
"Hah?"
Semua orang yang tengah berkumpul di kediaman Ryan kini melongo. Pasalnya Ansel tiba-tiba muncul dengan warna rambut hitam legam.
"Kecebur got dimana kamu?"
Ryan berseloroh hingga membuat Arka, Amanda, Rio, serta Intan dan Pamela tertawa. Sementara Nino menahan senyum.
"Gimana?. Gue udah mirip Nino belum?"
Ansel melangkah dengan gaya Nino saat berjalan. Tegap, tenang, berwibawa dan dengan tatapan mata yang tajam namun teduh.
"Kayak nahan kentut." ujar Ryan.
Seketika yang ada di tempat itu pun jadi terbahak-bahak. Terutama Rio yang tertawa sampai begitu geli. Nino sendiri kini tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu apa-apaan sih?" tanya Intan pada Ansel.
Ansel menatap Intan dengan tatapan yang sok artis Korea di dalam drakor.
"Gimana, aku udah bisa dibilang lebih ganteng kan dari dia. Udah kayak visual di novel-novel online belum?" ujar Ansel lagi.
"Geli tau nggak." tukas Intan sambil tertawa.
"Ini biar aku keberuntungannya sama kayak Nino. Soalnya semalem dia menang main bilyard dan kami harus patungan buat beliin dia iPhone baru." jawab Ansel.
Sontak mata Amanda menatap ke arah suaminya.
"Idenya Ansel." ujar Arka membela diri.
"Oh jadi kamu main judi."
Intan menjewer telinga calon suaminya tersebut, hingga Ansel tampak kesakitan.
"Aw, aw. Aaaakh."
Ansel mencoba melindungi telinga kirinya. Sementara Amanda terus melihat ke arah Arka.
"Kan pake uang aku sendiri, Man." ujar pemuda itu.
"Nggak pake tabungan pendidikan anak-anak juga.
"Bukan masalah uangnya, kamu itu berjudi." tukas Amanda.
Nino dan yang lain tertawa-tawa.
"Orang Ansel biangnya."
Amanda melihat ke arah Ansel dan Ansel pun lalu nyengir. Selang beberapa saat berlalu, mereka sudah terlihat duduk di meja dan makan bersama. Mereka mengadakan barbeque di halaman.
Tempat pembakaran agak jauh sehingga asapnya tidak mengganggu kenyamanan si kembar. Tampak kedua anak itu mengunyah asparagus dan juga kentang rebus. Terdapat pula buah-buahan serta telur dan pancake yang terbuat dari sayuran.
Mereka sangat senang berada di tengah-tengah keluarga dan orang terdekat. Sesekali terdengar mereka tertawa untuk sebab yang tidak jelas.
Namun kehadiran mereka adalah jantung dari acara tersebut. Sebab mereka sangat bisa menarik perhatian semua orang.
Apalagi sikap keduanya kini seolah-olah mereka sudah dewasa. Acap kali mereka tampak tenang memperhatikan orang-orang yang tengah berbicara dan memberi tanggapan dengan melempar senyum.
***
"Dia belum mau memanggil saya ibu."
Citra bercerita pada suster Zefanya, ketika akhirnya mereka bertemu. Tak ada hal lain yang diceritakan wanita itu, kecuali soal Nino. Ia benar-benar berharap Nino bisa memaafkan perbuatannya di masa lalu.
"Sabar aja, ini semua memang nggak mudah untuk dia." ujar suster Zefanya.
"Dia mengalami masa yang sangat sulit saat kecil. Di disiksa, di abaikan, nggak dicintai dan diperhatikan." lanjut wanita itu kemudian.
Citra pun kini tertunduk dalam dan air matanya mendadak mengalir. Sementara di lain pihak Nino dan Arka serta Rio masih tak kuasa menahan tawa atas tingkah Ansel. Pasalnya bule karbitan itu benar-benar ingin mengcopy wujud dan tampilan dari Nino.
"Jadi orang tuh bersyukur, Sel. Lagian mana ada orang beruntung dari warna rambut. Gue juga rambutnya item, Rio juga sama. Tetap aja kita berdua kalah." Arka mengemukakan pendapatnya.
Ansel yang tengah memakan sate dengan irisan bawang merah tersebut kini terdiam.
"Iya juga ya, kenapa gue nggak kepikiran ke arah situ?" tanya nya kemudian.
"Emang lu geblek." seloroh Rio.
"Otaknya agak macet soalnya." Nino menimpali.
"Bakalan berhasil nggak nih?" tanya Ansel pada Intan.
"Ya nggak tau, bisa jadi kamu malah kayak ayam warna-warni yang dijual dua ribuan tau nggak." jawab Intan.
Arka dan Rio yang mendengar hal tersebut dari ruang tengah kini kembali tertawa. Sementara Nino sudah terlelap sejak tadi di sofa. Amanda dan si kembar ada di lantai atas. Sama halnya dengan Pamela dan juga Ryan.
"Masa aku nanti jadinya kayak ayam, jelek dong?" Lagi-lagi Ansel berujar.
"Ya kalau nggak mau mirip ayam tunggu aja. Sampai ini rambut panjang dan kamu potong terus bawahnya. Nanti kan keluar lagi tuh warna aslinya.
"Lama nunggunya." ujar Ansel.
"Nanti malah kayak Cruela devil." Lanjutnya lagi.
"Cruella mah hitam putihnya kesamping, Ansel. Bukan gradasi ke bawah." seloroh Intan.
"Terus, aku gimana dong?" tanya Ansel.
"Ya kamu sendiri yang memutuskan maunya gimana. Mau dilanjut apa nggak ini bleaching?"
Intan agaknya sudah sangat gemas dengan Ansel. Ingin rasanya ia menyerahkan Ansel pada mandor setempat, untuk dijadikan tumbal proyek.
"Ya udah deh, jadi." ujar Ansel pasrah.
Intan kemudian melanjutkan hal tersebut. Ia terus memberi cream bleaching warna rambut ke kepala sang kekasih.
***
"Hoayaaa."
Arka mendengar sayup-sayup suara si kembar, ketika ia telah jauh terlelap di atas karpet bulu.
"Hoayaaa."
"Sssttt." ujar salah satu dari mereka dengan menempelkan telunjuk di bibir.
Arka merasakan dingin di wajahnya. Pemuda itu kemudian bangun dan terkejut.
"Astaga, nak. Dapat dari mana kamu ini?"
Arka melihat kaos putih yang ia kenakan sudah tercorat-coret oleh spidol permanen. Tangan dan baju anak-anaknya itu pun sudah sama banyak coretan. Seketika Arka menyadari bahwa coretan itu kini ada di sofa, di kening Nino dan si hampir seluruh wajah Rio
"Eheee." keduanya tertawa-tawa.
Arka lalu mengambil spidol tersebut dan si pemegangnya yakni Azka pun menangis. Melihat Azka menangis, Afka jadi ikut-ikutan. Karena suara mereka yang besar, akhirnya Amanda, Rio dan Nino bangun.
"Kenapa?" tanya Rio dan Nino di waktu yang nyaris bersamaan.
Dan di waktu yang sama pula mereka menyadari sekitar yang penuh coretan. Amanda turun dari atas dengan wajah yang panik.
"Kamu yang bawa mereka ke bawah, Ka?" tanya perempuan itu.
"Nggak." jawab Arka.
"Aku pikir kamu yang udah bangun dan bawa mereka kesini.
Amanda menyadari jika tadi pembatas tangga tak ada yang terpasang.
"Astaga, berarti mereka turun sendiri dong." Amanda nyaris berteriak saking syok dan khawatirnya ia.
"Kalian turun berdua?" tanya Arka pada si kembar.
"Eheee."
Keduanya tertawa-tawa.
"Kalian tau nggak itu bahaya."
Amanda memarahi keduanya dan mereka pun sontak terlihat penuh ketakutan. Mereka menangis lalu merayap dan meminta perlindungan Nino. Nino lalu menyambut kedua anak itu dan membawanya ke pangkuan.
"Nggak boleh turun tangga sendirian ya." ujar Nino pada mereka, dan keduanya hanya diam menunduk.
"Ini salah kita, Man. Bukan salah mereka." ujar Arka pada Amanda.
"Iya sih. Aku tuh cuma takut aja, Ka. Cemas tau nggak?" ujar Amanda kemudian.
Rio yang ada di tempat itu memerhatikan dengan wajah yang penuh coretan. Ryan datang dan bertanya, begitupula dengan Pamela serta Intan. Sementara Ansel tetap menjadi kebo di dalam kamar.