
"Dor."
"Dor."
"Dor."
Tiga suara tembakan terdengar. Menyusul tembakan-tembakan berikutnya, yang tepat mengenai suatu titik di depan sana. Nino tengah mengeluarkan seluruh beban pikirannya, bersama dengan amunisi yang melesat tepat sasaran.
"Dor."
"Dor."
"Dor."
"Pak Zio."
Nino terkejut dan refleks mengarahkan senjatanya ke kepala Nadine yang baru tiba.
"P, pak. Ini saya pak, Nadine." ujarnya dengan nada terbata-bata.
Ia sudah sangat takut sekali melihat ekspresi wajah Nino yang seakan tak mengenalinya. Nino terdiam, lalu menurunkan kembali senjatanya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Nino lalu membelakangi Nadine.
Laki-laki itu tengah membuka senjata api dan mengeluarkan amunisi yang masih tersisa didalamnya.
"Kenapa sih, pak?. Saya cuma mau memastikan keadaan bapak."
Nino tak menjawab, ia terus berkutat dengan senjatanya. Lalu kini ia beralih ke laci untuk menyimpan senjata tersebut. Ia tengah berada di basemen sebuah rumah yang ia sewa beberapa hari lalu.
Rumah itu memiliki halaman luas, sehingga ia bisa melakukan apa saja didalamnya. Termasuk kegiatan menembak.
"Sebaiknya kamu pulang dan jangan coba masuk, walaupun saya lupa mengunci pagar atau pintu."
Nino berlalu.
"Pak, bapak tuh kenapa sama saya?. Saya udah bela-belain nemenin bapak, ngerawat bapak selama sakit. Kenapa bapak kasih balasan ini ke saya."
"Saya nggak minta kamu melakukan itu. Kalau kamu merasa rugi, kamu bisa hitung kerugian kamu, nanti saya transfer. Sekarang tinggalkan saya sendiri!"
Air mata Nadine mengalir deras, demi mendengar pernyataan tersebut.
"Seperti itu kah cara bapak menghargai orang lain?"
Kali ini Nadine berteriak, membuat Nino akhirnya menoleh dan menatap gadis itu.
"Bapak boleh punya banyak uang, pak. Tapi nggak semuanya bisa dibayar pake uang."
"Lantas kamu mau bayaran seperti apa?. Bercinta?"
Nadine menatap tajam ke wajah Nino. Ia lalu mendekat dan,
"Plaaaak."
Sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu, ini kali kedua ia ditampar perempuan setelah Amanda. Ia hanya tertawa menyeringai dan berlalu.
"Pak, saya cinta sama bapak."
Waktu seakan melambat, Nino menghentikan langkah dan terpaku dalam diam. Begitupula dengan Nadine, air mata gadis itu masih mengalir hingga detik ini.
"Saya cinta pak, saya cinta sama bapak."
Nadine makin terisak. Dengan hati yang dingin Nino kemudian berlalu meninggalkan gadis itu, dalam perasaannya yang tak terbalas.
***
Ia tak sedang begitu sibuk hari ini, hanya terpaku menatap sebuah foto yang ada di meja kerjanya. Tak lama kemudian seorang wanita masuk keruangan tersebut.
"Bagaimana, sudah berfikir soal saran yang aku berikan semalam?" tanya wanita itu.
Sang pria hanya menghela nafas, ia mengalihkan tatapan dari foto tersebut. Lalu melemparnya ke suatu sudut yang menghadirkan kehampaan.
"Anak perempuanmu itu, menghubungi ayahnya saja tidak. Merasa sudah hebat dengan mendirikan perusahaan sendiri, memiliki bisnis disana sini. Sudah seharusnya dia berbakti dan membantu kita dalam hal ini."
Pria itu masih bungkam.
"Amman."
Wanita itu sedikit menggebrak meja kerja sang pria, dengan kedua tangganya. Hingga menimbulkan suara dan membuat Amman pun akhirnya menoleh.
"Kita punya ratusan pekerja yang tersebar di berbagai cabang. Selama ini kita tidak pernah meminta bantuan apapun pada anakmu itu. Dia punya kewajiban untuk berbakti, sekarang saatnya dia melakukan itu terhadap kita."
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir pria bernama Amman itu. Hanya suara tarikan nafas yang terdengar berat dan panjang.
si wanita akhirnya kian bertambah kesal, lalu meninggalkannya sendirian.
***
Di sebuah akademi bisnis dan manajemen.
"Rianti."
Maureen mencegat Rianti yang sedang berjalan ke arah gerbang. Gadis itu baru saja menyelesaikan kuliahnya hari ini.
"Ada apa?" jawab Rianti ketus.
"Dih, santai dong." ujar Maureen.
"Gue kesini cuma mau bilang, kalau ibunya abang lo sebentar lagi bakalan punya cucu." Lanjutnya kemudian.
"So?. Mbak Maureen berharap gue kaget dan bilang waw, gitu?" tanya Rianti seraya menatap Maureen. Sementara yang ditatap kini terlihat bingung.
"Gue sedang membicarakan abang lo yang ngebuntingin tante-tante." Jelas Maureen lagi.
"Mereka menikah mbak, bukan kumpul kebo. Saya rasa mbak Maureen tau itu, mbak Maureen kan kupingnya panjang kalau soal mas Arka."
Maureen terkejut mendengar pernyataan tersebut, ia tak menyangka jika Rianti sudah mengetahui semuanya.
"Kami sekeluarga sudah tau, mbak. Mbak Amanda juga sudah pernah nginep di rumah. Ibu dan papa suka sama mbak Amanda. Dia orangnya cantik dan sopan-santunnya tinggi, nggak kayak mbak Maureen minim akhlak."
Rianti lalu meninggalkan Maureen, yang bahkan belum sempat membuka suaranya kembali.
"Aarrgghh." Maureen geram saat Rianti telah berlalu.
"Kenapa sih banyak banget yang ngebelain si tante tua itu, heran deh." gerutunya kemudian.
Nafas Maureen naik turun sambil mengingat wajah Amanda.
"Sekarang lo boleh ngerasa menang karena lebih good looking dari gue. Ntar tunggu aja, lima atau sepuluh tahun lagi. Pengen banget gue ngeliat muka si tante lampir itu jadi peyot." lanjutnya perempuan itu lagi
Maureen kemudian menendang sebuah sampah plastik berwarna hitam, yang entah dibuang oleh siapa.
"Aaaw."
Ternyata dibalik plastik tersebut terdapat sebuah batu, Maureen pun merasakan sakit di ujung jari kakinya.
"Aarrgghh, brengsek." ujarnya kemudian.
Ia pun berlalu meninggalkan tempat itu, dengan kekesalan yang mendalam.