
Malam itu Arka dan Amanda tidur lelap sekali. Pasalnya sudah tidak ada lagi beban yang menyangkut di hati masing-masing. Arka telah menyatakan cintanya dan Amanda agaknya menyadari jika ia juga mencintai Arka. Mereka tidur dengan hati yang sama-sama diliputi kegembiraan.
Beberapa jam sebelum itu. Amanda terbaring ditempat tidur dengan sehelai gaun tidur yang tipis. Perut buncitnya menyembul keluar dan terlihat sangat jelas. Karena di bagian tersebut hanya terdapat sehelai kain yang menerawang.
Mata Arka berkaca-kaca menahan tangis, ia menatap Amanda dengan penuh haru. Betapa tidak, wanita yang ia tiduri hanya dengan mengandalkan gairah diawal pernikahan tersebut. Telah membuatnya begitu jatuh cinta, pada akhirnya. Betapa sulitnya menyatakan perasaan itu ditengah segala keadaan yang sepertinya tak terlalu berpihak pada Arka.
Ia muda, masih berusia 21 tahun. Memiliki pekerjaan yang belum stabil, keuangan yang masih terombang-ambing. Hal tersebut cukup membuatnya merasa tidak percaya diri, untuk menyatakan cinta pada Amanda. Meski hasrat dalam jiwanya sudah bergejolak dan memberontak, meminta agar ia segera jujur atas perasaannya.
Ia takut wanita itu menolak dan juga mengabaikannya. Meski didalam setiap penyatuan, Amanda selalu terdengar meneriakkan namanya. Namun Arka tak pernah bisa memastikan, bagaimana perasaan Amanda sesungguhnya.
Namun hari ini, semua sudah terjawab. Tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Amanda sudah memberinya kesempatan, agar ia bisa membuktikan cintanya pada wanita itu.
Sedang Amanda kini merasa begitu senang. Pasalnya ia menerima kegilaan yang berkecamuk dalam dirinya. Kegilaan mencintai seorang anak muda seperti Arka. Sedang dirinya sendiri mungkin lebih pantas menjadi kakak atau tante bagi pemuda itu.
Namun ia pun menyadari, jika cinta sejatinya tak akan memandang apapun. Entah itu usia ataupun harta. Lagipula Arka memiliki pribadi yang baik, sikapnya sangat lembut dan juga menenangkan hati. Ia juga sangat menyayangi bayi yang kini dikandung oleh Amanda.
"Ka."
Amanda berujar pada Arka. Mereka tengah berada ditempat tidur dengan posisi saling berhadapan. Beberapa saat yang lalu, mereka baru saja menyelesaikan percintaan dalam suasana yang baru. Suasana dimana mereka sudah sama-sama mengakui, jika mereka saling cinta.
Segala teriakan dan erangan seolah memberikan kenikmatan serta kepuasan berkali-kali lipat bagi keduanya. Pasalnya sudah tak ada lagi yang mengganjal di hati mereka.
Meskipun di hari-hari sebelumnya mereka sangat puas dengan permainan. Namun melakukan hal tersebut ditengah-tengah cinta, memang memiliki sensasi rasa yang berbeda.
"Kenapa, Man?" tanya Arka seraya tersenyum.
"Tadi itu.nikmat banget. Boleh aku ngomong sesuatu?"
Arka mengangguk.
"Boleh." jawabnya kemudian.
"Aku.."
Suara Amanda tertahan, sedang Arka kini memperhatikan Amanda. Menantikan kelanjutan dari kata-katanya.
"Aku sayang kamu, Ka." ujar Amanda dengan penuh haru. Arka membelai rambut dan wajah istrinya itu dengan penuh kasih.
"Jangan tinggalin aku." lanjutnya lagi.
"Aku nggak akan ninggalin kamu, Amanda. Aku juga sayang sama kamu.
"Janji ya, Ka. Apapun yang terjadi, kita akan tetap sama-sama."
"Aku janji, kita akan selalu sama-sama."
Arka lalu membawa Amanda ke dalam pelukannya.
"Kamu tidur ya." ujar Arka kemudian, Amanda pun mengangguk.
***
Esok harinya di pagi buta, Arka membangunkan Amanda yang masih tertidur lelap.
"Man, Amanda."
"Hmmh." Amanda menggeliat.
"Kenapa, Ka?" tanya nya kemudian. Kedua matanya masih digelayuti batu.
"Katanya kamu mau jalan pagi sama aku." ujar Arka sambil melirik arloji.
"Ini udah hampir jam setengah lima loh." lanjutnya lagi.
Amanda pun berusaha bangun, ia lalu mencuci muka dan berganti pakaian. Ia mengenakan setelan kaos olahraga yang berbahan lentur. Berhubung hari ini cukup dingin diluar, ia mengenakan sebuah jaket sport.
Arka sudah bersiap, namun kemudian ia menoleh pada Amanda yang tampak kesulitan mengikat tali sepatu. Karena terhalang perutnya yang membesar.
Tanpa diminta.Arka pun segera datang dan mengikatkan tali sepatu tersebut. Membuat Amanda sejenak tertegun menatapnya.
"Kenapa liat-liat, ntar hamil loh."
Arka menggoda istrinya, sementara yang digoda wajahnya berubah sewot.
"Dasar m*sum." ujar Amanda kemudian. Arka pun tertawa kecil lalu menggamit lengan Amanda.
"Yuk, mumpung masih pagi."
Arka dan Amanda menaiki mobil, mereka pergi ke kawasan rumah Amanda yang satunya lagi. Karena tempat tersebut terbilang sepi dan masih ditumbuhi banyak pepohonan. Usai memarkir mobil dihalaman rumah, Amanda dan Arka pergi berjalan-jalan.
"Disini sepi banget ya." ujar Arka seraya memperhatikan sekitar.
"Makanya dirumah aku banyakin yang kerja, biar nggak sendirian. Dulu sewaktu belum tinggal di penthouse, aku ketakutan mulu kalau lewat jalan sini malem-malem. Takut ada yang berdiri ditengah jalan, terus tiba-tiba terbang kan nggak lucu."
"Emang ada kejadian kayak gitu?" tanya Arka.
"Kata beberapa orang sih, pernah kejadian. Warga sini juga yang kena. Tapi aku nggak pernah liat."
"Wajar sih, orang sepi banget kayak gini. ini orangnya pada kemana ya?" tanya Arka.
"Rata-rata punya rumah lain, Ka. Ini tuh cuma kayak tempat istirahat mereka aja kalau weekend."
"Kalau weekend rame?" tanya Arka lagi.
"Rame. Tapi kalau hari biasa ya, kayak gini. Kayak Ladda Land tau nggak."
Arka tertawa.
"Tau kan, film horror Thailand itu?" tanya Amanda
"Tau, tau." jawab Arka.
"Kamu penakut nggak sih, Ka?" tanya Amanda kemudian.
"Sama apa?"
"Ya, sama hal-hal ghaib kayak gitu."
"Oh ya, maksudnya?" tanya Amanda heran.
"Ya, abis minjem duit terus ngilang gitu aja."
Kali ini Amanda tertawa. Bahkan untuk waktu yang cukup lama.
"Kenapa?" tanya Arka heran.
"Ya abisnya kamu lucu, aku nggak tau kalau kamu suka bercanda orangnya."
"Selama ini emangnya kamu nggak pernah liat?"
"Mana pernah. Biasanya kan kamu cool, baik, enak di ranjang."
"Jangan mancing."
"Dih siapa yang mancing, kamu aja yang kepancing sendiri."
"Kamu tuh genit tau nggak, Man."
"Oh ya?"
"Ya itu tadi, sadari aja setiap omongan kamu. Yang kemarin-kemarin, dulu-dulu. Kalau ngerayu orang tuh pasti parah. Bilangnya nggak suka cowok, tapi kelakuan gitu."
Amanda tertawa.
"Aku nggak pernah bilang kalau aku nggak suka cowok ya. Aku cuma pernah bilang, males nikah. Males ribet, itu aja."
"Tapi kamu pernah suka cowok lain nggak sih, selain Nino?"
"Mmm, pernah."
"Siapa?"
"Kamu."
Arka terdiam, ia ingin tersenyum namun membuang tatapannya ke arah lain. Ia terlalu gengsi untuk menunjukkan jika dirinya gembira mendengar perkataan tersebut.
"Sejak kapan kamu suka sama aku?"
Amanda menghela nafas, mereka telah berjalan cukup jauh hingga ke blok sebelah.
"Kalau suka secara fisik, aku udah suka sama kamu waktu pertama aku liat."
"Oh ya, dimana?" Arka seakan tak percaya.
"Di kampus kamu." jawab Amanda.
"Emang kamu pernah ke kampus aku?" tanya Arka lagi.
"Pernah." Lagi-lagi Amanda menjawab.
"Oh ya?"
"Iya. Sebenarnya sebelum sama kamu, aku ada mencoba berkenalan dengan beberapa orang dari dating app."
Arka menatap Amanda, mencoba mendengarkan setiap cerita yang keluar dari bibirnya.
"Tapi ya nggak berhasil, ada aja yang bikin aku enek sama mereka."
"Contohnya?"
"Ada yang maksa aku berhenti kerja, ada yang mau aku tinggal sama orang tuanya, ada yang belum apa-apa langsung ngatur cara berpakaian aku. Pokoknya banyak lah, nyebelin semuanya."
"Terus, koq bisa sampe ke kampus aku?" tanya Arka lagi.
"Nah yang terakhir mau aku temui itu, masih muda. Kayaknya seumuran kamu deh, dia kuliah di kampus kamu. Pas aku mau menuju ke dia, kamu lewat. Aku ngeliat kamu dan hati aku bilang, fix aku maunya kamu."
"Anak kampus aku itu, kamu inget siapa namanya?"
Amanda terdiam.
"Duh siapa ya, lupa aku." ujarnya kemudian.
"Tapi sempet ketemu?"
"Nggak jadi, kan aku ngeliat kamu. Langsung aja aku panggil Liana sama pak Darwis dan suruh cari info tentang kamu."
"Serem juga ya, kamu ternyata." ujar Arka kemudian, namun ia berkata sambil tertawa.
"Koq serem?"
"Ya, serem. Bayangin kalau kamu minta Liana bukan untuk menjadikan aku suami kamu, tapi buat jual organ aku. Kan serem."
"Kamu tuh suka mikir kejauhan. Banyakan nonton film sih kamu."
Arka kembali tertawa, obrolan ini begitu panjang namun menyenangkan.
"Kamu udah capek belum?" tanya Arka.
"Belum sih, masih sanggup koq jalan lebih jauh lagi."
"Perut kamu sakit nggak?"
"Nggak koq." ujar Amanda kemudian.
"Cuma agak laper." lanjutnya lagi.
"Ya udah kita cari orang jualan." ujar Arka.
" Ada tuh di depan jalan sana, banyak jualan pagi-pagi gini." tukas Amanda.
"Ya udah, kita kesana." ujar Arka.
Amanda mengangguk lalu tersenyum. Tak lama mereka pun lanjut berjalan ke arah tujuan.