Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Janji Adalah Hutang


Esok harinya, Arka mandi dan berpakaian. Ia telah siap pergi ke kampus dengan penuh percaya diri.


"Mau kemana kamu?" tanya Amanda dengan nada seolah tak suka, melihat kegembiraan yang ada di wajah suaminya itu.


"Ya mau ke kampus lah, kan kamu udah janji mau ngebebasin aku hari ini."


"Kata siapa?" ujar wanita itu kemudian.


"Oh jadi gitu." Arka terdengar mulai marah.


"Ngajarin anaknya yang di dalem jadi pembohong, iya?"


Amanda terdiam, Ia baru sadar jika ada makhluk hidup yang kini tumbuh dalam dirinya.


"Itu bayi dianggap patung, gitu?. Nggak ada nyawanya?"


Amanda makin diam.


"Biarin aja, ntar pas gede. Anaknya jadi orang yang nggak bisa menepati janji, apalagi sama cewek. Bohong terus, ntar."


"Koq kamu ngomongnya gitu sih?. Kan ucapan itu doa tau." ujar Amanda dengan nada protes, namun rendah dan tak ada kesan ngegas.


Ia sedikit takut pada Arka, karena laki-laki itu mulai menunjukkan ekspresi gerah terhadap sikapnya barusan.


"Abisnya kamu ngajarin anak nggak bener. Orang yang pertama dicontoh anak itu, ya ibu bapaknya. Terutama ibunya yang dia denger setiap hari. Hati kamu itu nyambung tau nggak sama mereka, orang mereka di dalam badan kamu."


"Iya, iya. Gitu aja marah."


"Gimana nggak marah coba, kamu udah janji."


"Ya udah kamu janji juga, nggak usah berusaha nyari orang itu lagi. Lapor aja ke polisi kalau ketemu lagi. Kamu rekam kek, foto kek, cari tau nomor plat kendaraannya kek."


"Iya, aku janji." ujar Arka kemudian.


Pemuda 21 tahun itu lalu menghela nafas, guna mengusir segala kedongkolannya terhadap Amanda. Biar bagaimanapun, Amanda tengah hamil sekarang. Ia tidak boleh bersikap terlalu keras pada istrinya itu.


"Aku pergi ya, abis itu aku juga ada janji sama mbak Arni. Mungkin pulangnya menjelang malam. Nggak apa-apa, kan?"


Amanda mengangguk, namun masih menunduk. Agaknya tadi Arka cukup keras kepada wanita itu.


"Sini." Arka meraih wanita itu dan membawanya ke pangkuan.


"Maafin aku, ya." ujar Arka kemudian. Amanda mengangguk, Arka lalu memeluknya cukup lama.


"Nanti malem, kita malam mingguan disini. Di balkon." ujar Arka seraya menempelkan hidungnya di hidung Amanda.


"Bawain martabak, ya." ujar Amanda kemudian.


"Martabak apa?. Manis, telor?"


"Dua-duanya."


"Ok deh, nanti aku bawain ya."


Amanda mengangguk, Arka kini mencium keningnya seraya mengelus perut wanita itu dengan lembut.


"Dek, jagain mama. Papa pergi dulu, ya." ujarnya kemudian. Tak lama, Arka sudah terlihat meninggalkan kediamannya dan menuju ke kampus.


Arka begitu bahagia hari ini, serasa dirinya baru dilepas dari pingitan. Walau hanya ditahan didalam rumah selama tiga hari, namun baginya itu seperti berhari-hari. Arka bukan orang yang betah untuk tidak menginjakkan kakinya di luar, meski itu hanya untuk beberapa saat saja.


Ia bertemu Rio dan menceritakan semuanya, Rio pun terkekeh-kekeh mendengar pernyataan sahabatnya itu. Soal dirinya yang di pingit oleh Amanda. Rio juga masih belum move on dari tarian BTS, yang tempo hari diperlihatkan istri temannya itu padanya. Jadilah hari itu, Arka banyak mendapat guyonan disana-sini.


Apalagi ketika ia menyambangi kantor manajemen peace production, makin banyak lagi teman satu grupnya yang meledek. Namun ledekan mereka hanyalah sebatas candaan para sahabat. Karena isi grup mereka pun hanya terdiri dari beberapa orang saja dan pertemanan disana cukup akrab.


Ada banyak aib member lain yang kadang tersebar di grup itu. Mulai dari mengupil, kentut, tidur ngorok, serta hal-hal kecil seperti ileran atau foto candid yang memperlihatkan wajah blo'on mereka.


Candaannya pun tak pernah menyebar hingga keluar grup. Ada banyak foto jelek mereka yang juga dijadikan stiker dan ditulisi dengan kata-kata ekspresi seperti, capek deh, dah lah, aku males, ngapusi, ambyar dan lain sebagainya. Level pertemanan mereka sudah sampai ke tahap itu. Arka pun menyelesaikan urusannya di kantor tersebut hingga tuntas.


Ketika hari perlahan senja. Di suatu tempat yang jauh dari keramaian, sebuah percakapan pun terdengar.


"Gue mencurigai lo." ujar Arka dengan nada tegas.


Nino tersenyum kecil, seraya memiringkan sedikit sudut bibirnya yang sebelah kanan. Ia mengambil kopi yang ada dihadapannya, lalu mereguk minuman tersebut hingga hampir setengah. Laki-laki itu kemudian menyalakan sebatang rokok.


Dihisapnya rokok tersebut dan dihembuskannya asap rokok itu, hingga mengebul memenuhi ruangan.


"Lo cinta kan sama dia?" Nino bertanya pada Arka, yang masih fokus menatapnya.


"Ya." jawab Arka singkat.


"Hanya dalam waktu hampir satu tahun ini?"


"Ya." jawabnya lagi.


"Gue mengenal Amanda itu lebih lama dari lo. Belasan tahun gue tinggal di negara orang, bertemu dengan berbagai macam tipe perempuan, tapi yang gue inget cuma dia. Lo bandingkan, lebih besar mana cinta gue atau cinta lo terhadap dia?"


Arka diam.


"Sekarang kenapa gue harus mencelakakan dia?. Karena dia sama lo?"


Arka masih diam.


"Jujur gue marah, karena dia lebih memilih elo ketimbang gue. Tapi gue tau cara menghargai keputusan orang lain. Terlebih keputusan itu, dibuat oleh orang yang sangat gue cintai."


Arka kini menghela nafas.


"Gue cuma perlu memastikan. Karena keselamatan Amanda dan anak-anak gue, adalah tanggung jawab gue."


Kali ini Nino yang menghela nafas, di reguknya kembali kopi yang ada dihadapannya hingga habis. Lalu ia kembali menghisap rokok.


"Gue curiga, karena lo termasuk orang yang bermasalah dengan Amanda."


Nino membuang pandangannya ke bawah, seraya menghembuskan asap rokoknya. Kemudian, ia kembali menatap Arka.


"Lo yakin, disekitar Amanda itu nggak ada yang berkhianat sama dia?"


"Setahu gue, Amanda nggak ada bermasalah sama orang terdekatnya."


Nino kembali menghela nafas.


"Selama lo kenal Amanda, menurut lo dimana letak kelemahannya dia?"


Arka kini membuang pandangan dan agak berfikir.


"Setahu gue, dia wanita yang sangat kuat. Dia nggak punya kelemahan apapun dalam dirinya."


"Berarti lo belum mengenal dia dengan baik."


Perkataan Nino itu sukses membuat Arka menjadi tersentak. Ia kini kembali menatap mantan pacar istrinya itu.


"Kelemahan Amanda adalah, dia itu terlalu gampang percaya sama orang lain. Like she trust you, padahal dia baru kenal sama lo. Begitu juga cara dia mempercayai orang-orang yang ada disekitarnya. Especially, orang-orang yang dia sebut sebagai sahabat."


"Maksud lo?"


"Gue pernah melihat kejahatan itu, dimata beberapa orang yang disebut Amanda sebagai sahabat. Gue bisa melihat ada kepalsuan disana, tapi gue nggak bisa ngomong apa-apa. Gue nggak pernah punya bukti apapun soal apa yang gue rasakan tentang mereka. Dan lagi mereka itu sudah lebih dulu berteman dengan Amanda. Kalaupun gue bilang, Amanda nggak akan percaya. Dia pasti marah, karena dia adalah orang yang sangat menyayangi teman-temannya. Karena dia nggak punya tempat mengadu lain, selain temannya. Orang tuanya lo tau sendiri lah."


Arka terdiam mendengar penjelasan itu. Mungkinkah selama ini, ada orang-orang terdekat Amanda yang selalu berbuat jahat kepadanya. Namun Amanda sendiri tidak menyadari hal tersebut.


Kalaupun iya, siapa orang itu dan kenapa?. Malam itu, Arka pulang dengan pikiran yang mengira-ngira. Ia menyimpan semua perkataan Nino didalam benaknya.


"Ka, jangan lupa martabaknya."


Amanda mengirim pesan singkat di laman i-message milik Arka, segera saja Arka bergegas memenuhi janjinya itu. Tak lama setelah membelikan keinginan Amanda, ia pun pulang kerumah.


Sedikit pun ia tak membahas soal pertemuannya tadi dengan Nino, ia tak ingin membuat istrinya itu kepikiran. Biarlah nanti kedepan, ia yang akan menyelidiki semuanya sampai tuntas. Ia ingin tahu, siapa orang yang membenci istrinya itu.