesekali memberikan sentuhan, pada dua hal indah lain yang terpampang didepan matanya. Ia membiarkan Amanda yang begitu bersemangat menguasai dirinya.
"I Love you, Arka."
"I love you, Amanda."
Keduanya saling berciuman dengan tubuh yang terus terlonjak-lonjak.
"I love you, Arka."
"I love you, Amanda."
"I love you, Hmmh. I love you, Hmmh. I love you." Perkataan itu semakin terdengar cepat.
"Arka."
"Maaaaaan."
"Arkaaaaaa."
Kepala Amanda menengadah keatas, seiring dengan diterimanya sebuah semburan hangat dibawah sana. Keduanya kini berusaha mengambil nafas, mencoba merengkuh semua sisa-sisa kenikmatan yang ada. Lama mereka bersitatap dalam diam, hingga akhirnya keduanya pun sama-sama tersenyum.
"Thank you surprise paginya, Arka." ujar Amanda seraya menatap suaminya.
"Aku yang terima kasih, pagiku selalu diawali dengan banjir."
Ucapan Arka membuat Amanda tertawa.
"Daripada banjir beneran, susah lo bersihin lumpurnya. Mending banjir yang ini." ujar Amanda seraya memberi tatapan yang menggoda. Sementara yang ditatap memberikan cubitan padanya.
"Ah, kamu mah suka begitu ah."
"Itu bukan nada kesakitan, Man. Itu nada masih kegatelan."
"Hahaha." Amanda kian terbahak-bahak.
"Kamu mau sarapan apa nanti?" tanya Amanda pada Arka.
"Apa aja lah. Selama kita nikah, emang pernah aku milih makanan?" Arka balik bertanya.
"Ya udah laler tumis mau, Ka?"
"Ya udah nggak apa-apa, tangkap dah tuh lalernya satu-satu." ujarnya kemudian, Amanda pun tertawa.
Pagi itu, ia membuatkan roti bakar untuk suaminya, ditambah segelas kopi hangat. Sedang dirinya memakan roti bakar plus susu hamil yang sengaja ia beri es batu. Karena malas meminum sesuatu yang hangat setiap hari.
"Bosen tau, Ka. Minum susu hamil mulu." Amanda menggerutu seraya memakan sarapan dan meminum susunya.
"Emang biasanya sebelum hamil, kamu minumnya apa?"
"Biasanya nih, sebelum nikah sulu. Tiap pagi aku ngerokok sambil minum wine."
"Ya udah minum gih, sambil ngerokok. Biar ntar anak kita pas keluar warnanya ungu, plus berasap."
Amanda tersedak dan tertawa demi mendengar pernyataan tersebut, sementara Arka memasang tampang sewot.
Usai sarapan, Amanda melucuti daster yang melekat ditubuhnya. Ia ingin segera berganti pakaian kerja. Namun tiba-tiba Arka berdiri dibelakangnya lalu memasangkan maternity belt di perutnya.
"Aku rasa, kamu udah butuh ini sekarang." ujar Arka seraya memperhatikan perut istrinya itu.
"Udah dari dua bulan yang lalu sih, aku tarok di lemari. Karena aku liat, pertumbuhan perut kamu cepet banget. Pasti berat kan sekarang."
Amanda menatap suaminya itu sambil tersenyum penuh haru. Tak lama kemudian ia pun mencium bibir Arka.
"Makasih ya, sayang." ujarnya seraya menatap suaminya itu.
"Sama-sama." jawab Arka.
Arka mengantar Amanda seperti biasa, tak ada hal yang mengkhawatirkan pagi itu. Sampai kemudian, disuatu jalan yang macet akibat lampu merah. Tanpa sengaja Amanda menoleh dan mendapati sesosok laki-laki berusia 60 an tahun, yang tengah membuka kaca bagian tengah mobilnya. Posisi laki-laki itu tepat disisi Amanda. Karena body mobil yang dikemudikan Arka, berada setengah di sisi mobil laki-laki itu.
Amanda memalingkan wajah ke arah Arka, karena kaca mobilnya yang ini lumayan transparan. Namun seketika ia terdiam, tatkala melihat seorang perempuan ada di mobil satunya. Yang berada persis disisi Arka.
Maka Amanda pun membenamkan wajahnya di bahu Arka. Membuat Arka menjadi bingung.
"Kamu kenapa, Man?" tanya nya heran.
"Nggak apa-apa, pengen glendotan aja di kamu. Hehehe."
Amanda berdusta, padahal sedang berusaha menyembunyikan wajahnya dari dua orang itu tadi.
"Pengen glendotan tapi koq muka kamu tiba-tiba pucat gitu?. Kamu sakit?" Arka mulai khawatir. Sementara Amanda berusaha nyengir bajing.
"Ah, nggak koq. Hehehe."
Tak lama lampu hijau pun kembali menyala, kedua mobil yang ada disisi mereka melaju dengan kencang. Amanda pun menghela nafas lega.
Sesampainya di kantor, Amanda langsung masuk ke ruangannya dan minum sebanyak mungkin. Ia sudah tegang sepanjang perjalanan, akibat bertemu dengan dua orang itu tadi.
Namun, tiba-tiba saja handphonenya berdering. Sebuah nomor asing masuk kesana. Karena penasaran, Amanda pun mengangkatnya.
"Hey girl, where are you."
Amanda buru-buru menutup telpon tersebut lalu memblokir nomor yang barusan menghubunginya
"Apa dia menjawab?"
Rachel bertanya pada Amman, yang saat ini telah berada di ruang kerja. Amman hanya diam, lalu mereguk kopi paginya yang masih hangat.
"Sepertinya kita harus sedikit memaksa, agar tujuan kita segera tercapai." ujar Rachel lagi.
Hari itu, Rani masuk. Intan yang semula duduk tenang didepan komputernya, kini beralih menatap wanita itu. Dari pagi hingga sore menjelang, apapun aktivitas yang Rani lakukan. Intan selalu siap membuntutinya, kemanapun wanita itu bergerak.
Ia memang buta dalam hal selidik-menyelidik. Namun jika ada gerak-gerik Rani yang mencurigakan, Intan pasti merekamnya di handphone. Apapun itu, mungkin saja kelak bisa dijadikan bukti. Jika terjadi apa-apa lagi pada perusahaan ataupun Amanda. Intan juga kini sudah mengurangi kebiasaan bergosipnya karena terlalu fokus pada Rani.
"Tumben si lambe turah, tobat." bisik Nur pada Sari seraya tertawa kecil.
"Katanya dia punya gebetan sekarang, bule. Makanya berubah kalem." ujar Sari.
"Serius, lo?" tanya Nur tak percaya.
"Iya, makanya dia lagi mengurangi kebiasaan mulutnya yang setajam silet itu."
"Tapi jadi ngerasa sepi nggak lo?" tanya Nur lagi.
"Iya, nggak gosip nggak rame say." jawab Sari. Keduanya pun lalu cekikikan.
Sepulang dari kantor, Intan sengaja mengikuti Rani. Kali ini ia telah siap dengan baterai handphone penuh dan juga power bank. Menjadi admin lambe dengan hengpong jadul telah menjadi hobinya sejak dulu, namun kini ia beralih profesi menjadi seorang detektif.
Kebetulan sore itu, Rani menaiki sebuah taxi. Hingga Intan pun leluasa mengikutinya. Karena ia berada di taxi yang lain. Rani pergi ke sebuah kawasan, yang di sepanjang jalannya banyak terdapat toko kimia.
"Jangan-jangan dia mau beli racun lagi."
Intan mulai berspekulasi. Segera saja ia merekam dan memfoto aktivitas Rani, syukur-syukur jika ini hanyalah dugaan semata. Semoga Rani hanya membeli untuk keperluannya sendiri, bukan untuk melakukan kejahatan pada Amanda. Apalagi sampai membahayakan bayinya.
Intan terus mengawasi gerak-gerik Rani. Dari sisi tukang es jeruk yang berada tak jauh dari toko kimia, tempat dimana Rani berada. Intan mengintai sambil kulineran. Tak lama Rani pun keluar, seseorang terlihat menghampiri wanita itu.
"Laki-laki itu?" gumam Intan.
"Hah?"
Intan pun terkejut, ia menutup mulutnya dengan tangan. Buru-buru gadis itu mengambil handphone dan memfoto Rani. Saat ini Rani tengah bersama pria yang tempo hari dilihatnya. Pria dengan tato yang sengaja dihapus paksa, hingga meninggalkan bekas.
Rani dan laki-laki itu kini bergerak. Intan pun segera membayar es jeruknya, lalu berlarian untuk mengejar mereka.