
Ryan tengah berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingin membeli sebuah jam tangan mewah seri terbaru, dari brand yang menjadi favoritnya.
Berdasarkan informasi yang ia terima dari Nino, brand favoritnya tersebut memiliki cabang disalah satu plaza elit yang ada di kota ini. Ryan lalu menyambangi plaza tersebut, laki-laki itu kini tampak tengah menaiki lift. Untuk menuju ketempat yang di maksud.
Ryan menemukan letak counternya, namun tiba-tiba ia tertegun. Tatkala menatap foto besar Arka, yang terpampang di sisi pintu masuk counter tersebut. Tampak pemuda itu mengenakan salah satu jam tangan yang dijual disana. Jantung Ryan berdetak, ia ingat persis dimana pernah bertemu dengan pemuda itu. Disudut foto besar itu terdapat sebuah nama,
"Keenan Arka Adrian."
"Who is he?" ujarnya kemudian.
"Welcome."
Salah satu pegawai counter jam tersebut menyapa Ryan.
"Siapa dia?" tanya Ryan.
"Dia brand ambassador baru disini." ujar pegawai itu pada Ryan.
Ryan masih memperhatikan foto Arka, tak lama kemudian ia pun masuk dan melihat-lihat koleksi jam yang ditawarkan disana.
***
Disuatu tempat.
Ansel tengah berjalan perlahan, ketika melihat seorang perempuan yang tanpa sengaja menjatuhkan beberapa file serta buku ditangannya.
Karena agak kerepotan akibat high heels dan juga rok mini yang ia kenakan, Ansel membantu wanita itu membereskan barang-barangnya.
"Thank you." ujar wanita cantik itu kemudian, ketika Ansel menyerahkan barang-barangnya.
Ansel pun tersenyum.
"Ansel?"
Tiba-tiba wanita itu seperti mengenali Ansel, Ansel menatapnya dalam-dalam.
"Who are you?" tanya Ansel kemudian.
"Lita."
"Lita?" Ansel mencoba mengenali wanita itu baik-baik.
"Belasan tahun lalu kita pernah satu kelas, waktu kamu sekolah disini."
"Lita Marisa?"
"Iya Lita Marisa."
"Hey, how are you Lita?"
Ansel secara serta merta memeluk wanita itu. Pada saat yang bersamaan, Intan yang tengah disuruh kepala divisi mengantarkan file ke suatu tempat pun, melihat hal tersebut.
"Ansel?" gumam Intan seraya memperhatikan.
Ia melihat betapa bahagianya Ansel saat berpelukan dengan seorang wanita. Wanita itu sempat menoleh sejenak lalu berbicara lagi pada Ansel. Seakan ia tengah menjelaskan sesuatu pada pria bule itu.
"Deegghh."
Jantung Intan bergemuruh.
"Wanita itu, siapa dia?" gumamnya kemudian.
Intan mencoba mengirim pesan singkat pada Ansel, pemuda itu melihat handphonenya. Namun ia tak menjawab pesan Intan. Dari kejauhan Intan bisa melihat Ansel, yang memasukkan handphonenya ke dalam saku.
"Kamu buru-buru?" tanya Ansel pada Lita.
"Mmm, nggak." jawab wanita itu.
"Gimana kalau kita ngopi sambil ngobrol."
"Ok."
Ansel dan Lita berlalu, sementara kini Intan masih terpaku ditempatnya.
"Tan."
Intan tak menjawab panggilan Satya.
"Woy." ujar Satya sekali lagi. Intan pun tersadar dari lamunannya.
"Bengong kenapa sih lo?" tanya Satya.
"Ah kagak." Intan memaksakan sebuah senyum. Mencoba menutupi kegalauan yang kini menyeruak di hatinya.
"Ntar kesambet aja, lo." ujar Satya lagi.
Dan lagi-lagi Intan memaksakan sebuah senyum.
"Udah buruan, yuk." ujar Satya.
"Iya." jawab Intan. Mereka berdua pun lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Hingga sore menjelang Intan masih kepikiran pada Ansel, karena Ansel tak mengabari sama sekali. Ia pun jadi teringat ucapan ayah Ansel malam itu, saat ia mengatakan jika Ansel memiliki hubungan dengan banyak wanita.
"Hello, girl." Tiba-tiba Ryan muncul disisinya.
Intan yang saat itu tengah duduk di kursi halte bus depan kantor pun terkejut. Ryan selalu seperti hantu. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.
"Masih yakin dengan Ansel?"
Pertanyaan Ryan itu sukses mengusik hati Intan. Gadis itu seakan membeku dan lidahnya menjadi kelu.
"Saya sudah katakan, Ansel itu tidak begitu baik.". lanjut Ryan lagi.
Intan makin terpaku dalam diam.
"So, where is he. Dimana dia tinggal sekarang?"
Intan masih diam, namun tak lama kemudian ia pun memberitahu Ryan. Agar pria itu tak muncul secara tiba-tiba lagi dihadapannya. Lagipula itu ayahnya Ansel, Ansel seharusnya tak mengabaikan orang tuanya. Cukup Intan saja yang diabaikan oleh pria itu.
***
"Hop, haaaa, atatatata."
"Atatata."
Arka dan Amanda sudah menjadi gila sejak memiliki anak. Mereka sering mengeluarkan kata-kata aneh ketika sedang menggendong bayi. Dan bayi-bayi itu tampaknya menyukai celotehan aneh yang keluar dari mulut orang tuanya. Biasanya mereka akan merespon dengan senyuman atau menggerak-gerakkan tangan serta kaki secara antusias.
"Atatatata."
"Atatatata."
Mereka berdua tengah berada didalam bathub yang berisi air hangat. Mereka berendam bersama, sekalian memandikan bayi-bayi itu dan mengajak mereka bercanda barang sejenak.
"Aaa blup, blup, blup. Belenang, belenang." ujar Arka seraya menggeserkan posisi Azka kesana kemari. Sedang Afka berada di dalam gendongan Amanda.
"Mandi sama siapa kamu?. Sama mama, iya?. Sama papa juga?. Iya?"
"Abubububu."
Amanda menciumi Afka dengan sangat, hingga bayi itu merasa gusar sendiri.
"Uluh, gusar dia Ka." ujar Amanda pada suaminya. Arka pun tertawa.
"Anak siapa ini dua-duanya?" ujar Arka.
Kedua bayi itu tersenyum dan keintiman itu pun berlanjut. Arka dan Amanda menyudahi mandinya setelah beberapa saat berlalu, mereka lalu membungkus bayi-bayi itu dengan handuk. Hingga keduanya tampak begitu menggemaskan. Mereka di pakaikan baju dan di beri susu, lalu tak lama setelah itu mereka tertidur lelap.
Malam harinya ketika selesai mengurusi bayi yang mendadak bangun karena lapar, Arka dan Amanda berada dalam sebuah dinner romantis di sebuah ruangan. Hal yang biasa mereka lakukan dulu, saat Azka dan Afka masih didalam kandungan.
Amanda mengenakan dress panjang merah, dengan belahan dada rendah serta belahan samping yang sampai ke pangkal kaki. Dress yang pernah ia pakai dihari pernikahan dan sempat tak terpakai karena terhalang kehamilan.
Ia mengenakan make-up serta lipstik yang berwarna senada. Sedang Arka mengenakan suit nya dengan kancing kemeja yang terbuka hingga dada. Mereka saling menggoda di meja itu.
Hingga kemudian keduanya berdansa tanpa iringan lagu, karena takut kedua bayi akan bangun dan mengacaukan suasana.
Arka menjamah seluruh bagian tubuh wanita nya itu dengan tangan, menyentuh bagian-bagian yang menjadi favoritnya. Sedang Amanda kini menengadah, lalu mendekatkan bibirnya dengan bibir suaminya itu.
Arka mencium Amanda, dengan tangan yang terus menjelajah. Sedang Amanda pun kini melakukan hal yang sama. Arka terus mencium bibir istrinya itu dan mendorongnya ke dalam kamar.
"Kamu hamil lagi, ya." ujar Arka seraya mengelus perut istrinya yang masih sedikit membuncit pasca melahirkan.
"Hmmh."
"Iyaaah." ujar Amanda kemudian.
Arka pun menyibak belahan yang ada di bagian bawah gaun panjang tersebut, tampak Amanda sudah tidak memakai apa-apa dibawah sana. Amanda membuka resleting milik suaminya dan mencuatlah tongkat kebesaran itu. Arka yang sudah panas dan dikuasai hasrat tersebut, langsung mendekatkan cintanya pada Amanda.
"Aku mau menghamili kamu lagi." ucapnya sambil berusaha mendorong masuk kedalam.
"Aaakkh."
Amanda menengadah ke atas, merasakan sesuatu yang besar melesak dibawah sana. Perlahan Arka pun bergerak maju-mundur. Seiring dengan meracaunya bibir Amanda.
"Arka aku mau punya bayi lagi, Arka. Aku mau punya bayi lagi."
"Iya sayang, kamu terima ini."
"Hmmh, hmmh, hmmh."
"Arkaaa."
"Iya sayang."
Arka berganti posisi hingga berkali-kali, sampai disuatu titik ia berteriak.
"Aku mau hamilin kamu Amandaaa, Aaaaakh."
Luapan kenikmatan itu menyembur layaknya ledakan. Arka membenamkannya dalam-dalam, tubuh mereka masih bergetar namun tenaga mereka kini seolah tersedot. Cukup lama mereka terdiam, sampai akhirnya kedua pasangan itu sama-sama memberikan senyuman.
"Kamu akan hamil sebentar lagi, sayang." ujar Arka.
"Iya." jawab Amanda.
Apakah benar Amanda akan hamil lagi?. Tentu saja tidak, ia menggunakan kontrasepsi yang aman dan efektif untuk mencegah kehamilan. Mereka berdua hanya menyukai sensasi paksaan itu, untuk sekedar menambah hot suasana.
Mereka belum mau menambah momongan lagi, karena ingin fokus mencurahkan kasih sayang serta perhatian bagi Azka dan juga Afka.
Dan lagi Amanda ingin memberikan ASI eksklusif bagi mereka hingga berusia 2 tahun. Karena jika terjadi kehamilan lagi, biasanya akan berpengaruh pada proses menyusui. Walaupun dokter mengatakan tak apa melakukannya ketika terjadi kehamilan lagi.
Namun tentu saja itu semua memiliki resiko. Seperti ibu akan menjadi cepat lelah, bisa menyebabkan kontraksi ringan pada rahim, serta ASI yang berubah menjadi kolostrum. Yang menyebabkan rasa ASI kurang enak dan bayi malas untuk meminumnya.