
"Astagaaa, baru dateng keinjek BH."
Rio mengangkat bra milik Amanda, yang sepertinya luput dari pandangan mata Amanda saat ia berberes tadi. Ia dan Arka pun kini terperangah dengan bibir yang sama-sama menganga.
"Sorry, sorry,, sorry." ujar mereka berdua seraya menahan tawa. Amanda lalu mengambil bra tersebut dan membawanya menuju kamar. Sementara Rio menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dada.
"Lu ngelemparnya kejauhan, Ka." ujar Rio kemudian. Arka pun terbahak.
"Sorry ya, bro. Lo jadi sial."
"Udalah gue nunggu lama, masuk keinjek BH." Rio masih berujar seraya meletakkan makanan cepat saji yang ia beli, ke atas meja makan. Tak lama Amanda pun keluar, kali ini wanita itu tertawa.
"Sorry ya, Ri." ujarnya Kemudian. Rio pun akhirnya terkekeh.
"Nih lo berdua nih, nggak ada akhlak emang."
Lagi dan lagi baik Arka maupun istrinya tertawa.
"Eh, by the way happy birthday ya Firman."
Amanda tertawa, ia tahu pastilah suaminya yang telah memberinya julukan Firman tersebut dan mengatakannya pada Rio.
"Thank you." ujar Amanda seraya tersenyum.
Rio memeluk Amanda barang sesaat.
"Oh ya, ini hadiah dari gue, ini dari bokap."
"Bokap lo ngasih?"
"Iya."
"Wah bilangin loh, makasih."
"Ntar gue sampein. Nah ini, dari Liana." Rio menyerahkan semua kado titipan kepada Amanda.
"Oh ya, Liana kenapa nggak lo ajak aja sih."
"Dia tuh semenjak hamil, mageran. Nggak kayak elo dulu, pas hamil masih kerja, masih kesana-sini, masih menanam padi di sawah, gali emas di PT. Freeport."
"Nggak gitu." Arka dan Amanda kini sewot, sementara Rio tertawa.
"Itu berlebihan." ujar Arka kemudian
"Ya gitu deh, pokoknya."
"Gue tuh udah beberapa kali pengen ketemu dia, tapi dianya bilang masih nggak enakan sama gue gara-gara waktu itu. Padahal gue sih udah biasa aja." ujar Amanda seraya mulai menata makanan yang dibawa oleh Rio ke meja makan.
"Gue juga udah sering bilangin dia sih, tapi ya namanya juga Liana. Maklumin aja." ujar Rio lagi.
"Yuk pada makan." ajak Amanda.
"Eh koq gue yang ngajak, elo yang beli." Amanda berujar sambil tertawa.
"Ya kan emang buat kita makan." tukas Rio kemudian.
"Koq jadi lo yang traktir sih, kan yang ulang tahun gue."
"Nggak apa-apa, tadi tuh Arka yang mau beli. gue bilang nggak usah, biar gue aja. Sekalian bagi-bagi rejeki, karena tanah gue laku."
"Lo jual tanah."
"Iya."
"Juragan tanah dia, Man." ujar Arka menimpali.
"Ya lumayanlah, bro. Nggak sia-sia gue beli dulunya murah, sekarang mahal."
"Tanah sama properti itu harganya stabil dan cenderung naik per tahun." ujar Amanda, kini mengambil gelas dan air minum lalu meletakkannya pula ke atas meja makan.
"Iya, makanya gue suka investasiin duit kesana. Ya udah yuk, makan." ujarnya kemudian, mereka pun kini makan sambil berbincang.
"Happy birthday mama."
Arka membawa kedua bayinya menuju kepada Amanda, yang baru saja bangun tidur pada keesokan harinya. Azka dan Afka telah bangun bahkan sebelum ibu mereka membuka mata.
"Hallo sayang." ujar Amanda menyambut bayi-bayinya. Arka pun meletakkan mereka diatas tempat tidur.
"Mereka udah kamu mandiin, Ka?"
"Udah, rumah juga udah aku beresin, sarapan udah aku siapin, maid juga sudah aku telpon buat jagain mereka nanti."
"Koq kamu baik banget?"
"Kan kamu ulang tahun hari ini, jadi ini hadiahnya. Sama satu lagi, Arka beranjak keluar lalu kembali dengan sebuah kotak perhiasan. Ia lalu memberikan kotak tersebut pada Amanda, dan Amanda pun lalu membukanya.
"Arka, bagus banget." Mata Amanda memandang sebuah kalung emas putih, dengan liontin yang bertahtakan berlian.
"Maaf ya bukan yang mahal banget."
"Ih nggak apa-apa, kamu mah. Mau kamu kasih perhiasan harga 100rb juga aku pake."
Arka tersenyum lalu mengambil kalung tersebut dan memakaikannya di leher Amanda. Amanda beranjak lalu berkaca.
"Cantik banget." ujarnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Makasih ya, Ka." Amanda berbalik ke arah Arka dan memeluknya.
"Hoaaaa."
"Kenapa, nak?" tanya Arka seraya menoleh pada bayi-bayinya yang masih terbaring.
"Hoaaaa."
Bayi-bayi itu menggerakkan tangan dan kaki dengan penuh antusias.
"Nggak boleh papa peluk mama?"
"Hukhoaaaayaaa."
"Hoaaaaa."
Amanda dan Arka tertawa melihat anak-anaknya itu.
"Man, daddy ngajakin kita kerumahnya ntar malem. Mau nggak?"
"Ya udah, ayok."
"Ya udah, sekarang kita mandi, sarapan terus berangkat kerja. Ntar sore aku jemput kamu."
"Anak-anak dibawa?"
"Bawa, daddy pengen ketemu mereka."
"Ok."
Tak lama kemudian, mereka pun bergegas mandi, sarapan, lalu berangkat kerja. Sore harinya sesuai janji, Arka menjemput istrinya setelah mengambil anak-anaknya terlebih dahulu di penthouse.
***
"Kenapa gue mesti ikut segala, dah. Itukan acara keluarga kalian." Rio menggerutu saat ia dijemput paksa oleh Arka di kost nya.
"Makan gratis, masa lo nggak mau?" ujar Arka kemudian.
"Bukan gitu, gue takut di kacangin. Kalau kalian lagi pada ngobrol."
"Kagak bakalan, justru gue yang malah takut sama mereka. Makanya gue ngajak elu, biar kalau bapak gue, Ansel sama Nino keroyokan. Paling nggak gue ada lu, bro."
"Laki lo nih, Man. Nggak ada akhlak nih emang, nyusahin temen aja kerjaannya.
Amanda tertawa.
"Hoaaaaa."
"Huuuuuu."
Azka dan Afka bersuara.
"Iya, papa kalian ya?" tanya Rio pada kedua bayi yang berada didalam keranjang.
"Hoaaaaa."
"Hmmm, gemes banget. Pengen gue pangku salah satu, takut satunya iri." ujar Rio seraya memperhatikan kedua bayi itu. Arka dan Amanda kian tertawa.
"Gendong aja, Ri. Tapi kalau satunya nangis, Lo yang diemin." ujar Amanda kemudian.
"Kagak mau gue, udah kalian disini aja ya."
"Eheee."
"Lucu banget, sih. Hmmm."
Rio mulai menjadi orang gila dihadapan kedua anak temannya itu, sementara Arka masih terus fokus ke jalan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di kediaman Ryan. Ryan memeluk Arka cukup lama, lalu memeluk Amanda dan mencium kedua cucunya secara bergantian. Tak lama setelah itu, Ansel dan Nino pun tiba.
"Hai." ujar Ansel dan Nino diwaktu yang nyaris bersamaan.
Arka tersenyum, jujur ia masih agak canggung pada kedua kakaknya itu. Namun Nino santai saja, ia bahkan memeluk Arka, begitupula dengan Ansel. Arka tak melihat kepalsuan dimata mereka berdua, hingga akhirnya ia pun sedikit tenang dan mulai merasa biasa saja.
"Intan sama Nadine kemana?" tanya Amanda pada kedua kakak iparnya.
"Nadine ke Semarang." ujar Nino yang kini tampak mengambil dan menggendong Afka.
"Ada keluarganya yang hajatan." lanjutnya lagi.
"Intan, ibunya sakit. Nggak ada yang nemenin, ayahnya keluar kota." Ansel menimpali ucapan Nino.
"Pantes, dia tadi juga nggak masuk sih ke kantor." ujar Amanda.
"Iya tapi dia titip salam buat kamu. Happy birthday ya." ujar Ansel kemudian. Amanda tersenyum.
"Thank you." ujarnya seraya menatap Ansel.
Ansel mengangguk, tak lama setelah itu banyak makanan yang dihidangkan diatas meja makan. Ryan ternyata menyewa chef hari ini.
"Ayo, kita makan dulu." ujar Ryan pada mereka semua. Anak-anak dan menantunya pun lalu berkumpul di meja makan.
"Where is your father?" Ryan bertanya pada Rio, yang duduk disisi kanan Arka. Sementara Amanda duduk di sisi kiri suaminya.
"Ada dirumah." ujar Rio.
"Kenapa nggak diajak kesini?"
"Ini aja mendadak, nggak ada rencana."
Chef dan kru tiba-tiba datang dengan membawa kue ulang tahun.
"Happy birthday to you."
"Happy birthday to you."
Mereka semua refleks bernyanyi untuk Amanda, sementara Amanda kini tenggelam dalam rasa haru.
"Nih, buat yang ulang tahun hari ini." ujar Ryan lalu mendekatkan kue tersebut ke hadapan menantunya.
"Ayo make a wish dulu." ujar Nino kemudian.
Amanda pun berdoa lalu meniup lilin."
"Yeeaaaay." Mereka semua bertepuk tangan dan memberi selamat secara bergantian kepada Amanda.
Acara kemudian dilanjutkan dengan makan dan berbincang-bincang. Setelah makan selesai, Arka dan Amanda beralih keruang keluarga dan duduk di sofa. Sementara Ryan ada didekat mereka sambil terus mengajak mereka bicara.
Rio sendiri main PS bersama Nino ditempat itu juga, sedang Ansel mengasuh para bayi yang ia baringkan di kursi sofa satunya. Siapa yang kalah bermain, maka hukumannya adalah mengasuh para bayi.
Rio menang terus-menerus, sementara Nino dan Ansel selalu kalah. Praktis mereka berdua lah yang akhirnya bergantian mengasuh si kembar.