
Siang itu, Arka pamit ke kampus. Karena itu adalah hari sabtu dan dia masih ada kelas. Berbeda dengan kantor Amanda yang libur pada weekend. Sejak kemarin pun wanita itu telah meliburkan diri demi datang ketempat ini.
"Hati-hati, Ka." ujar Amanda yang baru tiba dari belakang
"Iya." jawab Arka yang masih mengikat tali sepatu.
"Kenapa nggak tunggu pak Darwis aja sih ?"
"Kelamaan, Man. Aku bentar lagi masuk, mending naik ojol biar cepet."
Arka lalu berdiri dan mencium kening Amanda. Tak lama kemudian, ia pun pamit pada ibunya.
Sementara di luar, beberapa ibu-ibu kepo mulai mengintip ke rumah Arka.
"Itu si Arka nya pergi, bu Dini." ujar salah satu ibu-ibu pada ibu-ibu lain, yang mengenakan rol rambut dan daster warna hijau.
"Iya, paling ke kampus. Nah si tante-tantenya itu ada di dalem, kata bu Mawar." ujar Dini pada yang lainnya.
Tak lama Amanda pun keluar untuk menyapu teras.
"Tuh, tuh, tuh. Itu orangnya." ujar Dini.
Mereka semua terperangah.
"Cakep bener, ye." celetuk salah seorang dari ibu-ibu tersebut.
"Kagak keliatan tante-tante, lagi bunting aja glowing gitu." lanjutnya lagi.
"Ye, bu Miska gimana sih?. Namanya juga orang kaya. Orang kaya mah bisa perawatan, emang kita punya suami pelit. Udalah kita disuruh dirumah aja, nggak boleh kerja, nggak menghasilkan uang. Pas mau beli skincare pake duit laki, eh lakinya ngomel. Bilangnya kita boros." ujar yang lainnya lagi.
"Udah-udah, malah curhat. Berisik ini, ntar ketahuan." Dini mengingatkan. Mereka terus mengintip Amanda.
"Amanda."
Ibu Arka memanggil sang menantu.
"Iya bu." jawab Amanda.
"Kamu kalau mau makan lagi, makan ya. Jangan ditahan-tahan."
"Iya bu." jawab Amanda lalu tersenyum.
"Mandi gih, sana."
"Iya bu."
Amanda kebetulan sudah selesai menyapu, ia lalu pergi ke dalam untuk mandi.
"Gubrak."
Suara benda jatuh terdengar disekitar. Ibu Arka yang baru saja hendak masuk kedalam itupun, langsung menoleh. Ternyata Dini dan teman-temannya menyenggol salah satu pot bunga milik tetangga dekat keluarga Arka. Seketika mereka pun nyengir pada ibu Arka.
"Hehehe "
"Ada apa, bu?" tanya ibu Arka seraya mendekat.
"Ee, hehe. Nggak apa-apa koq ibunya Arka. Iya kan jeng ya?" Dini melirik ke arah temannya.
"Kalian ngeliat istrinya Arka?"
Ibu Arka langsung menghujamkan pertanyaan di jantung mereka. Seakan ia mengetahui apa maksud dan tujuan mereka ada disitu.
"Mmm, emangnya si Arka udeh nikah ya bu? tanya Miska seakan mewakili isi kepala teman-temannya.
"Iya, bu Miska. Arka itu sudah menikah, bukan kumpul kebo atau piaraan seperti gosip yang beredar belakangan ini."
"Ooo, ujar mereka kemudian."
"Kalau gitu kita permisi ya, bu." ujar Dini sambil cengengesan. Tak lama kemudian mereka pun meninggalkan tempat itu.
Mereka sejatinya bukan tetangga kanan-kiri rumah Arka. Justru di dekat rumah Arka adalah orang-orang baik, yang tidak pernah saling mengurusi hidup satu sama lain.
Warga yang suka bergosip soal Arka, justru rumah-rumah mereka agak jauh. Namun karena bakat bergosip mereka yang luar biasa, serta mereka dilengkapi telinga yang panjang. Mereka tahu saja soal apa yang terjadi pada Arka.
Karena sejak awal Arka masuk dunia entertaint pun, mereka sudah tidak suka. Mereka ingin anak mereka juga sama seperti Arka.
"Gimana jeng?"
Bu Mawar muncul didepan rumahnya seraya menjemur pakaian. Ia menegur Dini, Miska, dan tetangganya yang lain. Yang baru saja ia beritahu perihal Arka dan Amanda.
"Iye jeng, lagi bunting tantenya. Kata emaknya si Arka, mereka merried?"
"Hah, serius itu beneran?" Kali ini Bu Mawar sendiri yang ketinggalan rumor.
"Iya jeng, sudah terkonfirmasi." ujar Dini.
"Kayaknya emaknya si Arka sengaja menjual anak. Mentang-mentang si Arka cakep, dimanfaatin." lanjutnya lagi.
"Iya loh bu Mawar, secara kan si perempuan itu katanya kaya raya, wajar aja di buntingin sama si Arka. Biar Arka sama keluarganya bisa morotin harta itu cewek." timpal Miska.
"Miris ya, nasib itu si tante." ujar bu Mawar kemudian.
***
Sementara di Kampus, Arka tiba dengan menggunakan ojek online. Hal itu bertepatan dengan Maureen yang juga tiba menggunakan mobil kreditan terbarunya.
"Hai, Ka." ujar Maureen dengan nada yang tak begitu enak didengar.
Seperti tokoh menyebalkan dalam sebuah sinetron yang hendak pamer. Arka diam saja menatap gadis itu.
"Mobil lo mana?. Lagi dipake sama tante tua itu ya?" tanya Maureen sok tahu.
"Bukan urusan lo." ujar Arka dingin.
Maureen menyilangkan tangan di dada, seraya memiringkan salah satu bibirnya.
"Makanya, Ka. Hidup itu kerja keras kayak gue, bisa beli mobil sendiri. Elo malah jual diri."
Kali ini Arka menatap Maureen, ia lalu mendekat ke arah gadis itu.
"Kerja keras atau bikin om-om jadi mengeras. Terus lo minta bayaran."
"Kurang ajar lo, ya."
Maureen mengangkat tangannya dan hendak menampar Arka, namun pemuda itu keburu menangkap tangan Maureen.
"Kalau lo nggak ngelakuin hal itu, kenapa lo harus marah?. Hah?." Arka membanting tangan Maureen ke bawah.
"Halah, kayak tante lo nggak jual diri aja."
"Dia masih perawan." Tegas suara Arka terdengar di telinga Maureen.
"Dia masih perawan saat gue nikahi."
Lagi-lagi Maureen terdiam.
"Sedangkan lo, udah di perawani sama cowok yang bahkan saat itu lebih pantes jadi bapak lo demi duit. Lo pikir gue nggak tau, waktu kita masih SMA, lo jual diri. Lo juga sama kayak gue, Reen. Bedanya gue nikah dan lo nggak."
Arka meninggalkan Maureen.
"Amanda itu masih perawan karena nggak lakuuu." teriak Maureen kesal.
"Dia bukan barang obralan kayak lo."
Banyak sekali uneg-uneg yang terpendam di hati Arka. Karena saat itu ia tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Ia selalu merasa.hanya Maureen lah yang mau pada pemuda biasa seperti dirinya. Ia menerima saja ketika gadis itu berlaku semena-mena, tapi kali ini tidak lagi. Ia benar-benar sudah mantap menerima takdirnya, sebagai suami dari Amanda.
Lagipula apa yang bisa diharapkan dari Maureen, Amanda jauh lebih baik dari gadis itu. Meskipun secara usia, Maureen menang banyak ketimbang Amanda. Tapi secara attitude, kedewasaan, pesona di ranjang, jelas Amanda pemenangnya. Wanita itu telah berhasil merebut hampir seluruh hati Arka.
Menjelang sore seusai kuliah, Arka kembali ke rumah. Ia santai saja saat geng bu Mawar memperhatikan dan menggunjingkan dirinya, didepan sebuah warung yang ia lewati.
"Ti."
Arka menyapa Rianti yang tengah bersiap untuk kuliah. Ia kuliah malam hari itu.
"Mas udah pulang?" tanya Rianti.
"Nggak belum, Ti. Ini khayalan kamu doang." ujar Arka seraya duduk dan melepaskan tali sepatunya. Rianti pun tertawa.
"Ibu sama mbak mu mana?" tanya Arka.
"Lagi masak, dibelakang." jawab Rianti.
"Oh ya?"
"Iya, tuh. Rianti pergi ya mas."
"Nggak pamit ke dalem?" tanya Arka.
"Udah tadi." Rianti kemudian beranjak.
"Hati-hati."
"Iya, mas."
Rianti perlahan menjauh, sedang Arka kini masuk kedalam. Ia bertemu muka dengan istrinya, yang tengah membawa masakan ke meja makan.
"Hai."
Arka mencium kening Amanda, sedang istrinya itu memasang senyuman manis.
"Apaan nih?" tanya nya kemudian.
"Sayur asem." jawab Amanda lalu meletakkan sayur tersebut ke atas meja.
"Buatan ibu ya?"
"Bukan, itu dia yang bikin." Ibu Arka masuk dan tiba-tiba nyeletuk.
"Serius kamu bikin sayur asem?. Emang bisa?" tanya Arka tak percaya.
"Bisa dong." ujar Amanda dengan penuh percaya diri.
"Koq selama ini aku nggak pernah dibikinin?"
"Emang kamu pernah minta?" tanya Amanda.
Arka diam, lalu tersenyum.
"Iya juga ya." ujarnya kemudian.
"Kamu aja lebih banyak makan di kampus, lokasi syuting. Pas libur malah pesen online."
"Emang kalian nggak pernah masak?" tanya ibu Arka.
"Masak, bu. Cuma ya gitu, kayak bikin sphagetti, steak, makanan western lah." ujar Arka.
"Mana Arka tau dia bisa masak masakan rumahan begini." lanjutnya lagi.
"Makanya, kenali istrimu sebaik mungkin." ujar Amanda lalu tersenyum meledek.
Wanita itu kembali ke dapur dan membawa berbagai makanan lainnya ke meja makan.
"Ini juga Amanda yang masak." ujar ibu Arka.
Arka melirik ke arah sambal goreng teri yang ada dihadapannya tersebut.
"Kayaknya enak, aku jadi laper." Arka berujar pada Amanda.
"Ya udah, kita makan ya." tukas istrinya itu kemudian.
Mereka pun makan siang bersama, Arka tak menyangka jika masakan Amanda tak kalah lezat dengan masakan ibunya. Ibunya sendiri juga tak menyangka jika wanita kaya raya dan super sibuk seperti Amanda, bisa juga menyiapkan masakan seperti ini.
"Kamu belajar masak dari mana, Man?" tanya Arka disela-sela makannya.
"Dari bibik yang dulu kerja dirumah orang tuaku. Waktu masih ada mama, juga sering masak bareng mama. Semenjak mama meninggal aku jadi males nginjek dapur, karena keinget mama terus. Tapi aku masih inget cara masaknya gimana."
"Kamu itu udah cantik, baik, pinter masak lagi." puji ibu Arka pada Amanda.
Wanita hamil itu hanya tertunduk malu, Arka ikut tersenyum dan mengelus perut Amanda barang sesaat.
***
Di sebuah pusat perbelanjaan.
Intan, si ratu gosip kantor Amanda kini tampak tengah berjalan-jalan dan melihat-lihat skincare di sebuah store.
"Iya, udah putusan cerai. Gue juga udah liat kalau sekarang dia udah merried sama selingkuhannya itu."
"Mbak Rani?" gumam Intan dalam hati.
Intan lalu mendekat ke arah wanita itu dan membalikkan badan ke arah berlawanan. Agar tak terlihat oleh Rani.
"Dari dulu, dia udah ketahuan selingkuh. Tapi gue yang ngotot pengen mempertahankan rumah tangga. Gue kasian dan berat sama anak. Eh nggak taunya.anak gue yang dikandungan dibunuh mati sama dia, dan dia malah bebas bersyarat. Sekarang keliaran."
Rani terus berbicara di telpon, sementara Intan setia menguping.
"Gue udah gerah banget. Mentang-mentang istri barunya kaya, bisa membebaskan dia dari tuntutan dengan uang. Nggak terima gue, liat aja nanti. Gue juga bakalan kaya raya dalam waktu dekat, bakalan gue beli tuh muka istri barunya."
Rani berbicara berapi-api, sementara kini Intan menutup mulutnya karena syok. Saat Rani berlalu, Intan buru- buru menelpon conference call bersama Satya dan Deni.
"Sat, Den. Gawat." ujarnya panik.
"Lo kenapa sih?" tanya Deni kemudian.
"Iye lu, di kejer sat pol PP mana?" tanya Satya.
"Aduh jangan bercanda dulu, dengerin."
"Iya, apa?" tanya Deni lagi.
Intan pun mulai menceritakan semua hal yang ia dengar dari Rani.
"Yaelah, Intan Permata Jingga. Ya wajar dong seseorang bercita-cita pengen segera kaya, gue aja selalu afirmasi ke diri gue sendiri. Bilang kalau gue akan kaya dalam waktu dekat." ujar Deni.
"Iya, lagian wajar dia dendam sama mantan lakinya. Anaknya dia kan keguguran, gara-gara mantan lakinya itu. Sekarang lakinya bebas bersyarat, karena duit. Wajar aja mbak Rani dendam dan rasanya pengen jadi orang berduit, karena kalau lo berduit semua jadi gampang." timpal Satya.
"Ya itu dia poin yang gue maksud tadi. Bisa aja kan dia pengen kaya secara Instan, kemudian menempuh cara yang tadi gue bilang. Dengan ngancurin atau ngerebut perusahaannya bu Amanda." ujar Intan.
"Gue rasa sih itu ketakutan lo aja." ujar Satya lagi.
"Iya ada-ada aja, lu." timpal Deni.
"Ih, dia tuh mencurigakan banget tau nggak. Liat aja ya, kalau misalkan nanti omongan gue terbukti. Lo berdua hutang MacBook pro keluaran terbaru sama gue."
"Ok." ujar Satya dan Deni diwaktu yang nyaris bersamaan.