Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Keresahan Arka


Malam itu, Amanda mencium suaminya dengan sangat. Menagih janji yang diucapkan Arka pagi tadi saat di mobil. Janji bahwa ia akan memberikan kehangatan malam ini.


"Hmmh."


Amanda mulai mengeluarkan suara, tanda gairahnya mulai menanjak. Namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Arka. Ya, seperti sebuah perlakuan yang terpaksa dilakukan


"Ka, kamu kenapa?"


Amanda menghentikan aktivitasnya dan bertanya pada Arka.


"Nggak apa-apa, Man. Ayok." ujar Arka mengajak Amanda melakukannya kembali.


"Nggak, aku nggak bisa kalau kamu kayak gini. Aku yakin banget, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku."


"Man, nggak ada."


"Ka, kamu sendiri yang bilang. Apa-apa itu dikomunikasikan, kita ini suami-istri. Kalau ada apa-apa itu ya, ngomong. Biar kita nggak salah paham. Inget kan soal omongan kamu itu?"


Arka diam, ia kini duduk di pinggiran tempat tidur.


"Maafin aku, ya." ujarnya kemudian. Ia tak enak telah mematikan gairah Amanda, padahal keinginan wanita itu tengah mencuat tajam.


"Nggak apa-apa, Ka. Bisa besok-besok. Yang terpenting perasaan kamu dulu, cerita sama aku kenapa."


Arka menghela nafas lalu menatap Amanda.


"Orang manajemen, Man. Mereka semua udah tau soal kita."


"Hah, serius kamu?" Amanda terkejut sekaligus cemas.


"Terus kamu gimana?. Dikeluarin dari manajemen?. Karier kamu distop?" lanjutnya lagi.


"Nggak, Man. Nggak sampe kayak gitu. Mereka juga nggak peduli aku mau nikah kek, mau apa kek. Cuma mereka minta aku hati-hati, saat lagi berdua sama kamu. Soalnya foto aku di acara baby shower kemaren, ada yang ngeshare ke salah satu akun lambe."


"Terus gosipnya kesebar?" tanya Amanda semakin panik.


"Lumayan, tapi udah dihandle sama pak Jeremy. Tapi dia minta banget aku, untuk hati-hati. Karena katanya karier aku lagi bagus belakangan ini, jangan sampe hancur karena perbuatan akun gosip."


"Foto yang kesebar itu, kita berdua."


"Kebetulan nggak sih, kamu jauh dibelakang aku. Di foto itu, aku lagi ngobrol sama Rio, kayak diambil candid gitu."


"Duh, ini pasti gara-gara penjaga depan teledor nih. Sampe bisa ada yang masuk dan ngambil gambar."


"Tapi bisa juga, ada yang sengaja atau nggak sengaja ngeshare foto itu di sosial media punya dia. Terus diliat akun lambe-lambean."


"Tapi, Ka. Undangan kan udah kita ingetin jauh-jauh hari. Aku ngomong langsung dan ada juga tertera di undangannya sendiri, di bagian bawah. Bahwa nggak ada yang boleh share di sosmed. Kalaupun mau insta story, jangan sampe keliatan ini acaranya siapa."


"Ya mungkin aja ada yang nggak sengaja atau teledor."


"Iya sih, terus gimana dong kamu nya?"


"Udah beres, koq. Pak Jeremy cuma nyuruh aku sama Rio untuk hati-hati. Selebihnya mereka nggak mau ikut campur, karena ini urusan pribadi aku."


Amanda menghela nafas.


"Maafin aku ya, Man. Aku tuh masih bete, walaupun masalah ini udah kelar. Makanya tadi aku kayak mau nggak mau melayani kamu."


Amanda memegang tangan Arka.


"Aku nggak apa-apa, Ka. Hal kayak gini tuh justru harus diomongin. Kamu nggak mesti harus menyenangkan hati aku terus. Adakalanya kamu harus bilang, apa yang lagi kamu rasakan, jadi aku ngerti. Kamu pikir aku peramal, bisa tau isi hati kamu."


"Tapi tadi kamu tau kalau aku lagi nyimpen masalah."


"Ya ketahuan dari cara kau cium aku. Perasaan itu nyampe kali, ke orang lain."


Arka menatap Amanda, sementara istrinya itu hanya tersenyum kecil.


"Kita duduk di balkon aja, mau nggak?" tanya Amanda pada Arka. Pemuda berusia 21 tahun itupun mengangguk.


"Kamu duluan gih, kesana." ujar Amanda.


"Kamu mau kemana?" tanya Arka.


"Ke belakang bentar."


Arka menuju ke balkon kamar, sementara Amanda menuju ke dapur. Arka duduk pada sebuah kursi sambil menatap ke hamparan lampu-lampu kota yang ada dibawah, tak lama kemudian Amanda datang.


"Hey." ujarnya menyodorkan segelas kopi pada Arka.


"Kamu bikinin aku?"


Amanda mengangguk lalu duduk disisi Arka. Ia sendiri membawa segelas susu hamil, yang juga baru saja ia buat.


"Makasih, ya." ujar Arka lalu menyeruput kopinya.


"Enak nggak?" tanya Amanda. Arka pun mengangguk.


"Pokoknya mulai besok, kalau pergi sama aku. Kemanapun itu, kita mesti hati-hati."


Arka kembali mengangguk dan mereguk lagi kopinya.


"Kamu tadi gimana dikantor?" tanya Arka.


"Baik, nggak ada masalah." ujar Amanda.


"Cuma anak kamu aja nakal." lanjutnya lagi.


"Kenapa lagi mereka?" tanya Arka seraya menyentuh perut istrinya.


"Gerak mulu, sampe perut aku miring pas lagi meeting."


"Oh, ya?"


"Iya, aku sentil aja sekalian. Diem tuh pada."


Arka tertawa kecil, namun jujur ia kasihan pada Amanda. Pastilah rasanya sangat tidak nyaman sekali, ketika ada sesuatu yang hidup didalam tubuh kita.


"Sabar ya, dua bulan lagi mereka keluar koq."


"Aamiin, mudah-mudahan baik-baik aja sampai lahir." ujar Amanda.


"Aamiin, timpal Arka kemudian.


"Oh ya, Ka. Mm, kamu suka makan pete, ya?" tanya Amanda dengan sedikit ragu-ragu.


"Iya, tapi aku lagi nggak makan koq. Emang mulut aku bau pete?" tanya Arka khawatir.


"Bukan gitu, aku kan nggak suka pete. Semenjak hamil aku jadi pengen banget, waktu ngeliat orang makan pete. Aku tahan-tahan aja selama ini, tapi tadi aku makan."


Arka tertawa.


"Serius, kamu makan pete?"


Amanda mengangguk sambil nyengir.


"Pantes, ada bau-bau nggak enak. Aku mau nanya, takut kamunya ngambek."


"Emang bau ya, Ka. Haaah."


Amanda meniupkan nafasnya kepada Arka.


"Ah, Man. Bau banget." ujar Arka seraya tertawa dan memalingkan wajah.


Amanda terkekeh.


"Makanya tadi kamu berhenti ciuman sama aku, karena aroma ini kan. Ngaku nggak kamu?"


"Hahaha, nggak. Ini karena aku masih bete aja sama masalah tadi."


"Alah, bohong kamu kan. Haaah."


Amanda kembali meniupkan nafas naga nya kepada Arka.


"Man, ah." Arka memalingkan wajahnya sambil masih tertawa.


"Haaaaah."


"Nih perempuan bener-bener, ya."


Arka menggelitik Amanda, sehingga wanita itupun tertawa-tawa.


"Hahaha, ampun. Aku tiupin lagi nih aroma naga nya, Haaaaah."


Arka kini berlarian kedalam sambil masih tertawa. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa gitar.


"Kita nyanyi aja, yuk." ajak Arka pada istrinya.


"Lagu apa, Ka?"


"Kamu bisanya apa?"


"Banyak bisanya, tergantung."


"Hmm, Eternal flame bisa?" tanya Arka.


"Bisa, tapi yang versi Shane Filan ya."


"Ok." Arka mulai memetik gitarnya dan mencari kunci lagu. Tak lama setelah itu, mereka pun terdengar bernyanyi bersama.


Close your eyes, give me your hand, darling


Do you feel my heart beating


Do you understand


Do you feel the same


am i only dreaming


is this burning an eternal flame


I believe it’s meant to be, darlin’


I watch you when you are sleeping


you belong with me


do you feel the same


am i only dreaming


is this burning an eternal flame


Say my name


Sun shines through the rain


a whole life so lonely


and then come and ease the pain


i don’t want to lose this feeling, oh


Malam itu, menjadi malam yang berharga bagi Arka dan Amanda. Pelajaran yang mereka dapat adalah, bahwa rumah tangga bukan hanya perihal kepuasan dan kepentingan satu pihak saja.


Melainkan tentang bagaimana memahami keadaan pasangan, yang sedang tidak bisa memenuhi keinginan kita. Sebuah hal yang mungkin sepele bagi pasangan yang lain. Namun bagi mereka, ini adalah sebuah pelajaran yang sangat penting.


Sementara di sudut lain, jauh dari kebahagiaan dan kedamaian yang dirasakan Amanda serta Arka. Rio tengah coba berbicara pada Liana, yang dalam beberapa hari ini seolah menghilang.


Jangankan bertemu, pesan yang dikirim Rio saja tidak pernah dibalas oleh perempuan itu. Namun kini mereka tak sengaja bertemu, ketika Rio mampir ke sebuah minimarket yang tak jauh dari kost Liana. Kebetulan Liana juga pergi ketempat itu. Namun melihat Rio yang baru keluar, Liana langsung memutar arah dan seolah ingin menghindar.


"Li, kamu kenapa sih?. Kenapa menghindar terus dari aku beberapa waktu belakangan ini?"


Rio berjalan menyusul Liana, sementara perempuan itu makin mempercepat langkah. Seolah enggan berbicara dengan Rio.


"Li."


Rio mendapatkan lengan Liana dan mencengkeramnya dengan erat. Liana lalu menepis cengkraman itu.


"Lepasin, aku mau sendiri." Liana kembali menjauh.


"Kamu tuh kenapa sih?. Kamu marah, karena aku ngomong kalau aku cinta sama kamu tempo hari di WhatsApp?"


Liana bungkam dan terus berjalan.


"Li, soal itu santai aja kali. Aku cuma ngomong, Kamu mau terima syukur, nggak ya udah. "


"Kamu paham nggak sih kondisi aku?" Liana berbalik dan membentak Rio, kali ini Rio terdiam.


"Untuk bertahan hidup aja, aku harus berjuang keras. Aku harus melawan trauma yang aku hadapi. Kamu datang-datang malah menyatakan cinta, kamu tau nggak betapa jijiknya aku sama kata-kata itu sekarang?"


Liana berkata dengan penuh penekanan, ia membiarkan Rio terkunci di tempatnya. Lalu pergi meninggalkan pria itu sendirian.