
"Akhirnya kita jalan juga, bro." ujar Rio bersemangat.
"Yoi." timpal Arka seraya mengemudi dengan kecepatan sedang.
Mereka berdua kini menuju ke kota Bandung, dengan mengendarai salah satu mobil sport milik Amanda. Dulunya bahkan mereka tak pernah jalan ketempat yang dekat, karena bagi mereka berdua yang namanya jalan-jalan itu haruslah jauh. Agar lebih terasa vibes jalan-jalannya.
Tapi kini, bisa pergi ke kota seperti Bandung saja sudah syukur. Arka telah menjadi seorang suami merangkap bapak-bapak dan juga pekerja. Praktis mereka tak punya waktu banyak lagi untuk berlibur ke tempat yang jauh, seperti yang selama ini sering mereka lalukan. Kecuali liburan tersebut memang telah direncakan jauh-jauh hari, soal waktu keberangkatannya.
"Jadi lo dikasih izin sama Firman?" Rio berseloroh sambil membenarkan kaca mata hitamnya. Saat itu kap atas mobil dibuka, sehingga ia dan Arka harus menggunakan kacamata hitam karena agak silau.
"Hmm, Firman mah jadi istri nggak neko-neko. Dia nurut aja apa kata suami, nggak pernah ngehalang-halangin juga."
"Iya, tapi lo ati-ati sama Firman." ujar Rio lagi.
"Maksudnya?" tanya Arka tak mengerti.
"Gini ya, bro. Cewek-cewek yang suka ribet, ngehalang-halangin cowoknya kalau lagi mau maen sama temen. Maunya Deket mereka mulu, penting nggak penting. Itu jenis cewek yang kalau cowoknya selingkuh, mereka masih suka ngemis-ngemis. Ngelabrak selingkuhan cowoknya karena takut ditinggalin si cowok. Nah modelan si Amanda, yang percaya gini sama lo, itu yang bahaya. Biasanya orang kayak dia bakalan percaya penuh, sekali lo terbukti berkhianat. Lo bakal ditendang, bro. Makanya Lo jangan selingkuh, nggak usah neko-neko. Bersyukur lo dapet modelan kayak Amanda."
"Iya, bro. Lagian gue nggak ada niat kesitu, kepikiran aja nggak. Gimana mau selingkuh coba."
"Ya, gue sih sebagai netijen sekedar mengingatkan aja." ujar Rio.
"Hahaha, bangsat lo." ujar Arka seraya tertawa.
"Asik kan punya bini kayak Amanda?. Diajak temen jalan, dibolehin. Diajak temen nongkrong, di izinin. Suami lain mah jarang yang nasibnya bagus kayak lo. Yang ada, jangankan jalan sama temen. Baru maen game online bentar aja, bininya langsung posting kata-kata mutiara di sosmed."
"Wahai suami, dahulukan lah istri dan anak-anakmu. Baru kemudian game dan kesenanganmu."
"Padahal elo udah enam tahun kagak nongkrong sama temen lo. Dibuat seolah-olah lo, tiap hari tuh mengabaikan keluarga. Kerja Lo main game doang, padahal kagak."
Arka kian tertawa.
"Bener banget sih kata lo, dan lo bener juga soal gue beruntung dapetin Amanda. Dia tuh masuk kemana aja. Diajak ketempat mewah, dia nggak norak. Diajak ketempat emak gue yang biasa aja, dia nggak sombong. Gue sih terserah ya, keluarga emak gue mau bilang. Itu kenapa si Arka nikah sama yang lebih tua. Mending sama gadis yang masih 18-19 tahun, biar enaknya lama."
"Emang keluarga nyokap, ada yang ngomong gitu?" tanya Rio.
"Ada lah beberapa, gue diemin aja. Nikah sama cewek yang masih muda juga nggak menjamin bakalan seneng terus. Kalau dikit-dikit ngeselin mah, sama juga bohong."
"Nggak usah dengerin kata orang, bro. Gue aja sama Liana, nyokap gue kan marah-marah. Tapi bokap belain gue sih."
"Terus lo gimana?" tanya Arka.
"Ya gue bodo amat lah, mau orang kata apa juga. Orang gue sayang, mau gimana?"
"Susah bro, kalau udah ngomongin suka mah." ujar Arka kemudian.
"Makanya, banyak juga keluarga gue yang bilang. Ngapain sama perempuan bekas orang rame. Gue balikin aja gini, "Kalau tante anaknya diperkosa, terus ada cowok tulus yang mau sama dia, terus saya deketin cowoknya dan saya ngomong gini. "Jangan mau anak tante itu, bekas orang rame." Enak nggak tante kalau saya gituin anaknya?"
"Lo gituin, bro?" tanya Arka.
"Iyalah, sesama cewek koq nggak ada perasaan sama sekali. Cocot asal nguap aja."
"Ya mendingan gitu, lo skakmat aja sekalian."
"Makanya gue gituin, diem semua dah tuh akhirnya."
Sementara di Jakarta, Amanda menikmati waktunya dengan para mahasiswa dan mahasiswinya dari kampus. Ada Fahri, Dito, Keisha dan juga Viona. Sedangkan Nadine, tengah gelendotan dengan Nino di suatu tempat. Dan kemungkinan besar, Intan pun kini tengah bersama Ansel dan mereka berempat pasti tengah merengkuh kehangatan.
Amanda pergi ke kafe semi bar dengan teman-temannya. Sudah lama sekali pasca mengandung dan melahirkan, ia tidak pergi ketempat seperti itu. Kadang ada rasa jenuh juga dirumah. Sesekali ia butuh have fun, meskipun tidak meminum minuman beralkohol. Karena si kembar masih ASI.
Malam ini si Kembar masih dititipkan dirumah neneknya. Amanda sebenarnya ingin membawa kedua anaknya itu ke rumah satunya saja. Biar dijaga oleh maid, atau maid yang datang ke penthousenya untuk menjaga mereka. Karena ia takut akan merepotkan sang mertua. Namun ibu dan ayah Arka mengatakan, jika mereka masih rindu pada kedua cucu mereka tersebut. Jadi Amanda pun merelakan anak-anaknya berada disana.
Lagipula Azka dan Afka tidak rewel seperti anak lain, seiring pertumbuhan mereka kini jadi lebih mandiri. Sehabis minum susu, tak harus di gendong dan di manja-manja berlebihan. Mereka bisa tidur dengan sendirinya.
"Mbak, Arka pergi sama Rio?" tanya Viona pada Amanda, yang kini tengah mereguk minumannya.
"Iya biarin aja, kasian tuh laki-laki. Sejak nikah sama gue, belum pernah dia pergi jalan kemana gitu buat dirinya sendiri. Gue juga jadi bisa keluar kan, bareng kalian." ujar Amanda.
"Azka sama Afka dimana?" tanya Dito.
"Sama pembantu." ujar Keisha.
"Nggak dirumah neneknya." ujar Amanda.
"Oh nenek, ibunya Arka?" tanya Keisha.
"Iyalah, masa di emak tiri gue. Bisa di jual organ anak gue ntar."
Mereka semua tertawa.
"Bener jangan. Emak tiri lo mah, ginjalnya sendiri aja di jual." seloroh Fahri.
"Iya, udah kopong tuh ginjalnya dia. Nggak ada dua-duanya." ujar Amanda.
"Kalau jadi kuyang, organnya nggak lengkap tuh." celetuk Dito.
Lagi dan lagi mereka pun tertawa.
***
"Huh, akhirnya."
Arka berujar ketika dirinya dan Rio sudah berada di muka pintu kamar hotel masing-masing. Mereka menyewa kamar hotel yang berseberangan.
"Istirahat bro, masih ada besok." ujar Rio kemudian.
"Gue sih tidur, elo tuh main game mulu."
"Kagak, gue juga mau tidur." ujar Rio seraya membuka pintu kamarnya.
"Ya udah, sampe besok, bro." ujar Arka.
"Kamu nggak mau bobo sama aku, ayank beb?" tanya Rio.
"Bangsat." ujar Arka kemudian.
Rio pun terkekeh.
Tak lama setelah itu, mereka berdua sama-sama masuk ke kamar masing-masing. Arka sempat mandi, kemudian pergi tidur. Sementara Rio hanya mencuci muka, lalu berangkat untuk tidur pula.