Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Dimana Nadine


Hari menjelang malam, Ansel sukses membuat Nino makan cukup banyak. Meski harus menghabiskan waktu yang tidak sedikit. Lantaran setiap makan, Nino pasti selalu ingin muntah.


Ansel juga memberi obat kepada Nino setelah makan. Kini Nino telah tertidur, lalu Ansel pergi mandi. Setelah mandi ia dan Arka duduk di balkon lantai atas, sambil menikmati kopi dan terlibat obrolan.


"Sel, gue mau nanya. Tapi ini agak semacam ikut campur sih, cuma gue penasaran."


"Apaan, lo mau nanya kapan gue nikah?." tanya Ansel.


Arka tertawa.


"Iya, abis itu lo tersinggung. Terus gue membela diri dengan mengatakan "Skip Ansel baperan, skip baperan. Ditanyain kapan nikah doang, baperan."


Ansel dan Arka sama-sama tertawa.


"Iya biasanya kan begitu disini, nanya kapan nikah, kapan punya anak. Bantu biaya nikah sama beranak kagak, nanya mulu." ujar Ansel.


Lagi-lagi keduanya sama-sama tertawa.


"Ini soal Nadine." ujar Arka.


Tiba-tiba Ansel terdiam.


"Lo ngerasa ya?" tanya Ansel.


Arka mengangguk.


"Gue nggak berani ngejudge sih, mungkin ini perasaan gue aja. Tapi yang keliatan dimata gue sekarang, Nadine kayaknya kurang perhatian sama Nino." lanjut Arka.


"Emang." ujar Ansel seraya menatap Arka.


Saudara tertuanya itu kini menghisap rokok, yang terselip diantara kedua jarinya. Ansel menghembuskan asap dari rokok tersebut hingga mengebul.


"Bukan lo doang yang ngerasa, gue juga sama. Gue juga nggak berani ngejudge, karena gue nggak kenal Nadine dengan baik. Mungkin yang lebih tau sifatnya dia, ya Nino atau Intan. Yang sering nginep di tempat dia. Tapi sejauh apa yang gue liat, sama kayak pemikiran lo. Koq Nadine gini ya, sama Nino. Kayak waktu dan perhatiannya itu kurang banget. Gue nggak tau apakah dia sibuk atau apa, dan apakah dia sudah komunikasi atau belum sama Nino. Mengenai misalkan dia nggak bisa datang, nggak bisa jenguk Nino, atau apapun itu." ujar Ansel.


Ia menghisap lagi batang rokoknya dan kembali menghembuskan asap.


"Kayak ada nggak ada, buat Nino. Padahal yang duluan cinta dan ngejer Nino itu kan, Nadine. Ya walaupun gue tau sih, Nino itu kalau sama cewek kayak kanebo kering."


Kali ini Arka sedikit tertawa mendengar perkataan Ansel.


"Paham kan lo?" tanya Ansel. Arka mengangguk-anggukan kepala seraya masih tertawa.


"Padahal ya, Nino itu udah niat serius loh sama Nadine. Seumur-umur dia nggak pernah bilang sayang sama cewek, kecuali untuk Amanda. Dan ketika sama Nadine, dia mulai berani ngomong kalau dia sayang. Dia bilang dia pengen membangun keluarga dan punya anak. Tapi ngeliat kelakuan Nadine akhir-akhir ini, gue takut Nino kecewa."


Ansel membuang tatapannya ke suatu sudut.


"Apa lo udah mencoba untuk bicarakan hal ini ke Nino?" Kali ini Arka kembali bertanya.


"Gue nggak berani, Ka. Lo liat sendiri kan, Nino itu baperan parah. Kalau gue ngebahas si Nadine, ntar dia kepikiran nih. Ditambah kepikiran masalah bapak dan ibu kandungnya. Udah, makin aja dia sakit nanti."


"Iya juga, sih." ujar Arka


"Lo curiga nggak sih, kalau Nadine punya yang lain?" Lagi-lagi Arka bertanya.


"Bisa jadi." ujar Ansel.


"Tapi kita jangan cari tau, kalaupun kita nggak sengaja kepergok atau apa. Kita jangan ikut campur urusan mereka." lanjut Ansel.


Arka mengangguk.


"Gue sayang sama Nino, gue nggak mau dia dikhianati. Tapi kalaupun gue tau Nadine selingkuh, gue juga nggak akan kasih tau ke Nino. Biar dia tau sendiri aja. Masalahnya gue nggak tega, Ka."


Arka menghela nafas cukup panjang.


"Iya, gue juga sama. Mau nanya kemana Nadine aja, gue nggak berani. Takut dia kepikiran." ujar Arka.


"Ya, semoga aja sih. Hubungan mereka itu nggak ada masalah." ujar Ansel kemudian.


Malam beranjak naik. Tak lama Amanda datang dengan membawa kentang goreng, beserta makanan lainnya. Lalu obrolan diantara mereka pun berlanjut.


***


"Buuuk."


Ningsih, ibu Arka menjatuhkan sebuah kotak kardus usang dari dalam lemari tua. Ketika ia tengah membereskan gudang, beserta isi lemari tersebut. Ini terjadi di waktu keesokan hari, setelah Arka terlibat obrolan dengan Ansel mengenai Nadine.


"Byuur."


"Buuuk."


Dua benda lainnya jatuh, ketika Ningsih mencoba mengangkat kotak tersebut. Dan terlihatlah sebuah foto perempuan. Ningsih berjongkok dan meraih foto tersebut, ia memperhatikan wanita yang tersenyum didalamnya.


"Fiona."


Begitulah nama yang tertera di belakang foto itu, ketika Ningsih dengan sengaja membaliknya.


"Siapa Fiona?" tanyanya dalam hati.


"Apakah teman atau mantan kekasih Arka." lanjutnya lagi.


Namun bila menilik foto tersebut lebih lanjut, tampaknya itu telah diambil di waktu yang cukup lampau. Karena penasaran, Ningsih pun menyimpan foto itu didalam saku bajunya.


"Fiona, bu?" tanya Arka di telepon, ketika akhirnya sang ibu mempertanyakan perihal apa yang ia temukan.


"Arka mana ada temen atau mantan namanya Fiona, bu. Mantan Arka kan cuma Maureen doang. Coba deh, ibu kirim fotonya." ujar Arka.


Ibunya lalu mengirimkan foto tersebut via WhatsApp kepada Arka.


"Udah ibu kirim tuh." ujar ibunya kemudian.


"Bentar ya, bu."


Arka membuka laman akun WhatsApp miliknya dan melihat foto tersebut. Seorang wanita cantik, tampaknya blasteran dan masih cukup muda. Namun Arka sama sekali tak mengenalnya.


"Nggak tau bu, Arka nggak pernah liat." ujar Arka pada sang ibu.


"Oh ya udah, kalau kamu nggak tau. Ibu cuma penasaran aja, karena ibu belum pernah melihat foto ini sebelumnya. Kalian dimana sekarang?"


"Dirumah daddy, bu. Nino sakit. Nggak apa-apa kan, Arka sama Amanda dan anak-anak disini?"


Ibu Arka tersenyum.


"Ya nggak apa-apa, nak. Kemaren kan kalian sudah duluan nginep di ibu. Ibu sudah tidak mempermasalahkan apapun lagi, antara kamu dan daddy kamu. Yang penting kamu adil ke semua orang tua kamu."


"Iya, bu." ujar Arka ikut tersenyum.


"Anak-anakmu mana?"


"Tuh lagi ngeliat kelinci, sambil makan biskuit."


Ibu Arka tertawa.


"Ya sudah, sehat-sehat semuanya ya. Nino sakit apa?" tanyanya kemudian.


"Ya sakit biasa, bu. Demam gitu."


"Sudah dibawa berobat?"


"Sudah, dibawa ke dokter. Tapi masih rawat jalan."


"Ya sudah, sampaikan salam ibu sama semuanya ya."


"Iya, bu."


"Ibu mau masak dulu buat papamu, bentar lagi dia pulang."


"Iya, bu. Yang enak masaknya." celoteh Arka.


"Kamu itu, kapan masakan ibu nggak enak?" Ibunya sewot, sementara Arka tertawa-tawa.


"Ya sudah ya, nak. Ibu mau kerjakan semuanya dulu."


"Ok, bu. Dah, ibu."


"Dah, Arka."


Ningsih pun menyudahi telponnya kepada Arka.


"Ibu kenapa, Ka?" tanya Amanda penasaran. Ia sejak tadi berada tak jauh dari Arka, dan mendengar sedikit-sedikit percakapan antara Arka dan ibu mertuanya itu.


"Ini." Arka menunjukkan foto Fiona kepada Amanda.


"Ini siapa?" tanya Amanda.


"Nggak tau, ibu Nemu fotonya di lemari gudang katanya. Namanya Fiona."


"Kayak nama mahasiswa aku dong, Viona."


"Iya, ini pake F tapi."


"Siapa tuh Fiona?" tanya Amanda lagi.


"Mana aku tau, tadi ibu juga nanya apa ini temen atau mantan aku."


"Beneran bukan mantan kamu?" goda Amanda sambil tersenyum nakal.


"Nggak ada, Man. Mantan aku tuh cuma Maureen doang, udah. Nggak ada lagi. Aku kan nggak laku, sampai kamu membeli aku menjadi berondong bayaran."


"Hahaha." Keduanya sama-sama tertawa.


"Berondong bayaran, CEO cantik." ujar Arka menunjuk dirinya dan juga Amanda.


"Kalau dijadiin novel, bagus kali ya Man." lanjutnya lagi.


"Boleh juga tuh." ujar Amanda.


"Bakalan rame dan bisa diangkat ke layar lebar kemungkinan."


Lagi-lagi keduanya sama-sama tertawa. Sementara disudut lain, Ningsih masih menggenggam foto Fiona dan mengira-ngira. Siapa gadis itu sesungguhnya.


"Apa dia, ada hubungannya dengan ayah tiri Arka?"


"Ah."


Mendadak pikiran Ningsih pun, tertuju ke arah sana.