
Nadine menghapus sisa-sisa air matanya dengan tissue. Ia masih berada didalam mobil Nino dan membuang tatapannya ke sisi jalan. Sementara Nino, masih fokus ke arah depan sambil mengemudi dan mengingat semua hal tentang Amanda.
Keduanya sama-sama terluka, Nadine masih sakit hati dengan sikap Nino. Ia belum memaafkan laki-laki berusia 32 tahun tersebut. Sementara Nino masih hancur perihal perpisahannya dengan Amanda. Mereka boleh masih saling melihat, namun cinta mereka tak akan pernah bersatu. Amanda telah memilih jalannya sendiri, untuk meneruskan pernikahannya dengan Arka.
Tiba-tiba mobil berhenti disuatu jalan, Nadine yang terkejut pun menoleh ke arah Nino. Ia sudah mengira, jika Nino akan menurunkannya secara paksa. Karena sejak tadi dirinya hanya diam dan tak henti menangis. Mungkin Nino kesal, pikirnya.
"Kamu belum makan, kan?"
Akhirnya Nino bersuara, Nadine tak menyangka jika Nino akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Gadis itu pun lalu mengangguk, seraya menyeka sisa air matanya yang sejak tadi sangat sulit berhenti. Nino keluar dari sisi kemudi, lalu membukakan pintu untuk Nadine. Gadis itu memastikan sisa air matanya tak lagi membasahi pipi, lalu kemudian ia pun turun.
Tanpa basa-basi, Nino menggamit lengan Nadine dan menggandengnya menuju ke sebuah restoran yang kini ada didepan mata mereka. Nadine memperhatikan tangannya yang digandeng, lalu memperhatikan wajah dingin Nino yang menatap kedepan. Entah mengapa tiba-tiba muncul perasaan hangat dihatinya. Meski sikap Nino tak semanis sikap pria lain, namun sepertinya laki-laki itu cukup perhatian.
***
Hari itu sepulang syuting, Arka dan Rio tampak berbincang didalam mobil. Rio menceritakan perihal kronologi tertangkapnya pelaku utama pemerkosaan Liana, yakni mantan Liana itu sendiri.
Arka pun begitu senang mendengarnya, sekaligus geram. Seakan hendak menghabisi mantan pacar Liana itu dengan tangannya sendiri.
"Kalau ada gue, udah gue mampusin tuh laki-laki." ujar Arka dengan nada kesal. Matanya masih fokus mengemudi dan menatap ke arah jalan.
"Pokoknya gue udah puas, Ka. Mukul dia, nendang dia, palanya gue gebuk, anu nya gue tendang. Sakit hati banget gue, mana adek gue lagi yang dia pacarin."
"Adek lo nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Arka kemudian.
"Untungnya nggak sih. Abis dia gue omel-omelin, sumpah. Bisa-bisanya dia pacaran sama cowok brengsek kayak gitu. Adek gue tuh parah bucinnya ke orang. Tiap pacaran, bucin. Pacaran lagi, bucin lagi. Heran gue, nggak ada belajar-belajarnya dari yang udah-udah. Dapet cowok, brengsek mulu."
"Jagain, Ri. Awas-awasin terus, adek lo seumur Rianti kan?"
"Rianti berapa sih?" tanya Rio.
"19 tahun."
"Iya sama."
"Umur segitu masih bucin-bucinnya banget sama orang. Masih menganggap sayang, kalau bubaran. Sayang hubungan udah lama, kali aja berubah."
"Kayak lo dulu ya, bro?"
"Anjrit." ujar Arka seraya tertawa. Ia mengingat betapa bucinnya dulu ia terhadap Maureen.
"Gue selalu kebayang-bayang di enakin Maureen. Tiap mau pergi dari hidup dia, selalu yang keinget poin itu. Makanya gue semakin bucin. Gue pikir nggak ada lagi perempuan lain yang bisa ngambil hati gue, eh nggak taunya ketemu Amanda."
"Lo harus terima kasih sama gue, gini-gini gue juga adalah salah satu orang yang menjerumuskan lo kedalam lubang kenikmatan." seloroh Rio.
"Hahaha, bangsat."
Keduanya sama-sama tertawa.
"Cewek lebih tua tuh gimana sih, bro. Rasanya?"
tanya Rio kemudian.
"Rasa apanya nih?" Arka terjebak ambiguitas, ia bertanya seraya menahan tawa.
"Ya, semuanya. Yang lo rasain itu apa?. Nih kita jujur-jujuran nih, belum pernah kan lo cerita banyak ke gue. Selama lo menjalani pernikahan, hampir setahun ini."
Arka menghela nafas, ia masih terus mengemudi.
"Sebenernya usia itu mungkin relatif ya, maksudnya nggak menjamin rasa apapun didalam rumah tangga itu sendiri. Tergantung orangnya, sifat dan sikapnya, hatinya. Yang muda tapi menyenangkan, gue rasa banyak. Tapi Amanda sendiri tuh, jujur gue happy banget bro, sama dia."
Rio memperhatikan Arka dan mendengarkan secara seksama.
"Pertama, karena gue dapet virginnya dia. Ya, virgin itu sama relatif lah ya. Yang udah nggak virgin tapi baik pun banyak. Nggak usah dijadiin tolak ukurlah, ini gue cuma cerita doang sama lo. Virgin yang pertama, itu gue happy banget. Terus masalah sifat, Amanda itu punya emosi yang stabil. Cuma belakangan karena hamil aja, jadi agak nyebelin lah dikit. Tapi aslinya dia emosinya stabil banget. Kalau ngadepin masalah tuh bukan yang kayak bocil, yang tiba-tiba marah. Nggak jelas masalahnya apa, pas ditanya bilangnya nggak peka."
"Kayak mantan gue tuh dulu. Dikira gue cenayang kali, bisa tau isi hati dia." ujar Rio.
"Shinta ya?" tanya Arka.
"Iya, siapa lagi. Dikit-dikit ngambek, nggak ada jundrungannya. Pas gue tanya baek-baek, bilangnya "ah kamu nggak peka banget." Pengen banget gue sleding palanya."
Arka terkekeh.
"Nah kalo cewek yang udah dewasa tuh, nggak gitu. Gue nggak tau ya kalau cewek dewasa lainnya. Tapi yang jelas, Amanda itu nggak kayak gitu. Belum pernah sih dia ngambek, terus nyuruh gue nebak-nebak gitu. Dia pasti ngomong, penyebabnya apa. Terus dia baik, sama orang tua gue juga hormat, sama gue nurut."
"Gue tuh juga pengen, bro. Dapet cewek yang lebih tua." ujar Rio.
"Yang emosinya udah stabil kayak Amanda gitu. Bukan yang tiap kali status gue online di WhatsApp, terus gue harus melulu chat ke dia."
lanjut Rio kemudian.
"Maureen tuh dulu gitu. Tiap gue online, nggak ngechat dia, lngsung marah. Gue chat dia, dia bales, terus gue lama bales."
"Marah juga?" tanya Rio.
"Bukan lagi, ngamuk. Ngomelin gue tiga paragraf."
"Hahaha." Rio tertawa.
"Dikira gue hidup cuma buat ngechat dia doang kali ya. Kan gue juga banyak urusan, balesin chatnya mbak Arni. Ngomongin kerjaan, chat sama klien, anak kampus dan lain-lain. Dia nuntut setiap kali gue online, harus banget chat dia. Padahal yang diomongin ya, seputar lo udah makan apa belom. Cewek goblok, dasar."
"Cie udah bisa ngatain Maureen. Hahaha."
"Makanya dulu, gue keikutan gobloknya dia." Arka membela diri.
Rio pun kembali terkekeh, sementara mobil terus melaju. Memasuki sebuah jalan yang cukup lengang, Rio tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Ka, gue lupa. Gue disuruh nganterin titipan ke rumah pakde gue." ujarnya kemudian.
"Titipan apaan?" tanya Arka.
"Tuh dibelakang, tau apaan suami nyokap gue. Kemaren kan gue balik ke rumah emak gue tuh, nganterin si Vani. Ini bokap tiri gue nitip, buat kakaknya."
"Rumahnya dimana?"
"Merpati land sektor 8."
"Ya udah gue anterin." ujar Arka.
"Serius lo mau nganterin gue?. Jauh loh, Ka. Biar gue naik taxi aja."
"Udeh, gue anterin aja. Lagian Amanda juga belum pulang jam segini."
"Serius lo?"
"Elah lu, masih kaku aja kayak tai kering."
Rio terkekeh, begitu pula dengan Arka.
"Ya udah deh, bentar doang koq gue. Abis nganter ini, cabut."
Arka menghidupkan aplikasi waze di handphonenya dan berbalik arah. Menuju ketempat yang dimaksud oleh Rio.
Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Setibanya ditempat tersebut, mereka masih harus melalui jalanan yang belum di aspal. Kira-kita sekitar 1,5km.
"Ka, kita parkir disini aja, ini tuh masuknya jalanan setapak gitu."
Arka menongolkan kepalanya keluar dari kaca, ia menatap jalan kecil yang ada didepan matanya. Disisi kanan dan kiri jalan itu, masih terdapat pepohonan dan juga semak belukar.
"Parkir disini aja nih?" tanya Arka memastikan.
"Iya, gue bentar doang. Lo nggak usah ikut, disini tuh masih rawan pencurian dan begal. Ntar spion mobil lo raib. Bagus spionnya doang, kalau sama mobil-mobilnya ilang, bingung dah lu."
"Ya udah deh, gue tunggu disini. Tapi lo nggak apa-apa sendirian?. Ntar dijadiin tumbal pesugihan lagi lo." ujar Arka.
"Bangsat, lo." seloroh Rio sambil tertawa.
Pemuda itu pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki jalan setapak dan menghilang dibalik pengkolan. Sementara Arka kini menunggu didalam mobil. Kawasan itu begitu luas, seperti kawasan yang nantinya akan dibangun kompleks perumahan besar. Namun belum terealisasi dengan baik.
Di arah dalam sana sepertinya ada beberapa rumah. Sementara dikawasan tempat dimana Arka berada kini, hanya terdapat beberapa hamparan rerumputan dan juga semak belukar. Tetapi sebagian lagi sudah bersih dan diratakan dengan alat berat.
Jelas ini merupakan kawasan dari sebuah mega proyek yang belum sepenuhnya dijalankan. Mungkin masih menunggu investor ataupun dalam tahap pengembangan dan promosi.
Rio mengantarkan titipan ayah tirinya, Arka kini menyalakan sebatang rokok. Tak lama kemudian, tampak sebuah mobil yang tiba-tiba parkir cukup jauh darinya. Arka memperhatikan mobil tersebut, tak lama si pengemudi pun keluar dan terlihat tengah menelpon seseorang.
"Orang itu?" Arka mengerutkan keningnya seraya bergumam, ia memperhatikan orang itu secara seksama. Dan betapa terkejutnya ia, ketika matanya mendapati sesuatu.
"Bekas tatto?" seketika Arka berfikir.
"Brengsek."
Dengan penuh emosi, Ia pun keluar lalu mendekati laki-laki itu.
"Buuuuk."
"Buuuuk."
Arka menghajar laki-laki itu secara serta merta. Laki-laki yang kaget itupun membalas dan balik memukuli Arka.
"Buuuuk."
Perkelahian sengit pun terjadi, laki-laki itu ternyata sangatlah kuat. Meski memiliki basic beladiri, Arka cukup kualahan dalam menghadapinya.
Berkali-kali ia jatuh akibat pukulan laki-laki itu, namun ia bangkit dan membalas. Hingga kini laki-laki itu, ia kunci pergerakannya sambil terus memukul.
"Lo suruhan siapa?. Jawab..!"
"Buuuuk."
"Kenapa lo pukul istri gue waktu itu, lo pukul di di jalan pinangraya 9. Inget kan lo?"
"Buuuuk." Arka memukulnya lagi, laki-laki itu kini teringat pada Amanda.
"Suruhan siapa lo, bangsat?. Ngomong...!"
"Buuuuk."
Sebuah pukulan menghantam kepala Arka dari belakang, seketika ia pun terjatuh. Si laki-laki yang ia pukuli itu kini berdiri.
Arka yang masih setengah sadar, kini melihat ada dua orang dihadapannya. Laki-laki dengan bekas tatto itu mengeluarkan sebilah pisau. Tubuh Arka tak bisa lagi bergerak, yang ada dipikirannya hanyalah Amanda dan juga bayi-bayinya.
Si laki-laki berbekas tatto pun menyeringai, pisau tajam itu kemudian dicabut dari sarungnya. Lalu, ia mengarahkan pisau itu ke dada Arka.