Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Isi Hati


Masih di hari yang sama.


"Saya sudah nggak pernah ketemu Maureen lagi, teh Nita. Sejak Arka sudah tidak berhubungan lagi dengan Maureen, lalu kemudian dia menikah. Kalau dulu adalah sesekali, Arka mengajak Maureen kesini."


Ibu Arka berujar pada ibu Maureen yang kini telah tiba di kediamannya. Perempuan itu datang sendirian, sementara tante Maureen sedang berusaha mencari Maureen di tempat yang lain.


"Maafkan saya mbak Ningsih, saya sudah nggak tau harus mengadu ke siapa lagi. Makanya saya datang kesini dan merepotkan mbak Ningsih. Mungkin saja Arka tau informasi tentang Maureen, karena mereka kan masih satu kampus."


"Sama sekali nggak merepotkan, teh. Saya malah senang teteh mau mampir kesini. Nanti saya suruh Arka datang, biar teteh bisa tanya langsung ke orangnya. Teteh menginap saja disini, ya. Sayang kalau misalkan harus tidur di hotel." ujar Ibu Arka lagi.


"Terima kasih banyak, mbak. Tapi saya menginap di kosan Maureen." ujar Nita.


"Ya nggak apa-apa nginep disini, sekalian besok saya suruh Arka datang. Dan kalau bisa kita cari Maureen sama-sama."


"Makasih banyak mbak, saya nggak tau harus bilang apalagi. Saya benar-benar nggak habis pikir sama Maureen, rasa-rasanya saya nggak salah mendidik dia. Saya tuh takut, dia di celakai orang lain."


"Semoga itu tidak terjadi teh, dan mudah mudahan Maureen segera ketemu." lanjut ibu Arka seraya meletakkan segelas teh hangat, dihadapan ibu Maureen.


"Minum dulu, teh!" ujarnya kemudian.


Ibu Maureen pun meraih teh hangat tersebut dan meminumnya, mereka kemudian lanjut membicarakan soal Maureen. Bahkan pada menit-menit berikutnya, ibu Maureen menangis saking terbawa perasaan.


***


Kembali ke saat dimana Arka dan Amanda diminta pulang oleh Nino. Saat itu Citra telah bertolak dari rumah sakit, menuju rumahnya. Namun sebelum itu, ia sempat mampir dulu ke suatu tempat. Untuk sekedar menyendiri dan meredakan dulu sembab di kedua matanya.


Ia tak ingin Aston yang saat ini tengah libur kerja dan berada dirumah, melihat keadaanya lalu bertanya-tanya. Perihal apa yang telah ia alami dan mengapa sampai matanya menjadi sembab.


Ia telah merahasiakan hal ini bahkan puluhan tahun lamanya. Ia tak ingin rumah tangga yang telah ia bangun, hancur begitu saja. Akibat masa lalu yang sudah lama terkubur, mencuat kembali ke permukaan.


Usai dirasa cukup dan sembab dimatanya mulai hilang, Citra pun kembali ke rumah. Ia bersikap biasa saja, masuk kedalam layaknya ia pada hari-hari sebelumnya. Ia kemudian melangkah dengan pasti, sampai kemudian Aston menghampiri.


"Apa yang sudah kamu rahasiakan selama ini?"


Tiba-tiba Aston melontarkan pertanyaan, yang membuat Citra seketika terkejut.


"Ma, maksud kamu?" tanya Citra dengan nada yang terbata-bata. Keringat dingin kini mulai menetes di sekujur tubuh wanita itu.


"Jujur dan katakan, apa yang sudah kamu sembunyikan dari pernikahan kita?"


"Pa."


Anak-anak Aston yang tengah berkumpul di ruang keluarga kini mendekat.


"Diam situ, Aaron!. Kalian juga, Arsen dan Anastasia. Jangan ada yang ikut campur."


"Tapi, pa."


"Diam disitu, Aaron!"


Aaron sang anak sulung pun menghentikan langkah, sementara kini citra menelan ludah.


"Aston, aku..."


Aston mencekik istrinya secara serta-merta. Membuat citra kesulitan bernafas dan ketiga anaknya refleks hendak mendekat.


"Diam disitu!"


Aston membentak ketiga anaknya, lalu menghempaskan Citra ke dinding.


"Buuuk."


Wanita itu kini menahan sakit akibat benturan dan coba mengatur nafasnya.


"Maksud papa apa sih?"


Aaron mendorong dada ayahnya dengan keras. Anastasia dan si bungsu Arsen yang masih berusia 16 tahun, berusaha menarik Aaron.


"Kamu jangan ikut campur, ini masalah rumah tangga papa."


"Ya nggak harus kasar kayak gitu."


"Apa pernah selama ini papa kasar sama kalian?"


Aston membuat semuanya terdiam.


"Ibu kalian ini sudah mengkhianati papa. Dia punya anak dengan pria lain sebelum menikah dengan papa."


"Hah?"


Anastasia menutup mulut saking kagetnya. Sementara Aaron dan Arsen tercengang, lantaran sangat-sangat tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Jawab Citra!"


"Kamu selingkuh kan dengan Amman, selama aku di London?"


Citra menggeleng sambil menangis.


"Perempuan munafik kamu, pembohong"


"Pa."


"Diam kamu!"


"Itu tidak benar, aku nggak pernah selingkuh. Itu pemerkosaan."


Citra berteriak penuh emosional di muka Aston, hingga pria itu pun kini tersentak dan terdiam.


"Perkosaan?"


"Iya, kamu nggak tau kan?" teriak Citra lagi, kini wanita itu pun kian histeris.


"Citra."


Kali ini Aston mendekat dan memegang bahu istrinya itu, namun Citra yang terlanjur emosi pun menepisnya.


"Kamu diperkosa oleh Amman?" tanya Aston dengan suara gemetaran dan emosi yang tertahan.


Citra mengangguk.


"Tapi kamu bilang, saat itu kamu sedang berlibur ke daerah Nusa tenggara."


"Aku disekap oleh Amman di apartemennya, dan aku diperkosa berkali-kali sampai aku hamil."


Air mata Citra kian deras mengalir, sama seperti air mata anak-anaknya. Sedang Aston kini masih tercengang, dengan rasa penyesalan yang begitu tinggi. Sebab tadi ia telah bersikap sangat kasar pada istrinya itu.


"Amman mencintai aku, tapi aku mencintai kamu. Amman nggak pernah terima kalau aku memilih kamu. Saat itu dia mengelabui aku dan bilang kalau dia sedang sakit. Aku datang kesana bawa obat untuk dia. Tapi aku malah disekap dan diperkosa berkali-kali."


Citra kini terduduk dilantai, ia membenamkan wajah pada lututnya dan menangis. Sama halnya dengan pada saat Amman berhasil memperkosanya. Saat itu juga ia terduduk seperti itu sambil menangis di lantai.


"Bertahun-tahun kamu menyimpan ini semua, sendirian?"


Citra mengangguk.


"Bahkan hampir setiap hari aku membenci hidup aku. Aku nggak pernah merasakan bahagia utuh saat bersama kalian, karena selalu saja aku diserang rasa bersalah setiap hari. Karena aku membohongi kamu dan aku membuang anak itu tanpa belas kasihan. Aku tidak mau melihat muka Amman yang menjijikkan di muka anak itu, aku terpaksa melahirkannya. Karena saat aku terbebas dari penyekapan Amman, usia kandunganku sudah hampir masuk bulan kedelapan. Sudah sulit untuk menggugurkannya."


Aston yang kini berjongkok dihadapan istrinya itu, mulai menarik Citra ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, Citra. Saat kejadian itu aku nggak ada disana."


Citra kian tersedu-sedu, ketiga anaknya kini mendekat untuk memberikan pelukan padanya. Lalu mereka semua pun menangis bersama.


***


"Gud molning sayaaang."


Arka berujar pada kedua bayinya yang kini tampak menggerak-gerakkan tangan serta kaki didalam box. Ia dan Amanda baru saja membuka mata.


"Pagi, cantik." ujar Arka seraya tersenyum menatap istrinya. Amanda pun balas tersenyum, ada sejumput kedamaian yang kini menjalar di hati wanita itu.


"Kamu udah baikan kan?" tanya Arka lagi.


"Lumayan." jawab Amanda kemudian.


"Good, jangan dipikirin lagi ya." ujar Arka.


Amanda mengangguk untuk yang kedua kalinya.


"Hoayaaa."


"Hoaaaa."


Kedua bayinya ikut bersuara.


"Dengerin kata mereka."


Arka kembali berujar dan lagi-lagi Amanda pun tersenyum.


"Aku bau nafas nggak?" tanya Arka.


Seketika suasana yang romantis berubah menjadi hancur berkeping-keping.


"Iya, bau. Pede banget lagi kamu ngomong depan aku." seloroh Amanda seraya tertawa.


"Nih, haaaah." Arka meniupkan nafasnya, sementara Amanda terus menghindar.


"Haaah."


"Arkaaaa, ih. Bau."


"Haaah."


Keduanya kini tertawa-tawa.


***


Di kediaman Amman.


Pria tua itu telah kembali ke kediamannya sejak semalam. Meski tidur di ranjang yang mewah dan empuk, tak sedikitpun ketenangan yang bisa ia rasakan.


Ia tidur dengan penuh kegelisahan. Hingga pagi ini, ia mendengar suara ketukan pintu yang berkali-kali.


"Bik, itu siapa didepan?" teriak Amman pada pembantunya. Namun tak ada yang menjawab dan ketukan itu terus terdengar.


"Tok, tok, tok."


"Biiiik."


"Racheeel?"


Tak ada yang menjawab, Amman pun beranjak dari kamar dan menuju ke pintu depan.


"Ada apa?" ujarnya seraya membuka pintu. Ia berkata dengan nada kesal, karena mengira itu adalah ulah salah satu karyawannya. Namun ternyata bukan.


"Selamat pagi, bapak Amman."


Seorang petugas kepolisian berujar padanya.


"Iya, selamat pagi." ujar Amman dengan nada biasa saja, namun jantungnya kini berdegup kencang.


"Kami datang untuk menjemput bapak, guna memberikan keterangan atas kasus kecelakaan beruntun yang terjadi kemarin."


"Tapi pak, saya juga adalah korban."


Amman mencoba mengelabui petugas. Karena ia pikir CCTV jalanan di negri ini banyak yang rusak dan tidak berfungsi dengan baik.


"Nanti bapak jelaskan saja di kantor polisi."


"Tapi, pak."


"Mari ikut kami!"


Amman tak punya pilihan lain, akhirnya ia pun terpaksa mengikuti langkah aparat tersebut.