
Arka dan Amanda selalu terlihat bersama akhir-akhir ini. Setiap waktu senggang, Amanda selalu mengajak Arka pergi ke suatu tempat. Sekedar untuk makan atau melarikan diri dari urusan kantor, yang membuatnya pusing kepala.
Kadang Arka sendiri yang berinisiatif, ketika melihat Amanda seolah penat pada pekerjaannya. Ia pun mengajak wanita itu berjalan-jalan, sebelum ia sendiri yang memintanya. Mereka pergi mengunjungi tempat-tempat dengan view yang indah, misalnya. Atau sekedar mengajak wanita itu untuk belanja apapun yang sedang ia inginkan.
Amanda sangat bahagia bersama Arka, suaminya itu selalu ada kapanpun dan di manapun ketika dibutuhkan. Sebaliknya Arka, merasa Amanda adalah tanggung jawab yang harus ia jaga. Ia mesti selalu stand by dibelakang wanita itu, kapanpun diperlukan.
"Man, urusan kamu udah selesai?" tanya Arka di suatu siang yang cukup terik.
Pemuda 21 tahun itu tengah berada di lokasi syuting dan bersiap untuk pulang. Sementara Amanda sendiri masih direpotkan oleh urusan kantor yang begitu banyak.
"Belum nih, Ka. Aku masih harus nemuin klien lagi deh. Ada 3 orang lagi, beda tempat."
"Jam berapa?" tanya Arka lagi.
"Dua jam lagi lah kira-kira."
"Ya udah, aku temenin nanti. Aku bentar lagi selesai koq."
"Serius, Ka?. Nggak usah juga nggak apa-apa sih, kan ada pak Darwis." Amanda menyebutkan nama supirnya.
"Man, udalah. Ntar aku aja yang nemenin, ya. Aku nggak tenang kalau kamu pergi nggak sama aku." Arka memaksa.
"Patriartki ah, kamu."
"Bukan patriarki, liat tuh perut kamu udah segede apa. Suami mana yang nggak khawatir ngelepas istrinya sibuk sendirian, dengan perut sebesar itu. Suami mana coba, suami gila." gerutunya kemudian.
"Iya, ngomel mulu kamu. Kayak bapak-bapak."
"Emang aku bapak-bapak." Arka makin sewot.
"Iya, pak Arka. Ibu tunggu ya nanti."
Arka lalu tersenyum.
"Nanti aku kesana ya." ujarnya lagi.
Dua jam kemudian, Arka pun memenuhi janjinya. Ia menemaninya Amanda, menyelesaikan segala urusannya hari itu.
Esok harinya pun tak jauh berbeda, malah kini Amanda yang terpaksa meminta tolong. Karena ada beberapa perkara seperti laporan dan lain-lain yang mesti ia ubah.
Karena tak mungkin menyelesaikan pekerjaannya sendiri, tak jarang Amanda meminta bantuan suaminya itu. Untuk sekedar mengetik atau membenahi laporan serta file yang mengalami kekacauan.
"Huh."
Arka menghela nafas lalu menyeruput kopinya ditengah malam yang suntuk. Kertas-kertas berhamburan di lantai, sementara Amanda tertidur lelap di sofa ruang depan. Mereka baru saja menyelesaikan beberapa perkara.
Arka berniat memindahkan Amanda, namun kantuknya begitu hebat. Hingga ia pun tertidur di depan laptop yang masih menyala.
Waktu berlalu.
"Ka, Arka. Bangun, Ka?"
Amanda membangunkan Arka di pagi buta. Wanita itu juga tidur nyenyak sekali semalaman.
"Jam berapa ini, Man?" tanya Arka masih memejamkan mata.
"Jam 5, Ka."
"Hah?" Arka mengucek matanya dan segera bangun.
"Aku harus berangkat ke lokasi sekarang, Man." ujarnya kemudian.
"Makanya aku bangunin. Kamu kan bilang semalem, kalau kamu mau berangkat jam segini."
Arka mengangguk dan beranjak, ia menguap beberapa kali saking mengantuknya. Ia pun tampak linglung dan sempoyongan.
"Barang-barang kamu udah aku siapin semua, Ka dari semalem. Udah ada di mobil."
"Oh ya udah, yang di koper merah kan?" tanya Arka. Amanda mengangguk, Arka mencium kening Amanda lalu beranjak.
"Makasih ya, sayang." ujar Arka. Pemuda itu mengambil kunci mobil dan berjalan ke arah lift.
"Ka, ini sarapannya."
"Oh." Arka menoleh dan tak menyangka jika Amanda membuatkan sarapan untuknya.
Amanda melangkah ke arah Arka, lalu memberikan sedikit perbekalan pada suaminya itu. Berupa sandwich dan juga sebotol susu berukuran 500ml. Hanya itu yang bisa ia siapkan pagi ini, karena ia pun masih sangat mengantuk sekali.
Arka pergi, sementara Amanda kembali merebahkan diri ke atas tempat tidur lalu ngorok hingga pukul 10 pagi.
***
"Ka, kamu liat nggak semalem yang flashdisk warna item. Yang ada list silvernya." tanya Amanda ketika hari telah lewat jam 2 siang. Kebetulan Arka tengah break sejenak, sebelum mengambil adegan berikutnya.
"Semalem kamu tarok di tas kamu, Man. Seingat aku." ujar Arka.
"Iya, seingat aku juga gitu. Tapi nggak ada, Ka." Suara Amanda diseberang terdengar panik.
"Udah kamu cari bener-bener?" tanya Arka.
"Udah, dimana ya. Mana penting banget lagi isinya."
"Coba minta tolong siapa kek, cari ke rumah."
"Udah sama Anita tadi, nggak ketemu. Dia nggak terlalu paham juga. Lagian Liana kemana sih, pulang kampung nggak balik-balik. Masih mau kerja apa nggak tuh anak?"
Arka diam, ia baru tahu jika Liana mengatakan hal tersebut pada Amanda. Padahal Liana sendiri ada dirumah orang tau Arka.
"Ya udah gini deh, kamu tenang dulu. Nanti, tunggu kabar dari aku."
"Maksudnya, Ka?"
Arka menyudahi telponnya begitu saja, membuat Amanda bingung sekaligus kesal. Pemuda itu kini melirik arloji, ia masih punya sekitar 45 menit. Lalu ia pun segera tancap gas untuk pulang ke penthouse.
Ia mencari dimana letak flashdisk tersebut berada, sambil mencoba mengingat-ingat. Sementara Amanda turut mencari disekitar ruangan kerjanya. Kalau-kalau saja tadi ia salah meletakkan.
"Duh, mana lagi."
Amanda semakin rusuh dan panik. Sudah beberapa saat berlalu, namun ia tak menemukan apa-apa diruang kerjanya itu.
"Duh, gimana dong. Disitu doang lagi, nggak ada backup an datanya."
Amanda benar-benar stress kali ini. Namun tiba-tiba, Deni masuk ke ruangannya.
"Bu Amanda."
"Iya kenapa, Den?" tanya Amanda disela-sela kecemasan yang melanda.
"Ini, dari mas Arka." ujarnya kemudian. Ia menyerahkan sebuah flashdisk berwarna hitam, dengan list silver di pinggirannya. Amanda terdiam melihat flashdisk tersebut
"Arka nya mana?" tanya Amanda.
Amanda menghela nafas lega lalu menelpon Arka, ia ingin berterima kasih pada suaminya itu. Ia tak menyangka Arka akan rela pulang ke penthouse, hanya untuk mencari dimana letak benda tersebut. Ia tahu jika Arka pun sangat sibuk. Namun demi dirinya, Arka rela melakukan apa saja.
Amanda terus mencoba menelpon, namun Arka tak menjawab. Karena sedang mengemudi dalam kecepatan yang tinggi.
Hari itu Amanda tertolong, namun tidak dengan Arka. Ia sedikit terlambat ke lokasi, hingga menyulut kemarahan si pemeran utama. Sebagai aktor baru, Arka tak bisa berbuat banyak ketika dirinya dimaki-maki. Kemudian ia melanjutkan syuting dengan mood yang tidak begitu baik, meskipun sutradara dan kru sudah mencoba menghiburnya.
Arka melakukan adegan berbahaya, sebuah adegan perkelahian di dalam gedung tua bekas terjadinya insiden kebakaran. Dalam adegan tersebut ia berkelahi dengan lawan mainnya, di depan balkon gedung yang sudah tidak memiliki pembatas. Awalnya biasa saja, sampai kemudian,
"Buuuk."
Pada sebuah adegan, Arka tergelincir dan jatuh ke balkon lantai yang ada dibawahnya. Karena lawan mainnya yang salah menempatkan posisi. Meski hanya dari ketinggian 4 meter, namun itu cukup membuat kalinya terkilir.
"Ka."
Sang sutradara panik seraya mendekati Arka yang tampak menahan sakit.
"Lo nggak apa-apa kan?. lanjutnya lagi.
"Gue baik-baik aja." ujarnya kemudian.
Syuting pun berlanjut hingga lima hari ke depan. dalam kurun waktu itu, Arka selalu siap membantu Amanda. Meski ia tak pulang ke rumah, karena harus menjalani jadwal syuting di malam hari. Arka hanya peduli pada istri dan pekerjaannya, hingga ia melupakan kesehatannya sendiri.
***
"Ka, bisa temenin aku ke Bogor hari ini?" tanya Amanda ketika Arka mengakhiri proses syutingnya untuk FTV kali ini.
"Ngapain ke Bogor, Man" tanya Arka.
"Ada yang mesti aku cek disana, bahan baku. Pak Darwis anaknya mendadak diare parah dan dilarikan ke rumah sakit."
"Nggak bisa kirim sampelnya aja?" tanya Arka.
"Lama, udah diminta dari bulan lalu. Tapi nggak dikirim-kirim juga, aku butuh mendesak."
"Nggak bisa nyuruh orang?"
"Nggak bisa, aku harus liat sendiri dan berbicara langsung ke yang bersangkutan."
Arka menghela nafas, mengapa CEO seperti Amanda tidak seperti CEO-CEO yang digambarkan di berbagai novel online. Yang biasanya asal suruh-suruh asisten dan orang kepercayaan, layaknya ratu.
Apakah para penulis novel online itu tidak mengetahui, jika seorang CEO ada yang seperti Amanda?. Yang masih terjun langsung mengurus semuanya sendiri.
"Ya udah, nanti aku temenin. Tunggu ya." ujar Arka kemudian.
"Makasih ya, Ka."
"Iya sayang."
"Bye, Arka."
"Bye, sayang."
Arka menutup handphonenya, lalu meraih air mineral yang ada didekatnya dan mulai minum. Wajah pemuda itu kini begitu pucat.
"Ka, lo istirahat dulu gih." ujar salah satu kru yang tengah membereskan lighting.
"Gue harus balik, ada urusan lain." ujar Arka kemudian.
"Hati-hati lo, ntar nabrak lagi. Mending tidur dulu kalau kata gue."
"Nggak apa-apa, ntar aja tidurnya dirumah." ujar Arka lagi.
Pemuda itu pun akhirnya meninggalkan lokasi syuting dan menyambangi kantor Amanda. Ketika sampai, Amanda terlihat tengah sibuk menelpon di tangga lobi. Membereskan urusannya yang bertumpuk.
"Braaak."
Ia masih menelpon ketika pintu mobil telah tertutup dan mesin mulai dihidupkan oleh Arka. Selesai menelpon pun, ia masih berbalas pesan dengan klien-kliennya.
Tampaknya masalah hari ini cukup serius. Hingga ia tak memperhatikan wajah suaminya yang sudah sangat pucat.
Sesampainya di lokasi, Amanda segera bertemu dengan orang-orang yang ingin ia temui. Saat itu tubuh Arka sudah sangat lelah dan lemah sekali. Ingin rasanya ia segera merebahkan diri di atas tempat tidur, lalu terlelap selama mungkin.
"Ka, koq kamu pucat?"
Amanda baru menyadari hal itu, ketika urusannya telah usai dan ia kembali masuk ke dalam mobil.
"Nggak apa-apa, Man. Cuma kurang tidur aja." jawab Arka.
"Sini aku aja yang nyetir." pinta Amanda.
"Jangan, Man. Kamu lagi hamil, nanti ada apa-apa sama bayinya. Aku masih kuat koq sampai rumah nanti."
"Ya udah tapi jangan terlalu ngebut, ya." pinta Amanda. Arka pun mengangguk.
Ia mulai menghidupkan mesin, lalu mobil pun perlahan merayap. Jalan demi jalan dilalui, Amanda dan Arka tak begitu banyak bicara satu sama lain.
Amanda masih memikirkan urusannya yang lain, sementara Arka memaksa diri untuk tidak mengantuk dan berkonsentrasi.
Beberapa kilometer terlewati, Arka mulai merasa ada yang aneh di dirinya. Suhu tubuhnya meningkat dan mulai terasa lemas.
Namun ia tetap bertahan, hingga akhirnya mereka sampai di penthouse dengan selamat. Amanda kembali mendapat telpon, ia lalu berdebat lagi di telpon tersebut.
Sementara pandangan Arka mulai remang, ia masuk ke lift dengan sedikit sempoyongan. Sesampainya di atas, ketika Amanda baru saja menutup telponnya.
"Buuuk."
Arka jatuh kelantai tak sadarkan diri.
Seketika Amanda yang hendak menuju kamar itu pun menoleh.
"Arkaaa."
Amanda menghampiri dan mengguncang tubuh Arka.
"Arka, bangun Arka."
Amanda mulai panik, namun tak ada respon dari suaminya itu. Segera saja ia menelpon security dibawah untuk membantunya.
Tubuh Arka dilarikan ke rumah sakit saat itu juga dengan sebuah taxi. Amanda yang belum sempat berganti pakaian itupun menangis, ia takut terjadi apa-apa pada suaminya itu.
"Ka, bangun Ka." ujar Amanda disela-sela perjalanan menuju ke instalasi gawat darurat.
Arka dibawa masuk, seorang perawat menahan Amanda. Ia masih berurai air mata, ketika sebuah mobil ambulance tiba dan mengeluarkan seorang pasien.
"Hah?"
Amanda tercengang dan nyaris terjatuh, ketika melihat Nadine mengguncang-guncang tubuh yang tengah terbaring itu.
"Nino?"