Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kemarahan Amman


"Pak, bu. Kami pulang ya." ujar Lastri pada Amanda dan juga Arka, ketika mereka telah tiba dirumah. Si kembar baru saja tidur, setelah tadi sempat bangun karena lapar.


"Tidur aja disini." ujar Amanda.


"Ngapain mesti pulang segala, udah malem." lanjutnya lagi.


"Nggak bu, ntar ganggu." Anita berkata seraya tersenyum, namun senyumannya penuh maksud.


"Orang nggak ngapa-ngapain, koq." ujar Amanda dengan wajah yang tersipu merah.


"Tetap aja kita nggak enak." ujar Lastri lagi.


"Iya bu, siapa tau mau bikin dedek baru." seloroh Anita.


"Heh, nggak ada ya." ujar Amanda seraya tertawa. Arka yang mendengar hal itu pun tak kuasa untuk tak menyunggingkan senyum.


"Ya kan kali aja. Udah ah, kita mau pulang. Bye ibu, bapak." ujar mereka seraya mengambil tas, lalu masuk ke dalam lift.


"Makasih ya." ujar Arka dan Amanda diwaktu yang nyaris bersamaan.


"Iya." jawab mereka serentak, kedua maid itu lalu menghilang dibalik pintu lift.


"Hoaaaa."


"Hoaaaa."


"Anakmu bangun, Ka." ujar Amanda pada Arka.


"Iya, udah denger suara kita." ujar Arka kemudian.


"Mending kamu mandi dulu deh, kita kan dari luar. Jangan langsung nemuin mereka." lanjut Arka lagi.


"Ya udah, aku duluan ya." Amanda mengambil handuk.


Mereka pun mandi secara bergantian. Tak lama setelah itu mereka menemui Azka dan juga Afka, yang sudah mengoceh sambil mengenyot jari di dalam box bayi.


"Hallo sayang." ujar Arka dan Amanda diwaktu yang nyaris bersamaan.


"Hoaaaa."


"Hoaaaa."


Keduanya seakan berbicara dan begitu antusias, Arka dan Amanda pun melepas rindu pada kedua anak mereka itu. Meskipun terkadang baru ditinggalkan selama beberapa jam, namun kerinduan mereka terasa seperti satu minggu tak bertemu.


"Mmm, kamu wangi." Amanda mencium Afka.


"Ini juga wangi nih." ujar Arka seraya mencium Azka.


"Hoaaaa."


"Hoaaaa."


Kedua bayi itu terus-menerus bersuara, kadang mereka tertawa. Seolah kegirangan, bertemu dengan kedua orang tua mereka.


"Aku kangen sama kamu, aku kangeeeen." Arka menggelitik dan mencium-ciumi anaknya, begitu pula dengan Amanda.


Mereka lalu menggendong bayi-bayi itu, mengitari ruangan demi ruangan yang ada di penthouse. Sejenak mereka duduk di balkon, lalu merebahkan diri diatas kasur lantai sambil menonton tayangan kartun. Hingga kemudian keempatnya terlelap ditempat tersebut hingga pagi menjelang.


***


"Tante, kami benar-benar nggak tau dimana Maureen."


Aulia berujar dihadapan ibu Maureen, Chanti, Widya dan beberapa teman kost serta teman kuliah Maureen lainnya. Mereka kini berkumpul di kost Maureen.


Ibu Maureen yang sejak dua tahun belakangan ini memilih untuk tinggal di sebuah kampung di daerah Jawa barat itu pun, terdiam. Bahkan matanya kini berkaca-kaca menahan tangis.


Senakal-nakalnya Maureen selama ini, gadis itu tetaplah anak kandungnya. Dan ia adalah seorang ibu, yang tidak bisa begitu saja membiarkan anaknya menghilang tanpa kabar.


"Apa dia nggak ada menghubungi kalian?"


Tante Maureen yang ikut mendampingi sang kakak pun membuka suara. Setelah beberapa saat sebelumnya ia hanya diam, dan mendengarkan ibu Maureen berbicara secara seksama.


"Kami juga nggak tau, tante. Tapi kami masih berusaha mencari tau." timpal Chanti.


"Terakhir kali dia bicara, Maureen bilang kalau dia akan dibelikan tas mewah baru oleh papa nya."


Poppy teman dekat Maureen setelah tak lagi bersama Chanti dan Widya pun, berujar.


"Papa?"


Ibu serta tante Maureen berujar dengan nada yang penuh keheranan.


"Iya tante, Maureen bilang. Dia menemukan papa kandungnya yang ternyata orang kaya." timpal Widya.


Ibu dan tante Maureen saling bersitatap satu sama lain.


"Papa kaya?" tanya ibu Maureen lagi. Widya, Chanti dan yang lainnya pun mengangguk.


"Maureen itu bapaknya sudah nggak ada, sudah meninggal empat tahun lalu." Sang ibu berujar pada Chanti, Widya, Aulia dan yang lainnya.


Para teman Maureen itupun saling menatap satu sama lain.


"Maureen itu nggak punya ayah lain, kan?" tanya Chanti dengan nada penuh keraguan. Ia takut pertanyaan yang ia lontarkan, akan membuat ibu Maureen menjadi tersinggung.


"Nggak ada, Nak. Ibu tidak pernah berhubungan dengan siapapun, selain ayah kandung Maureen. Maureen itu anak kami, kandung. Tidak ada orang tua lain lagi."


Chanti, Widya dan yang lainnya kembali saling menatap satu sama lain.


"Terus, yang katanya papa-papa itu. Siapa, dong?" tanya Aulia.


"Ibu juga nggak tau, Maureen tidak cerita apa-apa sama kami. Cuma belakangan ini, Maureen sering transfer uang dan kirim barang ke ibu. Dia kirim baju, sepatu, tas. Katanya itu barang mahal, minta di simpankan ke ibu. Ibu tanya itu barang siapa dan darimana. Maureen bilang dia sudah kerja sekarang."


Semua yang ada ditempat itu pun terdiam, mereka tak tau harus berkata apa-apa lagi. Jika Maureen benar-benar menghilang karena suatu sebab, maka sudah dipastikan ini akan menjadi masalah yang besar.


"Jadi siapa ya kira-kira, si papa-papa itu?" tanya Widya pada Chanti ketika akhirnya mereka berpamitan untuk pulang.


"Kayaknya gadun nya Maureen, deh." ujar Chanti berspekulasi.


"Secara tuh anak dari dulu juga udah jual diri, sana-sini." lanjutnya kemudian.


"Tapi gue kasihan loh, liat ibunya tadi." ujar Widya.


"Sama, gue juga kasihan. Dia nggak tau kayaknya, kelakuan si Maureen kayak apa."


"Iya, untung aja tadi si ibu kost mau ngasih kunci cadangan. Biar ibu sama tantenya Maureen bisa istirahat dikamar Maureen."


"Iya, ampun gue si Maureen. Ada-ada aja kelakuannya, nggak kasihan sama orang tua." ujar Chanti kemudian.


***


Hari berlalu.


Amman menemui Ryan untuk kesekian kalinya. Ia belum juga menyerah, meski Ryan pernah mengatakan jika dirinya sudah enggan menjalin kerjasama dengan teman lamanya itu.


Ryan mengatakan jika ia enggan mengusik kebahagiaan anak-anaknya. Ia sudah tidak ingin memaksakan perjodohan apapun terhadap mereka.


"Come on, Ryan. Kerjasama diantara kita harus terjalin. Banyak keuntungan yang bisa sama-sama kita dapatkan.


Amman masih berusaha memaksa, setelah tadi seluruh ucapannya dibantah oleh Ryan. Sudah beberapa saat mereka bicara, namun agaknya kata mufakat itu memang tidak ada.


"Amman, dari dulu kita tidak bisa bekerjasama dengan baik. Dan sampai kapanpun, kita tetap tidak akan bisa bekerjasama dengan baik. Jadi, jangan membuang banyak waktu lagi."


Ryan memberi gerakan seakan-akan mengusir Amman dari ruangannya. Dengan kemarahan yang tertahan, Amman pun keluar dari tempat itu. Setelah tiba di halaman parkir, Amman segera saja menelpon seseorang.


"Amman."


Terdengar suara di seberang sana.


"Habisi Ryan, secepatnya."


Amman lalu menutup telpon dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil tersebut pun meninggalkan halaman parkir kantor Ryan.