
Arka dan Amanda menginap dirumah orang tua Arka. Amanda yang meminta pada suaminya untuk berada di sana selama beberapa hari ke depan.
Arka yang tak melihat keanehan dalam diri istrinya tersebut, hanya menuruti saja permintaan Amanda. Mungkin saat ini Amanda ingin berada didekat keluarga, pikir Arka.
Apalagi kehamilannya yang hampir memasuki bulan kedelapan, tentulah ia di bayang-bayangi perasaan takut akan melahirkan. Seperti apa nanti, bagaimana rasanya.
Mungkin dengan berada didekat keluarga Amanda bisa merasa sedikit lebih tenang, karena merasa mendapatkan dukungan.
Pagi itu juga ia memilih bekerja dari rumah. Arka tentunya senang jika Amanda mau beristirahat dirumah ibunya. Sementara Arka tidak tahu jika Amanda saat ini tengah menghindari kejaran ayahnya, Amman. Yang entah mengapa terlihat ingin sekali bertemu dengan istrinya itu.
Padahal selama ini hubungan mereka selalu buruk, bahkan Amman cuek saja jika Amanda tak ada kabar. Apapun hal yang dilakukan Amanda, tak pernah membuat Amman merasa terusik.
"Man, aku pergi dulu ya."
Arka pamit pada istrinya, karena hari ia akan menjalani syuting iklan produk healthy food milik perusahaan Amman.
"Good luck ya, Ka."
Amanda memeluk suaminya dan Arka pun mencium kening istrinya itu.
"Dek, doain papa ya." ujar Arka seraya mengusap perut Amanda.
Wanita itu pun tersenyum.
"Bu, Arka pergi."
Arka berpamitan pada ibunya. Hal itu bertepatan pula dengan ayahnya yang hendak ke toko, mereka pun lalu berangkat bersama. Usai melepas kepergian Arka, Amanda membantu mertuanya membereskan rumah dan tentu saja mereka pergi ke pasar.
Amanda diantar mertuanya pulang ke rumah, sesaat setelah berbelanja. Sedang ibu Arka kembali ke pasar untuk berjualan.
***
Di kantor.
Suasana hari itu lumayan sibuk, ada banyak perubahan sistem yang terjadi belakangan ini. Tentu saja Amanda juga ikut sibuk, meski bekerja dari rumah. Ia masih menerima telpon, pengaduan, dan lain sebagainya. Sisanya dikerjakan oleh seluruh karyawannya.
Pada saat para karyawan tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Saat itu pulalah, Rani menyelinap keruangan Amanda yang saat itu lupa di kunci oleh Pia.
Entah apa yang dilakukan wanita itu didalam sana, yang jelas kegiatannya luput dari pandangan Intan. Intan sendiri saat ini sedang dibawah, atasannya menyuruh gadis itu memesan kopi. Sebagai karyawan tentu saja ia mengerjakan semua itu. Walaupun bukan bagian dari jobdesk.
Sambil menunggu kopi selesai dibuat, Intan membuka laman platform baca novel online dan mulai memilah-milah cerita yang ada disana. Tak lama kemudian Rani terlihat melintas terburu-buru, wanita itu kini menuju ke gerbang depan. Karena penasaran, Intan pun membuntutinya.
Rani tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, Intan sudah tau pastilah wanita itu akan melakukan sesuatu. Karena jika tidak, mengapa ia tampak ketakutan melihat kesana kemari. Maka Intan pun tak ingin membuang waktu, ia segera menghidupkan kameranya dan mulai merekam.
Tak lama kemudian sebuah mobil tiba dihadapan Rani. Kaca samping mobil itupun dibuka. Terlihat sesosok laki-laki yang berusia kira-kira 60an tahun, Intan sendiri tak tahu siapa laki-laki itu.
"Pak Amman." ujar Rani.
Amman menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri, bermaksud agar Rani tak melanjutkan kata-katanya. Tak lama Rani pun mengeluarkan sebuah map dari dalam blazer-nya.
Intan terkejut bukan alang kepalang, segera saja ia merekam semua itu. Termasuk wajah Amman dan mobil yang ia gunakan. Tak lama Rani berbalik dan tersenyum sinis, lalu kembali ke kantor.
Intan terdiam cukup lama ditempatnya, tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lihat. Namun tak lama kemudian, ia mendapat telpon dari atasannya.
"Intan, kopi saya mana?"
"Eh, oh, iya pak."
Buru-buru gadis itu kembali ke tempat dimana ia tadi memesan kopi, ia mengambil pesanan tersebut dan kembali ke atas.
***
Keenan Arka Adrian menjalani proses syutingnya hari itu dengan lancar. Baik pihak sutradara, kru, maupun talent supporting, semuanya dapat bekerjasama dengan baik.
Vera selaku perwakilan perusahaan Amman pun, merasa puas dengan hasil yang didapat. Meski iklan tersebut masih harus melalui banyak proses, hingga kemudian dinyatakan rampung.
Ia tidak salah dalam memilih bintang iklan, tidak seperti Rachel yang tempo hari memilih talent dengan kemampuan biasa saja. Vera yakin semakin baik pekerjaannya, semakin baik pula pandangan Amman terhadap dirinya.
Ia ingin sekali menggeser posisi Rachel, sebagai permaisuri di dalam hati Amman. Jika Rachel hanya berperan sebagai pendamping sekaligus pemberi ide. Maka Vera berperan sebagai orang yang membantu segala urusan kantor, dan membantu urusan kepuasan bosnya itu di ranjang.
Setidaknya ia menang banyak dari Rachel. Ia masih muda dan masih legit, tak seperti Rachel yang meskipun cantik tetapi sudah berusia di atas 50 tahun. Ditambah lagi tabiatnya yang sangat suka berbelanja dan menghabiskan uang Amman.
Vera sendiri tak pernah banyak meminta kecuali jenjang karier, baginya itu lebih penting ketimbang uang tunai. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar pula peluangnya untuk selalu berada dibelakang Amman.
Setiap kali laki-laki itu mengambil keputusan, maka ia akan menjadi orang pertama yang mendukung secara penuh. Kesuksesan Amman berkat bantuannya, adalah jalan ninja untu mendapatkan banyak hal. Sebab Amman akan memandangnya sebagai orang yang berharga dan dibutuhkan.
Vera pandai dalam hal strategi menguasai seseorang, ia tak terlalu terburu-buru pada uang. Sementara Rachel hanya berkonsentrasi pada uang Amman semata.
"Hueeek."
Tiba-tiba Vera seperti ingin muntah. Ia buru-buru pergi ke toilet, saat itu berbarengan dengan selesainya proses syuting.
Sutradara, talent, dan para kru saling berterima kasih satu sama lain. Mereka pun mulai bubar satu persatu, sementara para kru membereskan peralatan dan membongkar set.
Arka berlarian ke toilet, ia sudah menahan buang air kecil sejak tadi. Setelah selesai ia pun keluar dari dalam toilet tersebut. Namun kemudian ia mendengar seperti suara terjatuh, entah benda atau apa.
"Buuuk."
Arka menoleh ke depan toilet wanita, dimana Vera tergeletak tak sadarkan diri.
"Bu Vera."
Arka menghampiri wanita itu lalu mencoba membangunkannya, namun tak ada reaksi. Arka pun memanggil kru yang masih tersisa di lokasi. Mereka semua membantunya dan membawa Vera ke rumah sakit.
Beberapa saat berlalu. Di sebuah ruang pemeriksaan, dokter pun memanggil Arka.
"Sore, pak Arka." ujar dokter tersebut.
"Iya sore, dok." jawab Arka.
"Selamat ya, ibu hamil." Dokter tersebut berkata seraya tersenyum.
"Hamil?" tanya Arka kaget.
"Iya, selamat ya."
Dokter tersebut menatap Arka.
Dokter itu lagi-lagi tersenyum.
"Saya tau, bapak suami ibu Amanda kan?"
"Iya dok, saya suami Amanda. Dan ini rekan saya, bukan selingkuhan saya juga."
Dokter tersebut kini tertawa menanggapi penjelasan Arka. Sementara di tempat tidur, Vera tersenyum. Akhirnya pembuahan itu berbuah hasil. Selama beberapa bulan ini ia memang tidak lagi menggunakan kontrasepsi, karena Amman melarangnya.
Amman menginginkan ia hamil, agar bisa mendapatkan penerus. Setelah puteri semata wayangnya Amanda membangkang dan tak mau menuruti keinginan sang ayah.
"Arka, makasih udah nganterin saya." ujar Vera ketika mereka sudah berada di jalan.
"Iya, sama-sama bu." jawab Arka.
"Saya tadi denger, dokter menyebut kalau kamu suami Amanda."
Arka tersenyum.
"Saya udah punya istri, bu." jawab pemuda itu.
"Hah?." Vera terperangah.
"Kamu bukannya masih 21 tahun ya?. Iya kan?"
Arka mengangguk.
"Manajemen merahasiakan pernikahan saya dari publik, untuk kepentingan bersama."
"Kamu MBA atau gimana?"
Arka tertawa kali ini.
"Nggak koq, kita nikah baik-baik."
"Artis juga istri kamu?"
"Nggak, bukan dari kalangan Artis. Dia pekerja, sama seperti ibu Vera."
"Oh ya, seumur kamu?" Vera makin penasaran.
"Nggak, dia lebih tua dari saya bu."
"Waw." Vera menatap Arka.
"Kamu dibiayain dong." canda Vera.
Arka tertawa.
"Saya juga kerja, bu. Saya cari uang buat dia dan calon anak-anak kami."
"Istri kamu lagi hamil?" Lagi-lagi Vera bertanya.
"Iya, sudah tujuh bulan akhir. Mau masuk delapan." jawab Arka.
"Oh ya?. Selamat ya Ka."
"Sama-sama bu, ini ibu hamil anak pertama?" tanya Arka.
Vera tertawa kecil lalu mengangguk.
"Iya, anak pertama saya dengan Amman."
Arka menoleh dengan bibir setengah menganga, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Oh." ujarnya kemudian.
Arka enggan membahas lebih lanjut. Karena belakangan ia pun dikenalkan pada istri Amman, yakni Rachel. Ia enggan bertanya apakah Vera adalah istri kedua dari Amman atau sekedar selingkuhannya. Karena itu bukalah urusannya.
"Istri kamu umur berapa?" tanya Vera lagi.
"31." jawab Arka.
"Hah?. Hampir seusia saya dong."
"Bu Vera juga 31?"
"Saya 33." jawab Vera.
"Beda dua tahun cuma." lanjutnya lagi.
Arka hanya tersenyum, lalu menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam. Ketika pulang ke rumah, Arka mendapati Amanda yang sudah terlelap didepan laptop.
Arka lalu mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkannya ditempat tidur. Perlahan ia menarik selimut agar wanita itu merasa hangat.
"Ka, kamu udah pulang?" ujar ibunya ketika Arka keluar dari kamar.
"Iya bu. Amanda tadi udah makan?" tanya Arka.
"Udah, ini semua dia yang masak. Papamu, Rianti, tadi kita semua makan bareng. Kamu makan gih!"
"Iya bu, Arka mandi dulu." ujar Arka.
"Ya sudah, ibu siapin makan ya?"
"Iya, makasih ya bu."
Arka pun bergegas untuk mandi, sementara istrinya kian terlelap. Amanda tak tahu jika hari ini telah terjadi sesuatu di kantornya. Entah apa yang dilakukan Rani, yang jelas kantor tersebut memiliki CCTV.
Namun jika aksi Rani tak terekam didalamnya, sudah pasti ada rencana besar dan dalang di balik semua itu.
"Apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Entahlah.