
"Ka, makan dulu yuk." ujar Amanda pada suaminya yang kini masih sibuk menyetir mobil. Mereka sepakat untuk pergi ke gym milik om Deddy.
Meskipun agak jauh, namun mereka berharap tempat gym tersebut bisa bebas dari admin akun lambe. Mengingat pemiliknya yang kekar menyeramkan, serta selalu standby di tempat gym hampir setiap hari.
"Mau makan apa?" tanya Arka kemudian.
"Pengen makan telur gulung deh, Ka." ujar Amanda.
Arka diam dan berfikir.
"Didepan jalan situ, ada tuh. Jual telur gulung, sempol ayam dan lain-lain."
"Dimana?"
"Disitu, bentar kita lewat situ." ujar Arka. Ia pun terus fokus menyetir dan mengarah ke tempat yang di maksud.
"Oh iya." ujar Amanda ketika mereka telah sampai. Ia melihat ada outlet kekinian yang menjual berbagai aneka telur gulung, sempol ayam dan lain-lain.
"Tapi bukan yang abang-abang ya, Ka?" ujar Amanda.
"Waduh, kalau abang-abang aku nggak tau deh yang daerah sini." ujar Arka.
"Ya udah nggak apa-apa." Amanda mendekat ke arah penjual tersebut.
"Mbak, telur gulungnya ada?" tanya Amanda pada si penjual.
"Ada."
"Saya mau empat ya, sama sempolnya sepuluh ribu."
"Pake bumbu rasa apa mbak?"
"Mmm. Ka, bumbu rasa apa?" tanya Amanda pada Arka, suaminya itupun mendekat.
"Kamu pesen apa?" tanya Arka.
"Telur gulung, sama sempol."
"Oh ya udah, aku dua-duanya pake saos campur bumbu tabur barbeque."
"Emang enak dicampur gitu?" tanya Amanda.
"Beh, kamu belum pernah coba sih. Ntar nih cobain." ujar Arka. Amanda pun jadi penasaran.
Beberapa menit berlalu.
"Hmm, iya enak. Sumpah." ujar Amanda ketika pesanannya sudah jadi. Mereka kini berjalan-jalan disekitaran tempat itu sambil makan. Mereka ingin mencari kuliner lain, sebelum pergi ke gym.
"Apa ku bilang, di kampus aku ada yang jual didepan. Soalnya kan ada sekolah tuh disana. Rame banget kalau siang, sampe ngantri."
"Oh, aku nggak pernah lihat ke arah sana sih. Kalau lagi ke kampus kamu."
"Ntar deh, kalau misalkan kamu lagi nyamperin aku di kampus. Ntar kita beli, aku nggak bawain kerumah, soalnya jauh. Makanan kayak gini, kalau udah dingin nggak enak."
"Iya, amis." ujar Amanda.
"Kita kayak bocil pacaran ya, Ka." lanjutnya kemudian.
Arka tertawa.
"Jalan berdua, makan sempol ayam. Kayak drakor." Lagi dan lagi ia berujar.
"Eonnie, neomu ppali geodji maseyo."
Arka mulai berbicara dalam bahasa dan logat Korea. Ia mengatakan pada Amanda, jangan berjalan terlalu cepat.
"Dongsaeng-a, neoneun dalpaeng-icheoleom geodneunda." Amanda membalas perkataan suaminya, dengan mengatakan jika Arka berjalan seperti siput.
Lalu mereka pun tertawa-tawa.
"Oh ya, beli minum dulu deh." ujar Arka kemudian.
Mereka singgah pada sebuah warung dipinggir jalanan yang mereka lalui, dan membeli dua buah air mineral. Kebetulan makanan mereka telah habis. Amanda memang sengaja membeli sedikit, karena tujuan mereka hari ini adalah untuk pergi ke gym. Bukan menambah kadar lemak.
"Nih, minumnya." ujar Arka membukakan tutup botol, lalu menyerahkannya pada Amanda.
Amanda menerima minuman tersebut lalu mereguknya hingga setengah.
"Arka, bisa minta waktunya sebentar."
Tiba-tiba seseorang muncul dihadapan Arka dan juga Amanda. Suami istri itupun mendadak tercengang dengan mulut yang sama-sama menganga.
"Arka."
"Arka."
Muncul pula beberapa orang lainnya sambil membawa kamera serta handphone.
"Tadi perasaan nggak ada."
Arka menggamit lengan Amanda dan pada detik berikutnya.
"Byuuuuur."
Mereka pun berlari menghindar. Para admin akun lambe atau wartawan itu tak menyerah begitu saja, mereka kini mengejar Arka dan juga Amanda.
"Ka, kita kayak jambret, anjir." ujar Amanda sambil terus berlari.
"Udah kayak buronan koruptor." timpal Arka.
"Pokoknya buruan aja." lanjutnya lagi.
Mereka terus berlari, dana acap kali mereka salah jalan lalu kepergok oleh orang-orang yang mengejar mereka. Jika sudah seperti itu, Arka akan menarik istrinya ke arah lain.
Hingga kemudian gandengan tangan mereka terlepas, Amanda yang tak diketahui Arka adalah mantan pelari tercepat di sekolahnya itu pun melesat cepat. Arka yang berusaha menyusul tiba-tiba menendang kotak berisi buah, milik pedagang yang ada di pinggir jalan.
"Aaakh." Arka berteriak.
Amanda menoleh.
"Lariiii." teriak Arka kemudian. Amanda bingung, ia ingin mendekat pada suaminya. Namun para admin akun lambe dan awak media itu keburu mendekat pada Arka.
"Goooo."
Amanda pun berlari dengan sangat berat hati. Ia terus menambah kecepatan, karena kini sebagian orang tampak mengejarnya.
"Mbak Amanda." Tiba-tiba Nadine muncul dengan sebuah mobil yang dikemudikan oleh Dito, ada Fahri pula didepan.
"Nadine?"
"Buruan, mbak...!"
"Koq Lo pada bisa muncul sih, kayak di sinetron?" tanya Amanda kemudian.
"Ntar dijelasin, pokoknya naik dulu." ujar Nadine membuka pintu. Amanda pun buru-buru masuk ke dalam mobil tersebut, lalu mereka tancap gas.
Sementara ditempatnya, Arka kembali berdiri dan berlari meski tertatih. Ia terus dikejar, hingga kemudian seseorang menangkap dan menyembunyikannya di sebuah gang sempit ditengah pasar. Arka terkejut, melihat orang tersebut.
"Sssttt." ujar orang itu pada Arka.
"Nino?. Ansel?"
"Diem...!" ujar Nino tanpa suara, karena ada satu orang awak media yang mencurigai persembunyian mereka. Namun akhirnya awak media itu pun pergi.
"Huuuh." Arka menghela nafas, Ansel memberinya minum. Arka mengambil handphone dan menelpon istrinya.
"Man, kamu dimana?" tanya Arka.
"Aku udah di mobil sama Nadine, Dito dan Fahri. Udah jalan pulang, kamu gimana?"
"Ya udah kamu pulang, aku sama Ansel sama Nino sekarang. Kondisi aman."
Amanda menghela nafas.
"Oh ya udah hati-hati, Ka." ujar Amanda kemudian.
"Ok, bye. Love you." ujar Arka.
"Love you too."
Amanda menutup telpon, Arka mengatur nafas dan kembali meminum air mineralnya.
"Gila ya, itu wartawan apa kumpulan ikan teri, rame banget. Perasaan wartawan biasanya punya etika dan nggak gitu-gitu amat deh." ujar Arka kemudian.
"Jaman sekarang itu, orang gampang melabeli orang lain dan dirinya sendiri." ujar Nino.
"Pake pakaian agamis dikit, dibilang pemuka agama. Pake kebuka dikit, dibilang orang nggak bener. Ya sama kayak itu, baru kerja jadi admin akun gosip aja. Modal kamera murah atau kamera handphone, dibilang wartawan. Atau dia sendiri melabeli dirinya dengan kata wartawan. Padahal sekolah jurnalistik aja nggak." lanjutnya lagi.
"Apa nggak sebaiknya, lo ngaku aja ke publik. Mau karier lo hancur, ya hancur aja sekalian. Lo punya daddy ini." ujar Ansel, disela ketegangan Arka yang masih tersisa.
"Bener, Ka. Bener apa yang Ansel bilang, lo mau sampe kapan coba kayak gini. Gue liat bukti-bukti kebersamaan lo sama Amanda, itu udah jelas banget di sosmed. Mending lo maju, ngaku kalau lo nikah, beres." timpal Nino kemudian.
"Terserah mereka mau bereaksi kayak apa. Kalaupun lo harus bayar penalti dan duit lo kurang, lo punya gue, punya daddy." lanjut Nino lagi.
"Koq gue nggak disebut?" tanya Ansel.
"Duit lo dikit." Nino dan Arka berujar di waktu yang nyaris bersamaan, Ansel pun tertawa.
"Tau aja." ujarnya kemudian.
"Iya deh, ntar gue pikirin lagi. Gue tuh harus membicarakan hal ini terlebih dahulu sama pihak manajemen gue, gue nggak bisa ngambil keputusan sepihak. Masalahnya gue bernaung di mereka, bawa nama mereka. Bisa aja gue nggak peduli, bodo amat sama mereka. Tapi Pak Jeremy, Philip, mbak Arni. Mereka tuh baik sama gue selama ini, gue nggak bisa mikirin diri gue atau kepentingan gue sendiri. Gue bisa aja tadi teriak ke mereka dan bilang kalau Amanda itu bini gue. Cuma nanti malah tambah heboh, tau sendiri media jaman now. Yang nggak ada aja, di ada-ada in. Apa lagi yang udah ada, ditambah-tambahin pasti." ujar Arka lagi.
"Ya udah, pokoknya lo pikirin dulu. Nih, sebat dulu." Nino memberikan sebungkus rokok pada saudaranya itu. Arka mengambil sebatang, begitupula dengan Nino. Lalu mereka pun merokok bersama.