Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Mulai Rindu


"Amanda, aku nyambung dua hari ya. Besok kan sabtu, lusa minggu. Nanggung pulangnya."


Arka berujar pagi-pagi sekali di telpon.


"Oh ya udah." jawab Amanda seraya mengucek matanya, ia juga baru bangun tidur.


"Anak-anak mana?" tanya Arka.


"Masih di ibu. Kalau kangen, telpon aja ibu."


"Kamu masih tidur ya tadi, pas aku nelpon?" tanya Arka."


"Iya." ujar Amanda kemudian.


"Ya udah deh, tapi boleh kan?"


"Iya boleh."


"Ya udah, aku mau telpon ibu dulu. Mau liat anak-anak." ujar Arka lagi.


"Ok, dah Arka."


"Dah sayang, cium aku dong." pinta Arka.


"Muach."


"Muach."


Arka tersenyum lalu menyudahi telpon. Tak lama kemudian, ia pun menelpon ibunya dan melihat si kembar. Tampak si kembar tengah berada didalam stroller sambil berceloteh.


"Aaaaaa."


"Hokhoaaaa."


"Adek dimana, dek?" tanya Arka pada anaknya.


"Hoaaaa."


"Dirumah nenek ya?"


"Hoaaaa."


Arka terus berbicara pada bayi-bayinya, mereka fokus memperhatikan Arka di layar handphone. Sesekali mereka tertawa, lalu kembali diam dan memperhatikan.


"Rewel nggak bu, mereka?" tanya Arka pada ibunya.


"Nggak koq, jam tidur ya tidur. Pagi-pagi bangun juga nggak nangis, langsung ngobrol tuh berdua. Hoa, hoa. Kayak ada aja yang dibicarakan." ujar ibunya pada Arka.


"Papa mana, bu?"


"Udah berangkat tadi pagi-pagi, udah ngajak si Afka keliling-keliling liat pohon. Abis itu papamu pergi, Afka sama Azka ibu mandiin."


"Rianti kuliah?"


"Iya, kuliah pagi dia."


"Ibu sehat, bu?"


"Sehat."


Obrolan pun berlanjut, tak lama setelah itu Arka menyudahi telponnya. Karena Rio sudah mengetuk pintu kamar untuk sarapan.


"Bro, ayok sarapan. Sayang tau, disini makanannya enak." ujar Rio kemudian.


"Ok." Arka lalu keluar dan menutup pintu kamar hotel.


Mereka sarapan di bawah, banyak sekali makanan yang tersedia ditempat itu. Arka dan Rio mengambil semaksimal mungkin, bukan seminimal mungkin. Karena mereka tak bisa makan sok imut, harus porsi kuli yang membangun piramida.


"Bro, kita belanja ya abis ini." ujar Rio, ketika mereka telah mendapat tempat duduk. Arka mengangguk sambil terus melahap makanannya.


"Ngizinin, Amanda mah beres pokoknya."


"Good, itu yang terpenting." ujar Rio kemudian. Ia dan Arka pun tertawa, mereka lanjut makan sambil terus berbincang.


Selama seharian full Arka tak menghubungi Amanda, ia sibuk jalan-jalan kesana kemari bersama Rio. Amanda pun tak mau ambil pusing, ia juga enggan mengisi benaknya dengan pikiran-pikiran yang negatif. Karena pikiran negatif itu sama saja seperti doa.


Ia menyibukkan diri dengan mengunjungi rumah mertuanya, bahkan pergi berbelanja bersama Viona dan juga Keisha. Ibu mertuanya mengatakan nanti saja jika ingin mengambil si kembar, minggu sore atau minggu malam senin. Amanda sendiri diminta untuk menghabiskan waktunya untuk bersantai.


Amanda pun berterima kasih kepada ibu Arka dan membelikan apa saja yang kira-kira dibutuhkan oleh mertuanya itu. Ia menghabiskan waktu di luaran hingga malam, begitupula dengan Arka dan Rio. Malah kini mereka berdua terlihat minum bersama di suatu tempat.


"Ka, jangan mabok lo." Rio mengingatkan.


"Kagak, segini doang."


"Masalahnya kita cuma berdua, kalau sama-sama mabok. Ntar siapa yang nyetir, yang ada nyungsep."


"Iya, udah tenang aja. Lo mau minum, minum aja." ujar Arka kemudian.


Mereka pun lanjut berbincang dan membahas berbagai hal, sampai kemudian mereka pulang ke hotel dan tidur di kamar masing-masing hingga pagi menjelang.


Esoknya mereka kembali berjalan-jalan, mendatangi tempat yang belum sempat mereka kunjungi kemarin, dan membeli beberapa barang yang belum sempat ketemu.


Ini sudah hari ketiga, Arka benar-benar memanfaatkan liburannya dengan baik.


Amanda juga tampaknya tak begitu riweh, jika suaminya terlambat membalas pesan atau bahkan lama menggubris panggilannya. Ia juga masih sibuk dengan urusannya sendiri.


"Hoaaaaa."


Tiba-tiba terdengar suara bayi, Arka menoleh. Ia terdiam lalu menghela nafas, ternyata bayi orang lain yang tengah berceloteh.


"Ka."


Rio memanggil dari suatu arah, Arka yang masih memperhatikan bayi tersebut itu pun akhirnya menyusul Rio.


Malam harinya, Arka mencoba menghubungi Amanda. Namun Amanda sendiri tak mendengar adanya panggilan, handphonenya berada dalam mode silent. Entah karena tak sengaja di pencet atau apa, yang jelas ia tidak sengaja melakukan hal tersebut.


"Kamu udah tidur ya, sayang?"


Arka mengirim pesan singkat. Lagi-lagi Amanda tak menjawab, karena handphonenya tersebut berada didalam tas. Arka lalu beralih menelpon ibunya, untuk menanyakan kabar terkini dari anak-anak. Namun ibunya juga tak menjawab, entah mungkin karena sudah tidur atau apa.


Arka yang belum bisa tidur itu pun mendadak hampa. Menikmati waktu bersama Rio memanglah sangat menyenangkan, namun ia merindukan rumah. Ia rindu dengan suara Amanda beserta anak-anaknya, padahal baru tiga hari ia pergi meninggalkan mereka.


Meskipun baru satu tahun belakangan ini, ia mengenal Amanda. Namun dalam kurun waktu tersebut, belum pernah sekalipun Arka berada jauh dari istrinya itu.


Pernah Amanda harus berada dirumah sakit dan Arka pun demikian. Namun baik Arka maupun Amanda tidur dirumah sakit, sehingga mereka tidak ada yang berada jauh dari jangkauan.


Kemarin-kemarin, ia merasa harus pergi selama beberapa hari. Untuk menghindari kejenuhan karena selalu bersama dengan istri dan anak-anaknya. Namun pergi ternyata bukanlah solusi yang tepat, Arka justru kini merindukan keluarga kecilnya itu.


Arka berusaha keras memejamkan mata, tak lama setelah itu ia pun tertidur. Beberapa saat berlalu, Amanda pulang kerumah dan menemukan panggilan Arka di handphonenya. Suaminya itu juga mengirimkan beberapa chat yang menanyakan perihal dirinya.


Amanda buru-buru menghubungi Arka, namun Arka tak menjawab panggilannya. Karena Arka sendiri sudah tertidur lelap. Tak lama kemudian Amanda pun membalas pesan singkat yang dikirimkan Arka.


"Ka, maaf. Tadi aku beneran nggak denger telpon kamu, kayaknya hp ini kesilent deh. Nggak tau kepencet atau apa. Maaf ya, Ka. Aku udah dirumah sekarang."


"Klik."


"Send."


Amanda menunggu jawaban. Namun sampai beberapa saat berlalu, Arka tak jual membalas pesannya tersebut. Amanda lalu meletakkan handphonenya dan pergi mandi, berharap setelah mandi Arka akan membalas pesannya itu.


Namun setelah mandi pun, Arka masih juga tak membalas. Mungkin sudah tidur, pikir Amanda. Wanita itu ingin menelpon ibu mertuanya untuk menanyakan kabar si kembar. Namun ia melihat jam yang sudah larut, ia pun tak jadi melakukannya. Karena takut mengganggu istirahat wanita itu. Dan lagi mungkin Afka dan Azka juga sudah tertidur, Amanda pun kini meletakkan handphonenya di sisi tempat tidur dan coba memejamkan mata.


Namun kini ia merasa ada sesuatu yang hilang, kemarin-kemarin ia masih santai. Malah ia senang dan bersemangat menikmati "Me Time" yang diberikan padanya.


Namun entah mengapa hari ini, sebuah kehampaan mengalir dalam jiwanya. Ia merasa sepi tak ada Arka yang mempersempit wilayah ranjang tempat tidurnya. Ia merasa kosong tak mendengar celotehan atau tangisan anak-anaknya yang terkadang super lebay itu.


Amanda merindukan mereka bertiga, sama seperti apa yang dirasakan oleh Arka.