
Arka masih terdiam ditempat duduknya, ketika Amanda keluar dari dalam lift pribadi dan masuk ke ruangan itu. Ia tak menyadari kehadiran Amanda.
"Ka."
Amanda menyapa sang suami, namun tak ada jawaban. Arka masih terpaku ditempatnya.
"Misi, paket."
Teriak Amanda ditelinga Arka, hingga membuat laki-laki itu terlonjak kaget.
"Man, kamu udah pulang?" tanyanya kemudian.
"Nggak, ini fatamorgana." ujar Amanda sewot.
Arka pun tertawa kecil, disela-sela kecemasan yang masih melandanya. Ia terus terpikir akan permintaan sang ibu, yang menyuruhnya untuk membawa Amanda ke rumah. Arka beranjak lalu mencium kening istrinya itu.
"Kamu baik-baik aja, kan hari ini?" tanya Arka pada Amanda.
"Baik, kamu sendiri?. Masih ngerasa nggak enak badan nggak?"
Amanda balik bertanya seraya memperhatikan Arka. Arka menggeleng lalu memeluk Amanda. Seakan mencari sandaran untuk sesuatu.
"Ka, kamu kenapa?"
Amanda agaknya curiga dengan keadaan Arka. Pemuda itu menggeleng, berusaha berakting jika dirinya tengah baik-baik saja. Mungkin di lokasi syuting semua itu akan berhasil, namun tidak dihadapan Amanda. Mata Arka tak bisa berbohong pada wanita itu.
"Cerita sama aku ada apa." ujar Amanda melepaskan pelukan, lalu menatap Arka. Arka diam, ia berfikir apakah harus jujur atau tidak mengenai hal ini.
"Ka, kita ini suami-istri loh. Kita harus belajar jujur satu sama lain." ujar Amanda.
Arka menghela nafas.
"Ibu Aku udah tau soal kita, Man." tukasnya sambil menatap Amanda. Tampak wanita itu terkejut sekaligus cemas.
"Terus." Amanda baru menyadari ada memar di pipi Arka.
"Ini kenapa, Ka?" tanyanya panik, seraya memperhatikan setiap jengkal wajah suaminya itu.
"Ibu." jawab Arka lalu menunduk.
Ada kesedihan yang tiba-tiba merebak di wajah Arka. Amanda pun merasa iba, dipeluknya pemuda itu sekali lagi dengan erat.
"Maafin aku ya, Ka. Ini semua salah aku, aku yang bawa kamu kedalam masalah ini."
"Nggak ada yang perlu disalahkan, Man. Aku juga mau melakukannya, dan sekarang aku mencintai kamu."
Amanda makin mempererat pelukannya.
"Ibu mau kamu datang."
Pelukan Amanda melemah, kini Arka yang melepaskan dan gantian menatap wanita itu.
"Kalau aku kesana, nanti aku harus ngomong apa Ka?"
"Kamu nggak perlu ngomong apa-apa, aku udah jelasin semuanya. Yang perlu kamu lakukan cuma datang. Ibuku cuma mau melihat menantu dan calon cucunya."
Amanda menghela nafas lalu menunduk, jujur Ia benar-benar bingung kali ini. Sementara disebuah tempat Maureen tengah berteriak kegirangan.
"Yes, yes, yes. Gue ditransfer 20 juta." ujarnya seraya merebahkan diri ke atas tempat tidur dan menggoyangkan kedua kakinya.
"Yeyeyeye, dua puluh juta." lanjutnya kemudian.
Chanti dan Widya yang tengah duduk dilantai kost sambil memakan asinan tersebut pun, memperhatikan Maureen.
"Girang amat bu, siapa yang ngirim duit?" tanya Chanti kemudian.
"Nino dong." ujar Maureen sambil terus tersenyum.
"Cowok yang waktu itu?" tanya Widya.
"Iya." jawab Maureen masih sumringah.
"Bukannya kata lo waktu itu, dia udah ghosting ya?" tanya Chanti lagi.
"Iya, tapi gue kirim WA. Gue bilang kalau gue hamil, hahaha."
"Terus?" tanya Widya seraya mengerutkan dahi.
"Dia ngira gue hamil beneran. Dan dia bilang dia akan tanggung jawab."
"Terus lo jawab apa?" tanya Chanti.
"Gue bilang, gue terima pertanggungjawaban dia. Tapi gue nggak mau nikah, kasih aja tanggung jawab lain. Dan dia bilang kalau dia bakal kasih gue duit, sampai gue lahiran nanti."
"Lah terus nanti, kalau dia nanyain anaknya gimana?" Lagi-lagi Chanti bertanya.
"Tinggal gue bilang aja mati pas lahir, gampang kan?. Yang penting duitnya ngalir selama sembilan bulan ke depan."
Chanti dan Widya saling menatap.
"Ya udah deh, gue mau bayar cicilan mobil dulu sekalian shopping. Bye." Maureen beranjak..
"Bayarin asinan gue sama Widyaaa." teriak Chanti.
"Iyaaa." jawab Maureen sambil berteriak pula.
Maureen meninggalkan mereka begitu saja. Tak lama Chanti pun memutar kembali percakapan dengan Maureen di handphonenya.
"Lo rekam, Chan?" tanya Widya tak percaya.
"Iya, kali aja berguna."
Detik berikutnya kedua sahabat itu, tersenyum jahat.
***
Ibu Arka bingung perihal apa yang harus ia katakan. Namun tiba-tiba gadis itu datang dan mengatakan jika ia ingin di kosan saja. Lagipula ia akan mulai bekerja kembali pada keesokan hari.
"Beneran, kamu nggak apa-apa Liana?" tanya Ibu Arka kepada Liana, yang saat ini tengah ditunggui oleh Rio.
"Iya bu, lagian saya juga juga harus masuk kerja. Terima kasih atas kebaikan ibu sekeluarga, saya akan sering-sering mampir kesini."
"Iya, nak. Kapanpun kamu mau datang, ibu selalu menerima. Kalau pintu terkunci berarti ibu di pasar."
Liana tersenyum begitu pula dengan ibu Arka.
"Iya, bu." ujar Liana kemudian.
Tak lama ia pun berpamitan, ibu Arka melepas gadis itu dengan penuh haru.
"Mas mu ini Ti, Ti. Sukanya mempermainkan anak orang. Sudah ada Amanda, masih saja mendekati Liana. Ibu kasihan sama Liana."
"Iya, bu. Semoga mbak Liana dapat yang lebih baik dari mas Arka." ucap Rianti.
"Iya, kamu bantu ibu ya. Siapa tau mas mu sama istrinya bisa dateng hari ini. Kita beresin rumah dan masak-masak."
"Iya, bu." jawab Rianti.
***
Sementara di penthouse.
Amanda mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia mengunci pintu dan berfikir, tentang apa yang harus ia lakukan.
"Duh, gimana ini?" ujarnya kemudian.
Ia masih terus mondar-mandir, sampai akhirnya ia pun memiliki ide untuk menelpon Nindya.
"Kemana aja, bu?" tanya Nindya di telpon. Ketika akhirnya ia mendengar suara Amanda.
"Duh Nind, sorry. Beberapa waktu belakangan ini gue sibuk banget, emang Rani nggak cerita?"
"Kagak, udah lama juga gue nggak chat sama dia. Gue pikir kalian semua.udah lupa sama gue." Seloroh Nindya.
"Kagak, masa iya lupa."
"Eh gimana bayi lo?" tanya Nindya lagi.
"Ada, kembar Nind."
"Serius lu, Man?" Nindya terperangah.
"Iya, lo liat kan penampakan perut gue yang nggak wajar."
"Eh seriusan?" tanya Nindya lagi. Ia merasa surprise sekaligus masih tak percaya.
"Iya Nind, ada dua. Perut gue udah kayak 8 bulan tau nggak."
"Lo nggak ada masalah kan sama Arka?"
"Kagak, masalahnya itu sekarang di nyokapnya. Nyokapnya tau kalau gue dihamili Arka."
"Terus gimana dong?" tanya Nindya panik.
"Ini nih yang gue bingung, si Arka tuh diamuk ibunya. Sekarang dia nyuruh Arka bawa gue kerumahnya."
"Eh jangan ngadi-ngadi ya, ntar kalau lo dianiaya gimana?"
"Makanya itu gue takut, kalau nggak hamil mah bisa ngelawan. Tapi nggak enak juga sama si Arka, masa ibunya berantem sama gue."
"Duh gimana ya?" ujar Nindya lagi.
"Lo nggak ada saran, Nind?" tanya Amanda.
"Lo lagi dimana ini?" Nindya balik bertanya.
"Diruang kerja gue."
"Dirumah?"
"Iya, gue kunci. Lagi pengen mikir gue."
"Si Arka di luar emangnya?"
"Dikamar dia."
"Gimana ya?. Kalau kata gue sih, lo lebih baik datengin aja mertua lo. Kalau dia mau celakain lo sama anak lo, nggak mungkin Arka diem aja. Percaya sama gue."
"Iya sih, tapi gue males ribut aja."
"Lo yang mulai, maka lo juga yang harus menyelesaikan.Man. Nggak apa-apa, jadi dewasa aja. Hadapi apapun itu."
Amanda terus mendengarkan saran dari Nindya, hingga akhirnya ia pun keluar dari ruangan itu dan menemui Arka.
"Ka."
"Ya."
"Aku bersedia menemui orang tua kamu." ujarnya kemudian.
Arka pun tersenyum lalu mendekat. Detik berikutnya mereka saling berpelukan.
"Makasih ya, Man."
"Sama-sama." tukas Amanda kemudian.
"Besok kita kesana." ujar Arka.
Amanda pun lalu mengangguk, detik berikutnya mereka kembali berpelukan.