Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Mulai Serius


Malam itu, ketika akhirnya Amanda telah terlelap. Arka mencoret nama Nino dari daftar orang yang ia curigai. Ia kemudian mencatat kelemahan istrinya dan membuat daftar sahabat yang dimiliki oleh Amanda.


Ada nama Nindya, Rani, mahasiswa dan mahasiswi di kampusnya. Setidaknya, semenjak menikah, mereka lah yang Arka nilai cukup dekat dengan Amanda.


Ia lalu menutup buku catatan itu, kini ia beralih untuk berselancar di internet. Melihat berbagai macam ide serta dekorasi kamar bayi kembar laki-laki.




Beberapa gambar tampak mencuri perhatiannya, Namum Arka belum begitu srek. Pasalnya, ia harus membicarakan terlebih dahulu dengan Amanda. Ruangan mana yang akan mereka pakai untuk dijadikan kamar, bagi bayi-bayi mereka nanti. Jika sudah ditentukan, barulah dirasa enak untuk mulai mendesain.


Ia dan Amanda sudah sepakat, agar bayi-bayi mereka tidur dikamar terpisah sejak dini. Alasannya tentu saja banyak.


Pertama untuk menghindari kematian mendadak pada bayi. Karena tidur dikamar terpisah, menurunkan resiko bayi tertindih orang tua dan tidak harus berebut oksigen di satu ruangan.


Selain itu, bayi juga dapat tertidur lelap. Karena minim resiko mendengar obrolan, ataupun dengkuran orang tua selama tidur. Tidur lelap dan berkualitas bagi si bayi, sangat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya.


Alasan lain adalah, tidur ditempat terpisah bisa melatih kemandirian anak sejak dini dan mengembangkan kemampuannya dalam menenangkan diri sendiri.


Arka dan Amanda sepakat untuk tidak menggunakan metode "Takut pada gangguan makhluk halus." Karena itu hanya akan menghalangi segala proses, yang berhubungan dengan metode tumbuh kembang si anak.


Mereka juga sepakat tidak akan memakaikan gurita serta bedong berlebihan pada anak mereka, apabila telah lahir kelak. Keduanya juga enggan bayi mereka diberi mantra ataupun jimat-jimat, yang konon katanya bisa mengusir setan sekitar.


Bukan tak percaya pada makhluk lain selain manusia. Namun lebih percaya saja jika Tuhan melindungi manusia lemah dan masih suci seperti bayi.


"Manusia yang udah banyak dosa aja, masih dilindungi Tuhan. Apalagi yang lemah dan nggak berdaya kayak bayi. Masa iya Tuhan diem aja sambil nonton, pas ada setan gangguin bayi yang bahkan belum bisa ngelawan."


Amanda sering mengatakan hal itu akhir-akhir ini dan Arka pun sepakat.


"Ka, aku nggak mau ya. Ntar pas lahiran diminum-minumin air rumput Fatimah." ujar Amanda disuatu waktu, jauh sebelum hari ini. Arka ingat saat itu ia dan Amanda tengah membaca metode atau cara-cara menenangkan diri saat melahirkan. Dan saat itu Arka pun berkata.


"Di minumin siapa?. Ibu aku?" tanya Arka seraya tertawa.


"Aku cuma memastikan aja, Ka. Hal kayak gini penting dikomunikasikan. Karena itu menyangkut keselamatan jiwa aku sama anak-anak."


"Kamu tenang aja, Man. Ibu aku nggak sekolot itu, koq. Dia orangnya selalu update, nggak pernah suka main Facebook ataupun Instagram."


"Terus apa dong?" tanya Amanda.


"Ibu ngeliatnya tiktok. Yang dia ikutin disana dokter-dokter, pakar, ahli hukum, masak-memasak, traveling. Jadi algoritma sosial media dia, isinya pengetahuan semua. Kalau di tiktok kan semua lengkap tuh. Mau belajar ilmu parenting, ada. Ilmu kesehatan, ada juga. Joget-joget nggak jelas, juga ada. Ibu itu, kadang suka nasehatin tetangganya yang ngeyel dalam ngasuh anak."


"Contohnya?" tanya Amanda lagi.


"Kamu inget kan, waktu kita nginep dirumah ibu. Yang kamu bilang ke aku, ada satu tetangga yang kamu senyumin tapi dia ga bales."


"Ah iya, aku inget."


"Itu namanya bu Tini, pas menantunya mau lahiran. Sama dia, mau di kasih minum air rumput Fatimah."


"Ya ampun." ujar Amanda dengan ekspresi kaget sekaligus takut.


"Sama ibu ku dimarahin, dibilang kalau itu bahaya diminum. Bisa bikin rahim robek dan meningkatkan resiko kematian bayi."


"Terus dia nurut?"


"Ngotot, tetep mau dikasih ke menantunya. Alasannya di kampungnya dia minum itu semua, tapi selamat-selamat aja."


"Ya karena itu lagi beruntung doang." ujar Amanda dengan nada yang mulai gregetan.


"Lah iya, untung-untungan doang. Dokter, bidan pun sepakat kalau itu sangat berbahaya. Dimana-mana dibahas, di tiktok, YouTube, artikel berita. Semua menyatakan kalau itu sangat berbahaya. Makanya sama ibu dilarang, eh dia marah sama ibu. Pas bidan dateng, dilaporin sama ibu ke bidannya. Bidannya marah-marah ke bu Tini. Makin aja ibu dibenci sama bu Tini. Sampe sekarang tuh, dia nggak mau negur ibu. Ibu juga bodo amat, nggak ada urusannya ini sama hidup kita."


"Duh amit-amit deh dapet mertua sok tau modelan bu Tini. Kalau aku jadi menantunya mah, aku berantemin itu si bu Tini. Biarin aja di cap menantu durhaka, dari pada mati sia-sia karena kebodohan dia."


"Makanya kamu tenang aja, ibu tuh nggak gitu. Lagian juga pas kamu lagi ngobrol sama Rianti tuh dikamar, yang kalian ngomongin drakor. Ibu ada ngomong sama aku, bahwa dia nggak mau jadi nenek-nenek tukang ngerecokin."


"Oh ya, ibu ada ngomong gitu sama kamu?" tanya Amanda.


"Ada, dia malah pas kamu lahiran nanti nggak mau dateng. Sampe kamu benar-benar siap untuk dijenguk. Kata ibu, lebih baik jangan kebanyakan orang ngerecokin. Melahirkan cukup ada kita berdua, dokter dan perawat. Kamunya juga nggak risih, nggak pusing dengerin nasehat ini itu. Mana nahan sakit nanti."


"Makasih loh, Ka. Atas pengertian ibu ke aku. Aku pernah liat tuh dulu, pas Rani lahiran anaknya yang pertama. Itu satu keluarga mantan suaminya, ngerecokin semua. Mana ada yang berpendapat begini, begitu. Udalah Rani nya nahan sakit, mereka ribut. Pas anaknya lahir keluarga yang dateng bejibun. Rani masih jahitan, udah dikasih omelan, wejangan ini, wejangan itu. Ntar dulu, gitu loh. Biarin aja dulu itu perempuan yang habis kehilangan darah banyak, istirahat dulu. Ntar dulu nasehat ini, nasehat itu. Yang terpenting itu, dia tidur yang tenang sama makan yang banyak. Ini nggak."


"Malah ribet ya?" tanya Arka.


"Bukan lagi, Ka."


"Belum saudara-saudara iparnya yang ngomongin berat badan anaknya si Rani. Terus si Rani disarankan kasih air tajin ke bayinya, biar gendut, biar nggak malu sama tetangga. Bagus si Rani nggak kena baby blues loh saat itu. Kalau aku, mungkin udah aku banting kali tuh anak depan mereka. Saking pusingnya."


Arka membelai kepala istrinya, sambil terus mendengarkan.


"Pas ngeliat itu, Ka. Aku makin nggak mau tuh punya suami. Ribet anjay, keluarganya."


"Hahaha." tawa Arka pun pecah demi mendengar hal tersebut.


Dan malam ini Arka kembali mengingat itu semua, ia pun kembali tersenyum. Ia beruntung memiliki keluarga yang tidak ribet, hingga tak harus membuat istrinya merasa pusing dan juga tersiksa.


Kini, tinggal bagaimana caranya terus belajar. Agar bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak mereka kelak.


Arka menyudahi pencarian ide kamar tidurnya di internet. Ia kini mengambil handphone dan beralih ke sebuah market place. Ia mulai mengklik tombol keranjang, pada perlengkapan-perlengkapan bayi yang hendak ia beli.


Malam itu, di jam yang sama. Intan tampak terdiam di kamarnya, seraya menatap sebuah buku catatan yang masih kosong. Tangannya kini memegang dan memain-mainkan sebuah pulpen.


"Mbak Rani, mbak Rani." gumamnya kemudian.


"Kira-kira tujuan apa, yang mendasari perbuatan jahatnya dia ke ibu Amanda." lanjutnya lagi.


"Harta, jabatan, aset."


Ia menuliskan kata-kata itu di buku catatan kosong miliknya.


"Lalu apa motifnya?" gumamnya lagi.


"Dendam, iri hati."


Tambahnya kemudian.


"Kalau dendam, kenapa mereka masih berteman baik?" Lagi-lagi Intan bergumam dalam hati.


"Kenapa bu Amanda dan mbak Rani nggak musuhan aja. Malah mbak Rani dikasih kerjaan." lanjutnya lagi.


"Apa iya iri hati?. Karena pengen sukses juga kayak bu Amanda. Pengen kaya raya, punya power?"


"Hm, bisa jadi sih. Tapi kenapa harus jahatin temen sendiri?. Kan mendingan di baikin, siapa tau bisa pinjemin modal, buat bakal supaya lebih sukses."


Intan terus berfikir.


"Gue rasa sih, ada alasan lain."


Intan mencatat gumaman terakhirnya. Ia yakin betul bahwa bukan hanya harta dan jabatan semata yang diincar Rani. Tapi sepertinya ada alasan lain yang orang lain tidak ketahui. Lalu, apa alasan itu?"


"Hhhhh." Intan menghela nafas lalu menghisap Vape yang ada di dekatnya.


Bahkan hingga malam beranjak pun, ia pun tak menemukan jawaban apa-apa.