Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kecemburuan Amanda


Beberapa hari berlalu, Amanda dan Arka semakin dekat dalam suasana yang baru. Yakni suasana sepasang suami istri yang dipenuhi cinta. Mereka bahkan telah lupa jika mereka masih terikat kontrak. Hari-hari yang mereka lalui kini adalah hari-hari yang menyenangkan.


Hari ini saja misalnya, mereka menghabiskan weekend untuk belanja dan memasak bersama. Mereka membuat spaghetti brulee, beberapa potong roti dan juga cake. Meski keduanya tak begitu pandai memasak, namun mereka dipandu oleh YouTube.


Mereka tertawa-tawa ketika salah memasukkan bahan dan harus mengulang dari awal. Namun untuk hasil, tak ada satupun dari masakan mereka yang mengecewakan. Semuanya jadi dengan rasa yang mudah-mudahan bisa memanjakan lidah.


"Yeaaay, semuanya jadi."


Keduanya kini high five lalu berpelukan, sebagai tanda terima kasih atas kerjasama yang baik. Meskipun kini dapur mereka sangat berantakan. Mereka pun hanya bisa mentertawakan semua itu.


Mereka mencuci piring kotor secara bersama-sama. Untung saja mereka memiliki robot penyapu dan pengepel lantai berbentuk bulat pipih. Yang mereka biarkan berjalan kesana kemari untuk membersihkan rumah. Jadi meskipun banyak yang harus ditangani, mereka sedikit terbantu dengan adanya benda tersebut.


Meski Amanda memiliki banyak maid dirumah satunya, namun ia lebih menyukai suasana seperti ini. Dimana kerjasama dan kedekatan antar suami-istri bisa terjalin dengan baik.


Usai membersihkan rumah dan mandi, keduanya kini sudah duduk di meja makan. Sambil menikmati makanan yang tadi sudah mereka buat dengan susah payah.


"Ka, ini buat kamu."


Amanda menyerahkan satu piring spaghetti brulee dengan porsi kecil pada Arka. Ia pun mengambil dengan porsi kecil pula. Mereka hendak mencoba dulu, takut kalau rasanya tidak enak. Namun ternyata setelah dicoba, makanan tersebut ternyata sangat enak.


lalu mereka pun lanjut makan dengan binal.


"Ini enak banget." ujar Arka pada Amanda.


"Iya, aku nggak nyangka bakalan seenak ini. Padahal tadi kita ada yang salah masukin bahan." ujar Amanda.


Arka tertawa dan lanjut makan.


"Cobain garlic bread Korean nya deh, Ka." Amanda menyodorkan Korean garlic bread buatannya, pada Arka.


"Double carbo nih, ceritanya." ujar Arka.


"Udeh nggak apa-apa, mau double kek, triple kek. Tinggal olahraga lagi aja yang banyak, yang penting enak dulu."


Arka menyerah, ia menerima godaan roti keju tersebut.


"Kamu nih biangnya, awas aja sampe berat badan aku naik." ujar Arka lagi.


Amanda tertawa, ia tau jika suaminya itu sangat menjaga badan serta penampilan. Ia juga tak pernah absen untuk pergi ke gym setiap hari.


"Udah makan aja, ntar besok kamu nge-gym seharian full."


"Besok aku ada jadwal pemotretan untuk majalah olahraga."


"Oh, jam berapa?" tanya Amanda.


"Sore jam 4, mau ikut?"


"Emangnya boleh, aku ikut?"


"Ya boleh dong, lagian juga aku ngambil kerjaan itu bukan dari agency. Jadi orang manajemen nggak akan tau kalau aku pergi bareng kamu."


"Emangnya agency kamu itu nggak boleh punya pasangan, ya?"


"Nggak boleh, mereka kan manfaatin antusiasme netizen yang rata-rata anak SMP, SMA. Biar aktor-aktris asuhannya cepet dapet followers. Semakin terkenal, semakin banyak job yang dateng, semakin untung pula mereka."


"Oh gitu, udah kayak di Korea aja. Idolnya nggak boleh punya pasangan."


Arka tertawa.


"Mau ikut nggak besok." tanya Arka lagi.


"Hmm, liat besok deh. Kalau nggak banyak kerjaan, lagian aku juga takut ganggu. Takut kamunya nggak konsen gitu."


"Iya sih, aku kalau ngeliat kamu bawaannya tegang mulu."


"Tuh kan kamu mah, mesum otaknya."


"Dih, siapa yang mesum. Tegang itu bisa berarti grogi, Amanda. Nggak melulu kearah sana. Pikiran kamu tuh yang mesum."


Amanda lalu nyengir dan melahap kembali makanannya.


"Malu tuh sama anak, dia denger tau omongan ibunya."


Amanda makin terkekeh.


Esok harinya, di kampus tempat dimana Amanda biasa mengajar. Nadine yang tidak terbiasa berdandan, tiba-tiba saja ngampus dengan menggunakan makeup. Bajunya yang biasa asal pakai, kini terlihat lebih rapi dan modis. Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan dari teman-temannya, yakni Viona, Dito dan juga Fahri.


"Mimpi ape lu dandan begini, Nad?" Fahri memperhatikan Nadine dari atas hingga ke bawah. Sementara yang diperhatikan tampak mengibaskan rambut badainya.


"Wangi bener, kayak kuburan baru." celetuk Dito.


"Eh ngiri aja lu, nganan sono. Jangan ngiri mulu, ntar nabrak." ujar Nadine.


"Enak aja ngiri, lu kata gue mau dandan juga." Fahri sewot.


"Melambai dong eke." Dito melambai-lambaikan tangannya yang mendadak lentik.


"Tapi gue suka sih, Nad." ujar Viona kemudian.


"Cantik kan gue?. Kayak eonnie, kamu cantik yappeo." ujar Nadine menirukan gaya bicara khas wanita Korea, yang sering ia lihat di drakor.


"Tapi lo dandan dalam rangka apa sih?" tanya Viona penasaran.


"Dalam rangka, mmm. Nggak ada rangka apa-apa sih, cuma pengen aja."


Seketika dosen baru nan tampan yang diincar Nadine pun melintas.


"Tunggu disini ya gaes."


Nadine berlarian ke arah dosen tersebut, sementara Viona dan dua temannya yang lain kini bersitatap.


"Kagak dalam rangka apa-apa, gaes." ujar Viona seraya melebarkan bibir sampai kuping.


"Pak Zio, Pak Ziooo."


Nadine menghentikan langkah dosennya.


"Kalau aku panggil pak Zio, boleh?. Biar beda aja gitu dari yang lain." Nadine senyum-senyum sendiri lalu membuang tatapannya, sementara kini Nino kembali berjalan.


"Pak, pak, pak, tungguin dong pak. Jangan gitu, nggak baik loh nolak rejeki bagus kayak saya."


Nino hanya melangkah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Nadine terus mengekor dan berbicara banyak hal. Meskipun sangat sedikit mendapat respon. Karena Nino hanya diam mendengar celotehan mahasiswi itu.


Tepat pada pukul 4 sore, Arka sudah berada di lokasi pemotretan. Meskipun ia sudah datang tepat waktu, namun ada pergantian set lokasi oleh bagian properti. Karena set sebelumnya tidak begitu disukai oleh pihak majalah yang mengadakan event. Jadilah Arka pun menunggu, sambil video call dengan Amanda yang kini masih berada dikantor.


"Jadi masih lama mulainya?" ujar Amanda.


"Iya, masih satu atau dua jam an lagi kayaknya "


"Ya udah kamu sabar ya, namanya juga kerja."


"Iya." jawab Arka.


"Kamu masih banyak kerjaan dikantor?" tanya Arka kemudian.


"Udah nggak, bentar lagi mau pulang."


"Nggak mau kesini?" tanya Arka lagi.


"Hmm, gimana ya. Mager aku."


"Capek kamu ya?"


"Iya, Ka."


"Ya udah, nanti pulang langsung istirahat ya."


"Iya, eh mau liat dong lokasinya."


Arka pun mengarahkan kameranya ke sekitar. Awalnya biasa saja, sampai kemudian.


"Tunggu-tunggu, coba geser lagi kameranya ketempat tadi." ujar Amanda.


Kali ini nada bicaranya seperti hendak marah. Arka yang bingung, menuruti saja keinginan istrinya itu. Ia kembali mengarahkan kamera handphone ketempat sebelumnya.


"Itu, Bianca kan?" ujar Amanda setengah marah.


"Iya, emangnya kenapa?" tanya Arka heran.


"Set lokasi kamu dimana?"


"Kenapa emangnya."


"Shareloc ke WA aku, sekarang."


Amanda menutup saluran telponnya. Karena bingung dan tak mengerti, Arka pun menuruti saja apa yang menjadi keinginan Amanda. Ia mengirim lokasi pemotretan tersebut kepada istrinya itu.


Tak butuh waktu lama, Amanda sudah terlihat di lokasi. Saat itu Bianca berada persis tak jauh dari Arka. Bianca hendak menghampiri Arka, ketika Amanda secara serta merta mendahului lalu memeluk suaminya itu didepan beberapa orang. Bianca pun tak jadi mendekat, Amanda merasa dirinya menang saat itu.


"Kamu katanya tadi capek?" ujar Arka.


"Nggak jadi." ujar Amanda seraya memperhatikan Bianca yang kini mengobrol dengan kru.


Arka sendiri agaknya mulai mengerti, jika istrinya yang tengah hamil itu cemburu pada Bianca. Ia hanya menahan senyum, ketika Amanda berusaha membuat hati Bianca panas. Amanda terus glendotan di bahu suaminya dan meminta hal macam-macam. Seperti minta diambilkan minum, dibelai, dipeluk, dan lain-lain.


"Ka, masuk ruang makeup ya." Seorang makeup artist memanggil Arka dan Arka pun mengiyakan.


"Kamu tunggu disini ya, aku udah pesenin makanan sama minuman buat kamu. Nanti ada kru yang ngambil dan nganterin ke kamu."


"Baik banget sih kamu, love you." ujar Amanda sengaja, agar didengar Bianca.


"Love you too." ujar Arka.


Tak lama kemudian ia dan Bianca pun masuk ke ruang makeup.


Amanda makan dengan lahap, dan tak peduli pada berat badannya yang kini sudah sangat membengkak. Bahkan terakhir menimbang, ia naik sebanyak 10kg.


Ia terus makan, karena Arka membelikannya pizza box lengkap dengan segala isi dan toping-topingnya yang menggoda.


"Ready." teriak salah seorang kru.


Tak lama Arka keluar diikuti Bianca. Amanda yang mulutnya masih dipenuhi pizza itupun menganga dan sedikit syok. Ia meletakkan kembali pizza nya dan minum air putih banyak-banyak.


Pasalnya kini Bianca keluar dengan pakaian olahraga minim, menunjukkan perut kotak-kotak serta otot lengan dan kakinya yang begitu indah. Selaras dengan Arka yang juga memiliki badan atletis yang menggoda.


Nafas Amanda memburu. Apalagi kini tanpa sengaja, ia mendapati dirinya didalam kaca yang terletak disisi kiri tempat duduknya.


Ia membandingkan tubuhnya yang membengkak dengan Bianca yang super sexy serta atletis. Hatinya semakin panas ketika pihak majalah mengarahkan Arka dan Bianca, untuk berpose mesra dan juga sexy dihadapan kamera.


Ingin rasanya Amanda mengamuk saat itu juga, namun ia sadar itu bukan tempatnya. Ia bukan bos disana, Arka tengah bekerja pada orang lain. Jika ia mengamuk, maka habislah Arka. Suaminya itu pasti akan di cap buruk di mata klien.


Namun pose demi pose yang diminta, semakin membuat Amanda terbakar hatinya. Ketika semua prosesi selesai, Amanda hanya cemberut saja didalam mobil.


"Kamu kenapa sih, Man. Marah mulu sama aku. Capek loh aku, abis kerja."


"Capek tapi enak kan, ngeliatin badan sexy nya Bianca. Sedangkan aku bengkak begini, gendut."


Wajah Amanda ditekuk sedalam mungkin, Arka menghela nafas dan menahan senyum. Ia tau jika Amanda pastilah makin cemburu pada Bianca, perihal pose di pemotretan tadi.


"Aku kan kerja, Man. Aku harus profesional. Aku udah di kontrak, udah dibayar. Masa iya aku nolak disuruh pose sama pihak majalahnya."


"Tapi kan aku sakit hati, kamu dipegang-pegang dia. Aku tau aku sekarang jelek, Arka. Aku gendut."


"Nggak, kamu nggak jelek." Arka menegaskan hal tersebut pada Amanda.


"Aku tau Bianca sexy, aku nggak munafik. Aku nggak akan bilang dia nggak cantik, nggak sexy. Karena udah pasti kamu akan anggap aku bohong. Iya dia sexy, tapi lebih sexy lagi perempuan yang sekarang sedang mengandung anak aku."


Kali ini Amanda menatapnya.


"Lebih sexy lagi perempuan yang bagian depan dan belakangnya membesar karena perbuatan aku. Yang setiap malam teriak-teriak nyebut nama aku saat aku datangi dia. Yang selalu kasih aku cinta, kehangatan, pelukan, kasih sayang."


Amanda memeluk Arka secara serta merta. Arka pun menyudahi ocehannya sambil tersenyum dan balas memeluk Amanda.