
Sore itu tanpa sepengetahuan Amanda. Arka berencana menjemput istrinya itu di kampus, tempat dimana ia mengajar. Arka juga membelikan Amanda beberapa baju, skincare, dan satu buket bunga mawar merah.
Sejak menyatakan cintanya pada Amanda, ia bertekad untuk terus membahagiakan perempuan itu. Apapun caranya, betapa pun beratnya. Ia ingin menjadi suami serta ayah yang baik bagi Amanda dan bayi yang kini tengah dikandungnya.
Arka menghubungi pak Darwis dan mengatakan tak usah menjemput Amanda. Namun ia bertanya pada supir tersebut, kapan Amanda pulang. Sang supir pun memberitahu Arka. Jadilah saat ini, Arka tengah berjalan menuju kesana.
Disepanjang perjalanan, Arka tak henti-hentinya tersenyum. Ia membayangkan wajah kaget Amanda, ketika menerima surprise hadiah darinya. Dan Amanda pun pasti senang, karena ia adalah perempuan yang tahu cara menghargai suaminya.
Mobil terus melaju, hingga sampai ke halaman parkir depan kampus. Amanda sebenarnya sudah berada tak begitu jauh dari tempat itu. Ia kini tengah berbicara pada mahasiswa dan mahasiswinya di halaman, tepat dibawah sebatang pohon rindang.
Namun Arka tak melihat dimana Amanda. Ia baru akan menelpon Amanda, ketika Nino menyadari kehadirannya dari suatu sudut. Segera saja.Nino menghampiri Amanda dan ikut dalam obrolan para mahasiswa dan mahasiswi tersebut. Ia sengaja agar Arka cemburu ketika menemukan Amanda.
Saat itu Amanda kaget dengan kehadiran Nino, diantara dirinya dan para mahasiswa. Namun ia tak mungkin bersikap kasar serta mengusir Nino dari hadapannya. Karena itu hanya akan mengundang kecurigaan bagi para mahasiswa.
Arka mencoba menghubungi nomor Amanda. Namun kini matanya menatap ke suatu arah, ketempat dimana Amanda tengah berdiri.
"Degh."
Jantung Arka berdegup kencang. Pasalnya disisi Amanda kini berdiri sesosok laki-laki yang tiada lain adalah Nino. Rasa kecewa pun langsung menjalar di setiap aliran darahnya.
Baru saja Amanda berjanji, pada saat terakhir mereka bercinta dikamar. Janji untuk tidak berselingkuh dari Arka. Namun kini ia seolah lupa dan tak bisa memegang janjinya sendiri.
Arka begitu marah dan kecewa, ia merasa tak perlu berada disini. Ia lalu berbalik arah, namun seketika ia teringat pada senyuman wanita itu. Ia ingat bagaimana cara Amanda bicara, cemburu, memperlakukan Arka baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ranjang.
Perlahan Arka pun berbalik, dengan pasti ia melangkah ke arah Amanda. Ia tidak ingin mengalah begitu saja pada Nino. Tidak untuk waktu itu, ataupun sekarang.
Sementara ditempatnya berdiri, Amanda terus menjawab pertanyaan dari para mahasiswa dan mahasiswi. Ia terkejut ketika Arka datang lalu membalikkan tubuhnya. Amanda terdiam, namun Arka tersenyum padanya. Membuat hati Nino seketika terbakar.
"Arka." ujar Amanda tak percaya.
"Udah jam pulang kan?"
Arka bertanya pada Amanda. Masih dengan wajah kaget, wanita itu pun mengangguk.
"Kita pulang, ya." ujar Arka kemudian.
Amanda kembali mengangguk, namun masih dengan wajahnya yang terlolong bengong.
"Saya pulang dulu." ujar Amanda pada yang lainnya.
Arka pun menundukkan sedikit kepalanya tanda pamit, namun dengan tatapan yang seolah menang terhadap Nino.
"Kenapa bisa ada Nino?"
Arka bertanya ketika mobil telah berjalan, meninggalkan pelataran kampus.
"Dia sekarang jadi dosen disana." jawab Amanda.
"Hah?. Gimana bisa?"
Arka makin terlihat geram.
"Ya mana aku tau, mungkin dia ngelamar sendiri atau apa."
"Kenapa kamu nggak ngasih tau aku?"
"Ya, aku...."
"Kamu sengaja kan, biar aku nggak tau. Supaya kamu bisa terus ketemu sama dia."
"Arka, aku aja baru tau tadi dan aku pikir itu nggak perlu di bicarakan."
"Nggak perlu kamu bilang?"
Arka menoleh dan menatap kesal pada Amanda, sebelum akhirnya ia kembali fokus ke jalan.
"Amanda dia itu cinta sama kamu dan kamu cinta sama dia. Aku adalah orang ketiga yang nggak mau kamu deket-deket lagi sama dia. Aku marah, aku cemburu, aku nggak suka."
"Siapa yang deket sama dia sih?. Tadi itu karena mahasiswa sedang ada bahasan yang mesti dibahas aja."
"Kenapa ada dia?"
"Oh, maka dari itu menurut kamu aku nggak perlu tau. Supaya kamu bebas ketemu dia, ngobrol sama dia dan lain-lain."
"Bisa nggak kamu percaya sama aku?"
Kali ini Amanda berteriak di wajah suaminya, membuat Arka seketika terdiam.
"Kalau hal kecil gini aja kamu nggak bisa percaya sama aku, gimana hal besar?. Aku tau kamu cemburu, aku tau kamu nggak suka sama dia. Tapi bisa nggak kamu jangan nyalahin aku. Aku nggak tau apa-apa, bukan salah aku dia bisa masuk ke situ. Kenapa aku yang ditekan sama kamu?"
"Itu karena kamu nggak jujur."
"Aku baru tau tadi, ngerti nggak kamu?"
"Aaaakh."
"Kamu kenapa?"
Arka panik lalu menghentikan mobilnya. Tampak Amanda kini meringis kesakitan, sambil memegangi perutnya.
"Amanda?"
"Aaaakhh."
"Maafin aku."
Arka memeluk dan mencium Amanda. Sementara wanita itu berusaha menahan rasa sakit yang menderanya.
"Masih sakit?" tanya Arka lagi. Kepanikannya belum hilang hingga detik ini.
Amanda mencoba menarik nafas, lalu menghembuskannya kembali. Arka membantu mengusap perut istrinya itu, hingga kemudian sakit yang ia rasakan berangsur berkurang.
"Maafin aku, ya." ujar Arka kemudian. Amanda pun mengangguk.
Amanda lalu kembali bersandar pada jok mobil. Arka menarik sedikit jok tersebut ke belakang, agar istrinya bisa sedikit merebahkan diri dan relaks.
Mobil kembali berjalan, Arka menyudahi perdebatan. Ia menyetir sambil terus mengelus perut istrinya, agar tak lagi terasa tegang ataupun sakit. Perlahan Amanda pun tertidur.
Ketika tiba di penthouse, Arka mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke atas. Amanda tampaknya lelah sekali hari ini, hingga ia sama sekali tak bergeming. Arka merebahkan tubuh istrinya itu ke atas tempat tidur, lalu melepas blazer yang masih melekat di tubuhnya.
Beberapa saat berlalu, Amanda pun terbangun. Namun tak ada Arka disisinya. Amanda menoleh ke sisi meja, ia terkejut melihat satu buket bunga mawar merah dan juga dua buah paper bag. Ia juga menemukan secarik kertas disana.
"Man, maafin aku sekali lagi ya soal tadi. Aku jahat dan egois banget sama kamu. Oh ya, tadi aku beliin kamu benda-benda ini, semoga kamu suka. Aku dipanggil mbak Arni buat screen test dan aku pulang agak larut malam. Kamu makan aja duluan, tadi udah aku masakin. Love you."
Amanda tersenyum tipis, ia meraih bunga yang ada di samping tempat tidur dan mengaguminya barang sesaat. Ia kemudian mengambil paper bag dan mengeluarkan semua isinya.
Ia lalu mencoba baju-baju yang dibelikan oleh Arka dan mematut diri didepan kaca. Lagi-lagi ia tersenyum meski tipis.
"Kruuuuk."
Ia merasakan perutnya berbunyi, si bayi yang didalam sudah meminta makan lagi. Amanda pun lalu pergi menuju ruang makan. Ada banyak makanan yang sudah dimasak oleh Arka disana.
Aromanya begitu menggoda, Amanda tak dapat menolak semua itu begitu saja. Akhirnya ia pun duduk dan mulai makan. Awalnya hanya sedikit demi sedikit, lalu berubah menjadi buas karena rasanya sangat enak.
Malam itu Arka memang berniat menemui mbak Arni. Karena memang ia di jadwalkan untuk screen test. Namun tiba-tiba ditengah jalan, ia membelokkan mobilnya ketempat dimana kampus Amanda berada.
Seperti sebuah takdir. Ia yang berniat mencari Nino, justru bertemu Nino dihalaman parkir. Nino saat itu baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya.
Dengan mengabaikan usianya yang masih 21 tahun, Arka muncul hadapan Nino dengan tatapan yang tak terlepas sedikitpun.
"Saya tau anda mencintai istri saya, dan saya juga tau kalau istri saya mencintai anda."
Nino terdiam mendengar suara itu, ia lalu menoleh dan mendapati Arka.
"Tapi saya tidak akan membiarkan anda merusak rumah tangga saya. Amanda is mine, my wife. Dan itu tidak akan pernah berubah."
Arka dan Nino terpaku dalam tatapan yang sama-sama tak terlepas. Seakan mereka berdua adalah saingan, yang kini tengah menabuh genderang perang. Arka kemudian berlalu, meninggalkan Nino dalam kebekuan yang mendalam.
Arka menuju ke kantor manajemennya dengan perasaan sedikit lega. Bahwa kini ia telah mengambil langkah pertama, untuk berusaha menyelamatkan rumah tangganya dari orang ketiga.
Sampai kapanpun, dirinya tak akan pernah rela jika rumah tangganya dihancurkan oleh orang lain. Ia mencintai Amanda dan akan mempertahankannya, apapun yang terjadi.