Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Belum Waktunya


Arka membawa tubuh Amanda keluar dari dalam mobil, Rio mengantar mereka sampai ke penthouse. Sedang Pia, Intan, Satya dan Deni sudah kembali ke kantor. Guna mengembalikan mobil kantor dan mengambil barang mereka sebelum pulang.


Arka menggendong tubuh istrinya itu hingga ke kamar, lalu membaringkannya ke atas tempat tidur. Arka menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Amanda agar ia merasa hangat.


"Aku ke Rio sebentar ya, dia udah mau pulang soalnya." ujar Arka.


Amanda mengangguk. Arka mencium kening istrinya itu, lalu pergi kebawah untuk menemui Rio.


"Ri."


"Gue langsung pulang ya, bro. Ada janji sama mbak Arni soalnya. Mau ngomongin soal project baru."


"Lo mau gue antar?" tanya Arka.


"Ya elah nggak usah kali, ojol banyak. Lagian gue udah order juga. Jagain aja tuh bini lo, kasian dia." ujar Rio.


"Ya udah, lo hati-hati ya."


"Sip."


Tak lama kemudian, ojek online yang dipesan oleh Rio pun tiba. Rio melambaikan tangannya pada Arka dan naik ke atas motor. Tak lama kemudian motor tersebut pun perlahan menjauh.


Arka kembali ke atas, dilihatnya Amanda yang kini sudah tertidur lelap. Ia mendekat lalu mengelus dan mencium perut istrinya itu dengan lembut.


"Jangan nakal ya, kasian mama." ujarnya kemudian.


Lalu terasa seperti ada getaran didalam sana. Seolah bayi tersebut mengerti dan merespon apa yang diucapkan oleh Arka. Arka pun tersenyum, tak lama berselang ia melihat notifikasi panggilan masuk di handphone Amanda. Sebuah nama tertera disitu,


"Nino."


"Degh."


Batin Arka bergemuruh. Ia hendak meletakkan handphone tersebut, namun Nino terus mencoba menghubungi. Akhirnya Arka pun mengangkat telpon tersebut.


"Halo." ujar Arka kemudian.


Tak ada jawaban, diseberang sana Nino terdiam mendengar suara Arka. Ia masih berada di dalam mobil yang terparkir tepat di muka kantor Amanda.


"Halo." ujar Arka lagi.


Namun Nino tetap tak menjawab, lidahnya seolah kelu dan suaranya seakan membeku. Ia lalu menutup telpon tersebut dan membuang pandangannya jauh ke depan.


Satya, Deni, Intan dan Pia tiba di kantor. Saat itu tanpa sengaja Deni menoleh ke arah Nino, yang tampak lesu didalam mobilnya.


"Eh, itu bukannya yang belakangan sering sama bu Amanda ya?" tanya Deni.


"Yang mana?" tanya Intan. Mata mereka kini mengikuti arah pandangan Deni.


"Itu yang mobil merah, yang kacanya kebuka." ujar Deni lagi.


"Nyariin bu Amanda kali dia." tebak Satya.


"Udah sini gue yang samperin."


Intan lalu keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Nino.


"Maaf, pak. Bapak cari bu Amanda?" tanya Intan pada Nino.


Nino terdiam sejenak memperhatikan Intan, namun kemudian ia pun menjawab.


"Ah, iya. Saya mencari bu Amanda. Kalau boleh tau bu Amanda dimana ya?. Soalnya saya hubungin tapi nggak dijawab."


"Bu Amanda tadi tiba-tiba sakit. Kita yang bawa dia ke rumah sakit." ujar Intan.


"Oh ya, dia sakit apa, dirumah sakit mana?" tanya Nino dengan wajah panik.


"Perutnya tiba-tiba sakit parah dan harus dilarikan segera. Tapi bu Amanda udah baik-baik aja sekarang, tadi dia dijemput suaminya."


Hati Nino terpukul, ia tak tahu jika kejadiannya akan seperti ini. Lebih terpukul lagi ketika mendengar kata, "Suaminya."


"Eee, iya. Kalau gitu makasih ya." ujar Nino kemudian. Intan pun mengangguk dan kembali pada teman-temannya.


***


Di kediaman orang tua Arka.


"Mas mu jarang banget pulang ya, akhir-akhir ini."


Ibu Arka berbicara pada dan Rianti di meja makan. Tetapi di meja makan tersebut juga ada sang suami yang turut mendengarkan.


"Ya selama Arka masih ngabarin kita, itu artinya dia baik-baik aja." ujar sang suami seraya mengambil beberapa macam lauk pauk, yang tersedia di atas meja.


"Tapi, aku khawatir mas. Takut dia kenapa-kenapa."


"Tuh, ibu tuh pa. Selalu aja kayak gitu. Khawatir berlebihan mulu sama mas Arka." ujar Rianti kemudian.


Ayah tiri Arka pun tertawa.


"Dengerin tuh anak gadismu bilang. Janganlah khawatiran kayak gitu, Arka itu udah besar loh."


"Ntar sakit aja bu, over thinking terus." tukas Rianti lagi.


"Ya apa salah, ibu khawatir sama mas mu. Sama kayak ibu khawatir ke kamu kalau kamu lagi diluar rumah."


"Ya tapi nggak harus berlebihan juga, bu. Kasian di ibu sendiri nanti kalau sakit. Lagian mas Arka baru nelpon tadi siang kan?"


"Bener, bu. Kecuali Arka itu bener-bener nggak ada kabar, berhari-hari, berminggu-minggu. Baru kita patut khawatir." ujar sang suami kemudian.


Ibu Arka menghela nafas dan menjawab,


"Iya, pa."


Lalu mereka pun melanjutkan makan.


***


Amanda terbangun dan mendapati pemandangan itu didepan matanya. Hatinya terenyuh, betapa Arka terlihat begitu kelelahan. Meski kini pikirannya juga tertuju pada Nino, namun Amanda tak bisa berpaling begitu saja dari Arka.


Wajah tampan dan muda itu tak bisa begitu saja ia tepis. Terlebih kini ada bayi didalam perutnya, yang seakan sangat bersemangat melihat Amanda menatap Arka.


"Ka."


Amanda membelai kepala Arka, seketika pemuda tampan itupun terbangun.


"Kenapa, Man?. Ada apa?. Kamu butuh apa?" tanya Arka masih dengan wajahnya yang mengantuk, namun ia paksa untuk sadar.


Amanda menggeleng.


"Aku nggak apa-apa, kamu pindah sini gih!" ujar Amanda menunjuk sisi kanan tempat tidurnya.


Arka pun mengangguk dan menuruti kemauan istrinya itu. Ia pindah ke sisi kanan Amanda, lalu merebahkan diri disana. Sesaat sebelum matanya terpejam, ia sempat mengelus perut Amanda dengan penuh kasih sayang.


***


"Sumpah itu mantan lo bego banget, Reen." ujar Doni ketika ia dan Maureen tengah melintasi jalan demi jalan. Mereka kini berada disebuah motor milik Doni dan hendak menghabiskan malam ini dengan berkeliling sambil bercerita.


"Bego kenapa lagi.dia?" tanya Maureen yang duduk di belakang.


"Kan gue ngajak dia nongki yak, masa dia bilang udah nggak nerima duit si Amanda lagi. Kan gue males, nggak ada kang bayarin gue lagi kalau mabok."


"Amanda-nya udah nggak mau ngasih?" tanya Maureen.


"Bukan, tapi si Arka-nya yang sok-sokan nggak mau. Biar apa coba?"


"Udah gue bilang lo bisa berbuat lebih baik, Don. Arka ya emang gitu, b to the go. Stupid."


"Gue nggak ngerti tuh jalan pikirannya dia." ujar Doni."


"Ngapain lo di pelihara tante-tante, tapi lo nggak dibayar. Biar dikata apa coba?" lanjutnya lagi.


"Biar dikata-katain kali." ujar Maureen.


Keduanya pun lalu sama-sama tertawa.


"By the way, lo sama Robert gimana?" tanya Doni.


"Gu, gue baik-baik aja sama dia." ujar Maureen namun dengan nada yang ragu-ragu. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu, namun Doni tak menyadari hal tersebut.


"Mendingan lo sama Robert kemana-mana, ketimbang Arka. Robert lebih terkenal, tajir ye kan. Arka mah kere, job juga sama aja kayak gue."


Maureen menghela nafas, Doni tak tahu perihal hubungannya dengan Robert yang terkadang rumit.


"Reen, lo denger gue nggak?" tanya Doni.


"Eh, oh, eh, iya. Gue denger koq, Don." ujar Maureen lalu tersenyum.


"Iya, mending gue sama Robert ketimbang dia." lanjut perempuan itu lagi.


Doni mempercepat laju kendaraannya. Sampai kemudian sebuah mobil dengan kencangnya melaju dan hampir menabrak mereka dari belakang.


"Tiiiiiin."


"Woi, brengsek lo." teriak Doni penuh emosi.


"Kejar, Don!" ujar Maureen tak kalah marahnya dari Doni.


"Gaya banget mentang-mentang punya mobil." lanjutnya lagi.


Doni makin menaikkan kecepatan dan berhasil mengejar laju mobil itu. Ia pun semakin mepet dengan body mobil tersebut.


"Braaak."


Doni memukul mobil itu dengan tangannya, Maureen pun ikut-ikutan sok jagoan. Ia juga turut mengebrak mobil tersebut dengan tangannya.


"Braaak."


Si pemilik mobil membuka kaca, mata dingin dari wajah tampannya menatap ke arah Doni dan juga Maureen yang masih emosi.


"Lo hampir nabrak gue, bangsat." teriak Doni.


Si pemilik mobil terlihat tak menghiraukan.


"Denger nggak lo?. Woiii." teriak Doni lagi.


Si pemilik mobil masih bungkam. Namun detik berikutnya ia melempar sesuatu hingga berterbangan di muka Doni dan juga Maureen.


"Don, Don. Duit, Don." teriak Maureen.


Mereka lalu memberhentikan motor, sedang mobil dan pemiliknya itu terus melaju.


"Wah duit, duit."


Maureen dan Doni turun dari motor dan mengumpulkan uang-uang yang terlempar tersebut, seperti orang yang tidak pernah melihat uang seumur hidup. Mereka tak membiarkan kertas yang menjadi alat pertukaran itu tertinggal sedikitpun.


"Duh lumayan ini, Don. Siapa ya yang punya mobil itu tadi. Mana ganteng, tajir lagi." Maureen kini senyum-senyum sendiri, sambil menggenggam uangnya.


Sementara itu kini si pemilik mobil telah berada disebuah kawasan. Ia terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga kemudian sebuah panggilan masuk.


"Halo."


"Iya, Amanda." jawabnya kemudian.


"Nino, dimana kamu?"


Lalu pria itu pun terdiam.