Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Menjemput Si Kembar


Azka dan Afka dalam keadaan sehat, untung saja para maid menjaganya dengan baik. Dan para maid itu pun membiarkan saja, saat kedua orang tua Arka ingin mengambil cucu mereka. Anita dan yang lainnya bahkan menawarkan bantuan, jika ibu Arka tengah sibuk dan harus meninggalkan para bayi dirumah.


Ibu dan ayah Arka pun berterima kasih lalu berpamitan, mereka kini membawa si kembar menuju rumah mereka. Mereka diantar oleh ayah Rio.


"Para bayi tersebut tampak tenang, mereka mungkin masih mengingat rumah orang tua Arka. Sehingga ketika mereka dibawa kesana, reaksi mereka pun biasa saja.


***


"Ran, emang bener Arka sama Amanda kecelakaan?"


Maureen tiba dikediaman Rani dan langsung bertanya pada wanita itu.


"Iya." ujar Rani seraya tersenyum jumawa.


"Koq lo senyum sih?" tanya Maureen heran.


"Terus apa?. Gue harus nangis gitu?" tanya Rani seraya tertawa.


"Ngapain gue nangisin dua orang itu, mati juga nggak apa-apa." ujarnya lagi.


"Eh, kalau mereka mati. Ntar acara tuntut-menuntut pernikahan palsu itu, nggak jadi dong?"


"Ya udah sih biarin aja." ujar Rani lagi.


"Lo tuh nggak seru banget ya, jadi orang." Maureen tak sependapat dengan Rani.


"Nggak seru, nggak seru gimana?" Rani terlihat tak mengerti.


"Ya kalau Arka sama Amanda mati, selesai gitu aja dong perkaranya. Kapan kita liat mereka menderita di dunia?"


"Ya udah sih, biarin aja kalau mereka mati. Nggak ribet lagi hidup gue, bosen gue liat mereka berdua bahagia mulu."


Maureen diam, ia tetap tak sependapat dengan Rani. Ia lebih ingin melihat Arka serta Amanda menderita di dunia, ketimbang membiarkan mereka mati begitu saja. Sebab bilamana manusia mati, maka selesailah sudah semua perkara di dunia.


"Berarti ini perbuatan lo?" Maureen curiga pada Rani.


"Koq perbuatan gue sih, gue mana tau menahu soal ini."


"Kalau bukan lo, kenapa lo seneng sama kejadian ini dan berharap mereka mati?"


"Halah, kayak lo nggak seneng aja liat mereka menderita."


"Tapi bukan menderita kayak gini terus mati, nggak ada serunya kalau gini mah."


Maureen kesal, Rani tak peduli.


Sementara disuatu tempat, Ryan sudah menghubungi beberapa orang yang dapat membantunya menuntaskan kasus ini. Orang-orang tersebut adalah yang terbaik di bidangnya masing-masing.


Ryan tak apa jika harus membayar mahal. Asal siapapun itu yang jahat pada keluarganya, bisa ia beri pelajaran. Ia tak takut, sekalipun orang itu memiliki power. Ia juga bisa memiliki power 100 kali lipat dari apa yang dimiliki orang itu.


***


"Rio."


Nino tiba di rumah sakit, ia mendekat ke arah Rio dengan sangat tergesa-gesa. Agaknya ia mengetahui hal ini dari Intan. Karena tadi Rio sempat memberitahu Intan, apa yang menimpa Amanda beserta suaminya. Intan sendiri mengatakan akan datang jika jam kantor telah selesai nanti.


"Nino?"


Rio pun langsung mengarahkan laki-laki itu ketempat dimana kini Amanda dan Arka terbaring.


"Dokter bilang apa?" tanya Nino kemudian. Ekspresi wajahnya seperti sudah tidak sabar menanti jawaban.


"Masa kritisnya udah lewat, tinggal nunggu mereka sadar."


Nino menghela nafas, namun kepanikan diwajahnya tak kunjung mereda. Ia pun lalu masuk dan entah berbicara apa pada Amanda. Rio hanya menunggu diluar dan berdiri tepat didepan kaca ruangan.


Usai melihat keduanya, Nino dan Rio berbincang mengenai banyak hal. Tentang siapa yang kira-kira berpotensi untuk mencelakakan keduanya.


Dari pihak yang membenci Amanda, tentu saja ada Rani, Rachel dan juga Maureen. Ditambah lagi kini mereka sudah tergabung dalam satu panji.


Dan dari pihak Arka sendiri tentu saja ada Amman. Amman sangatlah membenci Arka, karena Arka dianggap telah menjadi penghalang dari rencana Amman.


"Jadi, ayahnya Amanda pernah mau membayar Arka?" tanya Nino tak percaya.


"Ya, yang gue denger dari Arka sih gitu. Bapaknya Amanda menyuruh Arka meninggalkan Amanda, karena dia nggak mau punya menantu dari golongan biasa seperti Arka. Sekalipun Arka memiliki pekerjaan. Anak-anak mereka pun harus dibawa oleh Arka, karena bapaknya Amanda nggak mau mengakui mereka. Dia nggak mau punya cucu yang berasal dari benih orang biasa."


Nino menghela nafas, lalu menjatuhkan pandangannya ke suatu sudut.


"Ok lah kalau dia benci sama Arka, tapi bayi-bayi itu nggak bersalah." ujar Nino kemudian. Ia tampaknya sangat menyayangkan sikap Amman yang dinilai keterlaluan.


"Makanya, apapun kesalahan orang tuanya. Bayi tetaplah bayi, mereka nggak ada salah sama sekali."


Nino diam, hal ini pulalah yang akhirnya diceritakan Rio pada Intan. Ketika Intan datang bersama Nadine dan Nino telah pamit pulang sesaat sebelum itu.


"Parah sih emang otaknya Amman." Intan terdengar sangat menyayangkan sikap Amman, yang membayar Arka untuk membawa pergi bayi-bayinya dari kehidupan Amanda.


"Benci sih benci ya, kenapa bayi-bayinya mbak Amanda ikut jadi sasaran." timpal Nadine.


"Makanya." ujar Rio.


"Gue aja nggak habis pikir." ujarnya lagi.


"Padahal Amman itu warga keturunan loh." ujar Intan.


"Harusnya pola didik orang tuanya, jangan sama kayak pola didik orang kita." lanjutnya lagi.


"Bener, setahu gue yang suka bully-membully bayi itu cuma ada di negara kita, pola didik orang kita. Benci sama orang tuanya, anaknya ikut dihujat-hujat. Ada pasangan hamil duluan, anaknya ikut dikata-katain. Di hina-hina sampe rela ngetik, nge DM orang tuanya cuma untuk menghina si bayi. Padahal anak kecil mah tau apa. Mereka lahir dari orang tua miskin kek, orang tua hina kek, orang tua pendosa kek. Mereka nggak tau apa-apa, nggak bisa milih juga mau lahir dari orang tua yang mana dan seperti apa." tukas Nadine.


"Bener, nggak pernah gue ngeliat orang luar menghina dan menghujat bayi orang. Bukan gue memuji orang luar dan bukan gue memukul rata ya. Ada juga lah yang mungkin suka begitu, tapi hampir nggak pernah ketemu yang modelan begitu. Yang sengaja banget untuk komen dan menghina bayi, anak kecil. Ini kalau gue liat di orang luar ya." ujar Rio.


"Iya. Suka hina-menghina anak kecil itu berkembangnya di negara kita. Nggak usah jauh-jauh deh, tetangga aja suka banget menghina berat badan anak orang lain, membully fisik bayi-bayi yang nggak sesuai kriteria mereka. Itu si Amman tuh, gue rasa emaknya dulu suka juga menghina anak orang." Intan berspekulasi.


"Makanya pas gede, apa yang dia dapat dari emaknya. Ya itulah yang dia praktekkan dalam kehidupan, sampe cucu sendiri dihina. Cakep-cakep loh si Azka sama si Afka itu. Secakep dan selucu itu aja masih dihina sama kakeknya, gimana kalau itu bayi wujudnya biasa aja. Dihujat bolak-balik kali sama si Amman." lanjutnya lagi.


"Gue rasa tuh neneknya mbak Amanda tukang nyinyir dulu, makanya Amman nyinyir tuh orangnya." ujar Nadine lagi.


Ketiganya lalu saling menatap satu sama lain.


"Kita julid banget ya, apa dulu nyokap kita julid." ujar Rio.


Detik berikutnya Nadine dan Intan kompak memukul Rio seraya tertawa. Rio pun akhirnya bisa sedikit tersenyum di sela-sela ketegangan dan kesedihannya hari ini.