Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sahabat?


"Man."


"Hmm?"


"Sahabat kamu siapa aja sih selain Rani sama Nindya?"


Arka bertanya sore itu setelah menjemput Amanda. Mereka kini tengah dalam perjalanan pulang.


"Ada dua orang lagi. Namanya Cindy sama Dian."


"Yang dua lagi itu kemana?"


"Ada, di Jakarta juga." ujar Amanda.


"Masih sering ketemu?"


"Terakhir 2 bulan lalu lah. Mereka itu udah pada nikah, Ka. Si Cindy anaknya satu. Dian belum punya anak, udah 4 tahun nikah. Kenapa kamu nanyain soal itu?"


"Nggak, aku cuma pengen tau aja. Kamu temenannya sama siapa aja. Kan aku udah masuk dalam hidup kamu. Nggak apa-apa dong, aku pengen tau sedikit."


"Ya nggak apa-apa sih, asal jangan cemburu-cemburu berlebihan aja. Semisal aku punya temen cowok. Kayak Jeff waktu itu, yang kamu cemburuin di premiere."


Arka tertawa mengingat hal itu.


"Ya abis gimana, orang dia pegang-pegang kamu. Akunya cinta sama kamu, ya jelas panas hati. Kalau nggak cinta mah, bodo amat."


Amanda menoyor pipi suaminya itu, sementara mobil terus berjalan.


"Ngomong-ngomong, yang bikin kamu jatuh cinta ke aku itu, apa Ka?"


Amanda bertanya pada suaminya. Arka mengelus perut istrinya dengan tangan sebelah kiri.


"Kalau ditanya apa alasannya, aku nggak bisa jawab."


"Kenapa?"


"Karena nggak ada alasannya."


Amanda menatap Arka.


"Sekarang aku tanya, apa alasan kamu cinta sama aku?" Arka membalikkan pertanyaan pada istrinya, Amanda diam dan tampak berfikir.


"Nggak tau." ujar Amanda kemudian.


"Ya sama, aku juga nggak tau apa alasannya. Tiba-tiba aja aku cinta, tiba-tiba aja aku sayang, cemburu, nggak mau kamu dimiliki orang lain."


Amanda kini meletakkan kepalanya di bahu Arka. Sementara tangan mereka saling menggenggam.


"Kalau yang bikin kamu inget terus sama aku apa?" tanya Amanda lagi.


"******* kamu."


Amanda tertawa lalu memukul lengan suaminya itu.


"Kamu mah suami mesum, dasar."


"Yang lebih mesum itu kamu ya, Amanda. Yang dikit-dikit godain orang, bikin tarian-tarian erotis lah depan orang. Gimana nggak berontak coba yang di dalam."


Lagi-lagi Amanda tertawa. Namun ada perasaan hangat yang kini menjalar dihatinya, begitu juga dengan Arka.


"Ka, kalau misalkan nanti udah kelar kuliah, kamu kerja di kantor aku aja." ujar Amanda ketika mobil telah memasuki kawasan, yang tak begitu jauh lagi dari penthouse.


"Jangan, Man. Kamu mau dibilang nepotisme?"


"Ya nggak apa-apa dong, perusahaan aku ini yang membangun."


"Ya tetep aja akunya nggak enak. Apa kata karyawan lain nanti."


"Waktu aku masukin Rani ke kantor, karyawan aku bersikap biasa aja."


"Ya mana kamu tau kan isi hati mereka. Emang kamu mantengin mereka selama 24 jam?. Nggak kan?"


Amanda terdiam dan mulai berfikir, agaknya ucapan Arka ada benarnya.


"Mana kamu tau, mereka ngomong apa dibelakang. Apalagi mereka masuknya lewat jalur tes dan interview, sedangkan Rani nggak. Coba deh, kamu bikin kotak suara di kantor kamu."


"Kotak suara, maksudnya?"'


"Kamu sediakan kotak, suruh karyawan kamu sampein uneg-unegnya disitu. Nggak usah tulis nama, jadi biar yang nulis juga nggak takut-takut buat mengungkapkan isi hati mereka."


"Ide bagus sih, Ka."


"Iya makanya, biar kamu juga tau kekurangan kamu dimana. Kadang-kadang kritik dan saran itu perlu, Man. Biar kita nggak over percaya diri dan merasa kita ini selalu perfect."


"Duh bijaksana banget sih, papanya Korea Selatan sama Korea Utara."


Amanda meledek Arka, sementara Arka hanya tersenyum lalu mengelus perut istrinya itu.


"Ini sih Sabang-Merauke. Ya nak, ya?"


Keduanya kini sama-sama tersenyum.


Sementara disisi lain.


Intan mengikuti Rani, hingga Rani berpisah dengan si laki-laki berbekas tato itu. Rani lalu masuk ke dalam taxi, Intan pun buru-buru menyetop taxi lainnya dan kembali mengikuti Rani.


Ia telah mendapatkan banyak foto-foto mengenai Rani dan si pria yang mencurigakan itu. Ia juga sempat merekam keduanya dalam beberapa video.


Taxi terus merayap, Intan mengikuti Rani hingga ke kompleks perumahannya. Rani berhenti tepat di depan sebuah rumah di blok C10, dengan nomor 53. Intan memfoto alamat tersebut, lalu kemudian pulang kerumah.


Ia rasa cukup untuk hari ini. Yang penting ia sudah mendapatkan rekaman, foto dan lain sebagainya. Besok, ia akan berusaha mengumpulkan bukti lain.


Arka dan Amanda telah sampai di penthouse, mereka berdua juga sudah mandi dan makan malam. Amanda memasak nasi goreng, plus telur mata sapi setengah matang. Sesuai yang diminta oleh suaminya.


"Kamu mau kemana, Ka?" tanya Amanda yang kini tengah terbaring di tempat tidur, dengan tubuh telentang dan perut membesar. Persis seperti ikan paus yang tengah berenang di permukaan.


"Kan aku ada jadwal manggung di kafe, Man. Kamu lupa?" tanya Arka.


"Oh, emang iya ya?"


"Iya, kan dua kali seminggu."


Arka merapikan kaos polos dan juga blazer nya. Ia terlihat good looking seperti biasa, karena tubuhnya yang tinggi dan bodynya yang sixpack. Membuat Arka terlihat bagus mengenakan apa saja.


"Kamu mau ikut?" tanya Arka pada Amanda.


"Mau sih."


"Emang kamunya nggak capek?" tanya Arka lagi.


"Tuh, kamu nggak mau kan pasti ngajak aku. Nggak usah banyak alasan, deh."


"Nggak gitu, Man."


"Bilang aja, kamu malu kan bawa paus bunting."


Arka hendak tertawa, namun ia menahannya. Ia hanya tersenyum kecil seraya menatap istrinya itu.


"Aku tuh nanya, Man. Kamu capek apa nggak. Kalau nggak ya, ayok."


"Mau tapi ngantuk, pengen rebahan banget dari tadi siang. Dikantor kan sibuk seharian ini."


"Ya udah, kamu dirumah dulu ya." Arka menghampiri istrinya dan memberi kecupan pada bibir wanita itu.


"Kamu lama nggak?" tanya Amanda.


"Mungkin iya, soal ya Rio katanya mau nyamper."


"Oh ya udah, berarti aku tidur duluan ya."


"Iya, kamu tidur duluan aja." Arka mengusap perut istrinya.


"Kaaa."


Nada suara Amanda mulai berbeda.


"Man, aku mau pergi."


"Ayolah, Ka. Biar aku enak tidurnya."


"Kan fajar tadi, udah."


Wajah Amanda mulai memelas, ia mengangkat kedua kaki lalu melebarkannya di hadapan Arka. Nafas Arka pun mulai tak teratur, melihat pemandangan yang begitu menantang dibawah sana.


"Ya udah, tapi bentar aja ya." Arka melirik arlojinya, sementara Amanda kini tersenyum. Arka mulai membuka resleting jeans yang ia kenakan. Lalu memberikan apa yang Amanda inginkan. Beberapa saat berlangsung,


"Ah, Maaan, Aaakkh."'


"Hmmmh."


"Arkaaaa."


"Maaaaaan, aaakkkh."


Arka menahan tubuhnya dengan tangan, agar tak terhempas dan menindih tubuh Amanda. Ada bayi yang mesti ia lindungi.


"Ah, kamu mah. Huuuh."


Arka berkata dengan setengah tertawa, seraya mencoba mengatur nafasnya yang begitu memburu. Semua telah selesai dan terasa hangat dibawah sana.


"Capek banget aku, Man. Huuuh, pengen tidur rasanya sekarang."


Arka masih mencoba mengatur nafas seraya menatap Amanda. Sementara wanita itu tersenyum penuh kemenangan.


Arka mencabutnya dari dalam dan beralih ke kamar mandi. Tak lama ia pun kini tampak bersiap.


"Aku pergi ya." ujarnya seraya mendekat dan mencium kening Amanda. Ia juga mengelus bayi-bayinya dan mencium mereka.


"Makasih ya, Arka."


"Iya sayang, aku pergi."


Amanda mengangguk. Arka keluar dari penthouse dengan senyum yang tak henti, ia masih mengingat kejadian barusan. Sampai didalam mobil pun, ia masih terus tersenyum. Ia sangat bahagia sekali memiliki Amanda.


Arka menyambangi kafe tempat dimana ia telah dikontrak sebagai penyanyi. Ia melakukan tugasnya dengan baik malam itu, ia didaulat menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur para pengunjung yang datang.


Malam beranjak, pergantian penyanyi pun dilakukan. Arka yang telah selesai, kini menghampiri Rio yang memang sejak awal tadi sudah datang kesana.


"Bro."


"Wei."


Rio tersenyum melihat kehadiran Arka. Arka pun lalu meletakkan sebungkus rokok diatas meja.


"Pesen minum lagi, bro." ujar Arka.


"Ntar dulu." Rio menghabiskan kopinya, lalu memanggil pelayan. Mereka kini memesan minuman lagi.


"Serius lo nemuin Nino dan nanyain soal itu?" Rio bertanya pada Arka, ketika minuman mereka telah sampai dimeja. Mereka kini tampak sama-sama menghisap sebatang rokok.


"Iya dan Nino bilang kelemahan Amanda itu, adalah dia gampang percaya sama orang. Terutama orang yang dia anggap sebagai sahabat. Ada beberapa sahabatnya yang bahkan nggak tulus sama dia, tapi Amanda nggak bisa melihat itu semua."


"Sahabat bini lo, siapa aja sih?"


"Ada beberapa orang, yang belum pernah ketemu gue juga ada. Katanya."


"Dari yang udah pernah ketemu sama lo, ada nggak yang lo curigain?" tanya Rio.


"Rani, dia yang gue curigain." ujar Arka.


"Mbak Rani yang pake kursi roda itu, pas lo nikahan?"


"Iya, itu dia abis sakit. Sekarang dia udah nggak pake kursi roda lagi. Dia kerja di kantor Amanda."


"Yang bikin lo curiga sama dia, apa?"


Arka pun menjelaskan pada Rio, pertama soal kesalahan yang pernah Rani lakukan di kantor. Amanda pernah memberikan teguran pada sahabatnya itu, terkait kesalahan laporan yang ia buat. Amanda sempat bercerita pada Arka waktu itu.


Lalu tempo hari, saat Rani mengaku sakit. Tetapi Arka memergokinya ada di kantor, tempat dimana Arka tengah menjalani proses penyaringan. Sebagai talent dan brand ambassador dari produk yang berkantor di gedung tersebut.


"Gue sih netral dulu ya, bro. Gue juga nggak tau persis mbak Rani ini siapa. Tapi yang jelas, Lo harus kumpulkan banyak bukti dan terus aja selidiki. Jangan buru-buru bilang ke Amanda, masalahnya mbak Rani itu temennya Amanda. Kalau lo nggak punya bukti jelas, bisa-bisa Amanda malah marah sama lo. Dan mengecap lo sebagai orang yang mau merusak persahabatan dia. Kayak gue sama lo aja deh, misalkan ada orang nih yang ngejelekin lo didepan gue. Otomatis gue akan marah dulu, bro. Karena lo temen gue, gue nggak akan terima lo diomongin, sekalipun emang bener lo salah. Iya nggak?"


"Iya sih." Arka berkata lalu menghisap rokoknya.


Malam beranjak naik, obrolan diantara mereka pun berlanjut.