
"Pokoknya jangan kemana-mana."
Amanda berujar pada suaminya pagi itu, ketika ia baru saja akan berangkat kerja.
"Terus siapa yang nganter kamu?" tanya Arka yang baru beberapa saat lalu membuka mata.
Entah mengapa hari ini ia bangun agak siang, mungkin pengaruh obat yang diberikan oleh dokter. Ia meminumnya semalam, sesaat sebelum tidur.
"Kan ada pak Darwis, biar pak Darwis aja yang nganter aku."
"Nggak apa-apa kali, aku yang nganter kamu pagi ini. Ntar sore, baru kamu pulang sama pak Darwis. Aku nggak tenang kalau nggak mastiin kamu udah sampe kantor atau belum."
"Nggak boleh." ujar Amanda tegas.
"Nggak usah alasan kamu, paling juga mau curi kesempatan biar bisa keluar. Supaya bisa cari orang itu lagi." lanjutnya kemudian.
"Nggak, Man."
"Nanti aku video call, kalau udah sampe. Biar kamu tau aku di kantor, nggak kemana-mana."
Arka menghela nafas, tak ada gunanya berdebat dengan perempuan keras kepala seperti Amanda. Walau kadang dirinya terlihat dewasa dan penurut, namun terkadang juga sisi buruknya bisa keluar.
"Ya udah, kamu hati-hati." ujar Arka kemudian.
Amanda mendaratkan ciuman di kening Arka, yang kemudian dibalas oleh suaminya itu.
"Aku udah bikin sarapan, Ka. Jangan lupa makan."
"Iya, kamu juga jangan telat makan nanti siang." ujar Arka lagi.
"Iya."
Amanda kemudian melangkah dan menghilang dibalik pintu lift.
Arka beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Karena ia selalu terbiasa mandi di pagi hari, maka ia pun tak bisa menunda akan hal itu. Usai mandi, ia mulai membereskan dan merapikan tempat tidur. Ia juga mengambil robot penyapu dan menyetelnya, hingga benda itu kini seliweran kesana kemari guna membersihkan debu.
Sementara alat itu bekerja, Arka kini menuju ke ruang makan. Sesampainya disana, ia terkejut. Karena sarapan yang disediakan Amanda tak seperti biasanya.
Setiap hari Amanda pasti menyediakan sandwich atau scrambled egg, yang dihidangkan dengan kacang kalengan dan juga tomat serta potongan daging panggang. Namun pagi ini, Amanda menyiapkan segala masakan rumahan yang disukai oleh Arka.
Ada nasi, sambal goreng teri pedas manis, sayur asem, dan juga tempe serta tahu yang di bacem. Arka tersenyum menatap meja makan tersebut. Ia lalu memfoto masakan itu dan mengirimkannya ke WhatsApp sang ibu.
"Siapa yang masak, nak?" tanya ibunya melalui pesan singkat di laman WhatsApp.
"Amanda, bu." jawab Arka kemudian.
"Wah, menantu ibu memang hebat." ujar ibunya lagi. Arka membalasnya dengan emoticon senyum dan tawa.
"Bu, Arka semalam udah transfer ibu." ujar Arka. Pesan pun terkirim, tak lama kemudian ibunya kembali membalas.
"Uang bulan lalu juga masih, Ka. Nggak usah sering-sering kasih ibu, lagian ibu sama papamu masih menghasilkan uang sekarang. Mending kamu simpan untuk lahiran istrimu nanti. Walau Amanda itu orang kaya, urusan nafkah rumah tangga harus tetap kamu yang handle. Yang dia kandung itu kan anakmu, melahirkannya ya harus pake uangmu."
"Iya, bu. Arka udah nabung koq buat itu, jadi ibu tenang aja ya. Yang Arka kirim ke ibu itu, emang rejekinya ibu."
"Yo wes, ibu doakan rejekimu makin lancar ya nak."
"Iya, bu."
"Ibu melayani pembeli dulu, ya."
"Iya, bu. Ini Arka juga mau sarapan dulu."
"Iya, selamat makan. Salam sama istrimu, jangan lupa main ke ibu."
"Iya bu, nanti weekend."
Tak lama, ibunya pun tak membalas lagi pesan Arka. Arka lalu mengambil piring untuk segera makan. Pertama-tama, ia mencicipi sayurnya terlebih dahulu.
"Sluuurp."
"Hmm, rasanya pas." ujarnya lalu menyendok nasi dan mengambil sayur tersebut. Arka lalu memakan nasinya dengan sayur hingga tiga suap. Ia suka menikmati dua hal itu, sebelum mengambil lauk lainnya.
Tak lama ia pun mengambil sambal goreng teri pedas manis, yang sedari tadi kelihatan memanggil-manggil. Meminta untuk segera dipindahkan ke piring. Tak lama, ia pun mencicipi dan memakannya dengan nasi. Ternyata tak ada yang kacau dengan masakan-masakan tersebut, semua rasanya pas di lidah Arka. Bahkan ketika ia mengambil tempe dan tahu bacem sebagai tambahan, rasanya pun kian bertambah nikmat.
Beberapa suapan telah ia telan. Tak lama ia pun menghentikan sejenak makannya, lalu mengirim pesan singkat pada Amanda melalui I-message.
"Masakannya perfect, love you tante."
Amanda tersenyum menerima dan membaca pesan tersebut. Tak lama kemudian, ia pun menelpon Arka dengan panggilan video call.
"Pagi, Ka."
"Hey." Arka tersenyum pada istrinya.
"Kamu udah makan?" tanya Amanda.
"Udah nambah malah." Arka menunjukkan piringnya yang masih berisi nasi, lengkap dengan lauk pauknya tersebut.
"Enak nggak?" tanya Amanda lagi.
"Banget, makasih ya."
"Ini kapan kamu belanjanya?"
"Kemaren, langsung aku masukin kulkas. Kamu nggak tau kan?"
Arka tersenyum.
"Makasih ya surprise paginya, walaupun agak beda."
"Iya, sekali-sekali. Masa surprise paginya ah, oh, ah, oh mulu di ranjang." seloroh Amanda.
"Tapi aku suka surprise yang itu." ujar Arka seraya tertawa kecil.
"Apalagi pas tembakan terakhir, kamunya teriak kenceng. Rasanya kayak udah menenangkan kamu atas segalanya." lanjutnya lagi.
"Kamu mah emang mesum otaknya." gerutu Amanda yang membuat Arka semakin terkekeh.
"Heh, kamu juga ya." ujar Arka tak mau kalah.
"Orang kamu juga mesum, kadang." lanjutnya lagi.
"Tapi surprise hari ini ok kan?" tanya Amanda.
"Sip, aku suka masakan kamu. Makasih ya, sayang."
"Iya, udah aku kerja dulu."
"Ya udah, jangan lupa makan. Kasian para bocil nanti kelaparan."
"Iya, ini aja ngemil mulu. Nggak liat kamu penampakan ruangan aku." Amanda menunjukkan ruangannya yang kini dipenuhi snack dan makanan kecil lainnya.
"Astaga, itu ruangan apa mini market?" tanya Arka sambil tertawa.
"Nggak lagi deh, Ka. Hamil sekali ini aja. Kalau hamil mulu, bisa-bisa aku buka warehouse yang isinya makanan semua. Terus aku hidup didalamnya sampe berat badan 100kg."
Arka kembali tertawa dibuatnya, Amanda memang selalu lucu saat tengah sewot akan sesuatu.
"Ya udah, bye Arka." ujar Amanda kemudian.
"Bye, Amanda."
Amanda dan Arka menyudahi telponnya. Usai makan, Arka membereskan meja. Menyimpan sisa lauk, nasi dan juga membersihkan piring. Didalam rumah tangganya tak ada istilah tugas rumah adalah tugas istri semata.
Ia belajar dari kedua orang tuanya, yang selalu mengerjakan tugas rumah secara bersama-sama. Siapa yang berkepentingan, maka ia yang menyelesaikan. Ketika dirasa semua beres, Arka mulai membuka laptop miliknya, mengerjakan beberapa tugas kuliah dan juga konten tulisan di blognya. Arka telah menjadi blogger sejak lama, namun ia tidak terlalu intens memposting konten. Hanya sesekali saja sebagai hobi selingan.
"Ka sorry banget, gue baru baca. Kemaren seharian hp gue stuck di logo Apple, kagak mau Idup. Lo kalau ada apa-apa chat ke Deni aja di 08127887xxxx. Lo udah baik-baik aja kan?"
Satya mengirim pesan singkat pada Arka di beberapa menit kemudian. Kemarin saat hampir di celakai oleh pelaku pemukulan terhadap Amanda, Arka sempat memberitahu Satya melalui laman pesan singkat.
Namun kemarin handphone Satya terjatuh dan tak bisa hidup hingga seharian. Baru pagi ini, handphonenya kembali menyala. Sedang Arka tak memiliki nomor Deni, karena sebelumnya ia merasa cukup jika memiliki satu saja nomor diantara mereka. Sekedar untuk berkomunikasi dan saling bertukar info.
"Udah nggak apa-apa, udah balik juga gue dari RS. Gue cuma mau tanya aja sekarang. Sejauh ini dikantor, ada nggak orang yang kira-kira mencurigakan?" tanya Arka pada Satya.
Tak lama Satya pun menjawab.
"Sejauh ini sih nggak ada, tapi kan pas kejadian masalah kemaren tuh. Yang perusahaan rugi gede itu, pelakunya udah dapet. Si pak Aryo, Wakil kepala divisi pengadaan barang. Nah dia udah dipecat sama bu Amanda. Gue sama Deni, curiga dia yang ngelakuin itu. Bisa aja kan dia bayar orang, buat melenyapkan bu Amanda. Motif dia jelas, mau mendapat keuntungan, mungkin juga mau menguasai perusahaan atau apa."
"Lo percaya nggak sih, kalau itu bukan kerjaan satu orang doang?" tanya Arka lagi.
"Percaya banget." jawab Satya.
"Hal besar kayak gitu, nggak mungkin dikerjakan oleh satu orang. Cuma pak Aryo aja yang apes, ketahuan. Lainnya mungkin cuci tangan."
"Iya sih, ya udah deh. Thank you ya, bro. Infonya dan lain-lain."
"Sip, gue sama Deni juga masih memperhatikan sekitar juga. Kali aja ada yang mencurigakan."
"Kalau ada info baru, kabarin gue." ujar Arka.
"Sip." jawab Satya.
Arka kini mengambil sebuah buku kosong dan membukanya. Ia lalu meraih sebuah pulpen dan mulai menulis.
Terduga dalang :
Maureen.
Nino.
Aryo mantan wakil kepala divisi pengadaan barang.
Arka mencatat itu semua. Sudah sejak kejadian saat itu, ia curiga pada Maureen dan juga Nino. Pasalnya dua orang itu yang paling bermasalah dengan Amanda saat ini. Maureen memiliki masalah sakit hati, karena Arka direbut oleh Amanda. Sedangkan Nino kemungkinan memiliki dendam pada Arka, karena Arka merebut Amanda darinya.
Hari ini, muncul satu kandidat lagi yakni Aryo. Bisa jadi diantara ketiga orang inilah, yang menjadi dalang pemukulan terhadap Amanda waktu itu. Tiga-tiganya memiliki potensi besar dengan urutan pertama tetap Maureen, urutan kedua kini digeser oleh Aryo.
Karena Nino, masih ada kemungkinan bukan dia pelakunya. Mengingat Nino terlihat sangat mencintai Amanda, tak mungkin ia mencelakakan wanita itu. Kalaupun ia dendam, Arka lah yang seharusnya ia celakai. Bukan Amanda.