Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Persiapan Baby Shower


Amanda dan Arka menyudahi liburan mereka. Sebuah liburan yang mungkin akan menjadi liburan paling memorable dalam hidup keduanya.


Arka kembali ke lokasi syuting, sedang Amanda kini menuju ke kantor. Sementara di kantor sendiri, Intan, Satya, dan Deni tampak heboh dengan foto-foto mereka semasa ikut liburan dengan Amanda dan juga Arka.


"Eh seriusan, bu Amanda dilamar?" tanya Nur, si karyawan dari divisi IT.


Sementara karyawan lain memperhatikan, menanti jawaban dari Intan. Sang ratu gosip andalan terpercaya.


"Seriusan, nih foto-fotonya." ujar Intan menunjukkan.


"Jadi, bu Amanda bakalan nikah dua kali dong?" tanya Sari.


"Iya, dulu itu yang minta nikah kan bu Amanda. Katanya dia pengen punya anak, tapi nggak pengen nikah resmi. Akhirnya nyewa Arka sementara. Eh, nggak taunya jatuh cinta beneran."


"Ih, gemes." ujar para karyawan yang perempuan.


Sementara karyawan laki-laki hanya senyam-senyum mendengarkan, mereka turut berbahagia untuk Amanda.


Tak lama kemudian Rani melintas. Ia mendengar percakapan yang terjadi diantara Intan dan yang lainnya. Namun ia tak memberikan reaksi, malah melengos begitu saja.


"Dih, kenapa sih dia?" tanya Sari dengan lirikan mata yang julid. Intan kini menyilangkan tangan di dada.


"Tau tuh, kenapa." tukas Intan dengan nada sinis.


"Kayaknya nggak suka banget, ya?" Nur menimpali.


"Nggak tau, gara-gara nggak diajak liburan kali sama bu Amanda." ujar Intan lagi.


"Lo ngomongin orang mulu." Satya mengingatkan.


"Lo ngebelain mulu." balas Intan.


"Mentang-mentang good looking." lanjutnya kemudian.


"Ya bukan gitu."


"Keadilan sosial bagi seluruh good looking negri ini." Intan nyerocos, sebelum Satya melanjutkan kata-kata untuk membela diri.


Tak lama kemudian Amanda pun tiba. Para karyawan langsung kembali ke tempatnya masing-masing.


***


Beberapa saat berlalu.


"Hah, serius Man?" tanya Nindya di telpon. Ia berujar dengan nada penuh antusias.


"Serius gue. Arka ngelamar gue, dia pengen gue jadi istrinya dia yang sah secara hukum."


"Tuh kan, jatuh cinta beneran kan. Ih gemes deh gue. Pokoknya i'm happy for you ya, Man."


"Thanks ya, Nind?"


"Sama-sama, doa terbaik deh buat lo berdua. Eh foto-fotonya dong kirimin ke WA." pinta Nindya.


"Ya udah nih, gue kirimin."


Amanda pun mengirimkan foto-foto ia dan Arka semasa liburan singkat kemarin, termasuk foto saat lamaran.


"Ih, gemes deh kalian." ujar Nindya lagi.


"Gemes kan lo?. Gue aja gemes sendiri." ujar Amanda sambil tertawa.


"Dia ngelamar lo gimana.?" tanya Nindya.


"Ya gitu deh, hehehe." jawab Amanda.


"Ih, pengen tau detailnya. Ayo dong, Man. Biar gue nostalgia gitu, kayak saat gue dilamar laki gue."


Amanda pun lalu menceritakan kronologi lengkapnya pada Nindya.


"Ih, serius dia kirim surat begitu?"


"Serius."


"Mau mewek nggak lo rasanya?. Waktu belum baca lanjutan surat itu?"


"Hmm, bukan lagi. Lemes badan gue langsung, Nind. Rasa kaki tuh udah nggak berpijak disitu. Pikir gue kenapa sih disaat udah seperti ini, lo malah pergi gitu aja. Eh taunya ada lanjutannya dibawah."


"Untung lo orangnya membudayakan membaca sampai selesai ya, Man."


"Ember, kalau gue modelan netijen nih. Yang baru baca dikit langsung bacot. Gue yakin tuh, gue pada saat itu pasti kacau. Entahlah gue ngamuk, atau nyakitin diri sendiri atau apa. Nggak bisa gue ngebayangin hal itu lebih jauh. Gila aja, gue lagi cinta-cintanya sama dia. Eh ditinggalin, mana gue bunting."


Kali ini Nindya tertawa.


"Lagian si Arka, ada-ada aja idenya." ujar Nindya kemudian.


"Bocil FF jaman now, emang pada kreatif ya bund." jawab Amanda sambil tertawa pula.


"Eh, Man. Koq gue nggak ngeliat foto Rani?"


"Gue sengaja nggak ngajak Rani, karena dia masih banyak kerjaan juga di kantor. Lagian nanti anaknya siapa yang jaga, baby sitternya berhenti, emaknya sakit-sakitan." ujar Amanda kemudian.


"Iya sih, emaknya Rani kan rematik apa diabetes tuh. Kasihan kalo disuruh jagain cucu full seharian. Apalagi itu lo tiga hari kan?"


"Iya makanya. Ntar deh, gue bakal siapin liburan buat Rani dan yang lain juga. Yang nggak sempet gue ajak kemaren. Ntar sekalian Rani sama emaknya, anak-anaknya, gue biayain liburan. Biar seneng-seneng dulu." ujar Amanda.


"Iya, pasti Rani seneng." ujar Nindya.


"Eh, Man. Anak lo udah ketahuan cowok apa cewek?. tanya Nindya lagi.


"Hasil USG nya udah ada sih, tapi nggak gue buka. Gue serahin ke event organizer acara baby shower gue nanti, biar surprise."


"Oh iya, udah mau 7 bulan ya lo."


"Iya cepet banget ya, Nind. Agak takut sih gue sebenernya."


"Udah tenang aja, melahirkan itu nggak seserem yang orang bilang koq. Asal lo ikutin aja semua instruksi dokter kandungan, dan team yang bantuin lo lahiran."


"Gue sih pengennya normal, Nind. Bisa nggak ya, kembar lahir normal."


"Iya sih. Doain aja ya, Nind."


"Iya pasti, Man. Gue sekeluarga disini selalu doain lo."


"Anak-anak sama suami lo apa kabar?. Salam ya sama mereka." ujar Amanda.


"Iya, mereka baik. Ntar gue sampaikan. Anak gue yang kecil nanyain lo mulu."


"Oh ya?"


"Iya, katanya kangen sama lo."


"Gue juga kangen sih sama kalian semua, ntar lah kapan-kapan gue main kesana. Kalau nih bocah udah berojol."


"Iya, gampang. Ntar gue siapin tempat disini."


"Beneran ya."


"Siap, apa sih yang nggak buat lo." ujar Nindya. Mereka pun lalu tertawa-tawa.


***


Orang-orang dari event organizer mulai berdatangan ke rumah Amanda untuk mengecek lokasi dan mendesain dekorasi sesuai tema yang di inginkan Amanda.


Amanda tidak menyelenggarakan acara tujuh bulanan di penthouse, melainkan dirumah yang satunya. Alasannya tentu saja karena halaman rumah disana sangat luas. Apalagi halaman belakang yang memiliki taman serta kolam renang.


Lebih aesthethic jika acara tersebut diadakan disana. Dan lagi bisa menampung cukup banyak undangan.


Orang-orang dari event organizer tersebut dibantu oleh maid Anita dan juga para asisten rumah tangga yang lain. Mereka kini sudah punya gambaran, seperti apa dekorasi yang akan dipasang ditempat tersebut nantinya.


***


Sore hari.


"Man, kamu dimana?" tanya Arka didalam telpon.


"Udah mau jalan pulang, Ka. Kenapa?"


"Tadi aku ada beliin kamu dress buat acara baby shower lusa nanti."


"Oh, ya?"


"Iya, udah sampe kayaknya di security."


"Oh ya udah, nanti aku ambil ya."


"Pake ya, Man. Aku mau liat." ujar Arka lagi.


"Kamu dimana emangnya?"


"Udah dijalan pulang ini."


"Ya udah, nanti aku cobain." ujar Amanda.


Amanda tiba duluan di penthouse, ia mengambil dress tersebut di post security. Sesampainya di atas, ia pun mencuci muka, kaki, tangan, membersihkan makeup dan kemudian mencoba dress tersebut.


Dress berwarna salem itu sangat cocok ditubuh Amanda, ia kelihatan cantik dan juga sexy. Arka memang memiliki selera bagus dalam hal fashion, baik itu untuk dirinya sendiri maupun istrinya.


Tentu saja, sebab ia berkecimpung di dunia entertaint yang selalu menuntut penampilannya mendekati sempurna. Ia juga banyak melihat pakaian-pakaian yang sering dikenakan para aktris yang menjadi lawan mainnya di setiap perhelatan.


"Tuh kan, cantik."


Tiba-tiba Arka muncul dan langsung meletakkan barang-barangnya.


"Koq kamu pake suit, Ka?" tanya Amanda yang menanyakan perihal suaminya yang tiba-tiba memakai jas, sekembalinya dari lokasi syuting. Padahal hari-hari biasa, Arka selalu mengenakan kaos dan juga celana jeans.


"Iya tadi ada take adegan terakhir, pake beginian. Pas pulang males mau ganti lagi, jadi ya udalah."


"Apa kabar sayang?" Arka memeluk Amanda dari belakang. Mengelus bayi-bayinya dan mencium pipi Amanda, tepat di depan sebuah cermin.


"Kangen ya, sama kami?" tanya Amanda kemudian.


"Iya, nggak tau nih kenapa. Sejak kandungan kamu makin gede, aku jadi sering kangen sama kamu, sama mereka. Kangen peluk, kangen pegang mereka juga."


"Aku juga jadinya kayak pengen glendotan terus sama kamu. Kalau diturutin nih, nggak kerja-kerja aku."


"Iya aku yang ngerjain kamu." ujar Arka.


"Iya kamu enak, akunya kembung."


"Halah, padahal enak kan?" goda Arka lagi. Amanda tersenyum.


"Mulai mesum nih ceritanya?" Amanda balik menggoda.


"Nggak semesum tante Amanda."


Amanda pun tertawa, Arka mencium-cium pipi wanita itu dengan gemas.


"Eh, foto yuk." ajak Amanda kemudian.


Arka mengangguk lalu mengeluarkan handphonenya. Mereka lalu mengambil foto selfie. Tak lama Amanda mengambil sebuah ring light. Ia meletakkan handphone Arka disana, lalu mereka pun mulai berpose.


"Cekrek."


Keduanya melihat hasil foto tersebut.


"Ih bagus, Ka. Kayak maternity shoot pake fotografer."


"Ya udah coba ditempat lain yuk!" ajak Arka.


Amanda pun mengiyakan, mereka kini beralih ke meja makan. Ia mendudukkan Amanda disana, lalu membuat posisi seakan sedang hendak mencium leher Amanda. Tangan Kanannya memeluk Amanda, sementara tangan kirinya memegang perut wanita itu.


Sementara Amanda sendiri, menegakkan tubuh dengan posisi wajah setengah mendongak ke atas. Lalu,


"Cekrek."


Foto dengan pose **** itupun berhasil diambil, lalu mereka beralih keruang lain. Memanfaatkan berbagai barang dan properti disekitar, hingga foto-foto mereka pun terlihat cukup profesional.