
Mobil Amman terjebak diantara mobil lain yang saling bertabrakan, pria itu kini terpaku didalamnya. Tak ada luka serius yang ia alami, hanya nafasnya saja yang tampak tersengal-sengal.
Justru yang lebih parah adalah orang-orang yang ia tabrak, atau nyaris ia tabrak. Rata-rata dari mereka yang nyaris tertabrak itu kaget, lalu membanting stir ke arah lain. Mengakibatkan orang-orang tersebut malah menabrak pengendara lainnya dan pengendara lainnya itu pun, menabrak pengendara lainnya lagi.
Suasana di luar sangat ricuh, tak lama kemudian polisi dan ambulans pun tiba. Meski diprediksi tak ada korban jiwa, namun banyak yang terluka dan mengalami kerugian.
Akibat satu orang yang memelihara emosi negatif dalam dirinya, emosi negatif tersebut justru malah mencelakakan orang lain.
Sementara dirumah sakit, semua masih terdiam membisu. Ryan masih terpaku ditempat duduknya dan mencoba mengingkari kenyataan yang baru saja ia dengar. Amanda, Arka, Ansel dan yang lainnya pun turut terdiam.
Pikiran mereka seolah berada di jalan buntu, apa yang mereka dengar dari Citra sangatlah pelik. Mereka tak menyangka ada kisah yang sedemikian rumit dalam hidup seseorang. Rasanya kisah seperti itu hanya ada di dalam sinetron ataupun novel.
Namun kisah tersebut benar ada di dunia nyata. Sebuah kisah tentang ketidakrelaan dalam menerima kenyataan hidup. Nino adalah hasil dari arogansi Amman yang tak terima dengan kekalahan. Ia tak bisa begitu saja merelakan apa yang ia inginkan menjadi milik orang lain.
Hidup didalam keluarga yang selalu memaksakan kehendak, membuat Amman tumbuh menjadi manusia yang juga suka berbuat demikian. Apa yang diperbuat orang tuanya terhadap dirinya, tak lantas membuat Amman berpikir tentang kebalikan.
Kebanyakan orang beranggapan jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang orang tuanya suka memaksakan kehendak, maka anak itu akan tumbuh menjadi pribadi yang sebaliknya. Karena ia merasa jika dipaksa itu tidaklah nyaman. Namun kita adalah manusia, apa yang dicontohkan orang tua itulah yang kita wujudkan dalam hidup.
Sebab otak manusia itu sama seperti komputer kosong yang diprogram, siapa programmernya?. Orang terdekat kita, terutama orang tua. Anak yang dididik oleh orang tua yang kasar, akan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kasar pula. Apabila orang tuanya suka memaksakan kehendak, maka jadinya akan seperti Amman.
Sejak ia kecil, orang tuanya selalu memaksa Amman memenuhi standar yang mereka tetapkan. Memenuhi segala permintaan yang mereka inginkan. Maka dari itu Amman tumbuh menjadi sosok yang sama persis, bahkan lebih ahli dalam hal memaksakan sesuatu. Ketimbang orang tuanya sendiri.
Ia memaksakan cintanya pada Citra, dengan cara yang begitu menjijikkan. Ia juga memaksa ibu Amanda untuk menerima saja sikapnya yang sewenang-wenang. Memaksa Rachel untuk terus melakukan apa yang ia inginkan.
Ia memaksa Amanda untuk bisa memenuhi tujuannya. Memaksa Rani untuk menjadi pintar dalam hal menjalankan rencananya. Memaksa Maureen untuk jadi upeti demi tujuan keserakahannya. Amman telah menjadi pribadi yang begitu memuakkan bagi orang-orang di sekelilingnya.
***
"Pak Ryan."
Tiba-tiba dokter menghampiri, dan mengatakan jika kini Nino sudah mulai sadarkan diri. Ryan pun segera beranjak menuju ke kamar anaknya, usai mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter tersebut.
"Dad."
Nino berusaha tersenyum disaat keadaan tubuhnya belum lagi stabil. Masih ada sisa-sisa kesakitan disana, yang ia coba sembunyikan. Ryan mendekat dan mencium kening anaknya itu, dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Ryan seraya menatap Nino dalam-dalam. Sementara Arka, Amanda, dan Ansel kini perlahan mendekat.
"Sakit." ujar Nino seraya tertawa.
Ryan pun akhirnya ikut tertawa, namun air matanya tetap jatuh tak tertahankan.
"Dad, please." ujar Nino kemudian.
Ryan memeluk Nino dengan erat. Ansel, Arka dan Amanda sudah tiba didekat Nino. Mereka bertiga pun ikut menghambur dan menangis.
Nino berusaha keras memberi pelukan pada mereka semua, disaat luka bekas tusukan itu masih terasa begitu nyeri.
"Sorry ya, gaes." ujarnya meminta maaf. Sebab ia merasa bersalah telah menyebabkan banyak orang menjadi sedih. Sementara Arka, Amanda dan Ansel malah kian menangis bahkan tersedu-sedu.
"Gue nggak mau lo mati, Nin. Gue nggak mau dimarahin daddy sendirian, lo juga harus kena."
Ansel membuat Nino tertawa, namun tawanya tertahan oleh rasa sakit.
"Gue udah nggak apa-apa sekarang. Daripada lo bertiga nangis, mendingan beliin gue nasi Padang."
Arka, Amanda, dan Ansel kompak menatap Nino.
"Nggak boleh." ujar mereka bertiga secara serentak dengan nada sewot.
Nino kembali tertawa, begitupula dengan Ryan. Meski masih ada sisa-sisa air mata di wajahnya. Sementara dari pintu, Citra bisa menyaksikan mereka yang tengah berada di dalam kebersamaan. Air mata wanita itu menetes, namun ia tersenyum melihat Nino yang akhirnya sadarkan diri.
"Dad, ini darah siapa?"
Nino bertanya pada Ryan seraya melirik kantong darah, yang tergantung pada infus holder dan tengah dialirkan ke tubuhnya.
Jujur Ryan terkejut, ia tak menyangka Nino akan menanyakan hal tersebut. Namun Nino bertanya bukan tanpa alasan. Ia tahu kondisi darahnya yang tidak memungkinkan untuk bisa cepat mendapatkan donor, apabila diperlukan.
Nino masih menunggu jawaban Ryan, sementara Ryan kini diam dan melirik sekilas. Ke arah menantu dan kedua anaknya yang lain.
"Oh, apa daddy tau siapa.orangnya?" tanya Nino lagi.
Ryan menggelengkan kepala.
"Nino harus berterima kasih sama dia, dad?"
Ryan menghela nafas lalu mengangguk.
"Daddy akan sampaikan pada dokter, biasanya dokter mengetahui siapa yang sudah mendonorkan. Karena ini bukan dibeli dari bank darah, melainkan orang itu diminta untuk datang lalu memberikan darahnya." ujar pria tua itu.
"Ok, sekalian daddy tanyakan siapa orangnya." ujar Nino.
Ryan terdiam, ia terjebak ucapannya sendiri. Nino kini jadi makin penasaran.
"Kalau yang bersangkutan bersedia diberitahukan namanya, dokter pasti akan kasih tau. Tapi kalau tidak ya sudah." ujar Ryan kemudian.
Nino mengangguk dan kembali tersenyum. Sementara Arka, Amanda, dan Ansel saling menatap satu sama lain.
Ryan belum ingin menceritakan hal ini, mengingat kondisi tubuh Nino yang masih sangat lemah. Meski ia berusaha terlihat kuat, namun Ryan bisa melihat dari raut wajahnya yang masih begitu pucat.
Bahwa ia masih butuh perawatan menyeluruh, termasuk untuk tidak stress memikirkan sesuatu. Sebab itu hanya akan menghambat proses penyembuhannya.
Dan lagi apabila diceritakan siapa ayahnya, Nino akan semakin penasaran. Kenapa bisa itu terjadi, apa kisah yang ada dibelakangnya. Ia akan terus bertanya hingga mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dan belum tentu jika diceritakan nanti, ia akan bisa menerima dengan lapang dada. Mengingat perjalanan hidupnya yang begitu rumit.
***
"Amanda, kamu nggak apa-apa?" tanya Arka ketika mereka sudah berada di mobil.
Tadinya mereka masih ingin bersama Nino. Namun Nino memarahi pasangan itu dan meminta keduanya untuk mengurus si kembar terlebih dahulu.
"Lo pulang dulu, Ka. Gue bukan apa-apa, gue tau lo pasti nggak istirahat dengan tenang kan, selama gue kritis. Amanda juga masih sakit, anak-anak butuh kalian. Ansel juga pulang dulu, tidur!" ujar Nino saat itu.
"Tapi lo sendirian dong?" protes Ansel.
"Kan rame disini, Bambang. Pokoknya Lo semua harus istirahat dulu. Nggak ada acara nungguin gue, sebelum istirahat kalian cukup."
"Kan gue bisa tidur disini, Nin." ujar Arka masih bersikukuh, ia belum mau meninggalkan saudaranya itu sendirian.
"Ka, dimana-mana tidur dirumah sakit sama dirumah sendiri tuh beda. Sedikit banyak istirahat lo pasti terganggu. Besok baru lo pada balik lagi, daddy juga ntar gue suruh pulang. Gue nggak mau nanti pas gue sembuh, malah kalian pada tumbang satu-satu." lanjutnya lagi.
Ansel, Arka, dan Amanda pun akhirnya pulang, kini mereka berdua sudah berada di mobil. Sedang Ansel bersama Ryan telah lebih dulu.
"Aku nggak apa-apa, Ka. Cuma aku nggak tau mesti apa." ujar Amanda pada Arka.
"Jujur, aku masih syok dan kepikiran. Gimana kalau dulu, aku nikah sama Nino. Atau Nino nikah sama Rani."
Amanda menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti berusaha menolak sesuatu.
"Aku akan melahirkan anak-anak hasil hubungan sedarah."
Lagi-lagi Amanda menghela nafas.
"Gila nggak, sih?" ujarnya lagi.
Arka kini menggenggam erat tangan wanitanya itu.
"Tapi semuanya nggak terjadi, kan?. Kita berdua dipertemukan agar semua itu nggak kejadian." ucap Arka.
"Tetap aja aku syok, Ka. Papa tuh parah banget, anak bisa berceceran dimana-mana. Dia nggak mikirin dampaknya bagi anak itu sendiri kedepannya. Dia bener-bener hidup dengan sesuka hatinya sendiri."
"Udah, sekarang kamu tenang. Kalau kamu makin stress, asam lambung kamu bisa naik lagi. Sakit lagi nanti, kasian anak-anak." ujar Arka kemudian.
Amanda menghela nafas lalu membuang pandangan jauh ke depan. Arka tak lagi berbicara, ia hanya terus menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
Sementara di belahan tempat yang lain. Ibu dan teman-teman Maureen sepakat, untuk melaporkan kehilangan Maureen ke polisi. Mereka kini bergantian memberikan keterangan dan kesaksian pada pihak yang berwajib.