
Amanda dan Arka berjalan ke arah gerbang kampus, sambil bergandengan tangan. Tak lama kemudian mereka kepergok oleh Rio. Yang kebetulan tengah resah mencari keberadaan mereka berdua.
"Hei." ujar Amanda pada Rio.
Rio memperhatikan tangan Arka dan Amanda yang tampak bergandengan.
"Elo berdua?"
Rio mengerutkan kening, Arka dan Amanda sama-sama tersenyum.
"Elo berdua udah jadian?" tanya nya antusias.
"Hmm, maksud gue. Lo udah bilang ke bini lo, Ka?. Kalau lo cinta sama dia?" lanjut Rio lagi.
Arka mengangguk sambil tersenyum.
"Dan tanggapan lo, Man?" Rio bertanya pada Amanda.
Amanda tak menjawab, namun ia tersenyum dengan pipi bersemu merah.
"Berarti lo terima Arka, dong?" tanya Rio.
Kali ini wanita itu pun mengangguk.
"Seriusan?"
"Iya, serius." jawab Amanda.
"Yeaay, wooou. Hahaha."
Rio tertawa gembira.
"Sumpah, gue seneng banget dengernya. Lo tau nggak, Arka tuh udah baper sama lo sejak lama."
"Oh ya, sejak kapan?"
Kali ini Amanda menatap Arka, sementara yang ditatap berusaha membuang pandangan ke arah lain.
"Nggak, ngarang itu mah." Arka masih tidak mengakui.
"Alah, Ka. Udah ngaku aja, nggak bakal ngurangin harga diri lo sebagai laki-laki koq." seloroh Rio.
"Gengsi dia." ujar Amanda sambil menahan senyum.
"Oh ya, berhubung kalian udah jadian nih. Eh gimana sih ngomongnya."
Rio bingung, begitu pula dengan Arka dan Amanda. Namun pasangan itu terlihat jelas sangat bahagia.
"Ya intinya lo berdua udah saling mencintai lah. Nah dalam rangka merayakan hal ini, gue pengen traktir lo berdua." ujar Rio.
Amanda dan Arka saling bersitatap.
"Tenang aja, gue yang traktir." ujar Rio meyakinkan.
Amanda dan Arka tertawa, bukan perihal uang yang mereka risaukan. Tapi masalah apakah pasangan mereka memiliki waktu atau tidak, sedang merasa lelah atau tidak.
"Ayo, lo berdua jangan ngeremehin gue. Gue punya duit koq, banyak." ujar Rio kemudian. Lagi-lagi Arka dan Amanda tersenyum.
"Ayo." ujar mereka berdua nyaris diwaktu yang bersamaan.
"Heee, senyum-senyum mulu lo berdua. Kayak lagi nonton lawak." ujar Rio sewot.
Amanda dan Arka lalu mengikuti langkah teman mereka itu.
"Kita mau kemana, Ri?" tanya Amanda ketika mereka sudah berada didalam mobil.
"Ada, tempat makan favorit gue sama gebetan gue. Lo pasti suka tempatnya, makanannya enak lagi." Rio berusaha meyakinkan.
"Gebetan lo nggak sekalian diajak?" tanya Arka. Pemuda itu kini membawa Amanda dalam pelukannya.
"Kagak ada lagi." ujar Rio.
"Lah terus yang sering lo ajak ketempat makan itu?"
"Udeh nggak jadi gebetan gue lagi, Bambang."
"Hahaha, ditinggalin lo?" tanya Arka.
"Ya, iya."
Arka tertawa.
"Seneng tuh laki lo, man. Liat gue menderita." ujar Rio pada Amanda. Sementara Amanda hanya tersenyum.
"Gue di friendzone in doang, karena dia jadian sama Peter."
"Peter anak manajemen kita?"
"Bukan, Peter anak hukum yang sering nongkrong sama lo, sama Robert, kalau kita lagi mendaki gunung."
"Oh Peter Perez. Anaknya Hotman Perez, yang lawyer itu kan?"
"Yoi, siapa lagi. Lewat dah tuh gebetan gue, cuma gara-gara keuangan gue standar. Makanya nih, Ka. Lo kelewatan kalo sampe lo selingkuh dari Amanda."
Amanda menatap Arka, dan Arka balas menatap istrinya itu sambil tersenyum. Ia lalu mencium kening Amanda dengan lembut.
"Mau selingkuh sama siapa, Ri. Satu aja udah bikin pusing."
"Oh, jadi aku bikin pusing?" Amanda merajuk.
"Iya pusing, inget teriakan kamu. Jadi pengen terus."
Amanda tersenyum lalu mencubit Arka.
"Sakit tau nggak." Arka meringis.
"Hmmm, kagak dipikirin nih gue didepan. Ntar gue khilaf gue cubit juga nih pak Darwis. Pak Darwis yang tengah mengemudi itupun tertawa, begitu juga dengan Amanda dan Arka yang berada dibelakang.
"Nggak mikirin orang itu, pak."
Rio berujar pada pak Darwis dan lagi-lagi pak Darwis tertawa.
"Ini kita belok ke kiri ya?" tanya pak Darwis pada Rio.
"Iya pak, kiri terus lurus dikit, ambil kiri lagi terus kanan."
"Ok."
Mobil mereka pun terus melaju, sementara mereka kembali terlibat perbincangan.
***
Hari itu Nadine, mahasiswa Amanda melangkah disepanjang koridor kampus. Sambil sesekali menyisir rambut panjangnya ke belakang dengan menggunakan jari.
Angin tengah bertiup kencang ketika ia melintasi tempat tersebut, hingga rambutnya sering kali berterbangan dan harus dirapikan.
"Nad, mbak Amanda nggak masuk ya hari ini?" teriak Dito dari kejauhan.
Nadine menoleh ke arah Dito yang tengah berdiri bersama Fahri di suatu sudut.
"Kayaknya nggak, soalnya tadi dia WA gue. Katanya ada urusan."
"Oh ya udah, gue mau ke kantin." ujar Dito.
"Lo kagak masuk?" tanya Nadine.
"Kalau bukan mbak Amanda, gue males." jawab Dito.
"Ya udah."
"Bye." Nadine melambaikan tangan. Ia pun berbalik arah namun,
"Braaak."
Ia menabrak seorang pria. Tubuhnya hampir saja terjatuh, jika pria tersebut tak menangkap dan menahan lajunya.
Waktu seakan terhenti, Nadine dan pria tersebut terpaku dalam pandangan yang cukup lama. Jantung keduanya kini berdegup kencang. Pria itu terpaku menatap kecantikan Nadine dan Nadine pun terdiam menatap ketampanannya.
"Eh, sorry."
Pria itu tampaknya mulai sadar dan melepaskan pelukan. Nadine kini tersenyum sambil salah tingkah.
"Hmm, mahasiswa disini?" tanya pria itu pada Nadine.
"Iya, udah penampilan gini, bawa buku, masa iya mahasiswa kampus lain. Ya, yang pasti disini dong."
Nadine berujar sambil senyum-senyum sendiri.
"Oh, saya kira dosen." ujar pria tersebut.
"Emang saya keliatan setua itu?" tanya Nadine.
"Dosen kan nggak harus tua." ujar pria itu lagi.
"Hmmm, iya sih. Bener juga." Nadine kembali berujar.
"Oh ya, Nadine. Mahasiswa jurusan ilmu komunikasi."
Nadine mengulurkan tangannya. Kemudian pria itu tersenyum, lalu menerima uluran tangan Nadine.
"Zionino Andhika, dosen desain komunikasi visual. Baru masuk hari ini."
"Hah, berarti ngajar saya juga dong?" ujar Nadine bersemangat.
"Belum tentu, saya harus ke ruang dosen dulu. Karena ini hari pertama saya."
"Mmm, mau saya anterin?"
Pria itu tersenyum sangat tipis, lalu mengangguk.
Sementara itu di restoran yang dimaksud oleh Rio. Amanda, Arka, dan juga Rio sendiri memilih tempat duduk teras belakang, yang langsung menghadap ke halaman yang asri dan tentu saja aesthethic. Tempat itu sangat cozy dan juga Instagram able.
"Tempatnya enak." ujar Amanda pada Rio dan juga Arka.
"Kamu suka?" tanya Arka kemudian.
Amanda mengangguk. Arka lalu tersenyum sambil mengelus bayinya, yang ada di perut Amanda.
"Disini itu, kalau weekend rame banget. Banyak anak muda dari mana-mana pada ngumpul." ujar Rio.
"Tapi untung hari ini sepi." ujarnya lagi.
"Disini yang favorit apa?" tanya Amanda.
"Itu yang tadi gue suruh lo pesan. Lo cobain deh nanti, pasti Lo ketagihan."
"Lo sering kesini?" tanya Arka pada Rio.
"Adalah beberapa kali, sebelum kandas."
Mereka lalu tertawa.
"Eh foto dulu dong." ujar Rio.
Pemuda itu mengarahkan kamera handphonenya pada Arka dan juga Amanda. Lalu,
"Cekrek."
Mereka mengambil foto.
"Sekali lagi, sekali lagi." ujar Rio.
"Cekrek."
Tak lama kemudian pesanan mereka pun tiba. Makanan pertama berupa pasta dengan tampilan yang sama saja dengan pasta-pasta pada umumnya. Amanda memperhatikan pasta tersebut dan tak ada yang istimewa.
"Cobain, Man. Lo bakalan kaget sama rasanya, emang sih penampilannya biasa aja."
Rio memberikan garpu pada Amanda. Amanda pun lalu mengambil suapan pertama.
"Sluuurp."
"Hmmm." ujarnya lalu tersenyum.
"Enak banget, sumpah."
"Bener kan?"
Amanda mengangguk lalu memakannya lagi dan lagi, hingga membuat Arka tergoda.
"Coba, gue rasain. Apakah seenak itu." ujarnya kemudian. Arka pun mulai memakan pasta miliknya dan,
"Sumpah ini enak." ujar pemuda itu.
"Apa gue bilang, Ka. Ini tuh the best."
"Gue sebenernya nggak terlalu suka sama pasta. Tapi ini enak banget, gue suka."
Arka lanjut menyendok namun Amanda telah habis.
"Gimana, Man?" tanya Rio pada Amanda.
"Kurang, Ri." ujarnya dengan ekspresi yang minta dikasihani sekaligus minta di jitak.
"Pesan lagi, pesan lagi!" ujar Rio.
Arka lalu memanggil pelayan dan Amanda memesan lagi dua porsi. Tak lama pasta itu kembali datang, Amanda langsung melahap dan menghabiskannya.
"Sorry ya, Ri. Bini gue buas." ujar Arka, ketika melihat Rio yang melongo menatap Amanda. Namun Rio malah tertawa kegirangan.
"Sumpah, gue baru kali ini liat cewek hamil makan. Lucu banget, gemes. Biasanya kan cewek sok imut tuh kalo makan, bini lo mah semua di lahap."
"Gue aja dilahap mulu sama dia." ujar Arka.
"Plaaak."
Amanda memberikan pukulan di tangan Arka, Arka lalu meringis sambil tertawa.
"Aduh, Ri. Gue itu masih pengen lagi pastanya. Tapi gue mau makan yang lain." ujar Amanda.
"Selama masih muat, makan Man. Gue sengaja mau traktir lo berdua. Gue bahagia akhirnya Lo berdua jadian eh, ya gitu deh tau lah nyebutnya gimana."
Mereka lalu lanjut memesan makanan yang lain. Seperti biasa Amanda makan dengan tak ada rasa malunya. Meski itu dihadapan suami serta teman suaminya sendiri.
"Gimana dek, kenyang ya kamu?" tanya Arka seraya mengelus perut Amanda, ketika mereka sudah berada di mobil. Rio sudah mereka antarkan pulang beberapa saat yang lalu.
"Sumpah makanan disitu enak banget." ujar Amanda pada Arka.
"Ntar kapan-kapan kita kesana lagi ya, Ka." lanjutnya lagi.
"Iya."
"Gantian kita yang traktir Rio." ujar Amanda.
Arka pun mengangguk lalu mencium kening istrinya itu.