Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Begadang 1


Amanda terbangun dimalam hari, tiba-tiba saja ia teringat jika dirinya kini adalah seorang ibu yang memiliki dua bayi.


Ia pun beranjak, namun ia menyadari Arka tak ada disisinya. Ke toilet mungkin, pikir Amanda.


Ia pun lalu bergegas menuju ke kamar anaknya.


"Kreeek."


Amanda membuka pintu kamar si kembar secara perlahan, tiba-tiba Arka menoleh dan menempelkan jarinya di telunjuk. Ia tengah memberi susu pada salah satu bayi mereka. Amanda mendekat, ternyata Afka yang tengah diberi susu.


"Azka nggak tidur ya, Ka?" tanya Amanda seraya memperhatikan Azka yang masih terjaga.


"Tadi dia tidur, bangun, terus aku kasih susu. Nggak tau itu kenapa nggak tidur lagi, bosen kali."


"Yang ini tadi bangun belakangan?" Amanda bertanya soal Afka.


"Iya, dia bangun belakangan. Ini udah mau abis susunya, udah merem lagi."


"Raja tidur banget yang ini." ujar Amanda seraya tersenyum.


"Kayak siapa ya, Ka?" ujarnya lagi.


"Kayak kamu lah."


Amanda tertawa kecil.


"Dih, emang iya?. Kayak kamu kali."


"Enak aja, aku tuh si lokasi syuting sering begadang loh. Begadang mulu malah, apalagi kalau ada take adegan malam."


"Berarti si Azka mirip kamu tuh."


"Berarti si Afka mirip kamu."


"Ye."


"Apa?, Mau ngelak?. Mereka nangis aja, kamu nggak denger."


Amanda memalingkan wajah seraya menahan senyum.


"Aaaaa."


Tiba-tiba Azka bersuara.


"Lah, mau ikut ngomong ya?" Amanda bertanya pada Azka.


"Baru juga umur beberapa hari kamu, dek. Kayak ngerti aja." lanjutnya kemudian.


Usai meletakkan Afka ke dalam box bayi, Arka dan Amanda pun keluar dan menutup pintu kamar.


"Itu nggak apa-apa si Azka belum tidur?" tanya Amanda.


"Ntar juga kalau ngantuk, tidur sendiri." ujar Arka kemudian.


"Kamu laper nggak?" tanya Arka pada istrinya.


"Iya sih, pengen makan aku. Ada apa, Ka?. Udah abis semua ya?" tanya nya lagi.


"Aku masakin kalau mau, mau makan apa?" tanya Arka


"Apa aja deh."


"Goreng empal sama nasi, mau?"


"Emang kita punya empal?" tanya Amanda.


"Punya dong, kemaren ibu yang ngasih. Ada 1 kg siap goreng."


"Wah, ibu tau aja aku lagi pengen makan daging."


"Ya udah, aku goreng dulu ya." ujar Arka.


"Nasi ada, Ka?" tanya Amanda.


"Ada tuh, masih yang tadi."


Amanda membuka rice cooker yang berada di atas kitchen set. Ternyata nasinya masih tersisa lumayan banyak, bahkan cukup untuk 4 porsi. Arka menggoreng empal, tak lama kemudian empal tersebut pun siap untuk dimakan.


"Ayo, Ka. Makan bareng." ajak Amanda.


"Ayo." ujar Arka


Amanda pun menyiapkan nasi dan air minum untuk suaminya. Ia juga mengambil sambal dalam kemasan, karena lebih praktis dan tinggal cocol saja. Ia selalu menyiapkan sambal dalam kemasan, untuk keadaan darurat di malam hari seperti ini.


"Hmm, ibu. Enak banget sih masakannya." ujar Amanda kemudian. Ia kini telah menyuap nasi berserta lauknya.


"Aku paling suka masakan ibu itu, ini sama Sambel teri." ujar Arka.


"Aku pernah naik 10kg gara-gara ibu masak itu terus." lanjutnya lagi.


"Iya nih, padahal aku niat mau diet." ujar Amanda.


Arka tertawa.


"Kamu nggak perlu diet juga ntar kurus sendiri, soalnya bayi laki-laki itu minum susunya kuat. Bisa abis kesedot kamu, kalau nggak makan banyak."


"Iya sih, ini aja mereka banyak banget minum susunya. Untungnya ASI aku berlimpah, bersyukur banget pokoknya."


"Makanya kata aku tadi, nggak perlu diet. Pasti kurus sendiri. Paling kamu olahraga aja biar kenceng lagi badannya."


"Kamu malu ya, Ka. Liat badan aku gember begini."


"Aku sih biasa aja, kamu nya nyaman nggak, minder nggak?. Kesehatan dan bagus atau nggaknya bentuk tubuh kamu itu, berdampak sama kepuasan kamu terhadap diri sendiri loh. Buat kamu, bukan buat aku."


"Kalau kamu rajin olahraga, nanti pasti kecil lagi koq. Tapi kalau soal makan, makan aja apa yang kamu mau. Kan ada dua orang yang siap bikin kamu kurus."


Amanda tertawa, lalu melahap makanannya dengan mulut besar.


"Hap."


***


Rani terpaku ditempat duduknya, dihadapan sebuah papan board berisi rencana yang semula ia lupakan. Saat menjabat sebagai bos sementara.


Kini tak ada lagi yang bisa ia lakukan, Amanda benar-benar sudah tak memberinya apa-apa. Untung saja ia masih memiliki tabungan sebesar 200 juta, yang sempat diberikan oleh Fadly beberapa waktu lalu. Itupun sudah buru-buru ia ambil dari bank. Khawatir jika Fadly membuka suara dan menyeret namanya dalam kasus yang saat ini tengah ditindak lanjuti.


Rani takut jika dirinya tertangkap, maka ibu dan anak-anaknya akan mengalami kesulitan. Kini ia termenung, namun tentu saja bukan memikirkan dan menyesali perbuatannya terhadap Amanda. Ia sudah terlanjur membenci saudaranya itu.


Ia tak paham mengapa keberuntungan selalu berpihak pada Amanda, padahal yang paling menderita selama ini adalah dirinya. Mungkinkah keberuntungan yang dikirimkan Tuhan sering salah alamat?. Mengapa Tuhan seakan menekan dirinya yang sudah menderita sejak lama, dan malah membuatnya makin tenggelam dalam penderitaan itu sendiri.


Sedang Amanda yang sudah enak sejak kecil, malah dihadiahi keberuntungan demi keberuntungan lainnya. Kini jabatan wanita itu telah kembali, ia juga dinikahi secara resmi, bahkan melahirkan anak-anaknya dengan selamat.


Sedang Rani duduk terpaku diam dirumahnya, menghadapi kegagalan dan sejuta cemoohan dari sekitar. Apakah ini yang disebut keadilan alam semesta?. Dimana kesenangan dan kegagalan disebar luas secara tidak merata.


Apakah ini yang disebut dengan, akan indah pada waktunya?. Mengapa dirinya harus menunggu lagi agar semuanya menjadi indah?. Sementara Amanda hidupnya selalu indah.


"Hhhh."


Rani menghisap vape lalu menghembuskan asapnya ke seluruh ruangan. Sementara didalam kamar, dua anaknya tampak tengah berbincang.


"Kak Rasya, koq tante Amanda nggak pernah dateng kesini lagi ya." tanya anak Rani yang perempuan kepada kakaknya yang laki-laki.


"Kakak juga nggak tau, mungkin tante Amanda sibuk kali." jawab anak laki-laki itu.


"Mama kenapa nggak berangkat kekantor beberapa hari ini?" Sang adik kembali bertanya dan kakaknya pun kembali bingung.


"Kakak juga nggak tau, Rania. Kakak tanya ke mama, malah kakak yang dimarahi kemarin."


"Iya, mama jadi aneh ya kak. Suka marah mulu."


"Iya, kakak jadi takut sama mama."


"Rania juga kak."


***


"Kletek."


Terdengar seperti suara orang didepan teras, ibu Arka terbangun lalu membangunkan suaminya.


"Pa, bangun pa." ujarnya kemudian.


"Kenapa, bu?" ujar sang suami lagi.


"Ada suara pa, di teras."


"Suara apaan?" tanya suaminya heran.


"Kletek."


"Tuh."


Ibu dan ayah Arka beranjak, tak lama Rianti pun keluar dari kamarnya. Agaknya gadis itu juga mendengar hal yang sama.


"Denger sesuatu, bu?" tanya Rianti.


"Iya, Ti. Kamu juga denger?"


Rianti mengangguk, wajahnya kini diliputi ketakutan.


"Takutnya maling, bu." ujarnya kemudian.


Ayah Arka pun mengambil sebilah tongkat kayu, semata untuk berjaga-jaga. Karena akhir-akhir ini banyak maling yang berkeliaran di wilayah mereka. Meskipun sudah ada petugas ronda, namun tetap saja mereka harus waspada.


Ayah tiri Arka mengintip dari balik gorden, begitu juga dengan istrinya dan Rianti. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat seseorang yang bertutup kan sarung, tengah berdiri di teras yang kebetulan lampunya rusak.


"Pa maling, pa."


Ibu Arka berujar dengan suara cukup keras, hingga terduga maling itupun terkejut lalu berlari pontang-panting.


Ayah Arka membuka pintu dan hendak mengejar, namun kemudian.


"Braaaak."


Ia menyenggol sesuatu, tampak baju dan perlengkapan bayi berserakan di lantai. Ayah Arka tak jadi mengejar terduga maling tersebut, mereka semua kini fokus kepada kotak-kotak yang tersusun di teras. Ibu Arka membuka pintu lebar-lebar, lalu menghidupkan lampu ruang tamu. Cahaya lampu tersebut kini menerangi teras walau hanya sebagian.


"Hadiah dari siapa ini, bu?" tanya Rianti pada ibu Arka.


"Ibu juga nggak tau, Ti."


Ibu dan ayah Arka kini melihat ke arah depan, tak ada siapapun disana. Sementara Rianti mulai membuka kado itu satu persatu, ternyata isinya adalah perlengkapan bayi semua.


Ibu Arka bingung, namun ia kemudian membawa hadiah tersebut masuk. Sudah barang tentu ini diperuntukkan bagi bayi Arka dan juga Amanda. Mengenai siapa yang mengirim, masih abu-abu.


Ayah tiri Arka menutup pintu, usai kado-kado tersebut dibawa masuk. Disuatu sudut, dibalik tanaman. Bu Mawar dan gengnya bernafas lega.


"Bu Mawar."


"Huaaaaaa."


Bu Mawar dan geng lambe gosipnya berlari pontang-panting. Sementara petugas ronda yang bersuara tadi akhirnya kembali berujar.


"Bu Mawar kenapa ya, setiap kali saya bersuara pasti kabur."


"Suara lo setan able kali." ujar temannya kemudian."