
"Ka, aku sayang sama kamu."
Suara bercampur tangisan terdengar di seberang sana. Tepat pada pukul 3 dini hari, Arka menerima telpon tersebut di ruang makan.
"Cintara, kamu tau kan aku udah punya istri. Bahkan sekarang sudah aku akui di muka publik, aku cinta sama istri aku."
"Tapi aku juga cinta sama kamu, Arka." Cintara makin terisak.
"Maafin aku, tapi aku nggak bisa. Aku cinta sama istri aku, aku juga nggak ada perasaan apapun sama kamu."
"Please, Ka. Aku mau jadi yang kedua, aku nggak bisa ngelupain kamu. Aku nggak bisa merelakan kamu gitu aja."
"Cin, please. Jangan pernah ngomong kayak gini lagi, sampai kapanpun aku akan tetap sama Amanda. Jangan usik rumah tanggaku, aku nggak mau istriku salah paham. Aku nggak mau bertengkar sama dia. Aku nggak mau anak-anakku tumbuh dalam keluarga yang ibu-bapaknya berantem terus."
"Terus, aku gimana Arka?. Gimana perasaan aku?"
"Aku minta maaf, Cin. Sangat-sangat minta maaf, aku nggak bisa.Tolong jangan pernah lagi hubungi aku untuk membahas hal ini. Kita sebatas rekan kerja, ya sudah disitu aja. Jangan melebar kemana-mana."
Arka menutup telpon, Cintara terpekik didalam bantal saking sakitnya yang kini ia rasakan.
Arka menghela nafas dan berbalik, namun Amanda ada didepan matanya. Arka terkejut sekaligus terdiam, entah sudah berapa lama istrinya itu ada disana. Amanda memeluk Arka dan begitupun sebaliknya.
"I love you, Arka."
"I love you too, sayang." ujar Arka memeluk sambil memejamkan matanya. Meresapi aroma tubuh istrinya yang khas. Ia sudah begitu takut, Amanda akan marah padanya.
"Aku bikinin kopi ya." ujar Amanda kemudian, Arka pun mengangguk.
Amanda beralih ke kitchen set dan mulai membuatkan kopi untuk suaminya, sementara Arka kini menunggu di balkon.
"Nih, kopinya." ujar Amanda lalu meletakkan segelas kopi dan satu toples kue didekat Arka.
"Nastar dari mana, sayang?"
"Beli dong, beberapa hari lalu." ujar Amanda.
"Koq nggak kamu keluarin?" tanya Arka.
"Lupa." ujar Amanda sambil tertawa.
"Wah." Arka membuka toples tersebut dan memakan nastar yang ada didalamnya.
"Enak." ujarnya kemudian.
"Langsung bisa nyanyi nih abis ini." lanjutnya lagi.
"Aiyaiya, hati ku tergoda. Aiyaiya, sungguh mempesona."
Amanda tertawa.
"Itu Nassar oppa, bukan nastar."
"Nama fandom nya nastar loh, Nassar Star."
Amanda dan Arka tertawa geli.
"Ya udah deh aku makan juga, biar kita sama-sama jadi fans nya Nassar Oppa."
Obrolan mereka pun berlanjut, meski udara sangat dingin menusuk tulang. Amanda sama sekali tak membahas soal Cintara, sekalipun tadi ia mendengar percakapan suaminya dengan gadis itu. Baginya jawaban Arka pada Cintara, sudah merupakan bukti. Bahwa pria muda seperti dirinya juga ada yang bisa memegang komitmen.
Tak melulu harus berumur tua, untuk bisa memegang teguh sebuah keputusan yang telah dibuat. Karena usia sejatinya tak menjamin sikap seseorang. Banyak yang berusia dewasa, tapi tingkahnya melebihi anak kecil.
"Sayang, sini...!"
Arka berdiri lalu menarik istrinya untuk ke pinggir balkon. Waktu sudah berlalu dan kopinya telah habis.
Amanda mengikuti arahan Arka dan berdiri disisi suaminya itu, mereka kini menatap seluruh kota. Sesekali Arka mengusap-usap punggung Amanda, hingga menimbulkan perasaan geli di tubuh wanita itu.
Udara dingin kian berhembus, Amanda berbalik dan memeluk suaminya. Amanda mendekatkan wajah dan hendak mencium pria itu. Arka pun mengarahkan bibirnya ke bibir Amanda, namun tiba-tiba ia menghentikannya.
"Kenapa, Ka?" tanya amanda heran.
"Ntar dulu, ada nanas nyangkut di gigi." ujar Arka setengah tertawa. Suasana yang hampir hot itu pun mendadak menjadi lawak, Amanda dan Arka terkekeh.
"Ntar dulu deh, aku gosok gigi dulu." ujarnya kemudian.
"Aku juga deh." ujar Amanda lalu membawa bekas gelas kopi serta kue nastar ke dalam. Tak lupa ia pun menutup dan mengunci pintu ke arah balkon.
Arka menggosok gigi, begitupula dengan Amanda. Tak lama kemudian, keduanya sudah terlihat berciuman didalam kamar.
"Hmmh."
Suara Arka terdengar penuh gairah, begitupula dengan Amanda. Tangan keduanya saling bergerilya di bagian tubuh pasangan masing-masing.
"Hmmh."
Arka terus mencium Amanda, sambil mendorong perlahan tubuh istrinya itu ke atas ranjang. Ciuman Arka beralih ke leher, hingga membuat istrinya mengerang dengan kepala menengadah.
"Hmmh."
Arka membuka kaos yang menutupi tubuhnya. Kini dada bidang serta tubuhnya yang sixpack, terpampang dihadapan Amanda. Membuat wanita itu kian belingsatan.
Ciuman Arka pun semakin menurun, pada bagian-bagian yang ia kehendaki. Amanda mengerang, Arka semakin menjadi-jadi.
"Arka, a, aku..."
"Jangan sekarang sayang, nanti aja."
Arka menghentikan aktivitas sejenak. Ia kini berdiri dan melucuti penutup yang masih tersisa di bagian bawah tubuhnya. Saat helaian benang terakhir itu berhasil ditanggalkan, terlihatlah sesuatu yang mencuat di sana.
"Arkaaa."
Arka mengarahkannya pada sang istri, lalu.
"Aaaakh." Keduanya mengerang nikmat bersama-sama.
Arka mulai bergerak maju dan mundur secara perlahan, sambil terus memuji sang istri.
"Kamu cantik banget sayang, hmmh."
"Kamu cantik, ssshh."
"Arkaaa, hmmh, ah, Arkaaa."
Hanya itu kata yang keluar dari bibir istrinya.
Arka terus memompa dengan penuh keperkasaan, sementara Amanda mulai meracau tak karuan.
Selang beberapa saat, mereka berganti posisi. Amanda membelakangi suaminya dengan kedua tangan bertumpu pada dinding kamar. Dengan penuh cinta Arka pun menemui dan menghantam wanitanya itu berkali-kali. Mereka kemudian berganti posisi seperti semula dan memulainya lagi.
Irama penyatuan terdengar, berbarengan dengan keringat yang kian membanjiri keduanya.
Hingga ketika waktu telah habis, di makan oleh kenikmatan. Arka dan Amanda terhempas secara bersamaan, dengan posisi tubuh Arka ambruk diatas tubuh istrinya. Belum lagi Arka mencabut miliknya, ia malah menyanggah pinggul istrinya itu dengan bantal.
"Kenapa, Ka." tanya Amanda keheranan.
"Biar hamil." ujar Arka seraya menindih kembali tubuh sang istri dan membelai rambutnya.
"Kamu ngomong hamil-hamil mulu. Ntar aku hamil lagi, pusing kamu. Anaknya banyak."
Arka tertawa.
"Biar aja, biar Azka sama Afka punya geng." ujarnya kemudian.
"Hmm kamu belum tau, berdua aja udah mulai nakal tuh anak. Apalagi nambah anggota geng."
"Maksudnya?" tanya Arka bingung.
"Aku lupa cerita nih, tempo hari mereka aku ajak main sama Anita. Di Playground gitu, mereka excited banget ngeliat ada bayi lain. Aku deketin lah si Azka, terus Anita nyusul sama Afka. Awalnya biasa aja, bayi itu ketawa, mereka ketawa."
"Terus?" tanya Arka lagi.
"Di tabok, Ka. Anak orang."
"Hah, serius. Sama siapa?"
"Sama Azka, di tabok itu bayi. Terus matanya dicolok sama Afka."
"Astaga, serius kamu?"
"Serius, sampe malu aku sama ibunya itu anak. Sampe minta maaf, minta maaf aku. Kaget loh aku."
"Kuat nggak?"
"Ya pukulan bayi, seberapa kuat sih. Tapi anak orang nangis, kaget mungkin."
Arka tertawa.
"Koq kamu ketawa?"
"Aku nggak bisa bayangin, coba aku ngeliat."
"Kamu nih, pasti. Kecilnya nakal kan, kamu?"
"Banget." ujar Arka seraya tertawa.
Amanda kini menahan senyum.
"Sumpah, Ka. Aku malu banget tau, masih piyik udah nabok anak orang."
Lagi-lagi Arka tertawa.
"Mereka tuh nggak ngerti, Man. Mereka pasti asal gerak aja. Bisa jadi karena lucu mungkin, atau mereka merasa aneh. Ngeliat koq ada yang sama dengan mereka atau gimana. Kalau kebencian kayaknya belum ada deh di hati mereka. Sama kayak mereka kalau narik rambut kamu, mereka nggak tau kamu sakit apa nggak."
Amanda tampak berfikir.
"Mungkin pada saat Azka nabok itu, pikir dia itu salam pertemanan atau apa. Pas Afka nyolok matanya itu, mungkin dia lucu ngeliat matanya itu bayi ngedip-ngedip. Sama kalau dia kita kasih liat mainan yang matanya ngedip, suka dia colok kan bagian matanya."
"Iya sih, tapi aku tetep aja nggak enak. Aku keburu panik dan aku jauhin, soalnya muka emak si bayi itu jadi asem."
"Di omongin aja, mereka nya. Ngerti nggak ngerti, omongin aja. Kalau suatu saat udah agak gedean, kita terbiasa untuk nasehatin mereka. Jangan dianggap bener, mentang-mentang anak kecil. Ya walaupun saat ini mereka itu nggak tau, kalau tindakan mereka bisa nyakitin orang lain."
"Iya, itu aja aku omongin. Terserah deh mau ngerti apa nggak, aku ngomongin mereka juga pelan koq. Aku nggak mau nantinya jadi ibu yang terbiasa menormalisasi kenakalan anak. Mentang-mentang mereka kecil, dibela. Aku nggak mau gitu, salah ya salah. Udah."
Arka tertawa sekali lagi.
"Ngebayangin kamu ya?" tanya Amanda.
"Iya." ujar Arka seraya tertawa.