Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Bucin Expert


"Nin, ayo makaaan."


Rengek Ansel pada Nino.


"Ya ntar dulu, Bambang. Ini juga lagi nyari, pada tutup semua tuh. Udah jam berapa ini." ujar Nino seraya memperhatikan sepanjang jalan, yang sudah tidak banyak lagi pedagang kaki lima.


"Lurus ke kanan, bro. Disitu biasanya masih ada tuh, seafood dan lain-lain." ujar Rio.


"Belokan ini ya?" tanya Nino.


"Bukan satunya lagi." ujar Rio.


"Nah itu tuh." Arka ikut berujar.


Nino lalu mengarahkan mobil kesana dan ternyata benar, masih ada beberapa street food yang masih buka ditempat itu. Mereka kemudian berhenti pada sebuah warung tenda yang menjual aneka jenis seafood.


"Sayang, bangun. Kita makan." ujar Arka membangunkan istrinya. Sejak beberapa saat yang lalu, Amanda memang sudah begitu mengantuk. Arka membiarkan saja istrinya itu terlelap barang sejenak.


"Hmmh, udah sampe ya?" tanya Amanda.


"Iya, ditempat makan. Kita makan dulu, ayo turun."


"Ayo Firman, sayang." ujar Ansel kemudian.


"Aku kejepit di belakang, kalau kamu nggak turun." lanjutnya lagi.


Amanda tersenyum lalu menguap dan menggeliat.


"Hoahm."


Ia kemudian keluar dari dalam mobil diikuti oleh Arka, lalu Ansel pun ikut keluar. Mereka masuk ke dalam warung tenda tersebut, yang kebetulan tak begitu ramai karena hari sudah larut.


"Selamat malam." ujar pelayan warung tersebut sambil menyerahkan menu.


"Selamat malam." ujar Nino dan lainnya seraya menarik kursi plastik yang tersedia, kemudian mereka duduk bersama pada satu meja besar.


"Mau pesan apa." tanya pelayan itu kemudian.


"Minum dulu deh, saya mau es teh manis." ujar Nino.


"Lo apa?" tanya Nino pada yang lainnya.


"Gue sama, kamu apa sayang?" Arka bertanya pada Amanda.


"Sama." jawab Amanda.


"Gue es jeruk." ujar Rio.


"Ansel?" Nino bertanya pada Ansel.


"Gue, dua duanya. Es teh manis sama es jeruk."


Mereka semua kompak menahan senyum.


"Diabetes lo." ujar Nino kemudian. Ansel hanya nyengir.


"Ok, itu aja dulu mbak." ujar Nino kemudian. Pelayan itu pun pergi dan mereka mulai melihat-lihat menu.


"Gue pengen cumi saos Padang sama cah kangkung tauco." ujar Nino.


"Gue, udang goreng tepung sama gurame." ujar Rio.


Amanda dan Arka memilah-milah.


"Gue mau udang, cumi, gurame, kangkung juga." ujar Ansel. Mereka semua kini tertawa melihat tingkah Ansel.


"Laper banget lo, emang?" tanya Nino pada saudaranya yang ajaib itu.


"Iya, gue belum makan dari siang."


"Lo seharian ini ngapain aja?" tanya Arka heran.


"Banyak kerjaan gue, dan nggak ***** makan juga tadi."


"Ya udah, ya udah. Buruan, pesen aja langsung. Ntar maag lo kambuh, gue yang susah." ujar Nino.


"Emang Ansel kalau sakit kayak anak kecil?" tanya Arka.


"Kayak bocil FF keselek biji kendondong tau nggak lo. Nyusahin, nyebelin pokoknya."


"Tapi lo sayang kan Nin, sama gue?" tanya Ansel sambil nyengir. Arka, Rio dan Amanda tertawa.


"Terpaksa." ujar Nino seraya melambaikan tangan ke arah pelayan.


"Alah, padahal lo pernah nangis kan waktu gue sakit hampir mati."


"Kalau lo mati, gue nggak punya temen berantem lagi, Sel. Masa gue berantem sama daddy, yang ada digebukin gue."


Pelayan mendekat.


"Mau pesan apa pak?" tanya pelayan itu pada mereka.


Mereka semua menyebutkan apa saja yang hendak mereka pesan, kemudian lanjut berbincang setelah pelayan itu pergi.


"Emang Ansel sakit apa waktu itu?" tanya Arka penasaran.


"Tipes."


"Wah bahaya tuh." ujar Amanda.


"Iya, tetangga gue ada yang meninggal." ujar Rio.


"Iya itu, dia hampir meninggal." ujar Nino.


"Terus sembuhnya gimana?" tanya Arka.


"Biasanya kan dirumah sakit pun, susah ketolong kalau udah parah." lanjutnya lagi.


"Dibeliin Nino obat Cina, tau-taunya cacing tanah."


Nino ngakak melihat ekspresi wajah Ansel dalam menjelaskan hal tersebut. Arka, Amanda dan Rio pun jadi ikut tertawa.


"Iya kan, emang itu obatnya." ujar Amanda.


"Iya tapi kan gue jijik, Amanda. Geli." ujar Ansel kemudian.


"Gue kalau inget itu, dendam banget sama Nino."


Lagi-lagi Nino tertawa, begitu pula dengan yang lainnya.


Ketika makanan datang, mereka tak lantas makan sendiri-sendiri. Mereka berbagi satu sama lain, hingga meja tersebut pun tampak seperti meja makan keluarga. Yang mana setiap anggotanya bebas mengambil apa saja yang mereka inginkan.


"Masakannya enak banget." ujar Amanda sambil menyuap makanan dengan lahap.


"Iya." timpal Rio tak kalah lahapnya.


"Nggak ada yang nggak enak loh." ujar Nino.


"Biasanya gue makan seafood, pasti ada aja yang nggak enaknya. Entah itu kangkungnya, saosnya atau sambelnya. Ini semuanya enak." lanjut Nino lagi.


"Kalau menurut lo, Sel?" tanya Arka pada Ansel.


"Iya, enak semua." ujar Ansel.


"Ansel mah jangan ditanya." ujar Nino.


Mereka semua kembali tertawa.


Tiba-tiba handphone Ansel berbunyi, ternyata telpon dari Intan.


"Iya sayang, aku lagi makan." ujar Ansel dengan suara yang sengaja dibuat cool. Ia mulai memperlambat makannya yang semula sangat binal.


"Mau?" ujar Intan diseberang sana.


"Mau apa, udang, cumi, gurame, bebek goreng atau apa?. Nanti aku ojekin kesana."


"Ada kangkung nggak?" tanya Intan.


"Ada."


Ansel lanjut berbicara pada Intan.


"Bucin." ujar Nino pada Ansel. Arka, Amanda dan Rio pun tertawa.


"Lo bucin nggak?" tanya Nino pada Rio.


"Dih, gue mah kagak. Tanya Arka noh." ujar Rio membela diri. Selang beberapa detik kemudian, ia ditelpon oleh Liana.


"Iya sayang, kenapa?" Rio otomatis berujar, dengan suara yang sengaja di halus-haluskan.


Nino, Arka dan Amanda saling menatap sambil memberi kode dan menahan senyum. Rio membahas cukup banyak hal dengan kekasihnya itu, sampai kemudian.


"Kamu udah makan?" tanya nya kemudian.


"Belum, bingung mau makan apa." jawab Liana.


"Jangan kayak gitu, kamu tuh lagi hamil. Aku ojekin makanan ya, kesana."


"Ya udah deh, mau." ujar Liana.


"Mau apa?. Aku lagi di seafood. Ada udang, ikan, cumi, kerang, kangkung dan lain-lain."


"Mau cah kangkung sama cumi asam manis."


"Itu aja, yang lainnya nggak?"


"Hmmm sama kerang rebus sambel, sama es jeruk deh."


"Ya udah aku pesenin dulu ya."


"Ok."


Liana menutup telpon.


"Hallo bucin." Arka, Amanda, dan Nino kompak meledek Rio. Rio pun tekekeh.


"Anying." ujarnya kemudian.


Ia dan Ansel pun memesan makanan untuk kekasih mereka masing-masing. Tak lama kemudian handphone Nino yang berbunyi, ternyata telpon dari Nadine.


"Iya, sayang."


"Pak Zio sayang, Nadine laper.


"Kamu belum makan?" tanya Nino.


"Iya belum."


"Ya udah, mau apa?. Aku lagi makan di seafood."


"Sama siapa?"


"Sama Ansel, Arka, Amanda, Rio. Kamu mau makan apa?"


"Ada apa aja?" tanya Nadine kemudian.


Nino menyebutkan menu-menu andalan yang ada ditempat itu, pilihan Nadine pun jatuh pada beberapa jenis masakan.


"Ya udah, bentar lagi aku ojekin ya. Tunggu aja."


"Ok, makasih ya sayang."


"Iya."


"Ya udah kamu makan dulu, bye sayang."


"Bye." Nino menutup telpon, namun ia mendapati semua mata tertuju padanya.


"Hallo bucin." ujar mereka semua pada Nino, pria itupun tertawa.


"Bilangnya nggak bucin." ujar Arka.


"Halah kayak lo nggak bucin aja." ujar Rio.


"Dih, gue mah biasa aja." Arka membela diri.


"Ka, mau itu." ujar Amanda melirik udang yang ada di piring Arka. Arka pun lalu menyuapi istrinya itu.


"Hallo bucin."


Rio, Nino, dan Ansel berujar pada Arka. Kali ini Arka dan Amanda pun tertawa.


"Bucin juga kan lo." ujar Ansel meledek saudaranya itu.


"Ini kan biasa."


"Halah bucin mah, bucin aja." ujar mereka serentak. Mereka semua pun kembali tertawa-tawa.


Usai makan, mereka mengobrol sejenak. Menikmati segelas kopi dan merokok, setelah itu mereka pun pulang. Pertama, Nino dan Ansel mengantar Rio, lalu mengantar Arka dan Amanda. Setelah itu mereka pulang ke kediaman Ryan.


"Arkaaa."


Amanda berteriak kencang, selang beberapa saat mereka tiba di penthouse. Arka pun menghampiri istrinya yang berdiri dengan wajah syok di kamar si kembar.


"Kamu kenapa?" tanya Arka panik.


"Nggak, Ka." Amanda mengatur nafas.


"Kenapa?" tanya Arka masih dalam keadaan panik.


"Tadi aku kaget anak-anak nggak ada disini, tapi sekarang aku inget kalau mereka dititipin dirumah satunya."


Arka menghela nafas.


"Aku pikir apaan, Firmaaan. Ngagetin aja kamu, jantung aku mau copot loh rasanya."


Amanda tertawa.


"Kayaknya kamu ngantuk parah, deh." ujar Arka.


"Iya nih, mana kena kangkung lagi tadi."


"Ya udah, cuci muka, gosok gigi, tidur." ujar Arka kemudian.


"Ok."


Amanda pun beralih ke kamar. Ia menghapus makeup, mencuci muka, menggosok gigi lalu berganti pakaian dan pergi tidur. Tak lama kemudian, Arka pun melakukan hal yang sama.