
Cintara menangis di sepanjang perjalanan pulang. Ia mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang gamang, seolah tubuhnya tak berada ditempat itu lagi.
Ia benar-benar hancur kali ini. Padahal ia sudah berharap jika Arka adalah orang yang bisa membuatnya terlepas, dari bayang-bayang masa lalunya bersama sang mantan yang toxic.
Namun ternyata Arka pun tak menaruh perhatian lebih padanya, ia kini marah dan benci pada keadaan. Pribadinya yang terlalu dimanja sang ayah, membuat ia terkadang sulit menerima kenyataan.
Betapa tidak, sejak kecil Cintara selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Maklum, ia anak tunggal, yang biasa dipenuhi segala keinginannya oleh sang ayah yang kaya raya.
Ia tak terbiasa dengan penolakan. Ia cantik dan populer semasa sekolah dulu, banyak laki-laki yang menginginkan cintanya. Namun ia terjebak cinta pada seorang laki-laki, yang ternyata begitu kasar serta selalu memperlakukannya dengan buruk.
Hanya bermodalkan tampang yang tampan serta populer di kampus, Cintara merasa sayang untuk melepaskan laki-laki itu. Sampai akhirnya ia memaksa diri untuk berjalan menjauh dan berusaha move on.
Semua terasa berat, sampai ia masuk ke kantor sang ayah dan bertemu dengan Arka. Cintara masuk terlebih dahulu ke kantor ayahnya, sebelum Arka. Sepanjang periode itu ia belum bisa move on dari sang mantan.
Sampai kemudian Arka masuk ke kehidupannya. Ia jatuh cinta pertama kali saat tak sengaja berpapasan di depan lift. Saat itu Arka melengos dengan gayanya yang super cool. Cintara jadi penasaran, siapa laki-laki itu.
Lalu setiap harinya ia habiskan bersama-sama dengan Arka di kantor. Ia melihat pemuda itu hampir setiap saat. Setiap kali melihat Arka tersenyum, setiap itu pula rasa didalam hatinya kian menggebu-gebu.
Namun kini semua harapnya pupus, ketika Arka lebih memilih wanita itu ketimbang dirinya. Lebih tepatnya, wanita cantik itu. Ya, wanita itu memang cantik dan Cintara benci mengakuinya. Karena selama ini ia selalu merasa dirinyalah yang paling cantik. Namun setelah melihat wanita yang bersama Arka tadi, ia jadi membenci dirinya sendiri. Kenapa ia tak terlahir secantik itu.
Cintara terus mengemudi, hingga sampai ke sebuah jalan, dimana ada truck yang melaju kencang dari sebuah arah. Cintara yang tak sengaja menerobos lampu merah pun kaget. Gadis itu menekan pedal gas dalam-dalam dan berusaha melaju lebih kencang, sebelum truck tersebut menabraknya. Namun tabrakan itu tak dapat terhindarkan.
Meski cuma bagian belakang saja, namun itu sukses membuat mobilnya ringsek dan nyaris terguling. Beruntung ia masih selamat dan tak mengalami luka serius.
Sementara dirumah, Arka berusaha membujuk istrinya yang ngambek. Amanda kini merajuk layaknya gadis muda belia. Setiap melihat Arka, setiap itu pula ia memalingkan wajah.
"Muka jangan dibuang-buang, Man. Ntar diambil kang sampah loh." Arka meledek Amanda lalu tertawa, sementara istrinya itu kian sewot.
"Ya udah sana, peluk Cintara. Itu kan yang kamu mau."
"Man, pahami dulu konteksnya. Tadi aku ngomong apa?"
"Kamu bilangnya gini, "Ya terus gimana, Man?. Harus aku kejer, peluk gitu?"
"Iya kan?" ujar Amanda lagi.
"Iya, kenapa sebabnya aku ngomong kayak gitu?"
"Karena aku nanya, apa kamu nggak terlalu keras bersikap sama Cintara."
"Nah terus salah siapa jadinya?"
"Aku." ujar Amanda seraya melepaskan pandangan ke suatu sudut.
"Terus kenapa sekarang ngambek?"
"Pengen aja."
Arka tertawa, lalu mencomot kue kering yang ada didalam toples diatas meja makan.
"Koq kamu nggak ngerespon ngambeknya aku?" Amanda mulai mencari perkara. Sedewasa apapun, ia tetaplah seorang wanita yang gemar mencari perkara kepada pasangan.
"Nanti aku tidurin kamu biar diem." Arka berseloroh seraya mengambil handuk. Pemuda itu lalu masuk kedalam kamar mandi, sementara Amanda kini ngedumel.
"Nyebelin-Nyebelin." ujarnya kemudian.
"Bu, saya pulang ya."
Tiba-tiba Anita keluar dari dalam kamar si kembar. Amanda baru menyadari jika pembantunya itu masih bertugas.
"Oh, eh iya. Hati-hati ya Anita." ujarnya kemudian.
"Iya, bu." tukas Anita lalu berjalan ke arah lift.
"Huh, bagus tadi gue nggak *****-***** si Arka. Kalau diliat Anita kan tengsin tujuh turunan." ujarnya kemudian.
Wanita itupun lalu pergi ke kamar si kembar.
***
"Lo kenapa, ayank beb?"
Rio bertanya pada keesokan harinya, ketika ia dan Arka bertemu di luar untuk ngopi. Bertugas di lapangan, membuat Arka jadi punya banyak waktu untuk leha-leha bersama Rio.
"Ya, yang gue bilang semalem. Anak bos gue, si Cintara. Dia suka sama gue, dia mergokin gue sama Amanda. Terus dia ngambek, nangis-nangis."
"Ya mana gue tau, emang gue Roy Kimochi. Bisa mencium bau-bau pikiran orang."
"Elu sih, ganteng. Coba lu jelek, hidup lo aman bro."
"Kayak lo nggak ganteng aja, anjay."
Rio menatap Arka.
"Ka, biasanya cowok yang berani ngomongin cowok lain ganteng itu." Rio melebarkan senyuman.
"Apaan bangsat, lo pikir gue suka sama lo?" Arka sewot.
Rio makin melebarkan senyuman.
"Lo duluan ya yang ngomongin gue ganteng." ujar Arka lagi.
"Lo suka ama gue kan, ayank beb?"
"Ri, gue lagi nggak mau bercanda ya."
"Iye, elah. Tegang amat lu kayak yang di bawah."
"Ya elo, bercanda mulu."
Kali ini Rio tertawa.
"Iya, sorry. Gue cuma nggak mau lo kepikiran sama hal kayak gini. Ya Cintara mau sakit hati sama lo, ya udah. Lagian kan lo nggak nyuruh dia supaya suka sama lo. Emang lo ada nyuruh?"
"Ya kagak lah."
"Ya berarti bukan salah elo, dong. Salahnya dia sendiri, ngapain suka sama lo."
"Iya juga sih, iya bener. Gue suka jawaban lo."
"Yoi ma men, kan gue ayank lo."
"Iye, njing." ujar Arka kemudian, Rio pun tersedak karena menahan tawa.
***
Cintara di bawa kerumah sakit, meski lukanya tak begitu parah. Ia hanya manja dan ingin diperhatikan, syukur-syukur jika perhatian itu ia dapat dari Arka. Maklum, ia kebanyakan nonton serial cinta-cintaan di televisi. Dimana, ketika tokoh perempuan mengalami hal tak mengenakan, biasanya tokoh laki-laki akan menyesal dan meminta maaf. Lalu mereka pun jadian, hidup bahagia hapily ever after.
Namun serial hanyalah serial, film tak pernah bisa di wujudkan dalam dunia nyata. Pada kenyataannya, Arka tak mendengar jika dirinya mengalami kecelakaan kemarin. Malah pagi ini pemuda itu tengah tertawa-tawa bersama Rio. Meski semalam Cintara telah memposting di insta story miliknya dan mengatakan jika saat ini dirinya tengah berada di rumah sakit.
Namun ternyata Arka belum memfollow back akunnya, meski ia telah mengikuti Instagram Arka sejak waktu itu. Jadilah kini Cintara gigit jari, karena insta storynya berakhir sia-sia.
"Cintara."
Ayahnya muncul mendadak dihadapan gadis itu.
"Papa."
Cintara memeluk ayahnya, tampak jelas wajah Putra begitu khawatir terhadap anak gadisnya itu.
"Papa baru tau kamu kecelakaan, papa pikir kamu pulang ke apartemen kamu. Makanya kamu nggak pulang kerumah."
"Cintara baik-baik aja, pa." ujar gadis itu kemudian. Namun ia seperti menyimpan sesuatu dimatanya.
"Kenapa, bicara sama papa. Siapa yang udah buat kamu kayak gini?"
Cintara diam dan menunduk, ia benar-benar adalah tipe gadis yang tak bisa menyembunyikan sesuatu dari ayahnya. Ia terbiasa mengadu dan meminta perlindungan sejak kecil. Ia jarang bisa mengatasi masalahnya sendiri.
"Cintara, papa tanya. Siapa yang udah bikin kamu kayak gini?. Papa tau kamu pasti ada masalah, karena kamu adalah pengemudi yang handal. Kalau kamu sampai lost konsentrasi, itu artinya kamu sedang ada masalah. Dan masalah yang biasanya mengusik kamu itu, adalah masalah hubungan dengan seseorang.
Cintara masih diam.
"Siapa orangnya?"
"Arka, pa." ujarnya kemudian.
Putra pun menghela nafas, ia sudah menyangka jika anaknya mengalami masalah. Namun ia baru tau jika Arka lah orangnya.