
"Hah?. Serius lo Reen?"
Chanti bertanya pada Maureen ditengah malam yang dingin. Ia dan Widya tampak terkejut dengan bibir yang sama-sama menganga. Malam itu Maureen sengaja menginap di kostan Chanti. Karena ingin mengadukan banyak hal pada kedua temannya tersebut.
"Beneran, Chan. Amanda tuh hamil." ujar Maureen.
"Nih, gue sempet videoin dia waktu dia nunjukin perutnya ke salah satu cowok. Gue nggak tau ini cowok siapanya dia." lanjutnya lagi.
Chanti dan Widya meraih handphone Maureen dan memutar video di perangkat tersebut. Tampak Amanda tengah mengelus perutnya didepan Jefferson.
"Eh, iya loh. Dia hamil." ujar Chanti menatap Maureen, lalu kembali menatap layar handphone.
"Iya, perutnya gede gitu." timpal Widya.
"Tapi, Reen. Lo yakin, dia hamil anaknya Arka?" tanya Chanti lagi.
"Ya yang waktu itu dia dateng ke kampus, mencak-mencak nyariin Arka. Ngapain coba?. Pasti dia udah hamil waktu itu dan Arka-nya ngilang, makanya dia nyariin. Orang tadi aja balik dari premiere, gue liat dia di parkir timur sama Arka, sama Rio. Udah pasti itu anaknya Arka."
"Wah, Arka tokcer juga bisa buntingin anak orang." seloroh Widya diikuti tawa Chanti.
"Koq lo berdua malah bahagia sih?" Maureen kesal.
Chanti menyikut Widya, mereka pun memasang wajah serius kembali. Karena takut ketahuan jika kini mereka sudah tidak menganggap Maureen bagian dari mereka lagi, dan suka membicarakannya di belakang.
"Maksud kita, parah sih kalo emang anaknya Arka. Lo aja nggak di hamil-hamilin. Eh ngehamilin cewek lain yang lebih cantik." seloroh Widya.
Chanti kembali menyikut temannya itu, mulut Widya kadang memang sulit dikondisikan.
"Eh, maksud gue. Malah ngehamilin cewek lain." ujar Widya lagi.
"Emang Amanda itu siapa sih?. Maksud gue kerjaannya apa?" tanya Chanti pada Maureen.
"Gue nggak tau, tapi tadi dia diperkenalkan sebagai investor baru di PH tempat Arka dan Robert syuting."
"Oh."
Chanti dan Widya saling menatap, ada kode jahat didalam tatapan tersebut. Dalam hati mereka menertawai Maureen.
"Namanya Amanda Marcelia Louise." ujar Maureen penuh dendam.
"Coba gue googling." ujar Widya.
"Ngapain lo googling, emang dia artis." seloroh Maureen dengan senyum sinis.
"Yee, siapa tau aja ada."
"Nggak mungkin."
Maureen makin tersenyum mengejek. Namun Widya dan Chanti kini tampak syok menatap layar handphone.
Pasalnya, banyak sekali artikel yang membahas Amanda sebagai seorang perempuan sukses. Meraih berbagai penghargaan dan pernah masuk di beberapa majalah bisnis. Tentang orang yang sukses sebelum usia 30. Di laman lainnya juga dibahas mengenai biodata wanita cantik tersebut.
"Kenapa sih pada diem gitu?" tanya Maureen heran.
Masih dengan wajah syok, Chanti menyerahkan handphone Widya pada Maureen. Maureen pun terkejut melihat laman pencarian Widya, yang penuh dengan Amanda.
"Amanda Marcelia Louise, usia 31 tahun. Seorang pebisnis sukses..."
Maureen lanjut membaca namun kemudian hatinya terbakar.
"Aarrgghh."
"Jangan Reen, Hp gue Reen!"
Widya dan Chanti menahan Maureen yang hendak membanting handphone Widya.
"Masih kredit, anjay. Nih lo banting hp lo aja nih."
Widya segera menukar handphonenya dengan handphone Maureen sendiri.
Maureen pun terlihat sangat kesal. Ia meletakkan handphonenya, lalu pergi ke arah kamar mandi kos-kosan yang ada diluar.
"Hihi, mana-mana liat lagi "
Chanti dan Widya kembali membuka laman pencarian. Mereka senang dan excited melihat Amanda.
"Terang aja di hamilin sama si Arka, ceweknya cakep begini. 31 tahun kayak seumuran kita, anjir. Mana kaya lagi. Arka mah enak, tinggal buka celana doang. Dari pada sama si ono, udah miskin belagu lagi. Sok kecakepan, selingkuh sana-sini. Hihihi."
Mereka berdua cekikikan.
***
"Arka."
Amanda yang sudah terbaring ditempat tidur, berbicara pada Arka yang tengah menutup gorden kamar.
"Hmm?" jawab Arka dengan nada lembut namun renyah.
"Kamu nggak mau lanjutin yang tadi?"
"Yang mana?"
"Yang tadi, waktu sebelum kita ke kota tua."
"Yang itu."
"To the poin aja, Man."
"Aku pengen." rengek Amanda.
"Astaga Amanda, baru kemaren."
Arka duduk disisi Amanda sambil bersandar pada bantal.
"Jadi nggak mau nih?"
"Aku capek, Man. Kamu tidur gih." Arka mengelus-elus perut hamil istrinya itu.
"Ka, ke bawah lagi dong."
"Amanda."
Arka memberi pukulan kecil pada bibir istrinya itu.
"Kebiasaan ya mulutnya, bocor banget. Nggak malu kamu, didenger anak kita tuh." ujar Arka.
"Emang dia denger?"
"Ya denger lah, orang dia punya kuping."
"Masa?. Kan baru 5 bulan, belum jadi kali kupingnya. Bikinin dong, Ka."
Amanda masih usaha merayu suaminya.
"Man, aku tuh capek banget. Sumpah."
"Tadi di mobil mau."
"Itu kan sebelum kita jalan-jalan, tenaga aku masih banyak. Sekarang aku capek. Emang kamu mau, sebentar doang terus kelar?. Yang ada kamu yang pusing, kamu juga nanti yang ngomel-ngomel, uring-uringan."
"Hehehe, ya udah deh nggak jadi. Ntar dua atau tiga hari lagi aja, biar banyak."
Arka tertawa lagi.
"Ada gitu ya, istri yang ga tau malu kayak kamu. Orang kek jaim dikit depan suami."
"Ada, aku orangnya." ujar Amanda lalu membelakangi Arka. Sementara Arka hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tante, tante." ujarnya kemudian.
"Biar tante yang penting enak." ujar Amanda tak mau kalah. Arka pun tertawa lalu memejamkan mata.
***
Malam itu dirumahnya, Rani tengah membolak-balik file yang diberikan Amanda. Ia di suruh membuat laporan penjualan serta pengeluaran bulan ini. Namun tiba-tiba Rani menemukan sesuatu yang membuatnya kini terdiam. Ia menatap file tersebut lalu membuang pandangan jauh ke depan, seperti memikirkan sesuatu.
Sementara di sebuah apartment di Jakarta. Seorang laki-laki tampan yang baru saja mendapatkan kunci tempat tersebut, tampak masuk dan membereskan barang-barangnya. Tak lama kemudian sebuah panggilan pun ia terima.
"Ansel."
"Nino, ada kabar buruk."
"Kabar buruk apa?" tanya Nino bingung.
"Daddy mau menjodohkan aku dengan anak teman mereka."
"Hahaha, itu bukan berita buruk. Berita suka cita namanya. Cantik nggak?" tanya Nino.
"Nggak tau, daddy nggak kasih liat fotonya. Tapi kata daddy, itu cewek orang Asia. Kamu kan tau aku sukanya bule. Bule lebih asik, open minded. Nggak mesti menikah dulu kalau mau senang-senang."
"Ya, dicoba aja dulu. Siapa tau kesengsem." ujar Nino lagi.
"Hahaha, aku ingat bahasa itu. Waktu aku pernah tinggal di jawa. Kesengsem, garang asem."
"Itu makanan, Sel."
"Iya, aku rindu makanan itu. Oh ya, kamu sudah ketemu dengan perempuan dari masa lalu kamu itu?"
Nino tersenyum.
"Baru juga nyampe, belum sempet nyari."
"Oh ya, disana malam ya?" tanya Ansel.
"Iya, udah lumayan larut."
"Nanti, paling bentar lagi aku kesana. Kangen sate ayam, nasi goreng."
"Iya, nanti kalau aku sudah ketemu dengan apa aku cari. Aku akan kenalkan ke kamu dan daddy."
"Nanti kami datang kalau lamaran."
"Doakan ya, bro."
"Pasti."