Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Imunisasi


"Tadi papa kamu kenapa?" tanya Arka pada Amanda.


"Menuntut balas Budi. Nggak tau apa salah Budi dituntut-tuntut dan dibalas."


Arka tak tau apakah ia harus tertawa atau prihatin mendengar perkataan itu. Di satu sisi ia tau pastilah ini bukan kejadian yang menyenangkan bagi Amanda. Namun disisi lain, cara Amanda berbicara memaksa otaknya untuk tertawa.


"Balas Budi apa sih?" tanya Arka lagi.


"Ya biasalah, dia minta aku ninggalin kamu dan anak-anak. Terus mau jodohin aku sama anak temennya atau saingan bisnisnya dia gitulah. Biar bisa beraliansi dengan baik.


"Terus tanggapan kamu?"


"Ya mana mau lah aku, urusan dia. Tanggung jawab aja sendiri. Suruh Rani, kek."


Seketika Amanda teringat pada Rani.


"Oh iya, Rani kan anak papa aku ya. Janda lagi, kenapa nggak dia aja?"


Amanda menatap Arka dan begitupun sebaliknya.


***


Beberapa hari kemudian.


Azka dan Afka menangis dengan kencang usai mendapatkan vaksin imunisasi bulanan yang harus dijalani selama periode 0-6 bulan. Seperti bulan sebelumnya, mereka menangis layaknya habis dipukuli ibu tiri. Sangat berlebihan ketimbang bayi lain yang juga di imunisasi hari itu.


Amanda yang saat itu ditemani oleh Rianti pun berusaha menenangkan bayi-bayinya, agar tak menganggu pengunjung rumah sakit lain.


Menjelang sore hari, bekas suntikan itu membengkak. Membuat para bayi kian bertambah rewel. Amanda pun dengan sabar menenangkan bayi-bayinya.


Ia memberi fever patch pada bengkak bekas suntikan tersebut. Hingga bengkak yang terjadi terasa lebih dingin dan tidak terlalu sakit bagi mereka. Usai keduanya tertidur, Rianti pamit pulang. Amanda pun lalu ikut tertidur.


Pukul 20:00 malam ia terbangun, akibat tangisan salah satu bayinya dan disusul oleh tangisan bayi yang lain. Amanda meraba kening kedua anak itu, agak sedikit panas namun tak terlalu. Ia pun segera menyusui mereka satu persatu.


Usai diberi ASI, mereka agak sedikit tenang. Ini bukan kali pertamanya mereka begini, imunisasi bulan lalu pun sama kejadiannya. Mereka cenderung rewel dan mengalami kenaikan suhu, walaupun tak sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.


Bedanya bulan kemarin Amanda ditemani Arka seharian, namun hari ini Arka tengah sibuk syuting. Diperkirakan akan sampai tengah malam nanti.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Bayi-bayi Amanda kembali menangis menjelang tengah malam, suhu tubuh mereka lebih tinggi ketimbang tadi. Amanda mengambil dua buah fever patch dan menempelkannya di kening mereka.


Ia juga mengambil dua buah lagi, untuk ditempelkan pada bengkak bekas suntikan yang dialami anak-anaknya itu. Namun tetap saja mereka menangis menjerit-jerit, padahal Amanda sudah menyusui mereka.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Amanda mengirim chat pada dokter anak melalui aplikasi. Apa yang disarankan oleh dokter anak untuk menanganinya bayi-bayinya itu pun, dilakukan oleh Amanda.


Mereka sedikit mereda beberapa saat, namun setelah itu kembali menangis. Hal tersebut terus berulang-ulang hingga pukul dua dini hari. Arka tiba dirumah dan menemukan Amanda menangis di kamar anaknya.


"Amanda kamu kenapa?"


Arka buru-buru menghampiri istrinya, yang tengah duduk termenung sambil berurai air mata tersebut.


"Mereka demam, Ka. Nggak tidur-tidur dari tadi."


Arka melihat ke arah bayi-bayinya yang belum juga tidur, ia lalu memeluk Amanda dan mencoba menenangkan istrinya itu.


"Maafin aku ya, pulangnya lama. Kamu sendirian capek ya?"


Amanda mengangguk lalu memeluk suaminya. Arka sebenarnya sudah sangat ingin memastikan kondisi kedua anaknya. Paling tidak meraba kening mereka, untuk mengetahui setinggi apa suhu badan mereka saat ini.


Namun ia memeluk Amanda terlebih dahulu agar istrinya itu tak berkecil hati, sebab ia juga butuh dukungan dan perhatian. Dan lagi tadi Amanda pasti sudah melakukan tindakan sesuai prosedur kepada anak-anaknya. Mereka pasti sudah ditangani oleh wanita itu dengan baik.


"Makasih ya, mama. Udah ngurus anak-anak kita, makasih juga udah sabar nungguin papa pulang."


Amanda tersenyum, Arka mencium bibir istrinya itu. Hati Amanda pun agak sedikit tenang, sebenarnya semua kondisi ini masih bisa diatasi. Hanya saja ia lelah mengurusi banyak hal seharian ini, ia sempat ke kantor dulu sebelum akhirnya pulang dan menemani anaknya imunisasi.


Ada banyak hal mengenai pekerjaan yang membuatnya sedikit stress hari ini. Hingga ketika harus mengurusi kedua anaknya, semua terasa makin berat.


Kini ia telah mendapatkan energinya kembali dan beranjak, Arka pun demikian. Arka meraba kening kedua bayinya, panas mereka sudah mereda.


"Papa mandi bentar, nanti papa gendong ya. Amanda kamu istirahat aja, biar aku yang jaga mereka."


"Tapi kamu juga butuh istirahat, Ka."


"Udah."


"Ya udah, tidur sana..!"


"Kamu nggak makan dulu?"


"Udah gampang, ntar aku ambil sendiri. Tidur, ya."


Amanda mengangguk, Arka pergi ke kamar mandi. Amanda sempat menyiapkan makan dulu untuk suaminya. Meskipun Arka menyuruh wanita itu untuk segera beristirahat, namun tetap saja Amanda merasa tak enak. Paling tidak ada sedikit hal, yang ia bisa lakukan untuk melayani suaminya itu.


Usai mandi, Arka mencium istrinya yang telah terlelap. Lalu ia pergi ke kamar anak-anak dan berinteraksi dengan mereka.


"Siapa tadi yang sakit?. Abis di imunisasi ya?" Arka bertanya seraya tersenyum pada kedua bayinya. Kedua bayi itu pun berceloteh pada Arka, seakan mengadukan apa yang telah mereka alami hari ini.


"Sakit ya lengannya?"


"Sakit, iya?"


Arka bergantian menoleh pada bayinya satu persatu.


"Hoaaaa." Afka berujar dengan wajah seperti akan menangis.


"Sayang, papa. Maaf ya, itu buat kesehatan kamu, sama kamu juga."


Arka menggelitik keduanya sambil tertawa. Bayi itu diam, namun akhirnya ikut tertawa.


"Siapa tadi yang nangisnya paling kenceng?"


"Hoooaaaa."


Kedua bayinya kembali tertawa. Arka terus berbicara pada mereka hingga kedua bayi itu mengantuk dan akhirnya terlelap.


"Thanks God." ujar Arka seraya menghela nafas. Ia mencium Azka dan Afka, lalu meninggalkan anak-anak itu untuk menuju ke meja makan.


"Ka, I love you."


Tiba-tiba sebuah pesan singkat dari Cintara masuk ke handphonenya. Arka yang tengah makan itu pun sedikit terusik.


"Bolehkan?"


Cintara kembali mengirim pesan singkat.


Arka belum membuka pesan itu, hanya melihat dari notifikasi layar depan saja. Ia kemudian menghabiskan makanan dan mencuci piring. Tak lama setelah itu Rio menelpon.


"Bro."


"Kenapa, bro." tanya Arka.


"Gimana nih skripsi, mager banget gue." ujar Rio kemudian.


"Lo mager, apalagi gue anjay."


"Sumpah, gimana yak?. Mana bapak gue udah ngerongrong gue lagi, suruh kerja dikantornya dia. Tapi suruh selesain kuliah dulu."


"Kenapa nggak kerja dulu aja.?"


"Kata bokap, ntar gue malah keenakan kerja. Skripsi terbengkalai."


"Iya, kayaknya gue karena keenakan kerja deh ini." ujar Arka.


"Terlena sama gaji nih gue." Arka kembali berujar seraya tertawa.


"Makanya lu mager, kan?" tanya Rio.


"Iya, minimal gue ada alesan lah. Nah elo, mager kenapa coba?"


"Ya mager aja, emang seorang Rio nggak boleh mager."


Keduanya lalu sama-sama tertawa.


"Udeh, cari kakak tingkat aja. Copas." Rio memberikan ide cemerlang nya."


"Hmmm, ajaran sesat nih. Sekte baru." ujar Arka.


"Kan gue pemuda tersesat." seloroh Rio.


Lagi-lagi keduanya tertawa. Mereka lalu lanjut berbincang banyak hal, hingga pesan singkat dari Cintara lupa terbaca oleh Arka.