
"Amanda."
"Hmm?"
"Dulu kamu, waktu sidang skripsi gimana?"
Arka yang tengah memakan makan malamnya itu, bertanya pada Amanda yang juga tengah makan dihadapannya.
"Ya nggak gimana-gimana, biasa aja."
Amanda mereguk air putih didalam gelas, lalu kembali memegang sendok serta garpu. Matanya kini tertuju pada Arka.
"Kenapa emangnya?" tanya Amanda kemudian.
Arka menggelengkan kepala.
"Aku..."
Pemuda itu menghela nafas.
"Takut ya, kamu?" tanya Amanda.
Arka tersenyum.
"Nggak koq, cuma gugup aja." ujar Arka.
Amanda balas tersenyum.
"Udah santai aja, nggak seserem itu koq. Kamu gede tinggi, sixpack kayak gini. Masa takut sama sidang skripsi."
Arka kini tertawa.
"Kan aku manusia, boleh dong aku sedikit gugup. Masa nggak boleh?"
"Ya nggak apa-apa, tapi nggak usah terlalu dipikirin juga. Mending kamu baca tuh, bagian-bagian bab yang aku kerjakan. Biar kamu ngerti, dan nggak keliatan banget skripsi kamu pake joki."
"Hahaha." Arka kembali tertawa, lalu mereka pun lanjut makan. Tak ada hal yang begitu serius, sampai kemudian.
"Hmmph." Tiba-tiba Amanda seperti ingin muntah
"Man?"
"Hmmph." Mata wanita itu memerah, karena menahan sesuatu di tenggorokannya.
"Kamu kenapa?" tanya Arka.
Amanda lalu berlari ke arah kamar mandi dan,
"Hueek."
"Hueek."
Wanita itu muntah, Arka menghentikan makan dan menyusul istrinya itu. Tampak Amanda masih berjongkok di kloset.
"Hueek."
"Hueek."
"Amanda, kamu hamil lagi?" tanya Arka seraya memperhatikan istrinya itu. Amanda mengatur nafas, lalu coba tersenyum.
"Nggak lah, amit-amit jangan dulu." ujarnya kemudian.
Arka yang tadinya cemas dengan kondisi wanita itu, kini agak sedikit mereda. Pasalnya ia melihat Amanda yang tersenyum dan santai saja menghadapi situasi tersebut, jadi ia pun ikut tertawa. Namun belum sempat tawa itu bertahan lama, tiba-tiba.
"Hueek."
"Hueek."
Amanda kembali muntah, kecemasan Arka pun balik ke posisi semula. Ia kini mengusap-usap punggung istrinya itu, hingga Amanda muntah cukup banyak.
"Ka, pusing Ka. Gelap." ujar Amanda ketika memencet flush di kloset tersebut. Arka pun Lalu membantu wanita itu berdiri dan memapahnya ke kamar.
***
Di suatu tempat.
"Sick."
Ryan memposting foto di laman insta story miliknya. Sebuah foto dirinya sendiri dengan caption yang menyatakan jika saat ini, ia sedang sakit. Tak hanya satu foto itu saja, bahkan ada beberapa foto lain yang juga ia unggah. Termasuk foto resep dokter beserta obat yang telah di tebus.
Setelah mengunggah hal tersebut, Ryan meletakkan handphone disisi tempat tidur. Ia berharap anak-anaknya akan segera memberikan reaksi. Kebetulan jauh sebelum ini, ia telah berteman dengan ketiga anaknya tersebut di media sosial.
Ryan tak sabar melihat ketiga anaknya panik, lalu berlomba-lomba memberinya perhatian. Ia bahkan sudah membayangkan hal tersebut didepan mata. Dimana Nino, Ansel dan juga Arka akan cemas pada keadaannya. Lalu mereka akan melakukan apa saja demi kesembuhan ayahnya itu.
Satu, dua, tiga.
Tiga jam berlalu begitu saja, dalam kurun waktu tersebut Ryan bolak-balik melihat handphonenya. Berharap ada satu saja anaknya yang mengirim pesan atau menelpon, sekedar menanyakan keadaanya. Namun sampai pagi menjelang, tak ada satupun yang mengkhawatirkan pria itu.
Bagaimana hendak memperhatikan, Arka saja sejak semalam mengurus istrinya yang mendadak tak enak badan. Nino sendiri menghabiskan waktunya dengan Nadine sekeluarga yang mengadakan pesta barbeque. Sementara Ansel molor, akibat kebanyakan makan.
Tak ada satupun dari ketiga anaknya yang membuka sosial media. Jadilah usaha Ryan untuk menarik perhatian mereka sia-sia. Meski perkara pesakitannya bukanlah bualan semata. Ia memang sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik, dan ia memanfaatkan situasi tersebut. Namun agaknya ia salah strategi.
"Semalam,tidur terganggu, karena penyakit sialan ini."
Ryan kembali mengunggah insta story pada keesokan harinya, setelah semalam gagal total menarik perhatian ketiga puteranya.
"Minum obat lagi."
Ryan mengunggah foto lain dengan caption yang berbeda, kali ini insta story nya ramai pengunjung. Ryan banjir ucapan doa dari rekannya sesama bos di Direct Message instagram. Pun ia mendapatkan banyak notifikasi WhatsApp, yang berharap ia segera sembuh. Namun tetap saja, diantara banyaknya ucapan yang masuk. Lagi-lagi tak ada yang berasal dari Ansel, Arka maupun Nino.
***
"Lain kali makannya diperhatiin ya, Firman sayang."
Arka membelai kepala istrinya yang bersandar di jok mobil, baru saja mereka kembali dari dokter. Amanda dinyatakan memiliki gangguan asam lambung.
"Iya nggak apa-apa, yang pasti jangan kesetanan lagi kalau makan rujak pedes, asem dan lain-lain. Kamu makan rujak mangga muda udah kayak makan kacang mete tempo hari. Nggak ada ekspresi asem sedikitpun."
Amanda tertawa, ia teringat beberapa hari lalu membeli rujak dengan mangga muda dan cabai yang banyak. Padahal saat itu Arka sudah mengingatkan, namun ia cuek saja. Karena ia sangat menyukai rujak tersebut.
"Iya deh. Maafin mama Firman ya, papa kangkung."
Arka tertawa lalu kembali membelai kepala istrinya tersebut.
"Aku pikir kamu hamil lagi loh." ujarnya kemudian.
"Panik kan, kamu?" ujar Amanda seraya tertawa.
"Ya panik liat kamu nya tiba-tiba muntah. Kalau hamilnya mah, aku ngarep."
"Ih kamu mah, nggak bisa santai dikit orang. Hamil tuh berat tau nggak, berapa kilo itu di dalem. Belum bayi, belum air ketuban. Iya kalau bayinya satu, kalau dua lagi?"
"Ya kita capek pastinya, ngurusin tadinya dua jadi empat." ujar Arka.
"Bisa stress berat aku, Ka. Biar kata ada pembantu juga, tetep emaknya yang bakal repot dan kurang tidur."
"Tapi gemes liat kamu hamil, perutnya gede gitu. Dadanya gede, ini juga."
Arka meremas bagian belakang istrinya.
"Ih, kamu mah mesum banget. Istri lagi sakit juga."
Amanda memukul Arka.
"Nggak koq sayang, bercanda. Biar kamu nggak merasa sakit-sakit banget dan cepet sembuh."
Lagi-lagi Amanda tersenyum.
Arka kembali membelai istrinya, lalu tangan pemuda itu beralih memegang stir kemudi. Mobil mereka melintas di sebuah jalan, dan tiba-tiba saja mereka menemukan Ryan yang bersiap masuk ke mobil.
"Hai, dad." ujar Arka melambaikan tangan. Ryan yang belum sempat bicara itupun hanya terlolong bengong. Padahal ia tengah berada di muka sebuah apotek.
"Apa Arka sebegitu tidak pekanya terhadap sesuatu?"
Setidaknya itu yang ada di benak Ryan kini.
"Kamu koq nggak stop?" tanya Amanda pada Arka, ketika mobil mereka telah menjauh.
"Ntar kan aku mau pergi sama daddy, Nino, sama Ansel."
"Oh, ke acara amal perusahan daddy?"
"Iya, mau ikut?"
"Nggak ah, aku nya masih mual-mual gini. Ntar kalau pingsan di sana kan, bikin repot. Kamu aja, yang penting jangan tebar pesona sana-sini."
"Iya sayang, nggak koq. Kapan sih aku pernah begitu?"
"Ya kali aja. Di acara kayak gitu kan, biasanya banyak CEO-CEO atau karyawan perempuan yang ikut hadir. Apalagi sekretaris-sekretaris tuh, ngintilin bos nya kemana-mana. Udalah rok nya pendek banget, kecentilan. Awas ya kalau kamu kegatelan."
Arka tertawa.
"Takut kan kamu?" tanya nya kemudian.
"Ya iyalah takut, namanya juga istri. Awas aja pokoknya."
"Iya sayang, nggak. Udah, jangan negatif thinking. Kamu kalau lagi sakit, suka ngaco deh pikirannya."
Amanda tersenyum menatap suaminya itu, nada bicara Arka selalu bisa melelehkan hatinya.
"Abisnya sayang, gimana dong?" ujar Amanda kemudian.
"Ya nggak gimana-gimana, punya anak lagi yuk...!"
"Ih kamu mah."
Amanda mencubit Arka.
"Sakit." ujar Arka seraya menghindar sambil tertawa-tawa.
***
Sementara itu.
Ryan masih dongkol dengan sikap Arka tadi, namun apalah daya. Ansel dan Nino yang sudah bertahun-tahun bersamanya saja, masih sulit memberinya perhatian.
Apalagi Arka yang baru beberapa waktu belakangan ini mengenal dirinya sebagai ayah. Masih untung anak itu tak dendam ataupun membenci Ryan berlebihan. Seperti anak-anak lain pada umumnya apabila ditelantarkan oleh orang tua kandungnya sendiri.
"Pak, kayaknya kita diikutin orang deh."
Supir Ryan berujar pada pria itu seraya melirik kaca spion. Ryan menoleh ke belakang, menatap pada sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Naikkan kecepatan." perintah Ryan.
Supirnya menambah kecepatan, dan ternyata mobil itu pun melakukan hal yang sama.
"Mereka ngikutin kita kan, pak?"
"Iya." ujar Ryan singkat.
Ia bahkan tidak tahu, siapa yang tengah membuntuti mobilnya itu. Karena ia pun tak mengenali plat serta mobil tersebut. Apa dan milik siapa kendaraan itu.
"Lurus dengan kecepatan tinggi, ambil kanan. terus ke kanan dan ke kiri." ujar Ryan.
Supir itu pun mengikuti, kebetulan supir Ryan masih muda dan mantan pembalap liar jalanan. Ia mengikuti saja instruksi dari Ryan.
Ia menaikkan kecepatan hingga mobil yang mengikuti mereka pun melakukan hal yang sama. Pada saat tengah kencang-kencangnya, ia membelokkan mobil ke sisi kanan yang kebetulan lumayan sepi dari pengendara. Sementara mobil yang mengikuti mereka itu terlanjur melaju ke depan.
Usai mengambil jalur kanan tersebut, mereka mengambil jalur kanan satunya lagi. Lurus sedikit lalu ke kiri, jejak mereka pun hilang begitu saja. Bahkan mobil penguntit yang telah berbalik arah tersebut, tak bisa mendeteksi pergerakan mereka sama sekali.