
"Tante Amanda, kapan Rania sama kak Rasya bisa ketemu mama lagi?"
Rania, anak Rani yang kini tinggal dirumah Amanda yang satunya, bertanya pada tantenya itu. Amanda berjongkok lalu menatap dan memegang bahu Rania.
"Sayang, mama kan lagi tante tugaskan ke luar negri untuk kerja. Jadi mama mungkin sedikit agak lama baru bisa ketemu kalian."
"Memangnya luar negri itu jauh ya tante?" tanya Rasya.
Amanda kembali tersenyum, ada sesuatu yang kini bergejolak di hatinya. Ia tak tega membohongi kedua anak tak berdosa ini. Namun ia pun tak cukup kuat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Iya sayang jauh, mesti naik pesawat. Lagipula mama disana kerjaannya banyak, mama cari uang buat sekolah Rasya sama Rania. Biar bisa sampe kuliah, jadi sarjana, jadi orang sukses. Rasya cita-citanya mau jadi apa?"
"Jadi pilot tante."
"Nah, mau jadi pilot itu biayanya nggak sedikit. Makanya mama kerja dari sekarang supaya bisa nabung, biar Rasya nantinya bisa sekolah pilot. Tugas Rasya cuma belajar yang rajin, olahraga teratur, jaga matanya supaya nggak minus."
"Minus itu apa tante?"
"Kalau nonton TV, main hp, liat komputer terlalu dekat. Bisa minus, minus itu penglihatan matanya kurang jelas. Nah pilot, matanya harus terang dan jeli. Karena perjalanan pesawat kadang tertutup awan."
"Oh gitu ya tante?"
"Iya dan harus rajin makan sayur-sayuran, biar matanya sehat, tubuhnya sehat, tumbuh cepat, tumbuh tinggi. Ok?"
"Ok tante."
Amanda kembali tersenyum.
"Kalau Rania mau jadi selebgram tante."
"Hah?" Amanda agak terkejut mendengar pernyataan dari keponakan perempuannya itu.
"Koq selebgram?" tanya Amanda kemudian.
"Iya abisnya Rania liat, selebgram banyak dapat endorse an."
Amanda hampir tersedak karena menahan tawa.
"Apa itu endorse an?" tanya Amanda pura-pura tidak tahu.
"Endorse an itu, kita dikirim produk terus dibayar untuk mengiklankan produk itu di akun kita. Udah dapat produk, dapat uang lagi. Kerjanya foto-foto doang."
Amanda terdiam, dari mana anak itu mengetahui hal seperti ini.
"Rania tau dari mana soal endorse?" tanya Amanda lagi.
"Baca di google, Rania cari tau artinya apa."
Amanda terhenyak, inilah yang kadang menuntut orang tua untuk lebih bijak lagi dalam memberikan handphone pada anak. Seusia ini saja, seorang anak bahkan mampu mencari tahu apa yang ingin ia ketahui.
Untung dia hanya mencari tau soal kata "endrose". Bagaimana jika ia mencari tahu soal kata yang lain, yang mungkin belum pantas untuk usianya sendiri. Sisi positifnya, anak-anak sekarang bisa memanfaatkan teknologi dengan baik. Namun sisi negatifnya juga tak kalah banyak, anak bisa jadi akan mencari tau hal-hal yang sebenarnya belum pantas untuk ia ketahui.
Makanya di luar negri, penggunaan handphone memang sangat dibatasi untuk anak dibawah umur. Bahkan sosial media untuk anak usia 17 tahun kebawah, kebanyakan di pegang dan di manajemen oleh orang tua masing-masing.
Alasannya tentu saja, karena anak harus lebih banyak berinteraksi dengan teman-temannya di dunia nyata, bermain di dunia nyata dan memainkan permainan yang nyata juga. Seperti main bola, berkejar-kejaran atau bermain di wahana seperti perosotan, ayunan, dan lain sebagainya.
Hal tersebut tentu saja untuk membangun dan mengajarkan anak bagaimana caranya bersosialisasi dengan baik dan benar. Mengajarkan pada mereka tentang saling menghormati dan menghargai orang lain.
Tidak seperti warga +62 yang sudah membudayakan handphone, bahkan sejak anaknya masih bayi. Dengan alasan mereka menonton tontonan anak-anak. Padahal orang tuanya terkadang hanya ingin anaknya untuk tidak menangis, dan mereka bisa bebas bermain handphone pula tanpa harus di recoki tangisan atau rengekan si anak.
Usia-usia sekolah dasar bahkan anak-anak di negara ini sudah menjelma menjadi bocil FF yang sudah bisa mengatakan,
"Iya, njir." atau
"Njing, Tod."
Bahkan mereka sudah pandai bermain sosial media dan melontarkan komentar kebencian yang bersifat membully terhadap orang lain. Berkumpul di media sosial hanya untuk menjatuhkan orang lain dengan kata-kata kasar.
Dari awal kemunculan handphone, para orang tua di negri ini pun sudah salah dalam mengambil sikap. Terkadang melihat anak tetangga bermain handphone, justru emak-emak di negri ini yang panas hati. Mereka akan memaksa suami-suami mereka untuk segera membelikan anak mereka gadget, agar tidak kalah saing dengan anak tetangga. Dengan alasan kasihan, nanti anak ketinggalan dan tak maju.
Handphone atau gadget itu memang banyak manfaatnya untuk kemajuan, tapi itu jika diawasi dengan benar. Jika tidak, banyak sekali kerugian yang akan didapat. Seperti ini contohnya, Rani membiasakan anak-anaknya menggunakan handphone sejak dini. Mereka menjadi anak yang pintar dalam memanfaatkan gadget tersebut. Namun hal ini pula yang akan menjadi sebuah tanggung jawab besar. Bahwa orang dewasa disekitarnya haruslah mengawasi anak-anak ini, agar tidak kebablasan.
"Ok, Rania boleh koq jadi selebgram. Tapi jadilah selebgram yang menginspirasi."
"Maksudnya Rania harus jadi orang baik?"
"Iya, itu harus. Kita harus jadi orang baik, dan yang terpenting tetap sekolah. Nomor satukanlah pendidikan, biar Rania jadi selebgram yang punya nilai lebih. Kan enak, udah cantik, pinter, selebgram lagi. Sekarang kan banyak selebgram tapi mereka polisi, dokter, pekerja kantoran, pengusaha. Jadi bukan hanya sekedar selebgram aja."
"Iya, pokoknya Rania belajar yang rajin ya." ujar Amanda kemudian.
"Iya tante."
"Janji ya, berdua?"
"Iya, tante."
Amanda lalu memeluk kedua keponakannya itu dengan erat.
***
Rani tengah duduk diam di dalam sel tahanan, karena tak ada juga yang mesti ia kerjakan. Ia juga tak bergaul dengan baik disana, meski ia berada dalam satu ruangan dengan para tersangka wanita lainnya.
Ia sangat merindukan rumah dan juga anak-anaknya. Bahkan air matanya sudah kering karena terus menangis dan menyesali perbuatannya sendiri.
"Bu Rani, ada yang mau bertemu." Seorang petugas berkata pada Rani.
Wanita itu menoleh dan berdiri, ia kemudian mendekat ke arah jeruji besi. Ternyata Amanda yang datang. Amanda sengaja menemuinya disini dan tidak diruang pertemuan, karena untuk membatasi diri agar tak terjadi baku hantam. Kalau sudah berdekatan, mereka berdua mendadak emosi dan rasanya ingin saling memukul satu sama lain.
"Ngapain kesini?" tanya Rani ketus.
"Lo pikir gue baik banget, mau-mauan datang kesini?" ujar Amanda tak kalah ketus.
"Mana anak-anak gue?" ujar Rani kemudian.
"Justru gue dateng kesini supaya lo bisa ngeliat anak-anak lo."
"Mana mereka." tanya Rani lagi.
"Bentar, gue ambil rekamannya dulu." Amanda merogoh tas dan mencari handphone. Namun baru saja tangannya berhasil mendapatkan benda tersebut, Rani sudah melayangkan protes padanya.
"Rekaman?. Lo kesini cuma bawa rekaman?"
"Iya, emang kenapa?"
Rani terlihat naik pitam.
"Lo sengaja ya, mau misahin gue sama anak-anak gue?. Lo tuh seorang ibu, harusnya lo juga ngerti perasaan gue. Gimana kalau lo, gue jauhkan dari anak-anak lo?"
"Justru karena gue seorang ibu, gue tau apa yang terbaik buat anak-anak lo."
"Terbaik?. Lo misahin anak dari ibunya."
"Gue bukan misahin kalian."
"Ini apa namanya."
"Lo sadar nggak sih, Ran. Kalau lo itu dipenjara?"
Rani terdiam kali ini.
"Lo mau, mental anak-anak lo makin rusak?. Lo mau saat mereka dewasa nanti, mereka punya kenangan buruk tentang orang tua mereka. Ayah KDRT, membunuh adik mereka didalam kandungan, menikah lagi dengan selingkuhan. Sedangkan ibu mereka jahat pada orang lain, dipenjara. Lo mau, ingatan anak-anak lo jadi trauma yang berdampak pada kehidupan mereka dimasa depan?"
Rani makin terdiam.
"Lo tuh pernah nggak sih, Ran. Mikirin orang lain gitu loh, mikirin anak-anak lo. Bukan sekedar mikirin kebutuhan dan keinginan lo semata. Pernah nggak lo berusaha untuk nggak egois sekali aja?"
Rani kian membeku ditempatnya, jujur hal ini tak terpikirkan sedikit pun dibenaknya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah bertemu dan memeluk anak-anaknya itu. Amanda menatap Rani, lalu menyerahkan video yang menampakkan kedua anak-anaknya.
"Hai mama, Rasya sama Rania kangen sama mama." ujar Rasya didalam video tersebut.
"Mama yang semangat ya kerja disana, baik-baik di negara orang. Rania sama kak Acha janji nggak nakal dan nurut sama tante Amanda." Rania menimpali ucapan kakaknya.
"Iya ma, nggak usah khawatir. Rasya sama Rania di jagain sama orang-orang disini. Tante Amanda juga sering banget datang kesini. Kadang sendiri, kadang sama om Arka."
"Kita berdua sayang, mama. Love you ma, muach, muach, muach."
Air mata Rani jatuh tak tertahankan, biar bagaimanapun juga ia tetaplah seorang ibu. Diluar segala kejahatan yang pernah ia lakukan. Ia lalu menyerahkan handphone tersebut pada Amanda tanpa berbicara sepatah katapun. Ia tahu jika Amanda telah berbohong pada anak-anaknya itu, tentang keberadaan ibu mereka.
"Lo tau, mereka punya rekaman segala omongan jahat lo dengan Maureen. Saat ini mereka gue dampingi dengan psikiater anak, supaya mereka nggak tumbuh jadi kayak lo ataupun Maureen."
Amanda kemudian berlalu meninggalkan tempat itu, sementara kini Rani terus menangis.