Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sebuah Keputusan


"Ok, gue udah bilang ke pak Jeremy, Philip dan mbak Arni. Kalau gue memilih untuk jujur ke publik, mengenai hal ini."


Arka berujar setelah mengirim sebuah pesan singkat, pada ketiga orang tersebut. Ia kini memasukkan handphone ke dalam saku, dan menghisap rokoknya hingga habis. Ia lalu membuang dan menginjak puntung rokok yang masih menyala hingga mati.


"Good." ujar Nino.


Tak lama kemudian, mereka pun bergegas keluar dari gang sempit tersebut. Karena mereka sudah berada disana cukup lama. Keadaan diluar agaknya sudah stabil.


Arka, Nino dan Ansel berjalan perlahan, dan mengarah ketempat dimana tadi mereka memarkir mobil.


"Koq lo berdua bisa ada disini sih?" tanya Arka pada Nino dan Ansel.


"Tadi mau jemput Nadine, dia lagi sama Dito dan Fahri. Sekalian makan mie ayam disini, yang katanya viral itu loh. Terus nggak sengaja ngeliat lo sama Amanda yang lagi di kejar-kejar."


"Gue kirain lo pada kayak sinetron yang tiba-tiba muncul, nggak ada jundrungannya."


Nino tertawa, namun tak berlangsung lama. Karena tawa itu seketika berubah kecut. Ketika sekumpulan orang yang tadi mengejar mereka, kini tampak lagi didepan mata.


"Itu Arka." ujar salah satu dari mereka.


"Anjrit. Ka, buruan Ka." Nino kembali mengajak saudaranya itu untuk kabur. Mereka berlari pontang-panting, menerobos kerumunan orang yang lalu lalang.


"Buruan...!" ujar Nino pada Arka. Arka pun mempercepat larinya.


"Lo lari cepet banget anjay, kayak atlet binaraga."


"Memanah, bego." ujar Nino kemudian.


"Ansel mana?" tanya Nino. Ia dan Arka kompak berhenti dan menoleh, dan mata mereka pun menemukan Ansel yang nyangkut pada seorang pedagang kaki lima.


"Ansel lo ngapain sih?" tanya Nino gusar.


"Beli cilok dulu."


"Itu kita udah dikejar, Bambang." Nino makin kesal dan menarik Ansel, ia dibantu oleh Arka.


"Ntar dulu Nin, tanggung."


Sementara awak media sudah semakin dekat.


"Buruan...!"


Cilok yang ia pesan pun jadi, Ansel memberikan uang selembar 100ribuan.


"Nggak ada kembalian, bang." ujar si pedagang


"Ambil aja." ujar Nino lalu menarik Ansel.


"Sayang, Nin." ujar Ansel.


"Ntar gue ganti, elah."


"Nin, buruan...!" Arka berlari duluan. Nino kini menarik Ansel, mereka kembali berlari pontang-panting. Namun Ansel masih sempat-sempatnya memakan cilok ditengah suasana yang kian genting.


"Itu awak media apa supporter bola sih?" tanya Ansel pada Nino.


"K-popers barbar." ujar Nino seraya terus melesat.


Mereka terus berlari menyusuri jalan demi jalan, gang demi gang. Hingga kemudian mereka tiba disebuah jalan utama. Namun itu tak cukup baik, pasalnya mereka tiba-tiba masuk ke kerumunan anak sekolah yang tengah tawuran.


"Anjrit." teriak Arka.


"Cobaan apalagi sih ini?" ujarnya kemudian.


"Ini tawuran kenapa?" tanya Nino pada salah satu siswa.


"Anak SMA depan itu nyakitin hati salah satu cewek STM kita, om." jawab siswa itu.


"Om?" Nino bergumam dengan nada tercengang.


"Ka, tampang gue emang kayak om-om?"


"Iya, kayak hot sugar daddy lo. Yang ada di novel-novel online, yang digambarkan hobi nyoblos anak SMA."


"Anjrit, serius lo?" ujar Nino setengah tertawa.


"Serius."


"Buuuk."


Sebuah batu dari pihak lawan hampir saja mengenai kepala Nino, membuat pria itupun naik pitam.


"Ini perlu dikasih pelajaran nih, para bocil FF di depan itu." ujar Nino.


"Kita udah nggak bisa keluar dari kerumunan ini, kita mesti menangkan kelompok ini biar bubar. Udah nggak ada lagi jalan, lo liat tuh kerumunannya sesek begitu." ujar Arka.


"Lo pernah tawuran kan dulu?" lanjut Arka lagi.


"Tenang aja, dulu sebelum daddy mengadopsi gue. Gue anak STM." ujar Nino seraya mengambil sebuah batu.


"Gue juga sering tawuran koq." ujar Arka lalu mengambil sebuah batu pula.


"Gaes, ini kenapa?" Ansel yang baru saja menghabiskan ciloknya mulai menyadari adanya keanehan ditempat itu.


"Ini mau berantem." ujar Arka.


"What?. Dua anak sekolah ini?"


"Seriously?. Kalian akan bertengkar sesama bangsa?. Civil war?"


Ansel tampak heran dan coba menghentikan kedua saudaranya.


"Woi, maju lo...!" teriak salah seorang siswa STM tersebut, pada lawan mereka.


"Gaes, kita bisa bicarakan ini baik-baik." ujar Ansel kemudian.


Namun batu dan yang lainnya keburu melayang diantara kedua kubu.


"Woi, guru mereka ikutan tuh." teriak kubu lawan sambil memperhatikan Ansel, Nino dan juga Arka.


"Seraaaaang."


"Bak."


"Buk."


"Bak."


"Buk."


Mereka mulai berkelahi dan saling melempar satu sama lain, hingga akhirnya terdengar suara mobil polisi yang mendekat.


"Gaes, polisi." teriak Nino kemudian. Nino dan Arka berlari pontang-panting mengikuti anak yang lainnya.


"Woi tunggu." ujar Ansel seraya menyusul.


Dengan susah payah, mendaki gunung, lewati lembah. Akhirnya mereka bisa kembali ke belakang tanpa diketahui awak media. Mereka berhasil mendapatkan kembali mobil dan masuk kedalamnya.


***


Sebuah meja panjang lengkap dengan beberapa mikrofon, terbentang di sebuah ruangan atau aula konferensi pers. Yang ada di kantor manajemen peace production.


Para awak media maupun admin akun lambe telah berkumpul didepan meja tersebut. Sementara Keenan Arka Adrian, Rio Ferisco Salim, serta Philip selaku pengurus dan Humas manajemen peace production, kini bersiap.


Mereka tampak menghela nafas beberapa kali guna meyakinkan diri mereka, untuk mantap melangkah dan menghadapi semua ini.


"Ready?" tanya Philip pada keduanya.


"Ready." ujar Arka dan Rio di waktu yang nyaris bersamaan.


Mereka pun akhirnya menampakkan wajah dihadapan para awak media. Konferensi pers ini diliput juga secara langsung oleh sebuah acara infotainment di salah satu stasiun TV, agar tak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari. Karena media bisa saja menambahi dan mengurangi sebuah berita.


Arka duduk ditengah-tengah, dengan diapit oleh Rio dan juga Philip.


"Hallo selamat siang." ujar Arka kemudian.


"Selamat siang." para awak media menjawab.


"Saya Keenan Arka Adrian."


Arka menghela nafas.


"Hari ini saya ingin menjelaskan tentang duduk permasalahan, yang belakangan ini berkembang di berbagai media."


Arka menatap seluruh hadirin.


"Pertama saya ingin meminta maaf terlebih dahulu, kepada teman-teman media. Kalau selama beberapa waktu belakangan ini, saya terkesan menghindar. Karena saya butuh berbicara dulu dengan pihak manajemen yang menanungi saya."


Arka diam sejenak, memberi sedikit jeda pada ucapannya.


"Saya menyatakan, bahwasanya saya dan Amanda Marcelia Louise. Kami berdua adalah sepasang suami istri yang sah."


Para awak media sama-sama terkejut.


"Baik di mata hukum maupun agama." ujar Arka kemudian.


"Arka apakah anda menyangkal soal tuduhan tinggal satu rumah tanpa ikatan dengan saudari Amanda." Salah seorang awak media bertanya.


"Saya menyangkal, dan saya memiliki bukti surat nikah yang sah dan asli. Atas nama saya dan juga Amanda Marcelia."


Arka memperlihatkan bukti surat nikahnya kepada media, media pun mengabadikan semua itu didalam foto maupun video.


"Sementara di suatu tempat, Amanda yang tengah sibuk bekerja. Tiba-tiba didatangi Intan dan Intan menyuruhnya menghidupkan televisi. Amanda terkejut dengan pengakuan Arka, karena sebelumnya mereka tak membicarakan apa-apa.


"Apakah anda sempat tinggal bersama sebelum menikah?"


"Tidak pernah sama sekali, saya bertemu Amanda itu pertama kali di hari pernikahan kami. Salah satu saksi yang melihat dan terlibat dalam pernikahan saya, ada disisi kiri saya. Arka melirik ke arah Rio yang kini juga fokus menatap awak media.


"Lalu bagaimana dengan berita yang beredar, perihal bahwa anda dibayar untuk menikahi Amanda?"


Arka diam, ia tak menyangka jika gosip yang berkembang sampai sejauh itu. Namun pada akhirnya, ia pun menceritakan semua secara rinci. Hingga ke tahap akhirnya ia dan Amanda menyadari jika mereka saling mencintai.


"Apakah anak-anak Amanda adalah anak-anak kalian."


"Ya, mereka anak kandung saya dengan Amanda."


Pertanyaan demi pertanyaan pun berlanjut, Akra menjawab seadanya dan sejujur jujurnya. Hingga konferensi pers tersebutlah ditutup oleh pernyataan dari Philip.


"Kami selaku pihak manajemen peace production, meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kepada pihak yang merasa telah dirugikan oleh adanya peristiwa ini. Dan kami siap mengganti segala tuntutan kerugian yang dilayangkan, maupun yang sedang berencana dilayangkan terhadap kami. Kami bertanggung jawab penuh, atas apapun yang telah dilakukan oleh artis asuhan manajemen kami. Sekian dan terima kasih. Saya harap apa yang telah dikemukakan tadi, bisa membuat teman-teman media puas dan mengembalikan hak privasi Arka sebagai seorang individu yang bebas. Intinya, jangan ada lagi yang mengikuti atau mengganggu kehidupan artis kami untuk kedepannya. Terima kasih."


Arka bernafas lega, ia sudah tidak peduli pada apa yang akan terjadi nanti. Yang jelas kini, beban dihatinya sudah berkurang banyak. Ia, Rio dan Philip lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut.