Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Memberanikan Diri


Esok harinya, ayah tiri Arka yang baru tidur beberapa jam akibat ronda malam tersebut. Tiba-tiba dibangunkan oleh tetangganya yang butuh bahan material, untuk pembangunan tempat ibadah.


Tentu saja ayah Arka segera bergegas. Ia tak ingin menunda-nunda dan menyusahkan orang, yang hendak membangun tempat peribadatan bagi umat tersebut.


Pagi-pagi sekali ia pamit ke toko, walaupun harusnya libur. Rio sendiri masih ngorok, sementara Amanda dan Rianti baru saja jalan ke pasar. Arka mendekati ibunya yang tengah memakaikan baju pada si kembar, yang baru saja mandi.


"Bu, mereka udah minum susu?"


"Sudah tadi, begitu mereka bangun langsung disusui ibunya."


"Hoahoahuuu."


Azka dan Afka mengeluarkan suara. Arka tersenyum, ibunya meletakkan bayi-bayi itu ke dalam stroller.


"Kamu mau kopi, Ka?"'


"Mau, bu." ujar Arka.


Ibunya membuatkan kopi dan meletakkan pisang goreng ke atas meja makan. Arka pun duduk disana bersama ibunya.


"Bu."


Arka menarik nafas.


"Iya." Ibunya menatap Arka.


"Arka boleh tau nggak tentang ayah kandung Arka."


Ibunya membuang pandangan seraya menghela nafas. Raut wajahnya yang tadi biasa-biasa saja, kini berubah penuh dendam.


"Untuk apa kamu menanyakan laki-laki itu." ujarnya ketus.


"Arka cuma pengen tau, bu. Dia orang yang seperti apa." ujar Arka seraya menunduk. Ibunya pun akhirnya menurunkan sedikit ego, karena Arka berhak tau perihal siapa ayah kandungnya.


"Bapakmu itu persis seperti kamu, Arka. Waktu ibu ketemu bapakmu, bapakmu bentukannya ya kayak gini. Bedanya waktu itu dia sudah agak lebih dewasa. Usianya sekitar 38 tahunan, sedang ibu baru 20 tahun."


Ibu Arka menghela nafas, perlahan ingatannya pun melayang. Pada peristiwa 23 tahun lalu itu.


"Waktu itu, dia baru datang ke kota ini. Ada seorang pedagang yang membodohi dia, kebetulan ibu melintas didekat dia. Pedagang itu menjual souvernir dengan harga yang tidak wajar, ibu bilang sama dia kalau dia sudah dibohongi. Awalnya dia terlihat kecewa, tapi dia tidak marah. Dia bilang tidak apa-apa. Mungkin pedagang itu sangat membutuhkan uang, makanya sampai berbohong seperti itu."


Arka masih mendengarkan ibunya.


"Kami berkenalan dan ternyata dia tinggal di penginapan, yang nggak jauh dari kediaman ibu. Setiap hari kami bertemu, sampai akhirnya kami saling suka. Ibu pikir, seperti kebanyakan bule lain. Dia pasti belum menikah, karena bule rata-rata menikah itu di usia 40an tahun. Dan lagi dia tidak pernah menyinggung hal itu, sampai kemudian hubungan kami semakin jauh."


Ibu Arka kembali menarik nafas, ada kesedihan yang kini meliputi wajahnya. Sedang Arka masih terus memperhatikan dan mendengarkan.


"Ibu akhirnya hamil dan dia tau itu. Sebenarnya dia bukan tidak mau bertanggung jawab sama sekali."


"Maksud ibu?" tanya Arka bingung. Karena selama ini itulah yang sering ia dengar dari ibunya. Bahwa sang ayah sama sekali tidak mau bertanggung jawab.


"Dia bertanya pada ibu, apakah ibu mau menggugurkan atau melanjutkan kehamilan itu. Ibu bilang mau melanjutkan dan dia menyetujui. Tapi dia tidak bisa menikahi ibu, dia hanya bisa membiayai sampai kamu dewasa. Ibu menginginkan pernikahan, ibu tidak mau kalau tidak dinikahi. Disitulah bapakmu jujur kalau dia sudah menikah dan memiliki seorang anak berusia 11 tahun, di negaranya. Hati ibu hancur, ibu marah dan benci sama dia. Ibu merasa dibohongi mentah-mentah. Setelah itu tiba-tiba saja dia menghilang, petugas tempat dia menginap mengatakan jika dia mendadak pulang ke negaranya karena sesuatu. Ibu tidak memiliki kontaknya atau apapun tentang dia."


Arka diam, ternyata seperti itu cerita sesungguhnya. Ibunya mengusap air mata, Azka dan Afka yang masih ada didekat sana pun ikut terdiam. Seolah mendengarkan percakapan serius antara ayah dan juga nenek mereka.


Tak lama kemudian, Amanda dan Rianti kembali dari pasar. Buru-buru ibu Arka bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ia tersenyum ketika menantu dan keponakannya itu tiba di ruang makan.


"Udah ke pasarnya?" tanya ibu Arka pada mereka.


"Jangan terlalu boros, Amanda." ujar ibu Arka kemudian.


"Nggak koq bu, lagian ini juga sekalian buat kalian. Buat besok-besok." ujar Amanda seraya tersenyum.


"Mana anak mama?"


Amanda menyapa bayi-bayinya. Para bayi itu pun mengangkat tangan dan kaki mereka, seakan minta digendong.


"Mama baru abis dari pasar, ntar gendong papa aja." ujar Arka.


"Iya, ntar kalian bau cumi-cumi. Mau?" ujar Amanda.


"Tadi kamu beli cumi-cumi?" tanya ibu Arka lagi.


"Iya, bu. Ada ikan juga sama daging."


"Ya udah mau dimasak apa, nanti ibu masakin." ujar ibu Arka.


"Terserah ibu, Amanda mah yang penting makan, yang penting enak." ujarnya kemudian.


"Yang penting enak ya, sayang. Yang penting enak." Amanda lagi-lagi bersikap seperti orang gila dihadapan bayinya. Sementara kedua bayi itupun tersenyum.


"Udah ah, mama mau mandi dulu." ujar Amanda.


Tak lama kemudian Amanda pun beranjak, ia pergi mandi sedang ibu Arka membawa belanjaan ke dapur.


Arka sendiri menuntaskan sarapannya, lalu membawa si kecil untuk berjemur didepan.


***


"Sebel banget gue, ngapain juga kemaren gue harus ngeliat si Amanda."


Rani menggerutu dihadapan Maureen yang beberapa saat lalu datang ke kediamannya.


"Ketemu dimana lo, sama dua pasangan lebay itu?" tanya Maureen.


"Di mall, waktu lagi ngajak anak-anak gue jalan. Pengen banget itu anak-anaknya gue jatuhin dari lantai 4 mall, biar mampus sekalian."


"Hahaha, pengen liat gue mukanya si Amanda kalau itu anak lo jatuhin."


"Gue sih seneng." ujar Rani.


Kedua orang gila itu tertawa, sementara kedua anak Rani terdiam dari balik pintu ruang tengah.


"Kak Rasya, koq mama sama tante itu jahat ya?" tanya Rania pada kakaknya. Wajah Rasya terlihat sedih namun juga sama penuh ketakutan.


"Rania takut, nanti kita juga di jatuhin mama dari lantai 4. Kayak adek-adek bayi itu." lanjut Rania lagi.


"Kak Rasya nggak suka mama berteman sama tante itu." ujar Rasya kemudian.


"Iya ya kak, kenapa mama temennya begitu. Kenapa nggak temenan aja sama tante Amanda. Tante Amanda kan baik, udah gitu suka ajak Rania main lagi. Tante ini mah, suka judes kalau ngeliat Rania.":


Rasya dan Rania lalu mengintip dari balik pintu itu, dan terus mendengarkan percakapan jahat antara ibunya dan juga Maureen.


Kedua perempuan gila itu kian tertawa-tawa, tak sadar jika ada dua anak kecil yang melihat serta mendengar percakapan mereka. Dua anak kecil yang masih suci hati serta pikirannya. Yang seharusnya dijaga dan bukan dirusak, oleh orang-orang dewasa yang tak bertanggung jawab seperti mereka.