
Pagi itu, Arka berangkat kerja seperti biasa. Namun ditengah perjalanan ia ditelpon oleh bosnya.
"Iya pak, hallo."
"Arka, file yang saya suruh revisi kemaren dibawa nggak?"
"Ada pak, udah kelar koq. Kenapa pak?" tanya Arka.
"Kamu bawa yang itu, sama yang di map merah ke Royal Food Cell sekarang."
"Sekarang?"
"Iya nanti kamu bilang aja, kalau kamu orang suruhan saya."
"Ok, pak."
"Tolong ya, Ka."
"Ok pak, siap."
Arka memutar arah menuju ke perusahaan The Royal Food Cell. Sebuah perusahaan asing yang memproduksi banyak sekali makanan sehat, serta produk skincare berbahan dasar tumbuhan alami.
Belakangan produk dari perusahaan itu begitu diminati, karena dinilai sangat bagus oleh beberapa kalangan seperti artis, pakar dan juga selebgram. Hingga produk tersebut mampu menembus pasar dan bersaing dengan produk-produk lainnya. Termasuk produk milik perusahaan Amman, yang salah satu iklannya dibintangi oleh Arka.
"Selamat pagi." ujar Arka ketika tiba di depan receptionist The Royal Food Cell.
"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu." tanya receptionist itu dengan ramah.
"Mbak, saya suruhan pak Pratama Putra dari Sinar Surya Company."
"Oh, yang sudah janjian kemarin ya."
"Mm, iya."
Arka sendiri tak tahu perjanjian apa yang telah dibuat oleh bosnya itu, mungkin saja semacam janji temu.
"Mari saya antar."
Salah satu receptionist itu beranjak lalu berjalan ke arah lift, Arka mengikuti langkahnya. Mereka masuk dan menuju ke lantai paling atas dari gedung tersebut. Setelah sampai, Arka kemudian diarahkan ke sebuah ruangan.
"Silahkan." ujar receptionist itu. Arka membuka pintu, receptionist tersebut kembali ke bawah.
"Selamat pagi." ujar Arka.
Sang pemimpin perusahaan yang tengah membenarkan gorden itupun menoleh.
"Arka?"
"Ryan?"
Keduanya lalu sama-sama terpaku. Arka tak percaya jika Ryan adalah pemimpin di perusahan sebesar ini. Dan Ryan pun tak menyangka jika akan bertemu anaknya pagi itu.
"Hey."
Ryan tersenyum lalu mendekat. Sejujurnya ia ingin menangis, jantungnya kini berdegup kencang mendapati darah dagingnya yang begitu dekat dengannya. Namun Ryan berusaha bersikap layaknya profesional. Ia tak ingin Arka menganggapnya sebagai orang gila, jika ia tiba-tiba menangis tanpa alasan.
"Silahkan duduk." ujarnya kemudian.
Arka yang masih tak percaya itu pun akhirnya duduk dihadapan Ryan.
"Ini, dari pak Putra." ujarnya kemudian.
Arka menyerahkan file yang ia bawa dan Ryan pun menerima serta membuka file-file tersebut satu persatu.
"Kamu bekerja pada Putra?"
"Iya, baru beberapa bulan terakhir."
"Kamu sarjana?"
"Mmm, belum. Hampir." ujar Arka.
"Skripsi?"
"Ya."
"Ow, it's good."
"Thank you."
"You're welcome."
"Hai dad."
Tiba-tiba seseorang masuk, Arka terkejut melihat Nino ada disana. Ia juga terkejut mendengar cara Nino memanggil Ryan.
"Nin?"
"Hey, Ka." sapa Nino kemudian, Nino pun tak kalah kagetnya.
"Kalian saling kenal?" tanya Ryan tak percaya.
"Ya." jawab keduanya kemudian.
"He's your son?" tanya Arka.
"Ya." Ryan tersenyum, begitu juga dengan Nino.
"Dad, Nino pulang dulu." ujar Nino kemudian.
"Ok, take care ya."
"Ok. Bye dad, Ka."
"Bye." ujar Arka seraya tersenyum kecil, Nino pun lalu menghilang dibalik pintu.
"Berarti Ansel juga?" tanya Arka setelah Nino berlalu.
"Kamu kenal Ansel?" Ryan balik bertanya.
"Ya hanya tau saja, pernah bertemu dan berbicara beberapa kali."
"Oh ya, di mana dia sekarang?"
Ryan terdiam sejenak.
"Here." ujarnya kemudian.
"Oh."
Arka tersenyum, ia pikir salah satu anak Ryan tersebut juga bekerja di perusahaan ini. Arka tak mengerti jika kata "Here" yang dimaksud oleh Ryan, bermakna tepat berada di ruangan ini.
"So, kamu akan terus bekerja dengan Putra?"
"Mm, ya. Selama saya menikmati pekerjaan yang dia berikan, saya akan terus bekerja disana."
Ryan menghela nafas, lalu mengambil kartu namanya.
"Simpan ini. Kalau suatu saat kamu menginginkan tantangan baru, hubungi saya. Perusahaan ini masih membutuhkan banyak tenaga, dari orang-orang yang punya mimpi besar." ujarnya kemudian.
Arka mengambil kartu nama tersebut lalu menyimpannya kedalam saku. Tak lama setelah itu, ia berpamitan pada Ryan.
"E, Arka."
Ryan menghentikan langkah Arka, ketika anak lelakinya itu sudah berada di dekat pintu.
"Ya." ujar Arka seraya menoleh.
"Punya waktu nanti malam, atau besok?"
"Mmm, saya akan kabari secepatnya."
"Ok, take care."
Arka mengangguk lalu menghilang dibalik pintu.
***
Cintara tengah ketar-ketir dan mondar-mandir di kantor. Pasalnya pesan yang ia kirim pada Arka semalam, belum juga dibaca oleh pemuda itu. Padahal ia sudah sangat ingin melihat reaksi pria itu pagi ini, namun Arka justru tak terlihat.
"Kenapa sih mondar-mandir mulu, nungguin Arka ya?"
Salah satu rekan kerjanya seakan mengetahui isi kepala Cintara.
"Sok tau, deh." ujar Cintara kemudian.
"Heleh, bilang aja iya. Kapan sih lo pernah resah kayak gini sebelumnya, pernah juga sama mantan lo yang brengsek itu. Itupun nggak separah ini."
"Ih, sok tau banget deh. Gue tuh nggak lagi mikirin cowok."
"Tuh Arka, tuh."
"Mana, mana, mana?"
Cintara menengok ke arah pintu lift, namun yang keluar bukan Arka melainkan orang lain.
"Cieee, tuh kaaan. Bener, kan?"
"Nggak, beneran."
Tak lama Arka pun tiba, waktu seakan melambat. Pesona pria itu seakan mampu menyedot perhatian sekitar, tak terkecuali Cintara. Gadis itu kini menatap Arka dengan jantung yang berdebar kencang.
"Arka." ujarnya kemudian. Arka yang baru saja tiba di depan meja kerjanya itupun, terperanjat dan menoleh.
"Iya." ujar Arka kemudian.
"Kamu nggak read pesan yang aku kirim."
Arka diam, tak lama ia pun membuka handphone dan membaca pesan tersebut.
"Arka I Love you."
"Boleh kan?"
Arka menatap Cintara dengan ekspresi wajah yang biasa saja.
"Ok." ujarnya kemudian.
Cintara sumringah.
"Ok?. Berarti kita jadian dong?" ujarnya antusias dengan suara yang super besar, bahkan mengundang perhatian sekitar. Beberapa pasang mata kini tertuju pada mereka berdua.
"Jadian?" tanya Arka bingung.
"Ya tadi kan kamu bilang ok atas pertanyaan aku, berarti kita jadian dong?"
Arka masih tak mengerti.
"Gini loh, Ka. Aku bilang aku cinta kamu, boleh kan?. Terus kamu jawab ok, berarti boleh dong kita jadian."
"Cin, mendingan kamu ngopi dulu sana. Aku bilang ok, ya itu hak kamu kalau mau suka sama aku."
"Kamu suka nggak sama aku?" tanya Cintara.
"Nggak, biasa aja."
Cintara seperti ditampar air got hitam, Arka berkata dengan nada yang sangat-sangat biasa saja bahkan nyaris datar.
Para karyawan lain menahan tawa, namun kemudian pura-pura tidak melihat. Karena takut didamprat oleh Cintara. Mereka juga takut jika Cintara akan mengadu macam-macam pada bos, biar bagaimanapun juga ia adalah anak bos.
"Ya nggak apa-apa sih, kalau kamu nggak bisa cinta sama aku sekarang. Karena aku, bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa."
Arka hanya tertawa mendengar suara cempreng Cintara, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Baginya Cintara sangat piawai dalam membuat lelucon. Ia lalu duduk di kursi dan mulai bekerja.
"Kayak film Mariposa nggak sih kisah gue?" Cintara berbicara sendiri ketika ia kembali ke meja kerjanya. Wajah gadis itu masih sumringah dan antusias.
"Gue kayak tokoh Acha yang ada di film itu, yang bakal berusaha bikin Arka jatuh cinta. Ih, gemes."
Ia kegirangan sendirian, membuat rekan kerja disekitarnya tak kuasa menahan senyum.