
"Hallo baby Kanan-Kiri."
Amanda berujar pada bayi-bayinya ketika ia telah kembali ke penthouse dan mencuci tangan. Para bayi kegirangan dan membuat gerakan seakan minta di gendong ibunya. Amanda pun menggendong mereka satu persatu.
"Tadi dari ngapain aja sama papa, diajak main kemana sama papa?. Hmmm."
"Hoaaaahuuu." Azka bersuara, sementara Afka cegukan.
"Hokek, hokek, hokek."
"Tadi kita main didepan ya dek, ya. Ketemu orang-orang ya." ujar Arka pada Afka. Afka pun tertawa.
"Nangis nggak tadi?" tanya Amanda.
"Nggak ya, dek. Cuma ngamuk aja, teriak-teriak."
ujar Arka seraya tertawa.
"Loh kenapa?" tanya Amanda lagi.
"Telat ngasih susu, sampe ngegas banget teriaknya.
"Hahaha." Amanda tertawa.
"Nggak boleh nggak sabaran gitu ya, kasihan loh papa digituin. Harus baik sama orang tua ya, anak-anak mama."
"Huuuu, hoaaa."
"Uuuu iya, ngerti ya omongan mama?"
"Hukhoaaaa."
Arka dan Amanda tersenyum.
"Kamu makan gih, Man. Tadi ibu kirim sambel ayam suwir kemangi sama orek tempe. Sayurnya udah aku tambahin itu, ada bayam bening."
"Wah, kamu tau aja aku laper. Papa emang the best ya dek. Papanya siapa?" tanya Amanda.
"Papanya Azka sama Afka dong." ujar Arka.
"Papa ganteng ya?" ujar Amanda.
"Gantengan Azka-Afka, apa papa Arka?" ujarnya lagi.
Arka tertawa.
"Hoaaaahuuu."
"Gantengan papa, ya?"
Arka makin tertawa.
"Hoaaaahuuu."
"Oh nggak terima, iya-iya gantengan Azka sama Afka. Papa mah lewat ya, gantengan kalian ya."
"Hoaaa." Kedua bayi itu tertawa, Amanda dan Arka sama-sama ikut tertawa.
"Udah ah, mama mau makan dulu. Laper, nanti ASI nya nggak banyak kalau nggak makan."
Amanda meletakkan bayinya ke dalam box. Ayo Ka, makan. Kamu belum makan kan?"
"Tadi siang udah, sore belum. Sengaja mau nunggu kamu."
"Ya udah ayok." ajak Amanda.
Arka meletakkan bayi yang satunya lagi kedalam box, tampak mereka berceloteh dengan sendirinya. Arka dan Amanda lanjut ngobrol diruang makan sambil menikmati masakan ibu Arka.
"Hmm, wangi banget. Ibu the best emang kalau masak." ujar Amanda seraya mengambil nasi.
"Ini, Ka." Ia menyerahkan nasi tersebut pada suaminya. Lalu tak lama ia menuangkan air minum untuk mereka berdua. Terakhir, ia baru mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Hmmm, enak banget." ujarnya setelah menerima satu suapan. Arka tersenyum.
"Ka, kamu kapan selesai kuliahnya."
"Uhuk."
Amanda bertanya setelah nasi mereka hampir habis, Arka tersedak karena menahan tawa.
"Tau nih, skripsi aja belum ada seperempat. Mager banget. Kalau bisa copas, copas dah."
Amanda tertawa.
"Kamu copas ya dulu?" tanya Arka.
"Enak aja, aku nyusun sendiri ya?" Amanda menghabiskan air dingin yang ada dihadapannya.
"Berapa lama?"
"Lama sih, hehehe." Wanita itu tertawa diikuti senyum suaminya.
"Aku juga sama kayak kamu, mageran. Sampe akhirnya aku niatin bener-bener, kelar dah tuh."
"Iya nih, kayaknya aku butuh niat dan tekad yang kuat." ujar Arka kemudian. Ia pun telah selesai makan lalu mereguk air minumnya.
"Kerjain aja pelan-pelan. Kalau kamu butuh konsentrasi, aku sama anak-anak bisa kerumah satunya dulu. Kamu disini aja."
"Nggak masalah, koq. Justru kalau kalian jauh, nanti aku makin nggak bisa konsentrasi. Mikirin kalian mulu."
Arka dan Amanda bersitatap, lalu mereka sama-sama tertawa.
"Iya kacau banget ini, mendadak aku jadi bapak-bapak." ujar Arka.
"Hoaaaahuuu."
"Hoaaaa."
"Nah loh, dijawab." ujar Arka seraya masih tertawa.
"Mereka nguping aja ya, pembicaraan orang tua." ujar Amanda.
"Namanya juga bocil jaman now." tukas Arka.
***
Jauh di sudut kamar, kediaman orang tua Arka. Ibunya kini jadi selalu terpikir pada Ryan. Pertemuan mendadak antara ia dengan pria dari masa lalunya itupun, membuat ia tak bisa tidur nyenyak.
Wanita itu takut, jika Ryan datang untuk mendekati Arka dan merebut perhatian anak itu darinya. Arka adalah satu-satunya anak yang ia miliki, ia tak ingin kasih sayang Arka terbagi pada Ryan. Ia dan suaminya yang sekarang lah yang telah bersusah payah membesarkan Arka. Ia tak ingin Arka jadi lebih dekat dengan Ryan, sekalipun Ryan adalah ayah kandungnya.
Sementara disisi lain, Ryan terus-menerus berfikir bagaimana caranya untuk tetap terus berada di dekat Arka. Apakah ia harus pindah ke dekat penthouse anak itu, ataukah membujuk Arka untuk bekerja di perusahaannya.
"Hhhhh."
Ryan menghela nafas, lalu mereguk kopi yang ada dihadapannya. Kopi itu sudah agak dingin, karena ia menyeduhnya sudah cukup lama. Andai saja saat ini ia punya keberanian, ia ingin sekali segera mengatakan pada Arka. Perihal siapa sesungguhnya dirinya.
Namun ternyata mengatakan suatu perkara dengan jujur itu, lebih sulit ketimbang mencari apa yang hilang. Ia bisa dengan mudah dipertemukan dengan mantan kekasih dan anaknya itu. Namun ia tak mudah untuk berkata jujur.
"Tidak."
Ia tidak ingin kehilangan Arka secepat itu. Sudah barang tentu anak itu akan marah besar padanya, sebab selama 23 tahun ini ia bahkan tak pernah bertanggung jawab sedikitpun.
***
Beberapa hari berlalu.
Amman tengah memukul samsak tinju dengan sekuat tenaga, bahkan memukulnya hingga berkali-kali. Pria tua yang masih kekar dan sixpack tersebut tampaknya sedang mencari cara untuk meluapkan emosi.
Betapa tidak, perusahaannya mengalami kerugian di beberapa sektor. Akibat produk kompetitor yang dihasilkan perusahaan Ryan.
Penyakit orang negri ini, mereka lebih percaya kepada produk luar ketimbang produk bangsanya sendiri. Sekalipun produk buatan bangsanya jauh lebih unggul ketimbang buatan bangsa lain. Namun gengsi dan anggapan bahwa produksi orang asing lebih baik lah, yang membuat produk asli dalam negri menjadi kurang diminati.
Meskipun produk yang iklannya di bintangi oleh Arka mengalami banyak kemajuan dalam hal penjualan, namun banyak produknya yang lain kalah saing dengan produk yang diproduksi oleh perusahaannya Ryan. Amman pun jadi begitu marah dan kesal.
"Buuuk."
"Buuuk."
Ia terus memukul samsak tinju tersebut, tanpa ia sadari jika Rachel hadir disana.
"Buuuk."
Ia menyudahi semua itu, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.
"Salah satu produk kita sudah resmi gagal di pasaran." Rachel berujar pada Amman. Pria itu hanya diam tak bergeming, namun tatapan matanya penuh dendam.
Sore itu ia mencegat Amanda yang baru saja keluar dari kantor dan hendak pulang kerumah, kebetulan Arka belum tiba dan masih terjebak kemacetan.
"Kapan kamu akan membalas budi atas apa yang sudah perusahaan papa lakukan untuk perusahaan ini?"
Amman bertanya pada puterinya dengan penuh keseriusan.
"Kenapa Budi harus dibalas, Budi salah apa?" Amanda berkata dengan wajah yang datar.
"Amanda, kalau kita beraliansi dengan perusahaan kompetitor. Kita akan tumbuh lebih besar."
"It's yours. Itu kompetitor papa, bukan kompetitor perusahaan ini. Kami nggak ada hubungannya dengan semua itu."
"Tapi cuma kamu satu-satunya kunci yang bisa membuka hati mereka."
"Dengan perjodohan itu?. Supaya apa?"
"Supaya dia percaya, kalau papa nggak akan merusak aliansi ini."
"Kenapa harus seperti itu, apa papa pernah mengecewakan mereka?. Mau beraliansi ya harusnya beraliansi saja, kenapa harus ada perjodohan segala. Kita bukan dua kerajaan, cuma dua perusahaan."
Amman diam, sejujurnya dulu ia pernah mengkhianati Ryan. Ia dan Ryan berteman sejak masih kuliah di luar negri, mereka berjanji untuk membuat perusahaan bersama. Tapi setelah susah payah dirintis, Amman mendepak Ryan yang sudah ia janjikan saham sebesar 50%.
Ryan dendam, dan membangun perusahan yang sama di negaranya. Lalu ia datang ke negri ini dan ingin membalas perlakuan Amman. Ia sengaja membuat produk yang sama dengan apa yang perusahaan Amman produksi. Ia juga terus menekan agar Amman mengalami kerugian.
Satu-satunya cara Amman menyelamatkan usahanya adalah dengan menerima tawaran aliansi dari perusahaan Ryan. Amman harus memenuhi janjinya dahulu perihal saham itu, dan Amman harus menikahkan anaknya dengan anak Ryan. Agar Ryan bisa yakin jika Amman tidak akan berbohong lagi.
"Hanya itu satu-satunya cara." ujar Amman kemudian.
"Papa kan tau saya punya suami."
"Suami bayaran."
"Saya tidak pernah membayarnya lagi, dia yang menafkahi saya dan anak-anak."
"Dan kamu akan mendapat nafkah yang jauh lebih baik, kalau kamu menikah dengan anaknya dia."
Kali ini Amanda menghela nafas dan menatap ayahnya itu.
"Saya lagi nggak mau emosi, saya lagi nggak mau berteriak ataupun marah. Tapi asal papa tau, apa yang sudah papa lakukan kepada Arka dan juga anak-anak saya. Itu sudah sangat keterlaluan, Arka cerita soal papa yang mencoba membayar dia, merendahkan harga diri dia. Papa pikir segalanya bisa selesai dengan uang?. Nggak. Sampai hari ini saya belum memaafkan papa, saat papa menghina anak-anak yang saya lahirkan. Mau berasal dari tempat terendah manapun benih yang saya kandung, mereka tetaplah darah daging saya. Urusan papa, bukan tanggung jawab saya."
Arka tiba di depan lobi, Amanda meninggalkan. ayahnya begitu saja. Dalam kekesalan yang begitu membuncah tentunya.