Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Cinta itu Cinta


"Buuuk."


Arka membanting tubuh Rio ke atas matras judo. Lalu mereka kembali bergumul dan saling menyerang satu sama lain.


Sudah hampir satu jam mereka melakukan ini. Arka menyerang Rio, Rio menyerang Arka. Seolah mereka tengah berada salam sebuah kompetisi.


"Buuuk."


"Buuuk."


Lagi-lagi Arka menjatuhkan Rio. Sampai kemudian Rio bangkit dan membalas.


"Buuuk."


Ia menjatuhkan tubuh Arka, Arka berusaha bangkit dan melawan.


"Buuuk."


Arka membanting Rio, namun Rio dengan cepat melawan lalu,


"Buuuk."


Ia berhasil menjatuhkan Arka dan mengunci pergerakan. Hingga akhirnya sahabatnya itu menyerah dan kalah. Mereka pun menyudahi permainan dengan keringat yang mengucur deras.


"Sekarang semua omongan Doni terbukti, kan?" ujar Rio pada Arka, yang kini masih duduk sambil bersandar didinding tempat latihan. Arka tak menjawab, ia hanya diam dan berusaha mengatur nafas.


"Nino tau soal lo?" tanya Rio.


Arka menggeleng. Karena bahkan ia tidak tau, apakah Amanda jujur atau tidak soal pernikahan kontrak mereka kepada Nino.


"Lo maunya sekarang gimana?" tanya Rio.


"Gue mau Amanda, gue cinta sama dia." jawab Arka.


Kali ini Rio menatap dalam ke mata sahabatnya itu.


"Lo serius, Ka?" tanya Rio tak percaya.


"Lo beneran cinta gitu sama Amanda?" tanya nya lagi.


Arka mengangguk. Kali ini ia balas menatap Rio, sebagai tanda jika ucapannya benar-benar dari hati. Rio menghela nafas sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ok, kalau emang lo cinta sama Amanda. Mulai hari ini lo harus berjuang. Apapun yang terjadi, lo nggak boleh kalah."


Arka menatap Rio, ia seperti mendapatkan nyala apinya kembali saat ini. Rio kemudian memberikan nasehat serta rencana pada sahabatnya itu. Kesedihan Arka pun jauh lebih berkurang. Ia sadar betapa apa yang disampaikan Rio kali ini, haruslah ia realisasikan.


Ia tak bisa diam saja membiarkan wanita yang kini tengah mengandung anaknya, berlabuh ke pelukan pria lain. Ia harus bangkit dan merebut apa yang menjadi haknya sebagai suami.


***


Sementara disebuah kamar kost-kost an, Liana tampak duduk sambil memandangi bunga pemberian Arka yang ia letakkan di atas meja di samping tempat tidurnya.


Ia mulai mengingat saat pertama kali bertemu pemuda itu, saat ia ditugaskan Amanda untuk melamar Arka. Agar Arka mau menjadi suami siri Amanda.


Liana menghempaskan diri keatas tempat tidur sambil senyum-senyum sendiri. Ia ingat betapa Arka sangat sewot padanya saat itu. Namun jika di ingat-ingat kembali, kejadian itu lucu juga. Arka memang memiliki pesona yang sulit ditolak.


Ia berperawakan tinggi, dengan tubuh atletis, kulit semi coklat yang menawan, serta aura sexy yang membuat hati siapapun bergetar bila melihatnya. Caranya berbicara, berjalan, cara ia menatap orang lain.


"Ah."


Liana mengkhayalkan Arka kini ada tepat di atas tubuhnya, menatapnya dengan penuh kasih serta gairah. Perlahan Liana mulai menggunakan tangannya sendiri. Ia menyentuh bagian-bagian sensitif miliknya sendiri, sambil meneriakkan nama Arka.


"Arkaaa."


"Hmmh."


Liana terus memberikan kenikmatan pada tubuhnya, ia berteriak-teriak seakan itu semua memang benar dilakukan oleh Arka. Ia terus berusaha menggapai kepuasan. Hingga kemudian beberapa saat berlalu, ia terhempas dengan tubuh terkulai lemas.


"Arkaaa." Liana memejamkan matanya seraya tersenyum.


***


Di depan gedung kantor.


"Amanda."


Nino tersenyum ketika matanya bertemu dengan mata Amanda dan begitupun sebaliknya. Amanda yang semula diam kini tiba-tiba sumringah, hatinya bergetar hebat.


"Nino." ujarnya penuh semangat. Lalu kemudian mereka saling berpelukan.


"Hallo." ujar Nino mengelus dan memperhatikan perut Amanda. Sementara Amanda masih tersenyum.


"Kamu udah makan siang, Man?" tanya Nino kemudian.


"Belum, kamu?" Amanda balik bertanya.


Nino menggeleng.


"Oh ya, by the way kamu sengaja kesini?"


"Kalau iya, kenapa?" tanya Nino seraya menatap Amanda. Sementara yang ditatap jadi salah tingkah. Ia tersenyum lalu membuang pandangannya.


"Makan siang bareng, yuk." ajak Nino kemudian.


Amanda pun mengangguk, mereka lalu pergi ke sebuah resto yang terletak disisi gedung kantor sebelah kiri. Kebetulan itu adalah jam makan siang.


"Siapa tuh, yang lagi sama bu Amanda."


Mata Intan si ratu gosip kantor bergerak cepat. Ketika ia tanpa sengaja mendapati Amanda dan Nino yang tengah duduk sambil menikmati makan siang. Tak lama Satya dan Deni beserta dua lainnya lagi, tampak mengikuti arah pandangan mata Intan.


"Waduh, siapa lagi tuh?" ujar Deni sewot. Ia telah menemukan keberadaan Amanda, begitu pula dengan yang lainnya.


"Ganteng juga lagi." timpal Satya tak kalah sewot.


"Kalah saingan dua kali ini mah." lanjutnya lagi.


"Yang ini dewasa, ganteng, mirip Joe pemeran sub zero tapi versi agak bule." ujar intan.


"Sub zero siapanya sub bab, Tan?" tanya Farah yang ada di belakangnya.


"Hero, mortal kombat. Bukan sub bab judul karangan atau jurnal." ujar intan sewot.


"Relasi bu Amanda kali." celetuk Mita yang berdiri disisi Satya.


"Mita, masa iya relasi menatapnya gitu banget. Relasi apaan itu?. Relasi di ranjang?" seloroh Intan.


"Intan, lu mah mulutnya." ujar Farah.


Mereka terus mengintai dan memperhatikan Amanda. Tanpa mereka sadari jika kini Rani pun mengintip Amanda, dari tempat yang tak jauh dari sana.


"Nin, inget nggak dia siapa?" Amanda sengaja menelpon Nindya, ketika acara makan berat telah usai. Kini ia dan Nino menikmati minuman serta pencuci mulut.


"Ya ampun, Nino?. Itu Nino?" tanya Nindya tak percaya. Ia syok melihat teman masa lalu Amanda tersebut, kini berada di sisi Amanda. Setelah bertahun-tahun menghilang dan tak ada kabar.


"Man, ini Nino yang dulu kalau setiap ketemu kita pasti hujan kan?" tanya Nindya lagi.


"Iya, Nin. Ini Nino."


"Yang kita ledekin dewa hujan."


"Iya." Amanda setengah tertawa, namun Nino tertawa lepas.


"Jadi gue dikatain nih, selama ini?" ujarnya kemudian.


"Iya, Amanda bilang lo anak dewa petir lah, pawang hujan lah, dulu. Karena rumah lo nggak jelas dimana. Tiap lo muncul, pasti hujan." ujar Nindya.


Lagi-lagi Nino tertawa.


"Ya ampun, Nino. Lo kemana aja sih selama ini?. Amanda sampe mau gila loh, nyariin lo. Tiap hari ke kota tua nungguin lo. Terus nangis, karena lo nggak ada. Bertahun-tahun dia berusaha nyariin lo."


Nino terdiam menatap Amanda. Ia tak menyangka kepergiannya waktu itu memberi luka yang sangat dalam bagi wanita itu.


"Gue tinggal di Jerman selama ini, Nin." ujar Nino pada Nindya.


"Hah, koq bisa?"


Nino pun lalu bercerita panjang lebar mengenai seperti apa kejadian waktu itu. Nindya pun akhirnya mengerti.


"Yang penting sekarang hidup lo udah jauh lebih baik, Nin. Gue bahagia buat lo dan gue seneng lo masih hidup." ujar Nindya dengan mata berkaca-kaca. Begitupula dengan Nino.


"Man, Arka mana?" tanya Nindya ketika obrolannya dengan Nino telah selesai.


Pertanyaan tersebut didengar oleh Nino dan Nino pun seketika menatap Amanda. Membuat Amanda merasa tak enak, lalu menonaktifkan mode loud speaker di handphonenya.


"Bentar ya, Nin." ujar Amanda pada Nino. Nino pun mengangguk, Amanda menjauh untuk berbicara dengan Nindya.


"Nin, jangan tanyain Arka didepan Nino. Nggak enak gue." ujar Amanda dengan nada sedikit takut bercampur kesal.


"Emang kenapa?. Lo nggak bilang kalau udah nikah?. Kan lo udah hamil sekarang, nggak mungkin lo tutupin juga kan perut lo dari matanya Nino."


"Gue bilang ke dia. Tapi masalahnya dia mau nunggu sampe gue pisah sama Arka. Dia udah ngelamar gue, Nin."


"Astaga Amanda, serius lo?. Berarti lo lagi selingkuh dong ini?"


"Gue nggak selingkuh, gue nggak ngapa-ngapain juga sama dia. Lagian kan gue sama Arka emang nikah kontrak, suatu saat pasti berakhir."


"Tapi tetep aja, lo ngelakuin ini semua dibelakang Arka. Lo itu masih istri Arka loh, Man. Dosa tau lo selingkuh."


"Nin, udah deh. Ntar gue telpon lagi ya, gue makan dulu. Bye."


Amanda menutup telponnya secara terburu-buru, ia pun lalu kembali ke meja.


"Nindya ngomong apa?" tanya Nino penasaran.


"Mmm, nggak ada koq. Cuma ya, urusan perempuan." Amanda berdusta.


"Oh." ujar Nino singkat.


Ia lalu mengambil dessert dan menyuapkannya pada Amanda. Amanda lalu menerima semua itu dengan gembira.