Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Hello World


Rio mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menerobos lampu merah dan menyalip beberapa orang dari kiri. Tentu saja ini adalah perbuatan berbahaya yang sangat tak patut untuk ditiru.


Tapi akan lebih berbahaya lagi, jika Arka yang melakukannya. Karena Arka saat ini tengah dilanda kepanikan dan juga kecemasan. Sementara Rio, meskipun ikut panik. Ia masih bisa mengontrol pikirannya. Karena ia tak mengalami secara langsung, emosi yang Arka rasakan saat ini. Ia lebih stabil dalam mengemudikan mobil tersebut.


Suara ban yang berdecit, akibat beradu dengan halaman parkir pun terdengar. Arka yang sejak diperjalanan tadi memang sudah sangat resah itu pun, membuka seat beltnya.


"Ka, tarik nafas dulu." ujar Rio pada Arka.


Arka pun menuruti perintah sahabatnya itu. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan pula.


Tak lama setelah itu, mereka sudah tampak berjalan bahkan berlarian. Menuju ke bangsal tempat dimana Amanda kini ditangani.


"Viona."


Arka dan Rio menghampiri Viona yang tengah berdiri bersama teman-temannya di sebuah koridor. Arka lalu diarahkan Viona kesebuah ruangan. Ia masuk, sementara yang lain menunggu di luar.


"Amanda."


Arka menghampiri Amanda dengan penuh emosional. Ia memeluk dan mencium istrinya yang tampak kesakitan itu.


"Arka."


Hanya itu kata yang keluar dari bibir Amanda.


"Aku disini, jangan takut ya." ujar Arka kemudian.


"Perut aku sakit banget, Ka."


"Iya sayang, aku tau."


Arka mengusap-usap perut istrinya yang setengah terbaring itu. Ia lalu dihampiri oleh seorang perawat, yang kemudian menjelaskan kondisi Amanda. Bayi mereka akan lahir hari ini, lebih cepat dari perkiraan dokter sebelumnya.


Arka bertanya apakah ini adalah dampak dari sesuatu yang terjadi pada istrinya. Namun dokter mengatakan kontraksi ini alami dan memang sudah waktunya si bayi lahir.


"Kayaknya udah nggak sabar ketemu orang tuanya." Dokter tersebut berujar seraya tersenyum pada Arka.


Arka menghela nafas, ia bahkan tak bisa tersenyum begitu lebar lantaran khawatir dan kasihan pada istrinya. Namun ia masih sedikit memaksakan demi menghormati dokter tersebut. Dokter bisa lebih tenang menghadapi situasi seperti ini, tapi tidak dengan orang biasa seperti Arka.


"Ka, sakit."


Amanda kembali mengeluh pada Arka, ketika dirinya disuruh berdiri dan berjalan-jalan oleh dokter serta perawat. Guna menambah pembukaan, agar si bayi bisa lahir.


"Iya, aku tau. Sabar ya." Arka memeluk Amanda. Sambil terus membisikkan kata yang menguatkan istrinya tersebut.


"Kamu pasti kuat, ada aku disini."


Pembukaan diperiksa, sepertinya memang masih agak lama. Amanda kembali duduk diatas tempat tidur, kali ini Arka menyuapinya makan.


"Nggak mau, Ka. Gimana mau makan coba, sakit banget kayak gini."


Amanda agaknya mulai merasa stress, dengan rasa sakit yang melandanya. Arka lalu dengan sabar menasehati wanita itu.


"Man, kalau kamu nggak makan. Nanti kamu kehabisan tenaga, ada dua loh yang mesti kamu keluarkan. Atau kamu kamu caecar aja?"


"Nggak mau, lebih serem."


"Ya udah, makan ya. Aku suapin."


Amanda lalu menerima makanan tersebut dan mulai mengunyah secara perlahan.


"Makanannya enak." ujar Amanda kemudian. Arka pun tertawa kecil.


"Enak kan, sayang loh kalau nggak kamu abisin."


Amanda menarik nafas seraya menahan sakit, lalu kembali makan hingga habis. Tak lama setelahnya, Arka berbaring disisi Amanda sambil memeluk istrinya itu. Ia juga memberikan usapan-usapan di perut Amanda, agar sakitnya sedikit berkurang. Kalaupun tidak bisa, paling tidak Amanda merasa didukung dan diperhatikan.


"Ka, aku boleh tidur nggak?"


"Boleh, sayang."


"Tapi dulu mertua Rani bilang, nggak boleh tidur kalau udah mau lahiran."


"Udah nggak apa-apa, tidur aja dulu."


Arka memberi izin, karena ia tahu itu tidak akan berhasil. Sebab di bulan-bulan terakhir ini saja, Amanda sudah sulit tidur. Apalagi sekarang saat kontraksi hebat dan pembukaan mulai terjadi. Sudah pasti wanita itu akan sulit terlelap. Namun demi menyenangkan hati istrinya, ia perbolehkan saja semua itu.


Amanda memejamkan mata, ia mencoba untuk bisa tidur dan melupakan rasa sakit yang kadang datang dan pergi. Sampai kemudian ia pun menyerah karena kontraksinya makin menjadi-jadi.


Amanda diminta masuk kedalam sebuah bathub besar berisi air hangat, yang sudah diatur suhunya berdasarkan suhu air ketuban ibu didalam perut. Ia menahan sakit dan Arka masih setia disisinya. Tak lama setelah itu Arka pun masuk dan mendampingi istrinya itu."


"Ka, sakit."


Amanda menyandarkan kepalanya di dada Arka. Hangatnya kulit sang suami, membuat Amanda merasa begitu dilindungi dan disayangi.


"Iya sayang, tau. Sabar ya, tarik nafas."


Amanda mencoba menarik nafas, Arka memeluknya dari belakang. Sambil terus mengusap perut Istrinya itu.


Waktu berjalan, Amanda kian stress dengan rasa sakit yang ditimbulkan.


"Lama banget sih keluarnya." teriaknya kemudian.


"Hey, Amanda." Arka mengingatkan istrinya. Namun Amanda lalu berkata dengan penuh kemarahan.


"Aku kesel, Ka. Nggak keluar-keluar dari tadi, sakit tau nggak. Kamu mah enak nggak ngerasain apa-apa, aku tersiksa banget dari tadi."


"Iya aku tau, aku tau. Aku emang nggak bisa ngerasain sakit ditempat yang sama dengan kamu. Tapi aku juga sakit, Man. Hati aku sakit ngeliat kamu kayak gini."


Air mata Arka mengalir, ia menangis terisak penuh emosional. Amanda pun akhirnya ikut menangis. Perawat dan dokter menenangkan mereka, Arka kembali memeluk istrinya itu.


"Kita ini keluarga, Man. Kita harus kerjasama, jangan mikir kalau kita adalah orang yang paling nggak enak posisinya. Aku tau kamu sakit, aku cuma bisa minta kamu sabar. Kita bikinnya sama-sama, kita bikinnya seneng-seneng. Sekarang harusnya kita seneng, karena mereka sebentar lagi keluar."


Amanda menghela nafas lalu mengusap air matanya. Dokter dan perawat membiarkan momen penuh emosional ini berlangsung.


"Maafin aku, Ka." ujar Amanda kemudian. Arka lalu mencium bibir istrinya itu.


Amanda mengangguk, pembukaannya kini telah lengkap.


"Dek, papa minta tolong ya. Jangan sakitin mama lama-lama. Ayo nak, keluar pelan-pelan."


Arka mengusap sekali lagi perut istrinya. Tak lama Amanda seperti merasakan dorongan yang sangat hebat dari dalam perutnya.


"Hmmmmph."


"Huh, huh, huh, huh."


Ia pun mulai mengejan dan mengatur nafas.


"Terus, bu." perawat dan dokter memberi instruksi.


"Hmmmmph."


"Huh, huh, huh."


"Hmmmmph."


Satu kepala bayinya keluar.


"Arka itu kepala, Arka."


Amanda heboh dan panik melihat kepada bayinya sendiri. Arka pun sebenarnya sangat ketakutan, namun ia berusaha keras menyembunyikannya.


"Iya sayang, iya. Kamu tenang, ya. Ayok, coba lagi."


"Huh, huh, huh."


Amanda kembali mengatur nafasnya, tak lama bayi itu seakan bergerak sendiri. Dokter membiarkan sampai bayi itu keluar dengan sendirinya.


"Arka itu bayi."


Amanda seperti sangat terkejut, para perawat dan dokter hanya tersenyum. Ini reaksi paling lucu sepanjang mereka membantu pasien melahirkan.


Mereka membiarkan bayi itu berada didalam air. Karena bayi masih terikat plasenta, jadi bayi masih bernafas melalui saluran itu. Tak masalah ia terbenam didalam air, karena didalam rahim pun mereka hidup diliputi air ketuban.


Amanda mengatur nafasnya kembali, tak lama kepala bayi yang satunya pun keluar. Ia sudah tidak heboh lagi seperti tadi. Dan sama seperti saudaranya, bayi yang kedua ini pun tak memerlukan banyak tenaga. Setelah kepalanya keluar, tak lama seluruh tubuhnya pun keluar.


Bayi yang satunya diangkat lalu dibawa ke pelukan ibunya, tak lama setelah itu bayi yang kedua pun ikut diangkat dan dipeluk pula oleh ibunya. Amanda dan Arka menangis penuh haru, mereka berciuman untuk beberapa saat. Momen tersebut diabadikan dalam beberapa foto serta video, yang sudah satu package dari rumah sakit.


Tak lama ari-ari bayi pun keluar, selesailah sudah keseluruhan proses kelahiran ini. Bayi tersebut dipeluk Arka untuk beberapa saat, agar bayi merasa dilindungi dan diterima oleh kedua orang tuanya. Dan agar suhu tubuh bayi tetap normal.


Usai inisiasi menyusui dini, bayi kemudian ditangani oleh tenaga medis. Begitupula dengan ibunya. Amanda tertidur lelap usai melahirkan, karena ia mengeluarkan dua bayi sekaligus. Arka membiarkan istrinya beristirahat, tak lama perawat tiba membawa bayi-bayi mereka.


Bayi-bayi tersebut ditunjukkan melalui kaca pada Rio, Viona dan yang lainnya. Mereka menyambut kelahiran keponakan mereka itu dengan penuh suka cita. Arka keluar sejenak dan berpelukan dengan Rio, ia menangis dihadapan sahabatnya itu.


"Mulai sekarang, lo bukan lagi Arka yang dulu. Yang bebas mabok, pergi pagi pulang pagi. Lo punya tiga tanggung jawab sekarang, Ka. Amanda dan dua anak lo."


Arka mengangguk lalu menyeka air matanya, Rio menepuk bahu sahabatnya itu. Viona, Keisha, Nadine , Dito dan Fahri bergantian memberi selamat pada Arka. Arka pun mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada mereka semua.


Mereka sebenarnya ingin berlama-lama disitu, menjenguk Amanda dan melihat para bayi lebih dekat. Namun mereka tak ingin mengganggu istirahat Amanda. Akhirnya mereka pamit pulang dan berjanji datang saat kondisi Amanda sudah stabil.


Dari kejauhan, tampak Liana memperhatikan itu semua sambil tersenyum. Rio yang tak sengaja melihat wanita itupun, akhirnya berkata pada Arka.


"Gue kesana dulu, bro."


Arka tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya itu, Rio pergi menyusul Liana.


"Li."


Kali ini Liana menoleh, ia tak lagi menghindari Rio.


"Kamu dari mana tadi?" tanya Rio pada wanita itu.


"Dari dokter kandungan." jawab Liana kemudian. Wanita itu kini sudah tampak jauh lebih tegar dari sebelumnya.


Rio pun lalu menemani Liana. Sementara di ruangan, setelah beberapa saat berlalu, Amanda pun terbangun. Ia melihat Arka yang tengah menggendong salah satu bayinya, sementara bayi yang lain tampak tertidur pulas pada box kaca yang terletak disisinya.


"Arka."


"Tuh, mama udah bangun. Hello mama." Arka mendekatkan bayinya pada Amanda.


"Yang ini nggak tidur, Ka?" tanya Amanda pada suaminya itu.


"Yang ini terjaga mulu dari tadi. Yang itu liat aja sendiri." ujar Arka seraya tertawa.


Amanda mengambil lalu menggendong bayinya yang tengah terlelap itu, sementara yang satunya tetap ditangan Arka.


"Cakep-cakep banget, Ka." ujarnya memperhatikan raut wajah si bayi.


"Mukanya kamu, tapi matanya kayak aku." lanjut Amanda.


"Bibir mereka kayak kamu, Man."


"Iya, ya." Amanda tersenyum, Arka lalu mencium kening istrinya itu.


"Namanya udah dikasih, Ka?"


"Udah, tuh ada di gelangnya."


Amanda melihat gelang bayi yang kini tengah berada dalam gendongannya.


"Kevin Liam Afka Adrian."


Lalu Arka menunjukkan gelang bayi yang ada dalam gendongannya.


"Kian Luke Azka Adrian."


Keduanya kini sama-sama tersenyum.