
Hari itu, adalah hari dimana film "Berondong Bayaran, dan CEO Cantik" session 1 tayang di perdana di bioskop.
Seluruh cast menghadiri acara premiere, tak terkecuali Amanda selaku penulis. Malam itu ia tampil bak selebriti, dengan balutan gaun mahal karya desainer terkenal.
"Sayang kamu cantik banget." bisik Arka ditelinga istrinya itu. Amanda pun tersenyum dan tersipu malu dihadapan sang suami.
"Hallo Firman."
Rio tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka, membuyarkan suasana yang sejatinya sudah romantis tersebut.
"Ri, lo kayak Alfa sama Indomerit tau nggak." Arka berseloroh kepada sahabatnya tersebut.
"Dih kenapa emangnya?" tanya Rio.
"Dimana-mana, ada." ujar Arka sewot. Rio pun terkekeh.
"Alah, Ka. Padahal lo sayang kan sama gue, kangen kan lo tiap hari sama gue."
"Tai, tau nggak."
"Hahaha." Rio terkekeh-kekeh.
Malam itu bukan hanya sekedar premiere, namun filmnya juga tayang serentak di banyak wilayah. Banyak dari fans Arka maupun netizen penasaran, bagaimana kisah sesungguhnya pertemuan antara Arka dan juga Amanda.
Ketika film di putar, semua mata tertuju pada layar dan fokus. Genre film tersebut adalah romantis komedi. Hingga seluruh penonton dibuat tertawa sekaligus baper. Hal tersebut dibumbui pula dengan sedikit drama dan kesedihan. Hingga tak sedikit pula para penonton menangis, ketika ada adegan yang sedih.
Film ditutup dengan lahirnya kedua bayi kembar, yang menggambarkan kelahiran Afka dan juga Azka. Seluruh penonton puas dengan ending, namun merasa sangat kurang sekali. Tampaknya mereka membutuhkan sesi kedua.
Amanda dan Arka pulang cukup larut, karena banyak yang meminta foto serta tanda tangan mereka. Sesampainya di penthouse, mereka langsung disambut oleh si kembar yang kebetulan sudah bangun.
"Koq nggak bobok, dek?" tanya Amanda seraya menyambut Azka dari tangan Anita. Sementara Afka sudah berada dalam gendongan ayahnya.
"Tadi tidur dari sore, bu." ujar Anita.
"Terus sekarang kamu mau bergadang?" tanya Amanda lagi, namun sambil menggelitik bayinya itu.
"Eheeee."
Seperti biasa keduanya selalu ceria.
"Bu, saya mau pamit sekalian. Besok saya mau pulang kampung." Anita berujar pada Amanda.
"Jadi?" tanya Amanda pada perempuan itu.
"Iya bu, nggak enak soalnya. Itu temen akrab saya yang mau nikah, dia minta banget saya datang."
"Ya udah, sekalian kamu jalan-jalan lah. Udah lama juga kan nggak pulang kesana."
"Iya, bu." jawab Anita seraya tersenyum.
***
Sidang perdana kasus penyekapan dan pemerkosaan terhadap Maureen yang melibatkan Fritz pun di gelar. Pria tua menjijikkan yang punya kuasa dan uang banyak tersebut pun, didampingi oleh team pengacara terkenal.
Jordan meski tak kaya seperti sang paman, namun ia berusaha keras agar Maureen juga bisa didampingi oleh pengacara terkenal.
Para mahasiswa di kampus Maureen pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana, hingga muncul hashtag #justiceformaureen di berbagai laman sosial media.
Bagi sebagian orang yang pikirannya terbelakang, kejadian Maureen ini adalah aib yang tidak perlu diumbar dan di besar-besarkan. Bahkan ada pendapat beberapa netizen berotak kolot yang sangat menjengkelkan.
"@antosipembalapgezrex Ngapain coba hal kayax gini di up di sozmed. Wkwkwk aib koq diumbar-umbar. Udah selebar apa tuch apemnya dia, diperkosa tiap hari. Wkwkwk."
@dinabundanyasafira Harusnya pelaku ndak usah di hukum, nikahkan saja, sudah hamil begitu korbannya. Nggak bakal ada lagi juga yang mau sama si korban, sudah bekas. Wkwkwk."
Dan komentar-komentar tersebut pun menyulut kemarahan warga net, terutama generasi milenial yang pikirannya sudah terbuka.
Baik fans Arka maupun Amanda, kini bersatu untuk memerangi hal tersebut. Sekalipun mereka sempat membenci Maureen, namun kejahatan yang dilakukan Fritz adalah kejahatan yang bisa menimpa perempuan manapun.
"@cintyadavina eh goblok @antosipembalapgezrex goblok lu ya?. Aib apaan, blok?. Justru hal kayak gini harus di up di sosial media, supaya pihak berwenang pun malu kalau sampe kasus ini dimenangkan oleh si pelaku. Ini adalah salah satu cara mengawal kasus, supaya keadilan bisa ditegakkan. Di negara ini kalau nggak ada suara dari netijen, kasus ini bisa aja di kaburkan. Lo kalau goblok nggak usah ngajak-ngajak, cukup lo aja LOL."
"@kevinsuryaaditya woi bro, balik ke Facebook gih. @antosipembalapgezrex. Apa perlu gue orderin ojek online biar bisa nganter lo kesana?"
"@kaniasil07 lantas kalau anak perempuan ibu diperkosa sama predator, ibu mau anaknya dinikahkan sama pelaku? @dinabundanyasafira. Ngomong jangan asal jeplak aja bu, anak ibu perempuan loh. Mau anaknya diperkosa predator, terus ikhlas kalau pelaku menikahinya?"
"@gitalestari inilah contoh ibu-ibu berotak sempit dan berpikiran dangkal @dinabundanyasafira. Bu, ngerti trauma sama tekanan mental nggak bu?. Pemerkosaan itu perbuatan keji dan bisa saja mempengaruhi mental seseorang. Orang yang udah melakukan tindak kejahatan koq disuruh menikahi korbannya. Korban koq disuruh menikah sama orang yang jahatin dia. Otakmu pungutin dulu bu, berceceran tuh dijalan."
"@reynaldi1717 generasi uab-aib, segala sesuatu dianggap aib. Kejahatan disembunyikan, pantes aja hukum nggak pernah berdiri tegak di negara ini. Condong mulu kayak menara Pisa. Akibat banyaknya manusia model kayak elo, @antosipembalapgezrex. Mending lo pamit dari dunia, nggak usah hidup lagi. Orang mau memperjuangkan keadilan, lo malah nyuruh menyembunyikan. Persetan sama aib, keadilan nomor satu.
"@mua_riafitria_wedding semoga ibu nanti mengalami hal serupa, biar tau gimana rasanya @dinabundanyasafira."
Netizen terus menyerbu komentar-komentar yang tidak berperikemanusiaan dan terkesan miskin simpati serta empati tersebut. Dewasa ini kalangan milenial mulai banyak yang terbuka hati serta pikirannya.
Mereka sudah tidak tabu untuk berbicara masalah kondisi mental seseorang, dan juga mengadukan setiap pelecehan ke sosial media.
Alasannya lagi-lagi soal masalah klasik, dimana kadang korban pelecehan yang mengadu ke pihak yang berwajib kurang ditanggapi dan dianggap angin lalu.
Tetapi ketika kasus itu mencuat di media sosial, semua pihak bergerak dengan cepat. Jika terus seperti ini, maka mungkin rakyat akan lebih banyak mengadu kepada sosial media, ketimbang pihak yang berwenang.
Kini baik Arka maupun Amanda, juga turut membantu Jordan dalam segi keuangan. Supaya team pengacara Maureen bisa ditambah dan bisa menerangi orang seperti Fritz. Karena keadilan harus di usahakan dan dicapai.
Meski dulu sempat kesal dan tak menyukai Maureen. Namun untuk hal yang menyangkut keselamatan dan hak perempuan, Amanda tak mau tinggal diam. Predator-predator seperti Fritz harus diperangi. Amanda perempuan, ia memiliki adik perempuan yang kini masih bayi.
Besar kemungkinan suatu saat, ia juga akan memiliki anak perempuan bersama Arka. Ia melakukan semua ini bukan untuk Maureen semata, melainkan untuk seluruh perempuan yang ada di negri ini. Sekalipun apa yang terjadi dalam hidup Maureen, adalah karma perbuatan Maureen sendiri.
Namun predator tetaplah predator, kejahatan seksual adalah salah satu hal paling menjijikkan di dunia. Selain memakan uang rakyat dan menipu sesama. Maka dari itu pelaku harus dihukum seberat-beratnya.
***
"Sayang."
"Ya."
"Aku udah naik jabatan." ujar Arka.
"Oh ya?"
Amanda sumringah. Ia yang saat ini baru pulang dari kantor, langsung menghampiri sang suami yang juga baru pulang dari kantor.
Mereka tak pulang bersama hari ini, karena tadi Amanda harus pergi ke supermarket dan membeli beberapa keperluan si kembar yang sudah habis.
"Wah, selamat ya papa kangkung."
"Sama-sama mama Firman."
Amanda memeluk sang suami dan begitupun sebaliknya. Arka mencium bibir istrinya itu beberapa kali, sambil tersenyum.
"Buuuk."
"Kriiing."
Sebuah bola terlempar mengenai kaki Arka, ia pun kaget dan menoleh.
"Hoayaaa."
Tampak Azka tengah duduk didekat mereka, dialah pelaku pelemparan bola yang memiliki lonceng kecil didalamnya tersebut. Sementara Afka kini menarik rok Amanda.
"Hoayaaa."
Kedua orang tua itu menghela nafas sambil tertawa.
"Nggak bisa lagi emak-bapaknya mesra di sembarang tempat." ujar Amanda kemudian.
"Kalian ya." Arka berujar pada kedua anaknya.
"Eheeee."
"Ehe-ehe."
Mereka berdua lalu menggendong kedua anak itu secara bersamaan. Dari kaca penthouse tersebut, meski tak ada manusia lain yang menyaksikan. Namun langit seakan menjadi saksi, bahwa ada banyak tawa bahagia diantara mereka.
***
"Ka."
Rio menelpon di tengah malam.
"Apaan, Bambang?" tanya Arka sewot.
"Janganlah engkau sewot, wahai berondong bayaran."
"Bangsat." Arka terkekeh.
"Kenapa?" tanya nya kemudian.
"Lusa temenin gue lagi yuk." ujar Rio.
"Kemana?"
"Bikin konten horor lah."
"Hah?"
Waktu pun seakan terhenti, Rio hanya cengar-cengir di seberang sana. Ia belum juga kapok menyusahkan Arka, prinsipnya adalah :
"Apapun dilakukan, demi konten."