Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Marah


Amanda menangis sesenggukan di pelukan Rianti, hatinya kini benar-benar sakit. Bagaimana mungkin Amman bisa berkata seperti itu kepada cucunya sendiri.


"Mbak nggak apa-apa kalau dia benci sama mbak, Ti. Tapi kenapa harus bilang kayak gitu ke anak-anak mbak, mereka salah apa?"


Amanda kian tersedu-sedu, sementara Rianti hanya bisa menepuk dan mengusap bahu wanita itu. Ia juga begitu sakit melihat sikap Amman.


"Sabar, mbak. Udah, jangan nangis lagi. Jangan buang-buang energi untuk orang yang nggak punya perasaan."


Amanda mencoba meredakan tangisnya sendiri.


"Kasian sama anak-anak, mbak. Kalau liat ibunya nangis karena orang seperti itu. Kalau mbak sedih, nanti bisa stress. Bisa berpengaruh sama produksi ASI."


Rianti membawa Amanda untuk duduk, lalu ia mengambilkan air minum untuk wanita itu. Amanda pun lalu mereguknya sampai habis.


Ketika Amanda mulai tenang, Rianti memberitahu Arka soal ini. Arka yang semula duduk tenang di meja kerjanya itu, kini menjadi begitu marah.


"Kenapa, Ka?" tanya rekan yang duduk didekatnya.


"Gue mau keluar bentar. Kalau ada yang nanya, bilang kalau gue ada urusan mendesak soal keluarga gue."


"Ok."


Arka pun bergegas.


"Braaak."


Arka menggebrak meja Amman ketika Amman tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya. Entah bagaimana pemuda ini bisa menerobos masuk kedalam.


"Apa yang sudah anda lakukan terhadap istri dan anak sayaaa?"


Arka berteriak di wajah Amman.


"Siapa yang menyuruh kamu masuk keruangan saya."


"Siapa yang menyuruh anda mendatangi istri saya?"


"Dia anak saya."


"Dia istri saya."


"Saya tidak pernah menikahkan dia."


"Tapi pernikahan kami sah, secara agama dan juga hukum."


"Oh ya?. Jangan terlalu jumawa, anak muda. Kamu belum tau apa yang bisa orang tua ini lakukan, untuk memberi kamu pelajaran."


"Jangan pernah lagi menemui dan mengintimidasi anak serta istri saya, apalagi sampai menyentuh mereka. Kalau anda masih melakukan hal itu, saya tidak akan segan-segan untuk menyakiti anda."


Arka menatap Amman dengan tajam, pria tua itu tampak tak gentar sedikitpun. Ia lalu menekan sebuah tombol dan tak lama beberapa orang pihak keamanan pun datang. Mereka mendekat ke arah Arka dan mencoba mencekal lengannya.


"Lepaskan, saya bisa pergi sendiri." ujar Arka.


Arka terus menatap tajam ke arah mertuanya itu, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Arka sebenarnya bisa saja melakukan hal lebih terhadap Amman. Ia bisa saja memukul pria tua itu hingga babak belur.


Namun jika ia nekad melakukannya, sudah pasti Amman akan memanfaatkan situasi. Amman mungkin saja bisa memenjarakan dirinya. Arka tak takut jika harus dipenjara karena membela istri dan anaknya. Namun jika sampai hal itu terjadi, siapa lagi yang akan melindungi Amanda dan anak-anaknya. Siapa yang akan menjaga mereka dari orang jahat seperti Amman, jika ia berada di balik jeruji besi.


"Arka." tiba-tiba Vera mendekat.


"Ya." ujar Arka dengan nada dingin, emosinya pasca bertemu dengan Amman tadi masih belum mereda.


"Mereka punya rencana jahat terhadap Amanda, mereka ingin mencelakai kamu dan bayi kalian. Tolong hati-hati."


Arka menghela nafas dan memperhatikan Vera, wanita itu tampak tidak berbohong sedikitpun.


"Thanks." ujar Arka kemudian. Ia pun berlalu meninggalkan tempat itu.


Ketika Arka pulang dari kantor, Rianti telah kembali kerumah. Karena ia ada jadwal kuliah malam. Sedang Anita dan juga Lastri diminta Amanda untuk kembali ke rumah satunya, karena ia ingin sendirian.


"Amanda." Arka masuk ke kamar, namun wanita itu tak ada disana.


Arka menemukan Amanda tengah berada didalam kamar bayinya. Wanita itu berusaha menyembunyikan matanya yang masih sedikit sembab. Ia mencoba berpaling sambil membereskan pakaian anak-anak kedalam lemari, padahal pakaian tersebut sudah rapi.


"Kamu udah pulang, Ka." ujar Amanda berbasa-basi, suaranya terdengar sengau. Arka mendekat, lalu merangkul wanita itu.


"Aku udah datangin papa kamu."


Pernyataan tersebut sukses membuat Amanda terhenyak dan menatap suaminya.


"Kamu tau dari mana?"


"Rianti."


"Ka, kamu nemuin papa?"


"Iya, sorry. Aku bukan bermaksud kurang ajar sama orang tua kamu. Tapi apa yang Rianti sampaikan ke aku, itu udah bener-bener diluar batas normal. Harusnya papa kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Ok lah dia benci aku, karena aku nggak sekaya kalian. Tapi Afka sama Azka itu nggak salah apa-apa, mereka nggak tau apa-apa."


"Makanya aku sedih, Ka. Baru lahir udah dibawa-bawa. Kadang orang tua, umur udah tua tapi nggak ngotak. Salah apa coba, bayi merah kayak gitu?"


Arka menghela nafas.


"Ya udah, kamu jangan sedih lagi. Ngapain sedih?. Orang yang ngacak- ngacak suasana hati kita itu, jangan dikasih keberhasilan. Biarin aja dia capek buang-buang energi buat bikin kita down. Tapi kita tetap stay di line, jadikan usaha dan hidup mereka itu sia-sia. Sayang air mata, nangisin orang jahat. Mending dipake buat nonton drakor."


Amanda tersenyum.


"Nah gitu dong, kan cantik."


Lagi-lagi Amanda tersenyum. Arka kemudian berbaring di karpet bulu dan menarik istrinya ke dalam pelukan. Amanda kini meletakkan kepala di dada suaminya itu.


"Kamu nggak mau mandi dulu, Ka."


"Aku masih kangen sama kamu, pengen berdua kayak gini terus."


"Hoaaaa."


Azka bersuara.


"Aaaaaa." Afka menimpali saudara kembarnya.


"Ntar dulu ya dek, papa mau sama mama dulu." ujar Arka Kemudian. Kedua bayi kembarnya itu lalu diam.


***


"Serius itu si kakek Sugiono begitu?"


Rio geram ketika Arka menceritakan hal tersebut pada keesokan harinya, di kampus.


"Kalau gue jadi, lo. Udah gue bikin bonyok tuh si kakek tua itu."


"Gue bisa aja, Ri. Kalau gue single aja, gue abisin tuh dia. Masalahnya gue punya anak-istri. Amman itu punya power, punya duit banyak. Bisa aja dia beli hukum, untuk memenjarakan gue. Dan lagi disitu posisinya gue yang dateng ketempat dia, bikin kekacauan. Kalau dia yang nyamper gue, bisa gue bilang dia yang nyerang. Lah ini gue yang nyerang duluan. Gue bukan takut masuk penjaranya, yang gue pikirin anak-bini gue. Siapa yang jaga mereka, kalau gue dipenjara. Amman pasti lebih leluasa buat menyakiti mereka."


"Bener juga sih, kita harus berfikir dulu sebelum bertindak. Tapi sumpah gue kesel banget, celaka dengan sendirinya kek tuh kakek tua. Udah jahat, masih aja di kasih kesempatan sama Tuhan. Sekali-sekali bikin kecelakaan kek, apa kek."


"Gue pegang satu rahasia dia."


"Soal apa?" tanya Rio.


"Vera, Vera hamil anaknya dia. Dan gue rasa Rachel nggak tau itu."


"Ya udah lo serang balik aja, bro. Sebelum dia nyerang lo. Nggak usah nunggu sampe mereka menang dulu, baru lo menang di akhir. Kalau ada kesempatan, serang." ujar Rio bersemangat.


Arka menatap Rio.


"Jangan mereka aja yang bisa berencana untuk menyakiti lo dan anak lo. Kita ini aktor seni peran, bro. Walau kita nggak bisa bikin skenario, setidaknya kita bisa berpura-pura menjadi sesuatu. Kita jalankan peran itu dan serang balik mereka."


Arka diam, ucapan Rio membuatnya berfikir.