Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Ryan


"Amandaaa, mana baby twins?"


Nindya berteriak kegirangan saat video call dengan Amanda.


"Nih."


Amanda menunjukkan bayi-bayinya.


"Ih, lucuuu. Gemeees." teriak Nindya lagi.


"Duh kenapa banget coba handphone gue yang ini mesti tinggal, nggak tau gue kalau mereka udah lahir."


"Lo dari mana sih?. Gue pikir lo ganti nomor." ujar Amanda kemudian.


"Kagak, gue dari Peru sama anak sama laki gue. Handphone ini tinggal dirumah."


"Ngapain lo kesana?"


"Ke Machu Pichu, laki sama anak gue ngebet banget kesana. Mana-mana bayi lo tadi, gue mau mengamati mukanya."


"Nih, ini Afka." Amanda menunjukkan bayi Afka pada Nindya.


"Ini mirip lo banget ya, man."


"Iya, Nind. Bapaknya juga bilang begitu, mertua gue juga. Yang satunya mirip bapaknya, nih."


Amanda menunjukkan bayi Azka pada Nindya.


"Ih iya, ini mah Arka banget mukanya, ya ampun. Lucu-lucu banget sih."


"Lucu, tapi kalau ngamuk, serem."


"Hahaha, begadang lo yak?"


"Jarang sih, bapaknya mulu yang bangun malem."


"Lo molor?"


"Molor dong, kan istri songong."


"Hahaha."


Mereka pun lanjut berbincang sambil membahas banyak hal termasuk parenting.


Sementara di kantor, Arka yang tengah bekerja tiba-tiba didekati oleh Cintara.


"Hai, Ka." ujar gadis itu seraya duduk dihadapan Arka.


"Hai, Cin."


"Kenapa chat aku susah banget kayaknya dibales sama kamu."


"Sorry, aku banyak urusan. Dan aku emang lama orangnya, kalau balas chat."


"Oh, gitu. Oh ya, aku baru tau loh ternyata kamu main di beberapa film dan sinetron televisi."


Arka terhenyak menatap gadis itu, ia tak menyangka rahasianya telah diketahui.


"Sama doang kali."


"Ye, orang aku liat namanya sama persis sama kamu. Masa iya ada orang lain yang nama sama mukanya sama persis."


Arka tertawa dan masih terus bekerja.


"Ntar pulang kerja, kamu kemana Ka?" tanya Cintara.


"Ya pulang lah." ujar Arka singkat.


"Hmm, nggak niat kemana-mana gitu?"


"Nggak, mau tidur." ujar Arka setengah tertawa. Ia lalu beranjak dan mengambil gelas. Ia berjalan ke pantry untuk membuat segelas kopi disana.


"Jangan ngarep sama Arka, susah orangnya."


Salah seorang karyawati yang duduk didekat Arka berujar pada Cintara.


"Emang iya sesulit itu?" tanya nya tak percaya.


"Coba aja." ujar karyawati itu seraya tersenyum.


***


Amman masih terpaku menatap layar besar yang ada di ruangan meeting. Tepatnya menatap tayangan iklan yang dibintangi oleh Arka. Sampai hari ini perusahaannya tidak memberhentikan Arka sebagai brand ambassador, dari produk kesehatan yang mereka produksi.


Dari saat kasus Arka serta Liana mencuat waktu itu saja, pihak petinggi perusahaan Amman tak banyak memberikan reaksi.


Amman juga tak memberitahukan, jika Arka telah menikahi Amanda tanpa sepengetahuan dirinya. Kalaupun ia memberitahu, maka sudah dipastikan pihak jajaran perusahaan tak akan peduli.


Alasannya tentu saja karena penjualan produk mereka kini meningkat tajam, setelah merekrut Arka sebagai brand ambassador. Perusahaan tak akan peduli ada masalah apa antara Amman dan juga pemuda itu.


Amman boleh jadi pendiri perusahaan, namun di dalam perusahaan ini juga terdapat orang lain yang mempunyai hak suara yang sama. Intinya Amman tak bisa mengambil keputusan sendiri, meskipun ia memiliki kuasa.


"Lihat, talent yang kamu carikan itu sudah membuat Amman menjadi seperti itu."


Rachel mencecar Vera, yang kini tengah berdiri didepan kaca ruangan meeting. Mereka tengah memperhatikan Amman.


"Well, setidaknya penjualan perusahaan meningkat tajam berkat Arka. Tidak seperti talent yang waktu itu bu Rachel rekomendasikan."


Vera menatap Rachel dengan tatapan yang tak begitu bersahabat, begitu juga sebaliknya.


"Bu Rachel."


Tiba-tiba seorang kepala divisi mendekat padanya.


"Ada apa?" tanya Rachel.


Kepala divisi itu membisikkan sesuatu di telinga Rachel. Tak lama wanita itupun terdiam, bahkan nyaris kaku.


Amman kembali ke ruangannya beberapa saat kemudian, namun seketika ia terkejut. Tatkala melihat seseorang yang tengah duduk di kursinya, seraya menatap ke arah kaca.


"Amman."


Kursi itu berbalik dan terlihatlah sesosok pria.


"Ryan?" ujar Amman tak percaya.


"Hai." ujar Ryan dengan nada dingin. Ia kini menatap kearah Amman.


"Long time no see, my old friend."


Amman berdiri dengan emosi yang membuncah, serta gigi yang gemertak.


"What are you doing, here?" ujarnya perlahan namun penuh penekanan.


"Menagih janji." ujar Ryan lalu meraih gelas dan juga wine yang ada di meja Amman. Ia lalu minum tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Oh waw, it's good." ujarnya kemudian.


Amman sudah tidak tahan lagi dengan sikap laki-laki itu.


"Pergi dari ruangan ini, sekarang...!"


Ryan beranjak, lalu mendekat ke arah tempat dimana Amman tengah berdiri.


"Saya kesini hanya untuk memberitahu, kalau waktu yang tersisa hanya dua bulan lagi. And by the way, Vera is a beautiful and pregnant."


"Apa Rachel tau soal itu?" tanya Ryan.


Amman kian terpaku, Ryan tersenyum penuh maksud lalu pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Bapak mau ketempat mbak Amanda?"


Nadine bertanya pada Nino, tentang keinginannya untuk pergi mengunjungi wanita itu.


"Kamu kenapa sih manggilnya bapak terus, berasa tua banget tau nggak."


"Cie udah punya banyak suara buat ngomong, biasanya irit banget." ujar Nadine meledek. Sementara Nino hanya tersenyum tipis lalu membuang pandangannya ke tempat lain.


"Nggak usah terlalu kaku napa, pak."


Nino melihat ke arah Nadine seakan hendak memarahi gadis itu.


"Iya deh, nggak bapak. Om Nino."


Nadine menahan tawa, namun kali ini Nino benar-benar tersenyum.


"Manis deh kalau senyum."


"Nad, please."


"Ok."


Nadine pun menyudahi ledekannya, karena Nino yang cool tak tahan dengan semua itu. Meskipun itu terlihat sangat lucu bagi Nadine.


"Bapak mau ketempat mbak Amanda?" tanya Nadine sekali lagi, Nino mengangguk.


"Mau nemenin?" tanya nya kemudian.


"Boleh." ujar Nadine antusias.


"Ya udah, aku telpon Amanda dulu. Dia available atau nggak."


"Ok."


Nino pun menelpon Amanda.


"Man."


"Iya, kenapa Nin?"


"Aku sama Nadine boleh jenguk bayi kamu nggak?"


"Kalian mau kesini?"


"Iya, tapi kasih tau suami kamu dulu. Boleh atau nggak."


"Ok, ya udah. Aku telpon Arka dulu ya."


"Sip."


Amanda menyudahi telpon dengan Nino, lalu menelpon suaminya.


"Ka."


"Iya."


"Nino sama Nadine katanya mau jenguk anak-anak. Boleh nggak?"


"Oh ya udah, nggak masalah. Kenapa emangnya?"


"Kirain nggak boleh gitu sama kamu, Nino bilang suruh aku izin dulu sama kamu."


Arka tertawa.


"Boleh koq, Man. Ya udah suruh aja mereka datang."


"Ya udah, makasih ya Ka."


"Iya sayang."


"By papa Arka."


"By mama cantik."


Arka tersenyum.


"Ka, abis nelpon mama kamu ya?"


Tiba-tiba Cintara bertanya pada Arka. Arka sendiri terkejut dengan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba.


"Hmm, ya."


Arka tersenyum lalu kembali ke mejanya.


"Well, seperti kata Irene. Arka itu sulit, tapi bukan Cintara namanya kalau menyerah gitu aja."


Cintara senyum-senyum sendiri, lalu kembali ke tempatnya.


Amanda memberitahu Nino, jika Arka mengizinkan. Nino dan Nadine pun lalu berangkat. Sebelum itu mereka mampir ke baby shopping center, untuk membeli kado bagi bayi Amanda terlebih dahulu.


Ketika mereka sampai, Amanda menjamu mereka layaknya teman lama. Karena memang Nino adalah teman lamannya, Nadine pun juga adalah temannya. Hanya saja diantara mereka pernah ada rasa yang tertinggal, namun itu tak menjadi masalah lagi kini. Masing-masing pihak sudah menerima semuanya dengan ikhlas.


Nino menggendong bayi-bayi Amanda satu persatu, mengajak mereka bicara seakan mereka mengerti. Bayi-bayi itupun sepertinya tak masalah, karena mungkin mereka menangkap tak ada sinyal buruk di hati Nino. Nino yang datang kali ini adalah murni seorang teman, ia tak ada maksud lain kecuali ingin bertemu dengan bayi-bayi itu. Ia bahagia untuk Amanda.


"Zreeet."


Tiba-tiba handphone Nino bergetar, usai ia meletakkan Azka yang tertidur dalam gendongannya ke dalam box bayi. Ia tak mengenali nomor tersebut.


"Hello my son."


"Dad?"


Nino menyadari suara ayahnya dan menyadari pula jika ayahnya itu telah menggunakan nomor +62. Itu berarti....


"I'm here, where is your brother?"


"A, Ansel?"


"Ya, dimana saudara kamu yang bandel itu?"


"A, am..." Nino menarik nafas.


"Nino, I talk to you, son. Where is your brother?"


Nino menutup telponnya, kini jantung pria itu berdegup kencang. Ansel sudah meminta kepada Nino untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada siapapun, termasuk sang ayah. Karena Ansel malas diatur oleh orang tuanya itu. Ia lalu menghubungi nomor Ansel.


"Ansel."


"Ya."


"Daddy."


"Daddy?" tanya Ansel tak mengerti.


"He is here."


Petir pun menyambar, Ansel terpaku dengan bibir yang menganga.