Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Menjelang Liburan


"Apa, Ka?"


"Lo tadinya dibayar sama Amanda buat nikahin dia?"


Nino bertanya dengan nada tak percaya, mereka bertiga kini tengah berada di kamar. Sambil berbaring dan menengadah ke langit-langit kamar.


"Iya, tadinya gue juga nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Gue cuma punya tujuan satu, dapet duit dari dia. Supaya gue bisa menyelesaikan masalah hutang nyokap gue dan biaya berobat bokap tiri gue." ujar Arka.


"Coba dulu lo udah tau, ada perusahaan daddy disini. Kan lo bisa kerja disitu dan minta duit sama daddy." celetuk Ansel yang duduk di sebuah kursi. Ia menghadap ke arah Nino dan Arka yang berbaring di karpet bulu.


"Kan dia nggak tau kalau daddy itu bapaknya, Ansel Bambang." Nino rasanya ingin memukul kepala Ansel.


"Iya juga sih." ujar Ansel sambil nyengir. Nino melebarkan bibir sampai kuping.


"Terus, lo nyesel?" tanya Nino lagi.


"Kagak." Kali ini Arka nyengir.


"Orang enak." selorohnya lagi.


"Anj...." Nino tertawa sambil menoyor kepala saudaranya itu, Ansel ikut tersenyum.


"Gue telat sih datangnya." Nino berujar seraya kembali menatap langit-langit kamar.


"Padahal lo cinta kan, Nin?" tanya Ansel kemudian.


"Banget." jawab Nino. Arka kini menoleh pada Nino.


"Ya mau diapain lagi, bukan jodoh gue. Pokoknya lo yang bener-bener aja, jadi suami. Jangan macem-macem."


"Emang gue mau ngapain coba?" tanya Arka.


"Iya, kali aja lo masih mau tebar pesona sana-sini. Kalau sampe lo nyakitin Amanda, gue siap gantiin posisi lo."


"Lah terus Nadine?" tanya Ansel seraya mengerutkan kening."


"Ya gue harus memilih, artinya."


"Wah parah, gue kasih tau Nadine lo ya." ancam Arka sambil tertawa. Nino memalingkan wajah ke arah lain sambil tertawa pula.


"Coba tadi gue rekam ya." ujar Ansel.


"Bener, terus kasih ke Nadine." timpal Arka.


"Wah, jahat nih lo berdua. Saudara macam apa kalian?" Nino berseloroh sambil terus tertawa-tawa.


"Hei, makan." Tiba-tiba Ryan muncul di pintu kamar.


"Udah siap, dad?" tanya Ansel kemudian.


"Sudah, para anak durhaka. Ayo...!"


Ryan berlalu. Arka, Nino dan Ansel pun beranjak. Memang sejak tadi mereka membiarkan Ryan menyiapkan makan siang. Sebab ketika mereka membantu, Ryan malah marah. Karena merasa direcoki oleh anak-anaknya itu.


Jadilah kini mereka sebagai pasukan yang tinggal makan.


***


"Kenapa Arka masih masuk kerja hari ini?"


Cintara berujar pada ayahnya dengan nada yang sangat marah, siang itu. Tadinya ia sempat melihat Arka datang kekantor sejenak. Meski akhirnya pemuda itu pergi, karena disuruh menjalankan beberapa tugas lagi di luar kantor.


"Ya, kenapa memangnya?" tanya Putra dengan nada yang bingung. Ia tak mengerti mengapa anaknya tiba-tiba datang dan langsung mengoceh begitu saja.


"Dia itu udah nyakitin hati Cintara, pa. Anak papa. Kenapa masih diterima juga disini, udah tau Cintara bakalan sakit hati kalau ketemu dia setiap hari."


"Itu urusan kamu ya, bukan urusan papa." ujar Putra seraya menatap gadis itu.


"Jadi papa nggak mau peduli?"


Cintara bicara pada ayahnya dangan nada yang cukup tinggi.


"Pelankan dikit suara kamu, jangan seperti anak yang tidak dibekali pendidikan."


"Iya tapi kenapa papa belain Arka?"


"Papa nggak ada membela siapapun?"


"Lah terus ini apa namanya kalau bukan membela?. Ngapain papa masih mempekerjakan orang kayak dia."


"Dia orang yang seperti apa?. Coba jelaskan sama papa."


"Apa itu ada hubungannya dengan perusahaan?"


Kali ini Cintara terdiam, Putra yang tadinya ingin segera pergi menyelesaikan pekerjaan lain. Kini memutuskan untuk fokus bicara pada gadis itu.


"Apakah hal yang telah diperbuat oleh Arka itu ada hubungannya dengan perusahaan?. Apakah dia merugikan perusahaan?"


Cintara masih diam.


"Nggak kan?" ujar Putra lagi. Cintara kini menunduk.


"Pokoknya, Cintara nggak mau kerja. Kalau di kantor ini masih ada Arka."


"Kenapa nggak kamu aja yang pindah kerja?"


"Papa ngusir Cintara?"


"Ya kalau kamu menganggapnya begitu, silahkan."


Wajah Cintara kian diliputi kabut hitam.


"Papa koq tega banget sih, sama anak sendiri."


Cintara siap menggunakan cara paling murahan yang dimilikinya. Yakni menunjukkan sisi kelemahan dan siap menangis, agar dikasihani dan dimenangkan oleh ayahnya itu.


"Sekarang papa tanya, mau memecat Arka dengan alasan apa?. Karena udah nyakitin hati kamu, begitu?"


"Ya, kenapa nggak?"


"Emangnya kamu siapa di perusahaannya ini?. Orang kamu juga karyawan, sama kayak yang lainnya."


Cintara amat sangat terpukul mendengar pernyataan tersebut.


"Ya udah, Cintara mau berhenti kalau gitu."


"Ya udah, sana cari kerja lain. Kalau emang gampang dapetin. Disini juga kamu masuk karena ada papa, orang dalem. Coba aja kamu ngelamar kerja sendiri. Saingan yang bahkan kemampuannya lebih dari kamu, banyak di luaran sana."


Cintara terdiam, ada sebuah kekesalan besar yang kini bergumul di hatinya. Sementara Putra, berjalan lalu menghilang di balik pintu. Untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain.


***


"Gimana, Ka. Kita ke puncak aja apa?. Ajak anak-anak?" tanya Amanda, ketika sore hari telah menjelang. Ia dan Arka kini kembali ke penthouse dan tengah minum teh bersama.


"Ada resort temen aku yang ala-ala Bali gitu. Dia baru bikin tempatnya, baru diresmikan minggu lalu." lanjutnya kemudian.


"Maksudnya kayak vibes di villa Bali gitu?" tanya Arka berusaha memperjelas rasa penasarannya.


"Iya, jadi dia punya kolam renang di lantai atas. View samping kiri kanan nya hutan dan perkebunan."


"Ada fotonya nggak?" tanya Arka lagi.


"Ada nih."


Amanda menunjukkan foto-foto dari resort tersebut.


"Yuk liburan yuk, dari pada suntuk. Tempatnya nggak jauh, kita ambil satu minggu. Kalau pun kamu mau kerja, bisa balik pergi."


"Jum'at ya?. Jumat, sabtu, minggu. Libur total tuh. Nyambung senin, selasa. Rabu nya kan tanggal merah tuh, minggu depan. Nah kamis kejepit nyambung, deh sampe minggu lagi."


"Ya udah, satu minggu lebih berarti ya. Biaya sewanya masih terjangkau koq. Aku pesen, ya." ujar Amanda Kemudian.


"Aku yang bayar." ujar Arka.


"Jangan, aku aja."


"No, aku aja." Arka bersikeras.


"Bagi dua." Amanda menawarkan diri. Arka tak mau menjawab.


"Ya, ya?" Amanda nyengir dihadapan suaminya itu.


"Ya udah, ntar aku transfer ke kamu." ujar Arka.


"Ok, aku lobi dulu temen aku. Kali aja masih bisa nego, sekali-kali harga temen nggak apa-apa dong." Lagi-lagi Amanda nyengir.


"Ini nih, temen yang mau ngerusak bisnis temennya. Arka meledek istrinya itu, sementara yang diledek terus nyengir.


Amanda menelpon temannya dan ternyata sedang tak ada bokingan di hari-hari dan tanggal yang mereka kehendaki. Jadilah mereka akhirnya, memutuskan untuk berlibur minggu ini.