
"Udah empat jam, bro. Balik, ntar bapak lo murka." ujar Ansel mengingatkan saudaranya.
"Ya udalah close deh." ujar Nino.
Mereka pun menyudahi acara happy-happy tersebut. Sementara di kediaman Ryan, Amanda, Nadine, dan Intan tengah membakar ikan dan juga daging. Amanda mengajak Rianti, meski pada awalnya gadis itu menolak. Ia tengah mengantarkan Afka ke penthouse dan Amanda menawarinya untuk ikut.
"Emang nggak apa-apa mbak, kalau Rianti ikut?" tanya Rianti pada Amanda saat itu.
"Nggak apa-apa, Ti. Yang penting kamu jangan ngomong aja sama ibu." ujar Amanda kemudian.
Rianti pun akhirnya menyetujui hal tersebut, meski agak sedikit ragu. Ia ikut menyambangi kediaman Ryan bersama Amanda.
"Hallo."
Arka dan yang lainnya tiba setelah menempuh perjalanan beberapa saat.
"Hola, halo, hola, halo. Bantuin...!" ujar Intan pada Ansel.
"Galak amat, mak Intan." ujar Ansel diikuti tawa yang lainnya.
"Lagi hamil kamu ya?" ujar Ansel lagi. Perkataan tersebut sukses membuat tangan Intan melayang di tangan pria itu.
"Plaaak."
"Aw, sakit." ujar Ansel seraya tertawa.
"Biasanya kalau makin galak, anaknya laki-laki tuh." ujar Ansel lagi.
"Anseeel."
Intan kesal.
"Udah kepengen tuh, Ansel." ujar Arka.
"Nikahin, udah." Nino mengompori.
"Biaya nikah lagi diskon, bro." timpal Rio.
"Emang kenapa sih kamu, nggak mau punya anak dari aku. Lucu loh, bule-bule gitu. Bisa jadi artis ntar gedenya."
"Iya kalau dia punya bakat." ujar Intan sewot.
"Noh Arka, modal blasteran doang. Jadi artis."
"Hahaha, bener banget." celetuk Rio.
"Eh bangsat." Arka tertawa, begitupula dengan Nino dan yang lainnya.
"Gue bisa akting, ya." lanjutnya membela diri.
"Lo kenapa sih, Ka. Nggak mendukung saudara lo dikit aja." ujar Ansel.
Arka kian terbahak.
"Lo minta dukungan, tapi ngejatuhin gue itu namanya."
"Mana, udah matang belum?" Ryan tiba-tiba keluar, didampingi seorang perempuan sexy.
Arka, Ansel, Rio dan Nino terbelalak menatap wanita itu.
"Ka, itu Ka. Sekretaris yang pernah gue kasih tau elu." bisik Nino pada Arka. Rio dan Ansel mendekatkan telinga.
"Gede banget, anjay." ujar Arka diikuti tatapan Ansel dan Rio yang melongo.
Tanpa sadar Amanda, Nadine dan Intan memegang dada mereka sendiri.
"Beda ye, sama kita." ujar Amanda seraya masih terus melihat ke arah sekretaris Ryan tersebut.
"Ho'oh insecure gue, mbak." timpal Nadine.
"Sesek." ujar Intan.
"Ini Pamela." ujar Ryan memperkenalkan.
Wanita dengan ukuran di luar batas normal itu pun tersenyum, seraya mengulurkan tangan pada ketiga anak Ryan. Sementara Amanda dan dua calon menantu lainnya, berusaha nyengir sambil melambaikan tangan.
"Hai." ujar mereka serentak.
Pamela turut melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Oh, nggak. Ini Pamela saja, tidak pakai Savitri." ujar Ryan kemudian.
"Buuuk."
Amanda melempar sendal ke punggung suaminya.
"Aw, apaan tuh?" ujar Arka mencari-cari. Kebetulan cahaya agak disana memang remang. Ia tak mengetahui bahwasannya sendal istrinya telah melayang.
"Ranting pohon jatuh." ujar Amanda sewot.
"Bentar lagi cabangnya, kalau masih gatel." lanjut wanita itu dengan suara pelan.
Singkat cerita, mereka pun berpesta barbeque malam itu. Si kembar sendiri sudah tidur di keloni Rianti, setelah itu ia pun ikut bergabung di luar. Suasana berubah riuh, tatkala Arka, Ansel, Rio dan Nino berebut untuk berada di dekat Pamela, yang berbody mirip Kim Kardashian tersebut.
Hingga Amanda acap kali menjewer telinga sang suami dengan keras. Intan sendiri melayangkan panci ke kepala Ansel, sedang Nino di cubit oleh Nadine sampai biru-biru. Hanya Rio yang sedikit aman malam itu.
Pamela sendiri bukan tipikal wanita penggoda, ia hanya aneh saja melihat tingkah ketiga anak Ryan plus temannya tersebut. Sementara sebagai ayah, Ryan hanya tertawa saja melihat kelakuan mereka semua.
Beberapa jam pun berlalu.
"Hoahm, good Nite." Arka berujar pada Amanda. Begitupula dengan Nino, Rio dan juga Ansel.
"Mau pada kemana?" tanya Amanda penuh curiga.
"Tidur lah, kan udah beres semuanya. Piring udah dicuci, halaman udah dibersihkan, api udah padam, apalagi?"
"Ya tidur dimana?" tanya Nadine sambil mengerutkan kening.
"Di atas, kita bareng. Abis kena alkohol tadi, kasihan kalian kalau tidur bareng kita." jawab Nino
Keempat pria semprul itu pun berlalu.
"Hmm, gue tau nih. Pasti ada rencana mau ngintipin Pamela." ujar Amanda berspekulasi.
"Gue setuju, dari tadi Ansel tuh gatel banget." ujar Intan.
"Zio juga sama." ujar Nadine. Sementara Rianti hanya bingung melihat ketiga wanita itu.
"Pokoknya kita jangan tidur, pasti tuh ntar malem mereka pada beraksi." ujar Amanda.
"Hmm." Nadine dan Intan menganggukkan kepala mereka secara serentak.
"Ti, kamu tidur sama anak-anak." ujar Amanda lagi.
"I, iya mbak." ujar Rianti.
Mereka semua masuk ke dalam. Lalu keheningan pun perlahan menyeruak, sementara waktu terus beranjak naik. Amanda, Nadine, dan Intan berusaha terjaga. Mereka bertekad untuk memergoki Arka, Nino, Ansel dan juga Rio. Mereka tetap curiga jika para pria tersebut, akan mengintip Pamela.
Tanpa mereka ketahui jika Arka dan yang lainnya telah tertidur lelap, bahkan hingga pagi menjelang.
***
Lain hal nya dengan Arka, malam itu justru ibunya sama sekali tak dapat memejamkan mata. Hatinya begitu sakit menghadapi kenyataan ini.
Tak perlu bukti lebih lanjut lagi, ia telah mengerti sesungguhnya apa yang terjadi. Bahwasannya Arka kini sudah mengetahui jika Ryan adalah ayahnya. Ia telah membaca seluruh isi pesan yang di kirimkan oleh puteranya tersebut.
Jujur, ia ingin sekali menemui Arka dan mengamuk di depan anaknya itu. Namun ada satu orang lagi yang sejatinya harus bertanggung jawab.
Ya, siapa lagi kalau bukan Ryan. Ryan lah yang paling bertanggung jawab akan hal ini. Dari mana Arka tau, jika Ryan tak mengatakan hal tersebut. Padahal Ryan sendiri sudah berjanji untuk tidak memberitahu Arka. Namun janji tinggallah janji, Arka kini sudah mengetahui siapa ayah kandungnya.
***
"Braak."
Pintu dibuka, Maureen yang tengah duduk diam diatas tempat tidur itu pun terkejut. Ternyata yang datang seorang pembantu, yang usianya sudah agak tua.
Pembantu tersebut sudah biasa melayani Maureen. Dan seperti hari-hari sebelumnya, ia datang tanpa berkata apa-apa. Wanita itu hanya memberikan makanan, namun kali ini ia menyelipkan sesuatu di tangan Maureen. Maureen melihat sebuah botol yang entah isinya apa, tak lama Fritz pun masuk. Buru-buru Maureen menyimpan botol tersebut di bawah bantalnya.
"Apa kabar sayang?"
Fritz mencium kening Maureen seraya mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Maureen telah mengandung saat ini.
"Kalau nurut gini kan, enak. Tugas kamu itu cuma buka kaki lebar-lebar untuk aku dan simpan semua benih yang aku tanam."
Maureen hanya diam, ia tak lagi memberontak atau menunjukkan wajah tak suka seperti biasanya. Sebab Fritz akan menyakiti fisiknya apabila ia bereaksi seperti itu.
Namun satu hal yang tak Fritz ketahui, mengenai lirikan seorang bodyguard nya yang kini berdiri di muka pintu. Sebuah lirikan berisi kode, yang Maureen pun sudah mengerti apa maksudnya. Belakangan ini banyak hal yang terjadi, namun Fritz tak cukup pandai untuk membaca semua itu.