Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Untuk Amara


"Oeeek."


"Oeeek."


Amman terjaga di malam hari, ketika mendengar suara tangisan bayi. Kebetulan ia tengah menginap di apartemen Vera.


"Oeeek."


"Oeeek."


Amman ingin membangunkan Vera, namun wanita itu tidur dengan sangat lelap sekali, akibat seharian mengurus Amara.


"Oeeek."


"Oeeek."


Bayi itu terus menangis, hingga Amman pun terpaksa beranjak dan menyambangi kamarnya.


"Hey girl, what's the matter. Are you hungry?" tanya nya seraya meraih bayi itu. Namun Amara masih saja menangis dalam gendongannya.


Amman meletakkan Amara kembali ke dalam box, lalu mencoba membuka popoknya. Karena ia pernah melihat Vera melakukan hal tersebut, sepulang ia dari rumah sakit. Ketika dirumah sakit, semua ditangani oleh perawat. Jadi Amman tak pernah melihat hal semacam itu.


"Oeeek."


"Oeeek."


Amara menangis semakin kencang, Amman menemukan popok bayi itu telah penuh. Ia melepasnya dan mencari popok baru. Kebetulan Vera meletakkan popok tersebut, tak jauh dari tempat tidur Amara. Jadi Amman bisa dengan mudah menemukannya.


Pria itu mengambil salah satu isi popok. Kini ia memperhatikan, mana bagian depan dan juga belakang.


"Oeeek."


"Oeeek."


"Hey girl, kamu nggak bisa diam sebentar. Papa bingung kalau kamu terus menangis."


Amara sedikit mereda, namun air matanya masih mengalir. Amman mencoba memakaikan popok bayi padanya, namun seketika ia teringat. Jika Vera membersihkan dulu sisa kotoran, sebelum memakaikan popok yang baru.


Amman pun menarik nafas, lalu melepaskan kembali popok yang hampir terpasang itu. Ia kini celingukan mencari letak tissue basah. Setidaknya itu yang pernah ia lihat, ketika Vera membersihkan anak mereka.


"Hek."


Amara ingin mulai menangis kembali.


"Can you stop for a moment, Amara?. Pelase, don't cry."


Amman mulai mencari tissue basah dan untungnya ketemu, ia lalu membersihkan anaknya itu dan memakaikan popok yang baru. Amara kembali menangis, Amman berfikir mungkin bayi itu merasa lapar. Ia lalu pergi ke lemari pendingin dan mengambil ASI yang telah disimpan oleh Vera.


Waktu pun berlalu, Vera kemudian terbangun dan tak mendapati Amman berada disebelahnya. Mungkin di toilet, pikir Vera. Ia lalu meraih tablet yang ada di sisi tempat tidur, dan mencoba mengecek anaknya lewat kamera yang ia sambungkan ke tablet tersebut.


Dan betapa terkejutnya Vera, ketika mendapati Amman duduk di kursi sambil menyusui anak mereka dengan botol. Segera saja wanita itu beranjak, lalu menyambangi kamar Amara.


Hati Vera meleleh seketika, karena ternyata Amman tertidur sambil menggendong Amara ditangannya. ASI yang ia berikan pun telah habis, Amara juga sama terlelap seperti ayahnya.


Air mata Vera merebak di pelupuk mata, namun ia tersenyum lalu mengambil handphone dan mengabadikan momen tersebut. Ia juga mengirimkannya pada Amanda.


Amanda yang kebetulan belum tidur itupun melihat gambar tersebut, ia tersenyum sangat tipis. Namun meski begitu, ia bersyukur nasib Amara tak seperti dirinya, Nino ataupun Rani.


***


"Nino nggak mau."


Nino berujar pada Ryan sambil membuang pandangannya ke sisi kiri. Ia telah memalingkan wajahnya sejak percakapan ini berlangsung.


"Amara itu tidak berdosa, Nino. Dia saudara kamu, sama seperti Amanda dan juga Rani." Ryan masih berusaha membujuk puteranya itu.


"Nino bukan benci sama bayi itu, Nino cuma nggak mau aja. Pas dateng kesana, terus ada dia."


"Amman maksudnya?" tanya Ryan.


Nino masih memalingkan wajah, namun kali ini ia tak menjawab. Amanda yang sejak tadi diam, mulai mendekat ke arah Nino. Ia sengaja datang untuk mengajak Nino menemui Amara. Karena saat Amara lahir, Nino sudah keburu dibawa Ryan pulang dan ia jatuh sakit.


Kini saudaranya itu sudah sembuh, dan Amanda berfikir inilah saatnya mengajak Nino menemui Amara. Sekalian mengantarkan hadiah kelahiran, kepada adik bungsu mereka tersebut.


"Nin, Vera itu nggak tinggal sama papa. Dia ada di bawah apartemen daddy, satu gedung tapi beda lantai. Sedangkan papa ada di rumahnya, di perumahan Bougenville Estate."


Nino masih bungkam.


"Ya udah, kalau kamu nggak mau. Aku pergi sendiri." ujar Amanda.


Wanita itu pun beranjak dan pamit pada Ryan.


"Dad, Amanda jalan dulu ya."


"Ya sudah hati-hati, kamu nyetir sendiri?" tanya Ryan.


"Iya." jawab Amanda.


Nino menghela nafas dan ikut beranjak.


"Ya udah sini sama aku." ujarnya dengan nada sedikit gusar.


"Beneran?" tanya Amanda.


"Iya."


Nino meraih kunci mobil yang ada di tangan Amanda, lalu beranjak menuju pintu depan.


"Mau dad, tapi caranya gitu." ujar Amanda seraya tertawa.


Ryan tersenyum.


"Nino itu, memang selalu seperti anak kecil. Karena dia kehilangan seluruh masa kecilnya."


Amanda menatap Ryan.


"Thank you for loving my brother, dad."


"And thank you for loving my son."


Amanda dan Ryan sama-sama tersenyum


"Hati-hati."


"Bye, dad."


"Bye Amanda."


Amanda menyusul Nino ke dalam mobil, mereka pergi menyambangi kediaman Vera. Sesampainya disana, mereka berdua disambut baik oleh wanita itu. Ia sangat senang dengan kedatangan Amanda dan juga Nino.


"Nih, ini Amara."


Vera mengeluarkan anaknya dan menyerahkannya pada Nino, karena Amanda sendiri sudah berapa kali melihat bayi itu. Nino lah yang belum pernah melihatnya sama sekali.


Nino menyambut bayi itu dan menggendongnya, namun kemudian ia bingung.


"Amanda, ini bayi mau diapain?" ujarnya pada Amanda.


"Tepungin, Nin. Celupin telor, tepungin lagi."


Nino mengerutkan kening seraya menatap Amanda.


"Ayam Krispi?" tanyanya kemudian.


Amanda menahan tawa.


"Ya nggak di apa-apain, Nino. Gendong aja, udah."


"Ya aku bingung kalau sekecil ini, segede Azka sama Afka kan enak gendongnya. Nggak takut."


Amanda tertawa.


"Yang penting nggak kamu gencet aja." ujar Amanda.


"Nih minum dulu."


Vera menyediakan dua gelas minuman dingin pada Amanda dan juga Nino, berikut beberapa makanan kecil.


"Amara di gendong siapa itu?. Digendong kakak Nino ya?" tanya Vera pada puterinya. Bayi itu hanya menatap sambil berkedip. Ia lalu kembali menatap Nino, sementara Nino kini tersenyum kecil kepadanya.


Mereka pun lalu berbincang untuk beberapa saat. Obrolan didominasi oleh topik seputar parenting dan bagaimana cara mengurus bayi. Sedang Nino lebih banyak diam sambil memperhatikan Amara.


Tak lama bayi itu terlelap, ia dibawa ke kamar oleh Vera. Amanda dan Nino merasa kunjungan mereka telah cukup. Hadiah berupa stroller dan beberapa perlengkapan bayi lainnya, telah di berikan Amanda sejak kedatangan pertama mereka tadi. Kini keduanya pamit untuk pulang.


"Nanti main kesini lagi ya." ujar Vera.


Amanda mengangguk.


"Kalau anak-anak lagi nggak rewel." ujarnya kemudian. Mereka kini bergerak ke arah pintu.


"Braak."


Tiba-tiba pintu tersebut terbuka. Amanda dan Nino terkejut dengan kehadiran Amman, dan begitupula sebaliknya. Amman tak menyangka akan bertemu kedua anaknya tersebut di sana, terlebih Nino.


"Nino." Amman berujar tanpa sadar.


Namun Nino hanya menatapnya sejenak, lalu berlalu begitu saja.


"Kami pulang." ujar Amanda seraya memberi tatapan kepada Vera dan juga Amman sejenak. Lalu ia pun pergi menyusul Nino, menuju ke arah lift.


"Kamu mau minum?" tanya Vera pada Amman.


Pria itu mengangguk, Vera segera pergi ke belakang. Namun Amman kini menyeka air matanya, tanpa diketahui oleh Vera. Sementara di mobil, wajah Nino berubah. Ia terlihat lesu dan juga kesal. Ia kini menghidupkan mesin tanpa berbicara sepatah kata pun. Lalu mobil pun mulai merayap meninggalkan pelataran parkir apartemen.


"Nin, kamu marah?" tanya Amanda.


"Nino tak menjawab."


"Nin, aku nggak tau kalau dia mau datang. Kamu pikir aku peramal, bisa tau dia datang kapan."


Nino menghentikan mobilnya di bahu jalan.


"Hhhh."


Nino menghela nafas, Kedua matanya tertunduk pada setir kemudi.


"Aku nggak mau ketemu dia." ujarnya kemudian.


Kali ini gantian Amanda yang menghela nafas.


"Aku minta maaf, aku bener-bener nggak tau dan nggak menyangka dia akan datang."


Nino masih diam.


"Nin."


"Gara-gara dia aku lahir, dan gara-gara dia juga aku dibuang oleh ibuku. Karena aku nggak diinginkan."


Lagi-Lagi Amanda menghela nafas.


"Aku tau kamu menderita bertahun-tahun, bahkan mungkin luka itu masih kamu simpan sampai saat ini. Aku minta maaf atas apa yang kamu alami, saat dulu kamu tinggal dengan orang tua angkat kamu. Tapi aku juga sama menderita, Nin."


"Kamu masih punya ibu yang sayang sama kamu, sama seperti Rani. Tapi ibuku membuang aku."


Amanda mengangguk.


"Ya, aku lebih beruntung daripada kamu soal itu. Tapi aku juga butuh ayah, yang sepanjang hidup aku dia nggak pernah ada. Aku memang punya ibu yang sayang sama aku, tapi ibuku disakiti didepan mataku sendiri oleh dia. Rani juga harus mendengarkan dan dipaksa mengerti kondisi mental ibunya selama bertahun-tahun. Masing-masing dari kita punya kesakitannya sendiri. Mungkin ibu kandung kamu menolak kamu, tapi apa kamu lupa. Kamu punya mendiang ibunya Ansel dan daddy, yang menyayangi kamu sepenuh hati."


Kali ini Nino menoleh pada Amanda.


"Semua sudah tergantikan lewat mereka berdua, Nin. Apa yang tidak pernah kamu dapatkan selama kurang lebih 17 tahun hidup kamu saat itu, digantikan oleh mereka sampai saat ini. Apa itu nggak cukup."


Nino tersentak dan masih menatap Amanda.


"Daddy menyayangi kamu seperti anak kandungnya sendiri. Dia bisa dengan mudah marah terhadap Ansel, tapi nggak dengan kamu. Bahkan mungkin daddy lebih sayang ke kamu ketimbang sama Arka ataupun Ansel."


Amanda meraih tangan Nino dan menggenggamnya dengan erat, sementara matanya masih menatap Nino dalam-dalam.


"Hidup memang akan selalu terasa tidak adil, tapi kalau kita jeli melihat. Semua bagian yang hilang dari diri kita, sudah terganti dengan hal lain yang lebih besar. Kalau misalkan hidup kamu lurus aja, papa menikah sama ibu kamu. Mereka saling cinta kemudian melahirkan kamu. Belum tentu kasih sayang yang mereka berikan, bisa sebesar kasih sayang yang diberikan daddy dan istrinya. Kita ditempatkan di tempat semestinya, dengan kisah perjalanan yang berbeda-beda."


Nino kembali menjatuhkan pandangannya kebawah, sejenak ia dan Amanda terdiam dalam hening.