Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Nino


Beberapa saat, sebelum Amanda menelpon Arka. Ketika Arka tengah sibuk memancing, Nino ada sempat menelpon dan menanyakan perihal keberadaan saudaranya itu.


"Lo dimana, Bambang?" tanya Nino pada Arka.


"Lagi nemenin papa mancing, Nin."


"Mancing apaan?. Mancing janda?"


"Hahaha, anjir. Di pemancingan, Solihin."


"Berdua doang?"


"Kagak, ada Rio, bapaknya, ada daddy juga. Nggak sengaja ketemu."


"Oh, daddy disana?"


"Iya."


"Hmm, pantesan kagak ada yang nyamperin gue. Pada asik masing-masing, sih."


"Ansel emang nggak kesana?" tanya Arka.


"Ansel lagi lo tanyain, nggak tau tuh anak udah nyangkut di pohon mana."


"Hahaha, molor tuh anak pasti."


"Bukan lagi, kayak nggak tau Ansel aja. Kalau nggak molor, ya pacaran sama Intan."


"Jadi lo sendirian, nih?" tanya Arka.


"Ya gue mau sama siapa lagi."


"Nadine mana?"


"Ke Bandung sama orang tuanya, kondangan."


"Oh, kirain sama lo."


"Kagak, mana ada. Eh, ka tanyain daddy dong. Gue pulangnya kapan sih?. Bete banget gue disini mulu."


"Jangan, Nin. Daddy kan udah bilang, biarin lo disana dulu. Biar kalau ada apa-apa, dokter dan perawat bisa nanganin lo. Luka lo itu serius, Nin. Belum sembuh banget loh, itu."


"Tapi kan gue bete, Ka. Apa coba kerjaan gue tiduran mulu begini."


"Terus lo mau ngapain?. Mau membangun jalan layang, biar sibuk." tanya Arka..


Nino tertawa.


"Anjir." ujarnya kemudian.


"Ya lo sabar aja dulu. Ntar kalau beneran sehat, baru pulang."


Nino menghela nafas, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya.


"Bentar, Ka. Ada yang dateng, dokter kali. Ntar gue telpon lagi."


"Ok, ok." jawab Arka kemudian. Sambungan telpon tersebut pun akhirnya disudahi.


Sementara Nino kini melihat seorang perawat dan tiga orang lainnya masuk. Satu laki-laki, kira-kira seumur Ryan. Satunya juga laki-laki, mungkin seusia dirinya. Sedang satu lagi...


"Degh." Bathin Nino bergemuruh.


"Tante ini kan?"


Nino ingat pernah berbicara pada wanita itu di taman depan, saat Ansel membawanya mencari sinar matahari tempo lalu.


"Tante?" ujar Nino berbicara pada wanita itu. Wanita itupun mendekat, antara tersenyum namun seperti ingin menangis.


"Nino, ini ibu kamu."


Suster yang tiada lain adalah suster Zefanya tersebut berujar pada Nino. Seketika Nino pun menjadi bingung.


"I, ibu?" tanya nya kemudian.


Air mata wanita itu mulai mengalir dan menjadikan Nino kian bertambah heran.


"Ma, maksudnya apa ya?" tanya nya kemudian.


"Ibu kamu dulu di culik, di sekap, dan diperkosa. Oleh laki-laki yang bernama Amman."


Pria yang seusia Ryan tersebut pun berujar. Ia adalah Aston, suami dari wanita yang kini menangis dihadapannya. Nino pun jadi semakin tak mengerti.


"Kalian ini siapa, maksudnya apa?"


Nada bicara Nino mulai terdengar gusar, sebab ia benar-benar tak mengenal siapa orang-orang ini. Ia hanya pernah bertemu si wanita sekali dan mereka terlibat sejumlah perbincangan. Namun Nino mengira bahwa wanita itu, hanyalah keluarga dari pasien lain.


"Nino, apa yang mereka katakan itu benar adanya. Perhatikan saya baik-baik, lihat siapa saya?"


Suster Zefanya menatap Nino, Nino tidak begitu menyadari sejak tadi. Karena suster itu kini usianya sudah semakin menua.


"Fanya?" Nino memperhatikan suster Zefanya sekali lagi.


Ia ingat terakhir kali bertemu wanita itu belasan tahun lalu. Ia memang selalu memanggil nama suster Zefanya dengan sebutan seperti itu, sedari kecil. Tanpa embel-embel kakak, tante, atau apapun itu. Sekalipun suster Zefanya jauh lebih tua darinya.


"Iya, Nin. Ini aku, Fanya."


Hati Nino mulai gelisah, ia merasa ada yang tak beres dengan masa lalunya.


Suster Zefanya pun mulai menceritakan semuanya pada Nino, termasuk dirinya yang membantu proses kelahiran pria itu.


"Jadi begitu lahir, saya dibuang dan diberikan pada orang lain?"


Air mata Nino mulai merebak di pelupuk mata, nada bicaranya penuh dendam. Sementara Citra yang sudah menangis sejak tadi itu pun, menjadi semakin terisak.


"Nino, saat itu mama bingung."


"Don't say that." ujar Nino dengan emosi yang perlahan memuncak, ia begitu marah saat wanita itu menyebut dirinya dengan kata "Mama."


"Ok." Citra menarik nafas dan menyeka air matanya.


"Kami berjanji menikah, tapi ayahmu malah menyekap dan memperkosa aku setiap hari. Kamu bayangkan betapa marah dan dendamnya aku saat itu, saat harus mengandung kamu. Mengandung anak yang dipaksakan ke dalam rahim aku."


Air mata Nino jatuh, ada sebuah kemarahan yang kini siap meledak dihatinya.


"Aku tidak punya pilihan lain, Nino. Hidupku sudah dihancurkan oleh ayahmu. Aku butuh hidupku kembali, aku tidak mau terus-terusan menatap kamu. Sementara kamu memiliki wajah dia dan segala kenangan buruk aku tentang dia."


"Siapa orangnya?" Nino bertanya seraya menatap tajam ke arah Citra.


"Namanya Armando Othild Louis, atau yang lebih dikenal orang-orang dengan panggilan Amman. Ryan mengenal baik orang itu." Kali ini Aston yang menjawab.


"Kami minta bantuan kamu untuk menjerat laki-laki itu, dengan cara melakukan test DNA. Sebagai bukti kalau kamu benar-benar anak yang pernah dikandung oleh Citra dan hasil dari kejahatan Amman." Aston kembali berujar.


"Maafkan aku, Nino."


Citra mendekat dan mencoba menyentuh tangan Nino.


"Pergi...!"


Nino berujar dengan nada penuh penekanan, namun dengan nada pelan dan terkesan dingin.


"Nino."


"Pergi...!" ujarnya sekali lagi.


Aston menarik Citra yang sesungguhnya masih ingin berada ditempat itu. Sambil berurai air mata, ia pun melangkah. Diikuti oleh Aaron, dan juga suster Zefanya.


Nino memejamkan mata, dan membiarkan air matanya kini mengalir deras. Ada rasa sakit yang terasa menghujam jantungnya.


***


Beberapa saat sebelum kedatangan Citra dan yang lainnya. Nino menelpon Ansel, namun saudaranya itu tak menjawab. Ia juga mencoba menelpon Arka, namun Arka juga sama seperti Ansel. Akhirnya ia pun menelpon Amanda.


"Man."


"Apa, Nin?"


"Kamu lagi dimana?"


"Di rumah."


"Lagi ngapain?"


"Ini, abis ngasih makan si kembar. Nungguin mereka tidur, kenapa Nin?"


"Kesini dong, Man. Bawain nasi goreng sama sotang."


Amanda tertawa.


"Ansel sama daddy kemana?"


"Ansel nggak tau, lagi berkelana kali, mencari kitab suci."


Lagi-lagi Amanda tertawa.


"Daddy nggak tau kemana, dia kan jarang banget pegang handphone kalau lagi libur."


"Nggak mau diganggu urusan kerjaan kali, dia. Kan kebiasaan di kita, hari libur masih di kejer kerjaan."


"Iya sih." ujar Nino kemudian.


"Kesini dong, Man. Aku bete, mana belum bisa pulang." lanjutnya lagi.


"Ya udah bentar lagi ya. Aku mau telpon mbak yang jagain anak-anak dulu, suruh kesini. Sekalian mau mandi bentar.


"Arka kemana, tidur?"


"Nggak, tadi kerumah orang tuanya."


"Pantes, aku telpon juga nggak ngangkat."


"Ya udah, aku urus anak-anak dulu ya Nin."


"Ok, jangan lupa nasi goreng sama sotangnya."


"Iya, ntar aku bawain banyak." ujar Amanda.


Obrolan tersebut lalu disudahi, Amanda menidurkan si kembar kemudian mandi. Iseng-iseng Nino kembali menelpon Arka dan ternyata diangkat. Lalu, munculah Citra dan yang lainnya yang menghentikan percakapan diantara mereka.


Kini, dunia Nino yang tenang selama belasan tahun. Menjadi Kacau seketika, hanya karena kedatangan orang-orang itu.


Bahkan rasa-rasanya ia tak kuat lagi untuk berdiri. Pantas saja, dulu kedua orang tuanya tak begitu menyayangi dirinya. Bahkan ia selalu merasa, apakah ia bukanlah anak kandung mereka. Dan ternyata itu semua benar adanya.


Ia telah di tolak di semua kehidupan. Di kehidupan orang tua kandungnya, dan di kehidupan orang tua angkatnya. Hanya Ryan dan mendiang istrinya lah yang tulus membuka tangan lebar-lebar, dan memberikannya tempat di hati mereka.


Hanya dua orang tua itu yang pantas ia sebut sebagai ayah dan ibu. Bahkan tak ada sedikitpun darah Ryan yang mengalir ditubuhnya. Namun itu tak mengurangi kasih sayang pria itu terhadap dirinya.


Air mata Nino terus mengalir, tak lama kemudian ia merasa harus pergi ke toilet. Karena tidak ada suster yang tengah berada didekatnya, dan lagi ia sudah bisa berdiri dan berjalan walau perlahan. Nino pun lalu beranjak menuju ke toilet, sambil membawa infus berikut holder nya.


Ia terus terpikir akan ucapan Citra dan suster Zefanya padanya, dan itu membuatnya benar-benar stress. Saat berbalik dan hendak keluar dari toilet, tiba-tiba ia merasakan sakit yang amat sangat pada lukanya.


"Aaakh." teriaknya lalu berusaha mengambil nafas.


Makin lama rasa sakit itu kian bertambah. Hingga Nino pun terjatuh dan bagian tubuhnya yang terdapat luka, terhentak mengenai ujung kloset. Lalu semuanya gelap.


Amanda tiba dan menemukan Nino tak ada di tempat tidur. Ia pikir Nino ke toilet, wanita itu lalu meletakkan barang bawaannya dan mencoba memanggil Nino.


"Nin."


Tak ada jawaban. Ia pergi melihat keluar, kalau-kalau Nino di bawa oleh perawat. Namun tak ada juga. Dan entah mengapa, Amanda merasa curiga dengan kamar mandi dan toilet tersebut. Karena penasaran ia pun mendorong pintunya, ternyata tidak dikunci.


"Ninoooo."


Amanda berteriak, ketika menemukan tubuh saudaranya itu sudah tergeletak tak sadarkan diri.


Wanita itu pun lalu memanggil perawat dan yang lainnya. Nino akhirnya mendapat pertolongan dan penanganan. Namun dokter memberitahu Amanda, jika keadaan Nino saat ini, tidak sedang baik-baik saja.